NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 — Tangan yang Bukan Prajurit

“L2?”

Tri menatap Bang Somad.

Bang Somad mengangkat kedua tangan. “Jangan melihatku seperti melihat tagihan palsu. Aku hanya menyampaikan. Ada peserta L2 yang mau menerima tantangan cepat.”

Di belakang mereka, papan skor masih berkedip dengan nama Tunduk pada Nasib di daftar L1 baru. Suara penonton belum turun. Di arena timur, TepiBaratKarang sudah menghilang dari kokpitnya, meninggalkan Mecha lawan yang berlutut seperti patung rusak.

Tri mengusap hidung.

Kering.

Bagus.

Panas tadi belum menjadi mimisan. Mecha nomor tujuh belas memang kasar, tetapi selama ia tidak memaksa keluaran Daya Indra terlalu tinggi, tubuhnya masih bisa membayar.

Masalahnya, pembayaran selalu punya jatuh tempo.

“Hadiah?” tanya Tri.

Bang Somad tersenyum. “L2, menang satu laga seratus ribu. Tapi peserta yang menerima ini bukan kantong pasir. Dia melihat dua laga terakhirmu.”

“Kalau sudah melihat, berarti dia tahu harus bayar mahal untuk kalah.”

“Mulutmu akan membuatmu dipukuli suatu hari.”

“Hari ini atau nanti?”

Bang Somad tertawa. “Masuklah. Kalau menang, malam ini namamu bukan sekadar pendatang baru.”

Lawan L2 menunggu di arena kedua.

ID-nya pendek.

Jarum.

Mecha-nya ramping, jauh lebih bersih daripada tiga lawan sebelumnya. Bukan tipe tebal. Bukan tipe berat. Di kedua lengannya terpasang bilah pendek seperti duri, dan setiap sendinya ditutup pelindung kecil yang berlapis miring. Tidak ada kabel mudah ditarik. Tidak ada kristal sendi terbuka. Bahkan lututnya dilengkapi pelat palsu untuk menjebak tangan lawan.

Tri masuk kokpit nomor tujuh belas dan langsung mencium bau hangus dari panel kanan.

“Bertahan satu laga lagi,” gumamnya. “Nanti gue belikan baut yang tidak memalukan.”

Mesin tua itu menjawab dengan suara retak.

Lampu turun.

Jarum bergerak pertama.

Cepat.

Bilah pendeknya tidak menebas lebar. Ia menusuk. Tepat ke pergelangan, siku, dan pinggang nomor tujuh belas. Tujuannya memaksa Tri menutup tangan. Setiap kali Tri mencoba masuk ke sendi lawan, bilah itu sudah menunggu di jalur terdekat.

Penonton bersorak.

“Dia tahu!”

“Tukang bongkar ketemu tukang jahit!”

“Jarum! Jahit dia!”

Tri mundur tiga langkah.

Tidak cukup.

Bilah lawan menggores dada nomor tujuh belas. Panel luar terbuka. Satu kabel sekunder putus. Data di kokpit melonjak merah.

Jarum bicara lewat pengeras. Suaranya tenang dan puas. “Aku melihat tanganmu. Kau selalu mencari engsel. Sayang, engselku tidak kubiarkan murah.”

“Engsel mahal tetap engsel,” jawab Tri.

“Coba ambil.”

Tri memang mencoba.

Serangan pertama ke lutut kiri dibaca. Jarum memutar kaki, pelat palsu terbuka, dan bilah kecil hampir mengiris jari mekanik nomor tujuh belas.

Serangan kedua ke ketiak kanan dipotong. Lawan menyilang lengan, memaksa Tri mundur.

Serangan ketiga ke pinggang malah membuat nomor tujuh belas terkena tusuk di bahu.

Penonton mulai berteriak nama Jarum.

Tri menarik napas pelan.

Baik.

Tidak boleh menjadi tukang bongkar yang hanya punya satu obeng.

Ia melirik senjata standar nomor tujuh belas.

Pisau cahaya pendek, kualitas rendah. Baterainya tinggal enam puluh persen. Gagangnya panjang karena disatukan dari model latihan lama. Peserta biasa memakainya untuk menebas. Terlalu pendek untuk tombak, terlalu buruk untuk pedang.

Tetapi gagang panjang punya kegunaan lain.

Tri mencabut pisau cahaya.

Jarum langsung menekan.

Tri tidak menyalakan bilah.

Ia memegang gagangnya seperti tongkat pendek, ujung belakang di bawah siku, ujung depan menunjuk ke tanah. Nomor tujuh belas menurunkan pusat massa.

Jarum ragu setengah detik.

Cukup.

Tri menusukkan gagang mati itu ke lantai, menggunakannya sebagai titik putar. Tubuh nomor tujuh belas berbelok tajam ke sisi kiri, menghindari tusukan ganda. Pada saat yang sama, ujung gagang menghantam sisi pergelangan Jarum.

Tidak merusak.

Membuat sudutnya berubah.

Bilah lawan meleset satu jari.

Tri menyalakan pisau cahaya pada saat terakhir.

Cahaya pendek menyala dan memotong pengunci pelat palsu di lutut lawan.

Pelat itu jatuh.

Jarum mundur cepat.

“Apa itu?”

“Pisau.”

“Kau menggunakannya seperti tombak.”

“Lebih murah daripada membeli tombak.”

Penonton tertawa, lalu menahan napas karena Tri sudah masuk lagi.

Kali ini ia tidak mengejar sendi utama. Ia memakai gagang pisau sebagai tongkat pengukur jarak. Satu sentuhan di pergelangan. Satu ketukan di siku. Satu dorongan kecil di dada. Setiap gerakan tidak cukup untuk menjatuhkan, tetapi cukup untuk mengubah ritme Jarum.

Lawan yang hidup dari tusukan presisi paling takut pada ritme yang dirusak.

Jarum mulai mundur.

Tri maju.

Gagang mati.

Bilah menyala.

Mati lagi.

Nyala lagi.

Seperti orang miskin menghemat listrik.

Setiap kali bilah menyala, yang dipotong hanya bagian paling penting: pengunci pelat, ujung sensor, baut penahan kecil. Bukan kehancuran besar. Luka-luka kecil yang membuat Mecha lawan mulai berbohong kepada pilotnya sendiri.

Jarum menusuk ke kepala.

Tri memiringkan tubuh, gagang pisau menahan lengan lawan dari bawah, lalu nomor tujuh belas memutar pergelangan.

KLIK.

Pelindung siku Jarum terbuka.

Tri tidak mencabut kristal.

Ia menekan jalur sensor dengan ujung gagang, membuat lengan kanan lawan lumpuh satu detik.

Satu detik itu cukup untuk menyalakan bilah cahaya dan memotong sambungan cadangan.

Lengan kanan Jarum jatuh lemas.

Penonton berdiri.

Jarum mencoba mundur ke sisi arena.

Tri melempar gagang pisau.

Senjata itu berputar di udara. Semua orang mengira ia membuang senjata karena panik. Jarum juga mengira begitu. Ia mengangkat lengan kiri untuk menangkis.

Tri menarik kabel pengikat yang sejak tadi ia lilitkan pada pangkal gagang.

Pisau cahaya mati di udara, gagangnya berubah arah, menghantam belakang lutut kiri Jarum.

Jarum kehilangan langkah.

Nomor tujuh belas sudah menunggu.

Telapak kanan masuk ke celah pinggang, jari mekanik menekan tombol pelepas darurat yang tersembunyi di bawah pelindung miring.

Tri tidak tahu tombol itu dari luar.

Ia menebaknya dari jalur perawatan.

Semua Mecha, semahal apa pun, harus bisa dibuka oleh orang yang memperbaikinya.

Pinggang Jarum terkunci.

Tubuhnya berhenti di tengah gerak.

Tri menekan bahu lawan dan menjatuhkannya ke lantai.

Hitungan muncul.

Sepuluh.

Jarum tidak mengumpat.

Ia hanya menatap nomor tujuh belas dari dalam kokpit, mungkin akhirnya paham bahwa ia kalah oleh orang yang membaca mesin seperti membaca tulang.

Satu.

“Pemenang, Tunduk pada Nasib!”

Sorakan menghantam arena.

Tri keluar dari kokpit dengan lutut sedikit lemas.

Kali ini kepalanya benar-benar berdenyut. Ia segera menelan nutrisi murah dari botol kecil. Rasanya seperti logam manis dan penyesalan, tetapi cukup membuat pandangannya tidak gelap.

Bang Somad datang seperti burung pemakan uang. “Seratus ribu, dipotong biaya arena, perantara, dan perbaikan nomor tujuh belas.”

Tri menatapnya tajam.

Bang Somad mengangkat tablet. “Jangan tusuk aku dengan mata. Kau sendiri yang membuat bahunya hampir rontok.”

Angka akhir muncul.

Total diterima malam ini, setelah semua potongan: 72.000 kredit.

Ditambah kemenangan sebelumnya.

Lebih dari sembilan puluh ribu kredit.

Tri berjongkok di tepi arena dan menghitung ulang tiga kali.

Bang Somad memandangnya. “Kau tidak percaya sistem?”

“Saya tidak percaya uang yang belum saya hitung sendiri.”

Ia mengirim 20.000 kredit ke rekening Pak Ilyas tanpa pesan.

Lalu berpikir sebentar, menambahkan pesan pendek:

Cicilan pertama. Jangan beri tahu Bu Wening jumlah penuh.

Balasan datang kurang dari satu menit.

Pak Ilyas: Dari mana?

Tri: Kerja malam.

Pak Ilyas: Kalau ilegal, saya patahkan kakimu saat libur.

Tri menatap kalimat itu, lalu mengetik:

Kalau kaki patah, biaya medis bertambah.

Tidak ada balasan lagi.

Mungkin Pak Ilyas sedang memaki.

Tri membuka satu botol Cairan Gizi termurah, duduk di lantai dekat tumpukan pelindung rusak, dan mulai makan paket kering Bu Wening. Orang-orang berlalu di depannya, beberapa menatap, beberapa menunjuk, beberapa sudah menghitung apakah pendatang baru ini akan jadi peluang taruhan berikutnya.

Bayangan berhenti di depannya.

Sepasang sepatu hitam bersih.

Tidak seperti sepatu penjudi.

Tidak seperti sepatu petarung kasar.

Tri mengangkat kepala.

Seorang pemuda berdiri di sana, memakai masker setengah wajah dan jaket gelap tanpa lambang. Tubuhnya tidak besar. Sikapnya santai. Tetapi tangannya tenang, terlalu tenang untuk orang yang baru saja menonton laga panas.

Di layar kecil di samping arena timur, ID pemenang terakhir masih tersisa:

TepiBaratKarang.

Tri menggigit roti. “Kalau mau tanding, ambil nomor.”

Pemuda itu tidak tersinggung. Matanya turun ke tangan Tri.

Tangan asli.

Bukan tangan Mecha.

Jari Tri masih bergerak kecil, mengulang rasa pengunci pinggang Jarum, menghitung apakah bisa dilakukan lebih cepat. Ia berhenti begitu sadar dilihat.

TepiBaratKarang berkata pelan, “Cara kau membongkar Mecha... tidak seperti Prajurit.”

Tri menelan.

Wajahnya tetap malas.

“Banyak Prajurit miskin belajar memperbaiki barang sendiri.”

“Memperbaiki dan membuka tombol pelepas darurat yang tertutup pelindung miring itu dua hal berbeda.”

Tri mengangkat botol nutrisi. “Mungkin lawannya sial.”

“Tiga lawan berturut-turut?”

“Sial bisa menular.”

Mata pemuda itu seperti tersenyum, tetapi mulutnya tidak bergerak.

“Aku TepiBaratKarang.”

“Gue bisa baca layar.”

“Kau selalu begini?”

“Miskin?”

“Menyebalkan.”

Tri memikirkan jawabannya, lalu berkata, “Kalau gratis, iya.”

Untuk pertama kalinya, pemuda itu tertawa pendek.

Tidak keras.

Hanya cukup untuk menunjukkan ia bukan datang sebagai musuh langsung.

“Kau punya tangan orang yang setiap hari bertengkar dengan Mecha,” katanya. “Bukan tangan orang yang hanya mengemudikannya.”

Tri menutup botol nutrisi.

Di sekitar mereka, suara arena terus menggelegar, tetapi jarak di antara dua orang itu terasa sempit dan tajam.

“Lo salah lihat,” kata Tri. “Gue cuma punya gaya liar.”

Ia hampir memakai kata lama lagi.

Lidahnya berhenti tepat waktu.

“Gue cuma main liar,” ulangnya.

TepiBaratKarang menatapnya beberapa detik.

“Kalau begitu,” katanya, “liarmu rapi sekali.”

Tri tersenyum dengan mulut penuh roti.

Mereka saling menatap, sama-sama menyimpan bagian yang tidak boleh disebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!