Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Jena baru saja selesai menata makan siang di atas meja kecil yang diletakkan di sisi ranjang rumah sakit. Satu per satu tutup saji dibukanya, memperlihatkan hidangan hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
Aroma makanan memenuhi ruangan, tetapi perhatian Keisya justru tertuju pada sosok pria paruh baya yang sejak tadi tampak sibuk mengurus segala kebutuhannya.
Keisya pun mengangkat kepala perlahan. Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Jena.
"Mana yang lain, kak?"
Pertanyaan itu membuat Jena berhenti sejenak. Ia berdeham pelan, lalu membungkukkan badan dengan sikap hormat.
"Tuan besar dan para tuan muda sedang ada urusan," jawabnya setenang mungkin, seolah tidak ada yang aneh.
Keisya hanya mengangguk kecil.
Siang itu terasa berbeda. Biasanya Jena tidak pernah datang menjenguknya selama beberapa hari terakhir. Kini wanita itu justru datang lebih awal, mengurus semua kebutuhannya seorang diri.
Setelah memastikan makanan telah tertata rapi, Jena kembali berkeliling ruangan. Gorden dibukanya lebih lebar agar cahaya matahari masuk, lalu televisi dinyalakan dengan volume rendah supaya kamar tidak terasa terlalu sunyi.
Semua dilakukan dengan begitu telaten. Namun Keisya sama sekali tidak menyentuh sendoknya.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan Jena, hingga akhirnya punggung pria itu menjadi sasaran pandangnya.
"Enggak usah bohong, Kak."
Kalimat itu terdengar pelan, tetapi cukup membuat tubuh Jena membeku.
"Keisya sudah tahu."
Perlahan Jena membalikkan badan. Gerakannya kaku, bahkan wajahnya tampak kehilangan warna.
"Nona Keisya...?" Keisya tersenyum kecil. Senyum yang begitu tenang hingga justru membuat hati Jena semakin tidak enak.
"Tenang saja. Dari awal aku memang cuma anak angkat." Ia mengambil sendoknya lalu mulai menyuap makanan dengan santai. "Aku juga sudah tahu soal Bunda Syena... dan Keyla."
Ucapan itu membuat dada Jena semakin sesak, ia sudah mengenal Keisya sejak bekerja di usia 19 tahun dan sekarang, yang artinya sudah 8 tahun.
Tidak mungkin ia salah melihat. Anak yang biasanya akan langsung marah, menangis, atau membanting barang ketika merasa tersisihkan kini justru terlihat begitu damai.
Perubahan itu terasa terlalu besar.
Tanpa disadari, pikiran Keisya melayang pada kehidupan yang pernah ia jalani.
Dulu ketika Keyla mengalami kecelakaan, Tuan Alex memutuskan melakukan tes DNA. Hasilnya mengubah segalanya.
Keyla ternyata benar-benar putri kandung Alex yang hilang sembilan tahun silam.
Selama menjalani perawatan di rumah sakit, keluarga Jordan perlahan menceritakan masa lalu kepada Keyla yang kehilangan ingatan sejak usia lima tahun. Sedikit demi sedikit mereka berusaha mengembalikan potongan kenangan yang telah lama hilang.
Seminggu kemudian Keyla dibawa pulang ke mansion.
Sejak hari itu seluruh penghuni rumah hanya berfokus pada satu orang.
Mereka ingin menebus sembilan tahun kehilangan, sedangkan Keisya perlahan berubah menjadi sosok yang tak lagi terlihat.
Segala cara pernah ia lakukan demi mendapatkan kembali perhatian keluarga yang selama ini menjadi dunianya. Ia membuat keributan, membangkang, bahkan sengaja mencari masalah.
Namun semua itu hanya membuat mereka semakin menjauh.
Kini semuanya berbeda, orang yang dirawat di rumah sakit bukan lagi Keyla, melainkan dirinya.
Dan percakapan panjang bersama Geo kemarin membuat semua kepingan cerita akhirnya tersusun rapi di dalam pikirannya.
Gio menceritakan semuanya, entang kecelakaan Bunda Syena dan hilangnya Keyla.
Tentang pencarian yang tak pernah berhenti selama sembilan tahun, hingga akhirnya mereka menemukan seorang remaja yang sangat mirip dengan anak yang hilang itu.
Kini mereka hanya menunggu hasil tes DNA.
Awalnya Keisya mengira Alden yang akan membuka rahasia tersebut. Nyatanya justru Geo yang memilih menceritakan semuanya lebih dulu.
Melihat wajah Jena saat ini, Keisya bahkan tidak perlu bertanya lagi, ia sudah bisa menebak jawabannya.
Hasil tes itu pasti sudah keluar dan seluruh penghuni mansion pasti sudah mengetahui bahwa Keyla memang anak kandung Alex dan Syena.
"Ayolah.." Keisya menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil tersenyum tipis. "Aku cuma tahu cerita waktu Keyla masih kecil. Yang ingin aku dengar justru apa yang terjadi beberapa hari terakhir di mansion."
Ia menatap Jena lurus-lurus.
"Katakan yang sebenarnya."
Jena menelan ludah dengan susah payah. Beberapa kali bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya ia memberanikan diri berbicara.
"Semenjak Nona Keisya dirawat... Tuan Besar membawa Nona Keyla ke mansion."
Keisya tetap diam.
"Tuan Alex mengatakan kepada Nona Keyla kalau beliau mencurigai dirinya adalah putri kandung yang selama ini hilang."
Jena berhenti sejenak untuk mengamati ekspresi Keisya, namun remaja itu masih tetap tenang.
"Beliau juga bilang... apa pun hasil tes DNA nanti tidak akan mengubah keinginannya untuk menerima Nona Keyla. Karena wajahnya sangat mirip dengan mendiang Nyonya Syena."
Suara Jena semakin lirih.
"Hasil tes DNA sebenarnya keluar kemarin... lebih cepat dari perkiraan."
Keisya menghentikan gerakan mengunyahnya.
'Jadi kemarin ya.. berarti kak Gio sengaja datang menemuiku setelah hasil tes itu keluar.'
'Pantas saja setelah itu tak seorang pun dari keluarga Jordan datang menjengukku lagi.. tapi tidak papalah.. ini lebih bagus..'
Jena menundukkan kepala dalam-dalam.
"Sekarang... semua orang sedang sibuk menyambut kepulangan Nona Keyla."
Ruangan kembali sunyi, yang terdengar hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.
Jena tidak berani mengangkat wajahnya. Ia takut melihat Keisya menangis dan mengamuk seperti biasanya.
Namun yang terdengar justru helaan napas panjang.
"Begitu ya..." Keisya tersenyum kecil.
"Makasih sudah jujur.."
Keisya menoleh ke arah jendela. Langit di luar terlihat cerah, dihiasi awan putih yang berarak perlahan.
Senyumnya bahkan tampak semakin lebar.
'Awal yang bagus.. sebentar lagi keluarga ini akan utuh dan aku bisa bebas pergi..'
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu