Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Keheningan Setelah Badai
Dua hari setelah FIA Gala, seluruh Indonesia membicarakan tembakan yang tidak boleh disebutkan.
Berita resmi hanya menyebut "insiden keamanan dalam acara bisnis tertutup". Media sosial lebih jujur. Potongan video kabur beredar di WhatsApp. Siluet pria jatuh dari balkon. Jeritan perempuan. Nama Hotel Mulia. Nama FIA Gala. Tidak ada nama Sen. Tidak ada nama Momo. Tidak ada wajah Renard yang jelas.
EMP Group membuat badai itu tampak seperti gerimis.
Di Pulau Raja, keamanan dinaikkan dua kali lipat.
Momo melihat pengawal baru di taman, kamera tambahan di koridor, dan Albert yang jarang melepas earpiece. Dermaga dijaga empat orang. Helipad tidak pernah kosong dari kru siaga. Laut yang dulu menjadi satu-satunya harapan kini terlihat seperti halaman yang sudah dipagari ulang.
Namun yang paling aneh bukan keamanan.
Yang paling aneh adalah Renard.
Ia tidak menjadi lebih kasar. Tidak juga lebih lembut. Setelah gala, mereka memasuki keheningan yang tidak punya nama. Mereka makan di meja yang sama, tetapi bicara seperlunya. Renard tidak memerintah sebanyak dulu. Momo tidak menyerang sebanyak dulu.
Gencatan senjata tanpa perjanjian.
Itu lebih membingungkan daripada perang.
Pagi hari, Momo berjalan di taman. Renard berjalan di jalur yang sama, tiga langkah di belakang, seolah kebetulan. Sore hari, ia membaca di perpustakaan, dan Renard duduk di meja jauh dengan laptop, tidak menyentuhnya, tidak memanggilnya, tetapi keberadaannya memenuhi ruangan.
Ada gravitasi.
Momo membenci kata itu.
Malam kedua, pintu penghubung terbuka seperti biasa. Renard tidak ada di kamarnya. Momo tahu seharusnya ia tidak masuk. Ia hanya ingin menutup jendela yang tertiup angin, begitu alasan yang ia buat untuk dirinya sendiri.
Kamar Renard lebih gelap dari kamarnya. Rapi, terlalu rapi. Di meja ada dokumen kerja, obat-obatan kecil, dan satu gelas air yang belum disentuh. Momo hendak keluar ketika matanya menangkap sesuatu di bawah bantal.
Foto kecil.
Ia tidak mengambilnya.
Hanya menarik ujungnya sedikit agar terlihat.
Seorang perempuan berambut panjang tertawa di bawah cahaya matahari. Di sampingnya, gadis kecil dengan senyum lebar memeluk boneka. Di belakang mereka, anak laki-laki kurus berdiri kaku, tetapi matanya terang.
Lucia.
Rola.
Renard kecil.
Momo tahu tanpa ada yang memberi tahu.
Ia menatap foto itu lama. Monster yang menulis aturan, membeli hidupnya, dan berkata ia miliknya, tidur dengan foto ibu dan adiknya di bawah bantal.
Sesuatu di dada Momo melunak dengan cara yang membuatnya panik.
"Kau sedang mencuri?"
Suara Renard datang dari pintu.
Momo cepat melepaskan foto itu. "Tidak."
Renard berdiri di sana, jasnya sudah dilepas, kemeja hitamnya terbuka satu kancing. Matanya turun ke bantal, lalu kembali ke Momo.
Ia tahu.
Momo bersiap dimarahi.
Renard hanya berjalan masuk, mengambil foto itu, dan memasukkannya kembali ke bawah bantal.
"Keluar," katanya.
Tidak keras. Tidak dingin seperti biasa. Justru lebih lelah.
Momo melangkah ke pintu, lalu berhenti. "Mereka keluargamu?"
Renard diam.
"Aku tidak akan tanya lagi kalau kau tidak mau jawab."
"Maka jangan tanya."
Momo mengangguk pelan.
Sebelum keluar, ia melihat tangan Renard menekan bantal sekali, seperti memastikan foto itu tetap ada.
Malam itu, Momo berbaring di kamarnya sendiri, memandangi pintu penghubung.
Ia tidak tahu kapan tepatnya rasa bencinya mulai punya ruang kosong di tengah.
Malam setelah gala, Pulau Raja tidak terasa menang.
Berita di layar televisi menyebut insiden di FIA Gala sebagai "gangguan keamanan terbatas". Tidak ada nama Sen. Tidak ada racun. Tidak ada keluarga Salim. Foto yang beredar hanya menunjukkan ballroom dari jauh, kaca pecah, dan beberapa tamu berlari dengan wajah buram.
Momo duduk di sofa kamar, memeluk lutut. "Mereka menghapus semuanya."
Renard berdiri dekat jendela. "Mereka mencoba."
"Kamu juga?"
"Aku memilih apa yang perlu keluar."
"Itu kalimat yang dipakai orang berkuasa untuk terdengar tidak bersalah."
Renard menoleh. "Aku tidak bersalah."
Kejujurannya membuat Momo lelah.
Sejak gala, keamanan berlipat. Pintu dibuka oleh dua kode. Koridor dijaga lebih rapat. Namun anehnya, Renard tidak memaksanya tetap di kamar. Ia membiarkan Momo berjalan di perpustakaan, taman, bahkan ruang musik. Kebebasan kecil itu terasa seperti tali panjang: lebih lega, tetapi tetap tali.
Di ruang musik, Momo menemukan foto itu.
Foto Lucia dan Rola terselip di bawah bantal kecil di sofa dekat piano. Mungkin jatuh dari buku. Mungkin disembunyikan Renard karena tidak sanggup menyimpan di tempat terbuka. Lucia tersenyum ke kamera, cantik dengan mata lelah. Rola kecil duduk di pangkuannya, rambut diikat dua, giginya ompong saat tertawa.
Momo menyentuh ujung foto.
Ia tidak seharusnya melihat.
Tetapi ia sudah melihat terlalu banyak untuk kembali menjadi tahanan yang hanya memikirkan pintu.
"Dia adikku," kata Renard dari pintu.
Momo hampir menjatuhkan foto.
Renard tidak marah. Justru itu membuatnya lebih sedih.
"Rola?"
Ia mengangguk.
"Dan Lucia?"
"Ibuku."
Kata ibuku terdengar kaku di mulutnya, seperti bahasa yang jarang dipakai.
Momo mengembalikan foto ke sofa. "Aku tidak bermaksud..."
"Aku tahu."
Mereka berdiri dalam hening. Piano di samping mereka tertutup. Di luar, laut gelap menabrak tebing. Momo sadar untuk pertama kalinya bahwa Pulau Raja bukan hanya penjara yang dibangun Renard untuknya. Pulau ini juga makam yang ia tinggali sendiri.
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Momo.
Renard menatap foto itu. "Belum."
Jawaban itu bukan penolakan. Lebih seperti permintaan waktu dari seseorang yang tidak pernah meminta.
Momo mengangguk.
Ia tidak memaafkannya. Ia tidak lupa. Ia masih ingin keluar.
Ia hanya tahu ruang kosong itu kini berisi wajah perempuan tertawa, gadis kecil bernama Rola, dan pria berbahaya yang tidur dengan kenangan di bawah bantal.