Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.
Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.
Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.
Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: BANGKITNYA SANG KEMATIAN
BAB 29: BANGKITNYA SANG KEMATIAN
Saat semua mata terpana menatap ketakutan ke arah sosok humanoid di balik robekan dimensi, gemuruh bergaung di dalam relung batin Kael Ardyn. Morthas yang bersemayam di dimensi Void membuka sepasang mata tak kasat matanya, memancarkan kejutan yang sangat jarang diperlihatkan.
“Avernus... Sang Lorong Hampa,” desis Morthas rendah dari kegelapan.
Kael menyapu darah di sudut bibirnya, memaksakan pita suaranya melontarkan kata-kata itu ke udara. "Avernus... Sang Lorong Hampa."
Suara Kael yang serak namun tegas bergema menembus keheningan yang mencekam. Jenderal Veron, Kapten Gareth, serta seluruh anggota tim Scar Horizon yang terkapar terengah-engah mendengar nama tersebut dengan raut wajah memucat.
“I-Ini tidak mungkin...” bisik Jenderal Veron seraya menahan dadanya yang sesak. "Bukankah dalam sejarah warisan leluhur... hanya Vitallion satu-satunya entitas Kelas Misterius yang pernah terbebas ke dunia manusia?!"
Mendengar nama Vitallion disebut oleh seorang manusia fana, sosok humanoid berselimutkan jubah lipatan realitas itu perlahan mengalihkan pandangannya. Atmosfer di sekitar tempat itu mendadak membeku.
“Manusia fana...” suara Avernus bergaung gersang, memotong udara seperti gesekan batu purba. "Kalian hanya tahu sebagian kecil dari lembaran sejarah yang sebenarnya."
BRUUUUUSSSSSHHHHHH!
Dengan satu kibasan samar dari jubah dimensi milik Avernus, gelombang energi kehampaan tak kasat mata meluncur turun menghantam tanah.
Bebatuan keras dan puing-puing benteng terkelupas seketika, meleleh menjadi abu abu-abu tanpa suara ledakan. Sebuah kawah berdiameter belasan meter tercipta secara instan di depan mereka, memperlihatkan jurang kehampaan yang mengerikan.
Pemandangan itu membuat Kapten Gareth, Ren, Hugo, dan seluruh prajurit Volcania menelan ludah dengan tenggorokan yang serasa tercekik.
Tiba-tiba, pendaran cahaya merah membara meledak dari dalam dada Elena. Bukan sekadar ilusi atau aura pelindung biasa—wujud fisik asli dari burung Phoenix purba Pyrael bermanifestasi utuh ke udara tanpa bisa ditahan lagi!
Kepakan sayap apinya yang abadi menebarkan hawa panas murni, memutus tekanan dingin yang dipancarkan Avernus. Suara wanita yang agung dan berwibawa keluar dari lisan sang Phoenix, bergaung ke seluruh penjuru Volcania.
“Avernus... setelah tiga ratus tahun berlalu, sikapmu sama sekali tidak berubah!” tebas Pyrael tegas.
Avernus melirik ke atas, sudut lipatan jubah di wajahnya bergetar sinis. "Cih... burung berisik, ternyata kau ada di sini."
Tak berselang lama, tanah di bawah kaki Hugo mendadak terbelah. Wujud fisik murni Morgrath—Mammoth Purba raksasa berbulu lebat dengan sepasang gading emas yang bersinar—muncul mendampingi tuannya yang terkapar.
Avernus menatap keberadaan Mammoth Purba itu seraya terkekeh meremehkan. "Ohooo... lihatlah, para budak Mitologi berkumpul di tempat yang begitu kumuh ini."
Sebelum kekehan sinis itu padam, arus kinetik di sekitar Ren meledak pesat. Sosok raksasa Kraken Rin bermanifestasi penuh dengan tentakel kinetik yang bergerak konstan memotong udara.
“Avernus! Kau kah yang menciptakan lorong labirin dimensi ini untuk menghubungkan Zona Dalam langsung ke wilayah peradaban manusia?!” tuntut Kraken Rin dengan suara menggelegar, menatap tajam sang Arsitek Lorong.
“Oh, selalu saja...” sahut Avernus santai, nada suaranya dipenuhi hinaan mutlak. "Sejak era Kerajaan Purba, kalian ras Mitologi selalu saja sudi merendahkan martabat untuk menjadi budak dari manusia fana."
“DIAM!” potong Morgrath, menghentakkan kaki raksasanya hingga bumi bergetar. "Kau tidak akan pernah mengerti, Avernus! Sebagai jenis Misterius yang angkuh, kalian tidak akan pernah paham arti sinergi keberadaan!"
“Paham? Ohooo...” Avernus tertawa dingin, gelombang auranya kian meluas. "Kami Kelas Misterius memiliki harga diri yang tinggi! Kami tidak seperti kalian, ras Mitologi yang sudi dirantai!”
BRUUUUUSSSSSHHHHHH!
Tekanan spasial Avernus melonjak berlipat ganda, meretakkan fondasi tanah di sekitar mereka secara masif.
“Lihatlah diri kalian sekarang!” cibir Avernus penuh keangkuhan. "Kalian bahkan hanya mampu mengeluarkan sedikit dari potensi kemampuan sejati kalian... semua itu terjadi akibat wadah jiwa manusia fana yang kalian pilih terlalu lemah!”
Avernus memajukan langkahnya, mengangkat tangannya yang terbungkus lipatan ruang. "Lebih baik kalian semua mati... membusuk bersama wadah-wadah rapuh kalian ini!”
BRUUUUUSSSSSHHHHHH!
Avernus mengibaskan lengan jubahnya secara brutal. Energi Kehampaan murni meluncur bagaikan ombak raksasa yang siap menelan raga Pyrael, Morgrath, dan Kraken Rin secara bersamaan.
Menghadapi gempuran konseptual yang mematikan itu, ketiga Anima Mitologi tidak memiliki pilihan lain. Pyrael menyemburkan lidah api abadi, Morgrath membentangkan perisai Bintang Bumi, dan Kraken Rin melepaskan pusaran gelombang kinetik murni!
Ketiga kekuatan elemen puncak itu menyatu secara presisi, membentuk barisan perisai gabungan di udara.
BOOOOOOOOOOMMMMMM!
Ledakan dahsyat bergaung hebat membelah langit Volcania. Gelombang kejutnya menerbangkan puyuh debu dan melemparkan tubuh Kapten Gareth, Veron, Ren, Hugo, dan Suna puluhan meter ke belakang!
Di tengah kepulan asap yang pekat, Avernus berdiri tegak tanpa bergeser seujung kuku pun dari posisinya. Ia menatap tiga Anima Mitologi di depannya yang mulai bergetar.
“Lihat... mau sampai kapan kalian sanggup bertahan?” ejek Avernus dingin. "Wadah jiwa manusia fana itu tidak akan sanggup menahan beban energi kalian lebih lama lagi!”
Di dalam dimensi Void yang pekat, Morthas kembali membuka sepasang mata merahnya. Tawa sinis yang hampa bergaung di ruang batin Kael.
“Bocah... aku akan memberimu satu kesempatan,” ujar Morthas, nadanya dipenuhi keseriusan yang mematikan. "Tapi ingat baik-baik. Jika jiwamu tak sanggup menahan beban kekuatan ini... kematian seluruh manusia fana yang ada di sini hanya tinggal menunggu waktu.”
Kael yang terbaring di atas tanah berdebu tidak membalas dengan keraguan. Otak analitisnya memproses situasi dalam hitungan kilatan waktu.
Ia tahu betul risikonya. Meski kekuatan gabungan Morgrath, Pyrael, Kraken Rin, dan Morthas saat ini hanya bisa dikeluarkan sekitar lima hingga sepuluh persen akibat keterbatasan wadah jiwa Perunggu dan Perak mereka... perpaduan kekuatan elemen murni dan konsep Kematian adalah satu-satunya jalan untuk mengimbangi sang Arsitek Lorong!
“Jangan pernah meremehkanku, Morthas!” tegas Kael di dalam batinnya seraya memaksa kedua kakinya kembali berdiri tegak.
WUUUUUUUHHHHSSSSSS!
Seketika itu juga, kabut hitam Void yang teramat pekat menyembur hebat dari sekujur tubuh Kael. Aura Kematian murni meledak ke udara, memutus tekanan spasial Avernus dan mencekik oksigen di sekitar medan perang.
Avernus terkesiap. Sudut jubah dimensinya bergetar saat menyadari fluktuasi aura yang sangat dikenalinya.
Dari balik gulungan asap kehampaan yang pekat, siluet raksasa setinggi empat meter bermaterialisasi penuh dengan keangkuhan semesta yang agung. Jubah malamnya mengibas anggun, sepasang sayap Void membentang megah, dan sebilah sabit merah menyala digenggam erat di tangan tulangnya.
Morthas, Sang Penuai Nyawa, memperlihatkan wujud fisiknya secara utuh di dunia nyata!
“M-MORTHAS?!” teriak Avernus, raut wajahnya yang tertutup lipatan realitas tersentak kaget. "Bagaimana mungkin kau berada di tempat ini?!”
Sang Penuai Nyawa mengibaskan sabit merahnya perlahan, memancarkan hembusan hawa dingin yang membekukan pasir di bawah kakinya.
WUUUUUHHHSSSSSS!
“Yooo, Avernus...” desis Morthas rendah, tawa sinisnya bergaung mengguncang alam bawah tanah.
Morthas melayang sejajar di samping Pyrael, Morgrath, dan Kraken Rin, menatap sang Arsitek Lorong dengan pandangan meremehkan.
“Bagaimana kalau... kau tambahkan aku sebagai lawanmu juga?”