NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Ejekan di Mal Grand Serpong

Keesokan harinya sekitar pukul tiga sore, Karina mengajak Tuti ke Grand Serpong Mall.

Mereka hendak membeli beberapa buku latihan dasar, pakaian yang lebih nyaman, dan keperluan pribadi Tuti. Pergelangan kaki Karina tinggal menyisakan sedikit pegal. Ia masih menghindari eskalator yang ramai, tetapi sudah dapat berjalan tanpa pincang.

Di depan sebuah toko buku, Tuti berhenti saat melihat tumpukan buku tulis berwarna-warni.

"Bu, ini buat Nathan sama Lucas?"

"Bukan. Buat kamu."

Mata Tuti membesar. "Buat saya?"

Karina mengambil dua buku tulis, pensil, penghapus, serta buku latihan membaca untuk remaja dan dewasa. Ia sengaja tidak memilih buku bergambar anak-anak agar Tuti tidak merasa direndahkan.

"Aku ingin bantu kamu belajar baca dan menulis dengan benar," katanya. "Kita cek dulu kemampuanmu dan surat sekolah yang masih ada. Kalau dasar-dasarnya sudah kuat, kamu bisa ikut pendidikan kesetaraan sesuai tingkat yang kamu butuhkan. Target akhirnya Paket C. Setelah itu, kalau kamu mau, kamu juga bisa kuliah."

Tuti menatap barang-barang di tangan Karina seolah semuanya terlalu mahal untuk disentuh. "Nggak usah repot-repot, Bu. Saya udah cukup senang bisa kerja di rumah. Bisa makan, bisa tidur aman, nggak dikejar orang. Itu udah lebih dari cukup."

"Aman itu hak kamu, bukan upah yang membuatmu harus berhenti punya masa depan."

"Tapi saya udah ketinggalan jauh."

"Ketinggalan bukan berarti nggak boleh mulai lagi." Karina memasukkan alat tulis ke keranjang. "Kamu berhak dapat lebih dari ini. Bukan karena kasihan, tapi karena hidupmu memang milikmu."

Karina sudah memperhatikan bahwa Tuti mampu membaca nama jalan, angka harga, dan pesan pendek, tetapi kesulitan memahami kalimat panjang. Mereka akan mulai tiga puluh menit setiap malam, lalu mencari PKBM resmi setelah mengetahui dokumen pendidikan terakhirnya. Belajar juga tidak akan menjadi syarat agar Tuti tetap boleh tinggal atau bekerja di rumah.

"Kalau nanti kamu capek, kita atur ulang waktunya," ujar Karina. "Kalau kamu ternyata punya cita-cita lain, bilang. Aku membantu, bukan menentukan hidupmu."

Mata Tuti mulai berkaca-kaca. Ia cepat-cepat menunduk dan mengambil keranjang dari tangan Karina. "Kalau begitu, saya yang bawa."

Karina tidak membongkar alasan kecil itu. Ia membiarkan Tuti menyembunyikan harunya sambil memilih map dan tempat pensil sendiri.

Setelah selesai berbelanja, mereka naik ke area food court. Karina memilih meja di dekat jendela, agak jauh dari jalur utama. Tuti masih membuka tutup tempat pensil barunya ketika dua perempuan yang membawa minuman berhenti beberapa langkah dari meja.

Perempuan pertama menatap Karina lama, lalu menyenggol temannya.

"Eh, bukannya ini Karina?"

Nama mereka muncul dari serpihan ingatan yang bukan sepenuhnya milik Karina sekarang. Vero dan Tasya, teman sekolah lama pemilik tubuh ini. Keduanya pernah tersenyum di depan guru, lalu menyebarkan ejekan begitu berbalik badan.

Vero mendekat tanpa diminta. "Lama banget nggak ketemu. Dengar-dengar sekarang kawin sama orang kaya, ya? Gimana caranya, tuh? Jangan-jangan trik lama masih dipakai."

Tasya terkikik sambil memandang Karina dari kepala sampai kaki. Hari itu Karina hanya mengenakan blus putih, celana panjang gelap, dan sepatu datar karena kakinya baru pulih.

"Lho, kok penampilannya biasa aja begini?" kata Tasya. "Katanya jadi nyonya besar. Mana barang bermerek sama perhiasan bling-bling-nya?"

Tuti berhenti memainkan tempat pensil. Wajahnya menegang.

Karina tetap duduk. "Aku memang nggak suka pamer. Tapi kalau kalian mau lihat yang berlian, nanti juga ada waktunya."

Senyum Tasya menghilang sesaat. Vero malah menarik kursi kosong di meja sebelah dan duduk menyamping, seolah percakapan itu merupakan hiburan sore yang telah ia tunggu.

"Masih pintar jawab, ya." Vero mengaduk minumannya. "Dulu juga begitu. Di sekolah kelihatan pendiam, ternyata diam-diam cari kenalan anak orang kaya. Sekarang berhasil dapat suami. Hebat juga."

Karina merasakan panas merambat ke dada.

Ia tidak mengenal masa sekolah itu sebagai pengalaman pribadinya. Namun tubuh ini menyimpan reaksi sendiri. Bahunya menegang, telapak tangannya mendingin, dan suara tawa lama seolah bergaung dari tempat yang jauh.

"Kalau kalian datang hanya untuk menyebarkan gosip, sebaiknya cari meja lain," katanya.

"Gosip?" Tasya pura-pura terkejut. "Kami cuma mengingat masa lalu."

"Mengingat dan mengarang itu dua hal berbeda."

Vero dan Tasya saling pandang. Di masa sekolah, sorot seperti itu biasanya menjadi tanda bahwa mereka telah menemukan sasaran yang tidak akan melawan. Kini Karina justru menatap balik, membuat keduanya kehilangan kesenangan pertama yang mereka cari.

Vero mendengus. "Kalau memang pernikahanmu terhormat, kenapa nggak pernah ada yang lihat suamimu jalan bareng kamu? Jangan-jangan dia malu mengakuimu."

Beberapa pengunjung mulai melirik. Karina tahu ia dapat membalas dengan lebih tajam. Ia bisa berdiri, membongkar kebohongan mereka satu per satu, bahkan meminta pengelola mengusir keduanya.

Ia juga melihat kamera pengawas di sudut langit-langit dan petugas kebersihan beberapa meja dari sana. Jika hinaan berubah menjadi ancaman, ia punya saksi dan jalur resmi. Karina tidak takut. Ia hanya tidak ingin memberi Vero bahan untuk memelintir reaksi kerasnya menjadi cerita baru.

Namun Tuti duduk di sampingnya, baru saja berani membayangkan sekolah lagi. Karina tidak ingin pelajaran pertama Tuti tentang dunia kota adalah bahwa hinaan harus selalu dibalas dengan keributan yang lebih besar.

Itu bukan berarti Karina tidak marah.

Kemarahannya hidup dan penuh, menekan tulang rusuk sampai napasnya terasa berat. Ia hanya sedang memilih tempat serta cara untuk melepaskannya.

Tuti berdiri setengah badan. "Jangan bicara begitu soal Bu Karina. Kalian nggak tahu apa-apa."

Karina menahan pergelangan tangannya dengan lembut. "Duduk dulu, Tut."

"Tapi mereka keterlaluan."

"Aku tahu."

Vero tersenyum puas melihat Karina menahan Tuti. "Nah, sampai harus dibela pembantu. Suami kaya itu di mana? Kok istrinya dibiarkan keluyuran cuma ditemani orang suruhan?"

Tuti menoleh gelisah kepada Karina. "Bu, kita panggil petugas aja."

Karina hampir mengangguk. Namun entah mengapa, tatapannya bergerak melewati bahu Vero ke jalur utama food court. Tidak ada sosok yang ia kenal. Tidak ada alasan Sebastian berada di mall ini.

Meski begitu, sebuah keyakinan aneh lolos dari bibirnya.

"Nggak usah takut. Suamiku pasti datang, kok."

Tuti terdiam. Karina sendiri baru menyadari betapa pasti nada suaranya.

Tasya tertawa keras. "Dengar itu, Ver. Mungkin suaminya bisa dipanggil pakai kekuatan pikiran."

Vero ikut tertawa. Ia mengangkat dagu, puas karena perhatian beberapa meja kini tertuju kepada mereka.

"Kalau benar datang, paling cuma sopir yang disuruh jemput. Laki-laki seperti Sebastian Wijaya mana mungkin mau mengakui perempuan yang dari dulu kerjanya menggoda pria kaya di belakang orang lain. Istri simpanan saja mungkin masih lebih dihargai daripada dia."

Ucapan Vero belum selesai ketika sebuah suara laki-laki yang rendah terdengar dari belakangnya.

"Siapa yang lagi ngomongin istri saya?"

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!