NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Story dan Undangan Reuni

Pagi berikutnya, wajah Tiara muncul di layar ponsel Laras bahkan sebelum alarmnya berhenti berbunyi.

Perempuan itu mengunggah Instagram Story dari kabin pesawat. Seragam Angkasa Nusantara melekat sempurna di tubuhnya, senyumnya cerah, dan tulisan kecil di bawah foto sengaja dibuat mencolok.

Flying with the best crew today. Semoga kaptennya juga best.

Story berikutnya milik Sherly. Sebuah tas bermerek diletakkan di meja restoran dengan tulisan, Reuni nanti jangan salah dress code, ya.

Laras menutup Instagram. Belum sampai satu menit, grup angkatan kembali bergerak.

Tiara:

Katanya Arkan juga diundang.

Tiara:

Kalau dia datang, nanti aku ajak duduk bareng. Kami sama-sama di Angkasa, kok.

Beberapa emoji mata dan hati langsung bermunculan. Sherly membalas dengan stiker tertawa. Nama Vina tetap berada di daftar pembaca tanpa satu pesan pun.

Laras mematikan layar, tetapi dadanya sudah terlanjur berat.

Panggilan video dari Nindya masuk saat ia sedang menuang air panas. Laras mengangkatnya dan menyandarkan ponsel di dekat wadah gula.

“Wajahmu kayak habis kena turbulence,” kata Nindya tanpa salam panjang. “Gimana acara kemarin?”

Laras menatap uap yang naik dari cangkir. “Aku kenal orangnya.”

“Mantan?”

“Aku bahkan nggak pernah punya mantan.”

“Terus?”

Laras mengusap tepi cangkir dengan ibu jari. Mengucapkannya keras-keras terasa lebih memalukan daripada menyimpannya di buku harian.

“Dia cowok yang aku suka sejak SMA.”

Nindya membeku di layar. “Yang itu?”

Laras mengangguk kecil.

“Ya ampun.” Nindya mendekatkan wajah ke kamera. “Terus dia gimana? Ingat kamu?”

“Nggak.”

“Sama sekali?”

“Dia minta maaf karena nggak ingat kami pernah satu sekolah.”

Nindya diam selama beberapa detik. Candaan di wajahnya menghilang.

“Ras, kamu mau aku bilang ini takdir atau mau aku maki dia dulu?”

Tawa Laras lolos sebelum sempat ditahan. Pendek, tetapi cukup untuk melonggarkan dadanya.

“Dia nggak salah. Dulu aku memang bukan siapa-siapa.”

“Jangan mulai.” Suara Nindya tegas. “Dia boleh lupa. Kamu nggak boleh ikut-ikutan menghapus dirimu sendiri.”

Laras terdiam.

“Kamu jadi datang ke reuni?” lanjut Nindya.

“Belum tahu.”

“Datang.”

“Buat apa?”

“Buat menunjukkan kalau kamu nggak takut lagi. Bukan buat cowok itu, bukan juga buat tiga perempuan kurang kerjaan di grup. Buat dirimu sendiri.”

Laras melirik layar ponsel kedua kalinya ketika pesan baru masuk. Tiara sedang menjawab pertanyaan teman seangkatan tentang Arkan.

Kapten A330 termuda di Angkasa. Orangnya susah didekati, tapi kalau udah kenal sebenarnya baik banget.

Seolah Tiara mengenalnya lebih dekat daripada siapa pun.

“Nin,” kata Laras pelan, “kalau aku datang, aku nggak mau sembunyi di sudut lagi.”

“Bagus. Pakai baju paling cantik yang kamu punya.”

“Itu saran yang sangat dangkal.”

“Kadang penyembuhan memang butuh sepatu bagus.”

Kali ini Laras tertawa lebih lepas.

Belum lama panggilan berakhir, ketua panitia reuni menandai namanya di grup.

Laras, jadi hadir? Kami butuh jumlah final untuk reservasi.

Sherly langsung menyelipkan balasan.

Kasih alamat lengkapnya, dong. Takut ada yang belum pernah ke tempat seperti itu.

Tiara menambahkan emoji tertawa, lalu menulis, Kalau bingung dress code, tanya aja. Jangan sampai ada yang salah kostum.

Dulu Laras akan membisukan grup dan berharap namanya segera tenggelam di antara pesan lain. Kali ini ia mengetik sebelum rasa takut sempat mengambil alih.

Laras:

Aku hadir. Pembayaran sudah kutransfer. Sampai ketemu Sabtu.

Tanda dibaca bermunculan. Tak ada satu pun dari mereka yang membalas.

Dua hari berikutnya lewat di antara jadwal kerja dan notifikasi yang sengaja tidak ia buka. Pada satu shift pagi, Laras kembali duduk di depan layar Jakarta Approach. Cuaca lebih bersih daripada malam badai, lalu lintas mengalir tanpa banyak deviasi.

“Nusantara 7310, belok kiri heading 240, turun ke ketinggian 4.000 kaki.”

“Belok kiri heading 240, turun ke 4.000 kaki, Nusantara 7310.”

Suara kaptennya bukan Arkan.

Laras tahu hanya dari satu jawaban. Ia kesal pada dirinya sendiri karena sempat menunggu nada rendah yang lain.

“Nusantara 7310, diizinkan melakukan pendekatan ILS runway 25R. Hubungi Tower di 118.75.”

Setelah pesawat itu berpindah frekuensi, Rosa menoleh singkat. “Kamu nunggu callsign tertentu?”

“Aku nunggu kamu berhenti mengawasi wajahku.”

Rosa terkekeh, lalu kembali ke layar koordinasi. Laras pun fokus pada penerbangan berikutnya. Di ruangan itu, perasaannya tak boleh mengambil satu sentimeter pun ruang dari keselamatan.

Sabtu sore, Wulan menemukan tiga gaun terhampar di tempat tidur Laras.

“Katanya cuma reuni,” godanya.

“Memangnya reuni nggak boleh pakai baju bagus?”

Wulan mengangkat gaun hitam, lalu menggeleng. Ia memilih gaun hijau gelap dengan potongan sederhana yang mengikuti tubuh tanpa terlihat berlebihan.

“Yang ini.”

“Kenapa?”

“Karena kamu selalu pilih warna gelap kalau ingin menghilang.” Wulan menaruh gaun hitam kembali ke kasur. “Malam ini jangan.”

Kalimat itu membuat Laras berhenti menyentuh antingnya.

Ia mengenakan gaun pilihan Wulan. Rambutnya dibiarkan tergerai, riasannya tegas di bagian mata, dan sepatu hak berwarna nude membuat langkahnya lebih tinggi. Bukan penyamaran. Bukan pula usaha menjadi orang lain.

Hanya Laras yang tak lagi membungkuk agar orang lain merasa lebih besar.

Menjelang malam, mobil yang membawanya berhenti di depan Restoran Kayu Manis. Dari balik pintu kaca, Laras bisa melihat beberapa wajah lama dan kilatan kamera ponsel.

Pesan Nindya masuk.

Nindya:

Masuk. Jangan kasih mereka kesempatan bikin kamu ragu.

Laras menyimpan ponsel. Ujung hak sepatunya menyentuh lantai batu saat ia berdiri di depan pintu.

Ia menarik napas, lalu mendorongnya terbuka.

Tawa di dalam ruangan terputus.

Semua mata berbalik ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!