Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Reuni di Kantor Polisi
Kirana tiba di kantor polisi terlalu pagi.
Unit pelayanan bahkan belum sepenuhnya ramai. Seorang petugas sedang menyapu halaman, dua kursi plastik masih ditumpuk di sudut, dan dispenser air belum dipasang galonnya. Namun kepala unit sudah menunggu mereka dengan kemeja rapi dan senyum yang terlalu sopan untuk kantor polisi kecil.
"Ibu Kirana, silakan masuk."
Kirana sempat berhenti.
Kemarin, di kantor polisi lain, ia hampir tidak dianggap. Hari ini, seorang kepala unit menyambutnya seperti tamu penting. Ia menoleh kepada Leon.
Leon hanya berkata, "Pak Nathaniel membantu sedikit."
"Sedikit?"
"Nanti kita bicara."
Kirana ingin bertanya lebih jauh. Bantuan Nathaniel selalu datang seperti tangan yang turun dari tempat terlalu tinggi, terlihat hanya ujung jarinya, sementara tubuh pemiliknya tetap tersembunyi di balik awan. Ia tidak mengenal pria itu, tetapi nama Nathaniel muncul di setiap pintu yang tiba-tiba mudah dibuka. Dan Leon, sopir yang katanya hanya bekerja untuknya, selalu tampak terlalu tenang ketika pintu-pintu itu terbuka.
Namun pikiran itu runtuh begitu suara dari dalam ruangan terdengar.
Kirana tidak sempat mengejar. Dari dalam ruangan terdengar suara perempuan tua yang serak.
"Kira jangan hujan-hujanan..."
Tubuh Kirana membeku.
Suara itu berubah. Lebih tua, lebih pecah, lebih rapuh. Namun tidak ada bagian dari dirinya yang bisa salah mengenali.
"Nio?"
Ia hampir berlari masuk.
Di ruang kecil dengan dinding krem, Lau Ing Nio duduk di kursi plastik sambil memeluk kantong lusuh. Rambutnya putih kusut. Kulitnya lebih tipis, pipinya cekung, dan matanya bergerak gelisah. Tetapi ketika Kirana muncul di pintu, perempuan tua itu mengangkat wajah.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Lalu Nio berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser.
"Kira?"
Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Nio..."
Nio berjalan dengan langkah goyah. Kirana menyambutnya sebelum ia jatuh. Tubuh tua itu ringan sekali dalam pelukannya, terlalu ringan, seperti tiga tahun telah mengambil daging, tenaga, dan ketenangannya sedikit demi sedikit.
"Kamu pulang," gumam Nio. "Kamu pulang, cucu."
Kirana akhirnya menangis.
Tangis yang ia tahan sejak pintu LP terbuka, sejak rumah Sylvia, sejak kantor polisi, sejak semua orang berkata susah, pecah di bahu neneknya. Ia memeluk Nio hati-hati, takut tubuh itu retak jika ia terlalu kuat.
"Maaf, Nio. Maaf aku terlambat."
"Jangan menangis." Nio mengusap rambut Kirana dengan tangan gemetar. "Pengantin tidak boleh menangis. Nanti riasannya rusak."
Kirana terisak lebih keras.
Ia ingin mengatakan bahwa pernikahan itu sudah lama berubah menjadi mimpi buruk. Ia ingin mengatakan bahwa gaun putih yang Nio ingat telah menjadi pakaian terakhir yang ia kenakan sebelum hidupnya dibawa ke ruang interogasi. Ia ingin mengatakan bahwa Reuben tidak pernah datang sebagai pengantin pria yang mencintainya, melainkan sebagai saksi yang membuang muka ketika semua orang menudingnya.
Tetapi di hadapan mata Nio yang pecah oleh waktu, semua penjelasan itu terasa terlalu kejam.
"Iya, Nio," bisiknya. "Aku tidak menangis lagi."
Air matanya tetap jatuh.
Leon berdiri di dekat pintu, tidak masuk mengganggu. Kepala unit memberi isyarat kepada petugas lain agar keluar. Ruangan itu dibiarkan untuk mereka.
Ia melihat Kirana menangis tanpa suara yang dibuat-buat. Bahunya bergetar, tetapi tangannya tetap memegang tubuh Nio dengan hati-hati. Bahkan dalam rasa sakitnya sendiri, perempuan itu masih takut melukai orang lain.
Leon pernah melihat banyak orang menangis. Ada yang menangis karena takut kehilangan kontrak, ada yang menangis karena rahasia terbongkar, ada yang menangis karena ingin mengubah keputusan. Tangis Kirana tidak meminta apa-apa. Tangis itu hanya membuktikan bahwa ia telah menahan beban terlalu lama.
Nio menarik sedikit tubuh Kirana, memandang wajahnya. "Gaunnya mana?"
"Tidak ada gaun, Nio."
"Kamu mau menikah hari ini. Reuben datang?"
Nama itu membuat Kirana menegang.
Leon menangkap perubahan itu.
Kirana menghapus air mata. "Tidak, Nio. Reuben tidak ada."
"Dia jangan jahat. Kira anak baik." Nio menggenggam tangan Kirana dengan panik. "Bilang sama mereka, Kira tidak bunuh orang. Kira takut darah."
Kepala Kirana seperti dipukul dari dalam. Nio mengingat. Bukan dengan urutan yang benar, bukan dengan kesadaran penuh, tetapi luka malam itu tersangkut di pikirannya.
"Aku tahu," bisik Kirana. "Nio tahu aku tidak melakukannya, kan?"
"Kira anak baik," ulang Nio. "Anak baik."
Kalimat itu sederhana.
Namun setelah tiga tahun dunia menyebutnya pembunuh, dua kata dari Nio terasa seperti putusan yang akhirnya benar.
Kirana mencium tangan neneknya berkali-kali.
Ia tidak tahu kepala unit masih berdiri di luar pintu dengan wajah serba salah. Ia tidak tahu Leo menundukkan kepala ketika mendengar kata pembunuh disebut oleh seorang lansia yang pikirannya tidak utuh. Ia bahkan tidak sadar Leon mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
Selama ini, Leon mengetahui kasus Kirana dari berkas. Kronologi, saksi, hasil persidangan, keluarga yang menolak, mantan tunangan yang berkhianat. Semuanya tertulis rapi, kering, dan berjarak. Tetapi mendengar Nio, saksi hidup yang rusak karena kejadian yang sama, mengulang keyakinan bahwa Kirana takut darah, membuat berkas itu mendadak bernapas.
Ada sesuatu yang salah sejak awal.
Dan kesalahan itu tidak kecil.
Kepala unit berdehem pelan setelah beberapa lama. "Ibu Kirana, kami perlu mencatat pernyataan keluarga. Untuk sementara, Ibu Lau bisa dibawa dengan pendampingan, tapi sebaiknya langsung diperiksa ke rumah sakit. Kondisinya kurang stabil."
Kirana mengangguk cepat. "Saya bawa."
"Kami juga akan buat berita acara penemuan keluarga," lanjut kepala unit. "Supaya nanti kalau ada kebutuhan administrasi rumah sakit atau data kependudukan, Ibu tidak harus mulai dari nol."
Kirana menghapus wajah dengan punggung tangan. "Terima kasih, Pak."
Kepala unit tampak ingin mengatakan sesuatu tentang nama Nathaniel, tetapi Leon menatapnya sekilas. Pria itu langsung menelan kata-katanya.
Kirana melihat gerakan kecil itu. Lagi-lagi, Leon tidak melakukan apa pun yang terang-terangan. Namun orang-orang di sekitarnya selalu tiba-tiba mengerti batas.
Nio tiba-tiba mencengkeram tangan Kirana. "Kamu menikah?"
Ruangan kembali hening.
Kirana menoleh kepada Leon.
Leon melangkah maju perlahan. Ia menunduk sedikit di depan Nio, menjaga suaranya lembut. "Nio, saya Leon."
Nio menatapnya dengan mata basah dan bingung. "Laki-lakimu?"
Wajah Kirana panas, bahkan di tengah tangis.
"Iya," jawab Leon sebelum Kirana sempat bicara. "Saya suami Kirana."
Nio memegang lengan Kirana lebih kuat. "Dia baik?"
Kirana menatap Leon.
Pria itu tidak memaksa jawaban. Tidak tersenyum untuk mengambil hati. Ia hanya berdiri di sana, siap menerima penilaian perempuan tua yang bahkan belum sepenuhnya sadar.
"Dia..." Kirana menarik napas. "Dia sedang berusaha baik."
Nio mengangguk seolah jawaban itu masuk akal. "Kalau tidak baik, Nio cubit."
Tangis Kirana berubah menjadi tawa kecil yang patah.
Leon menunduk. "Saya akan ingat."
Nio mengangkat tangannya yang kurus, benar-benar seperti hendak mengukur lengan Leon untuk dicubit. Leon tidak menghindar. Ia bahkan maju setengah langkah agar perempuan tua itu tidak perlu terlalu jauh menjangkau.
Jari Nio menyentuh lengan jasnya, lalu berhenti. Matanya menatap wajah Leon lama. Kebingungan masih ada di sana, tetapi di bawahnya terselip kewaspadaan naluriah seorang nenek.
"Jangan bikin Kira tunggu hujan," gumamnya.
Leon tidak sepenuhnya mengerti kalimat itu.
Kirana mengerti. Malam pernikahan dulu hujan. Ia menunggu di kamar pengantin dengan telepon yang tidak dijawab, lalu pintu terbuka bersama polisi, jeritan, dan darah yang bukan miliknya. Hujan sejak itu tidak pernah kembali menjadi sekadar cuaca.
"Tidak," jawab Leon pelan. "Saya tidak akan membiarkannya menunggu sendirian."
Kirana menatapnya, dada mendadak sesak. Kalimat itu mungkin hanya untuk menenangkan Nio. Namun cara Leon mengatakannya terlalu berat untuk sekadar sandiwara.
Setelah itu, proses administrasi berjalan pelan. Kirana menandatangani formulir sebagai cucu sekaligus penanggung jawab sementara. Tangannya bergetar saat menulis nama Nio, bukan karena takut, melainkan karena nama itu akhirnya kembali berada di atas kertas resmi. Selama tiga tahun, Lau Ing Nio seperti hilang dari dunia. Hari itu, dengan tinta biru yang sedikit belepotan, ia kembali dicatat sebagai manusia yang punya keluarga.
Leon berdiri di sampingnya. Ketika petugas meminta fotokopi kartu identitas dan surat pendukung, Kirana sempat panik karena banyak dokumen lamanya belum lengkap. Leon hanya menelepon Leo. Lima belas menit kemudian, berkas sementara yang diperlukan sudah tersusun di meja.
"Kamu memang hanya sopir?" tanya Kirana lirih ketika petugas pergi mengambil stempel.
Leon menatap stempel yang berdetak di ruang sebelah. "Hari ini, aku suamimu."
"Itu bukan jawaban."
"Aku tahu."
Kirana ingin mendesak. Namun Nio yang duduk di kursi dekat mereka mulai mengantuk, kepalanya terkulai. Kirana segera berlutut di depannya, membetulkan selimut tipis yang dipinjam dari kantor polisi. Pertanyaan tentang Leon mundur lagi ke belakang, kalah oleh napas Nio yang lemah.
Saat mereka bersiap keluar, Nio tiba-tiba berhenti di ambang pintu dan menatap Kirana dengan panik lagi.
"Kira," katanya cepat, "laki-lakimu memperlakukan kamu baik-baik, kan?"
Pertanyaan itu membuat Kirana menggenggam tangan neneknya lebih erat.
"Iya, Nio. Aku aman."
Untuk sekarang.
Di belakang mereka, Leon mendengar setiap kata.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa pertanyaan perempuan tua itu bukan hanya untuk Kirana, melainkan juga peringatan untuk dirinya.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔