NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harta yang Hilang

Matahari siang menyengat kawasan elit Jakarta Selatan dengan hawa panas yang membakar, namun di dalam rumah kolonial usang milik keluarga Gracellyn, suasananya justru terasa seperti sebuah festival kemenangan yang liar.

Bau debu dan kayu lapuk yang semalam terasa mencekam, kini tertutup oleh aroma menyengat dari masakan daging mahal dan botol-botol minuman beralkohol murah yang berserakan di atas meja ruang tamu.

Sesuai dengan janji Elvano, eksekusi penyitaan rumah tersebut dibatalkan. Pasukan pengawal berjas hitam yang semalam mengepung tempat itu telah ditarik mundur sepenuhnya fajar tadi, menyisakan kebebasan penuh bagi sepasang suami istri yang baru saja lolos dari lubang jarum kematian.

Di atas sofa kain cokelat yang semalam menjadi tempat duduk sang Bos mafia, Albert Gracellyn duduk bersandar dengan kaki gemuknya yang bersilang di atas meja kopi.

Meski wajahnya masih dipenuhi lebam keunguan dan sudut bibirnya dibalut plester akibat interogasi di kasino, senyum serakah yang lebar terukir menjijikkan di wajah paruh bayanya.

Tangannya memegang sebotol wiski lokal, meneguknya dengan rakus hingga tetesannya membasahi kaos kutang putihnya yang dekil.

"Hahaha! Bersulang, Sarah! Bersulang untuk umur panjang kita!" seru Albert dengan suara serak yang melengking riang, mengangkat botolnya ke udara.

Bibi Sarah melangkah keluar dari dapur sembari membawa sepiring besar rendang daging sapi.

Wajah keriputnya yang semalam pucat pasi bagai mayat, kini tampak merona kemerahan oleh rasa lega dan keserakahan yang kembali membubung tinggi.

Wanita itu meletakkan piring di atas meja, lalu menghempaskan tubuhnya di samping suaminya dengan tawa yang berderai.

"Benar-benar mukjizat, Albert! Aku bertaruh nyawaku semalam sudah berada di ujung tanduk. Siapa sangka bos mafia itu ternyata punya kelemahan pada jalang kecil seperti Alice," cetus Sarah sembari mengambil sepotong daging dengan jemarinya yang gemuk.

Ia mengunyahnya dengan lahap, tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah atau kesedihan atas keponakannya yang saat ini sedang dikurung di mansion mafia.

"Jalang kecil itu akhirnya berguna juga seumur hidupnya," cibir Albert, matanya berkilat licik di balik kelopak matanya yang bengkak.

"Selama belasan tahun kita memberinya makan dan membiarkannya tinggal di sini, baru hari ini dia memberikan timbal balik yang setimpal. Empat puluh miliar, Sarah! Tubuhnya itu berhasil menghapus utang empat puluh miliarku hanya dalam sekali kedipan mata! Kalau tahu Salvatore suka tipe kelinci polos seperti dia, sudah sejak tahun lalu aku menyerahkannya secara sukarela."

"Tapi Albert," Sarah menjeda kunyahannya, alisnya bertaut ragu sejenak.

"Bagaimana kalau suatu hari nanti Salvatore bosan dengannya dan mengembalikannya kemari? Atau lebih buruk lagi... bagaimana kalau Alice menceritakan hal yang sebenarnya pada pria itu?"

Albert mengibaskan tangannya di udara, meremehkan ketakutan istrinya.Ia meneguk kembali wiskinya hingga tinggal seperempat.

"Kau meremehkan kebodohan keponakanmu yang sok suci itu, Sarah. Alice itu terlampau naif. Dia sangat menyayangi Doni, adiknya. Selama kita memegang Doni yang sedang kuliah di luar kota, Alice tidak akan pernah berani membuka mulut atau bertindak macam-macam. Dia akan tetap menjadi budak penurut di ranjang Salvatore demi memastikan adiknya tetap hidup dan kuliah dengan tenang."

Pria gemuk itu terkekeh geli, membayangkan betapa sempurnanya rencana perdagangan manusia terselubung yang ia lakukan subuh tadi.

Di matanya, Alice hanyalah boneka yang sukses dikorbankan untuk menyelamatkannya dari adukan semen pelabuhan.

Setelah menghabiskan setengah botol wiski dan merasa energinya pulih sepenuhnya, Albert berdiri dari sofa.

Ia melangkah menuju bagian belakang rumah, melewati koridor remang-remang yang terhubung dengan ruang kerja pribadi mendiang kakaknya yang selama belasan tahun ini selalu dikunci rapat dari luar.

Albert merogoh saku celana pendeknya, mengeluarkan seuntai kunci kuningan kuno, lalu membuka pintu kayu tersebut.

Di dalam ruangan yang berbau apek dan dipenuhi sarang laba-laba itu, sebuah meja kerja jati besar berdiri berdebu di tengah ruangan.

Di balik sebuah lukisan tua yang tergantung miring di dinding belakang meja, terdapat sebuah brankas besi kuno berlogo Chubb sebuah peninggalan berharga yang tidak pernah diketahui oleh Alice seumur hidupnya.

Albert memutar nomor kombinasi brankas dengan gerakan yang sangat hafal.

KLIK.

Pintu besi tebal itu berayun terbuka, mengekspos isi di dalamnya yang berkilau di bawah temaram lampu senter ponsel Albert.

Di dalam brankas tersebut tidak ada tumpukan uang tunai, melainkan tumpukan map-map kulit tebal berwarna biru tua dan beberapa kotak beludru berisi perhiasan emas murni kuno.

Albert mengeluarkan salah satu map kulit paling atas, meniup debu yang menempel di permukaannya, lalu membukanya dengan senyum jahat yang kian melebar.

Dokumen di dalamnya adalah Surat Hak Milik (SHM) asli atas tanah dan bangunan rumah kolonial yang saat ini mereka tempati, lengkap dengan beberapa sertifikat tanah seluas puluhan hektar di kawasan industri Cikarang dan saham mayoritas di sebuah perusahaan logistik yang telah dibekukan.

Pada kolom nama pemilik sah di setiap dokumen tersebut, tercetak dengan jelas sebuah nama tunggal:

Mendiang Arthur Gracellyn & Elena Gracellyn orang tua kandung Alice.

"Hahaha... harta ini... seluruh sisa kejayaan keluarga Gracellyn..." bisik Albert, jemarinya yang kotor mengusap lembaran kertas sertifikat yang nilainya jika ditotal saat ini bisa menembus angka ratusan miliar rupiah.

Pria paruh baya itu tertawa terpingkal-pingkal di dalam ruangan sepi itu, sebuah tawa yang penuh akan kekejaman dan pengkhianatan berdarah.

"Alice... Alice... kau memang gadis paling bodoh di dunia," gumam Albert dengan nada mengejek yang teramat puas.

"Kau bekerja mati-matian seperti budak di bar kotor itu, demi mengirimkan setiap perak gajimu untuk membayar sewa rumah ini kepada kami... Kau mengira rumah ini adalah milik paman mu yang miskin, padahal aslinya... rumah mewah ini, tanah ini, dan seluruh aset yang menopang hidup kami selama belasan tahun ini adalah milikmu! Milik mendiang orang tuamu yang sah!"

Kilatan kilas balik yang gelap melintas di dalam ingatan Albert.

Belasan tahun yang lalu, ketika bisnis kakaknya, Arthur, berada di puncak kejayaan, Albert hanyalah seorang parasit yang terlilit utang judi di mana-mana.

Frustrasi dan serakah, Albert bersama Sarah akhirnya merencanakan sebuah "kecelakaan" sabotase rem mobil di jalur puncak yang merenggut nyawa Arthur dan istrinya dalam sekejap, menyisakan Alice yang masih kecil dan adiknya yang masih bayi sebagai anak yatim piatu yang sebatang kara.

Setelah kematian tragis itu, Albert dengan cepat memalsukan dokumen hak asuh, merebut seluruh brankas rahasia, dan memanipulasi pikiran Alice kecil agar percaya bahwa orang tuanya mati meninggalkan utang besar, sehingga Alice harus berutang budi seumur hidup kepada paman dan bibinya yang bersedia menampung mereka.

"Mereka mati dengan sangat mudah, dan sekarang... anak perempuan mereka menjadi pelampiasan nafsu mafia untuk melunasi utang judiku yang baru," Albert mendekap map kulit itu di dadanya, matanya memancarkan keserakahan.

"Salvatore boleh mengambil tubuh Alice, tapi seluruh harta ratusan miliar ini akan tetap menjadi milikku. Surat tanah yang cacat hukum yang kuberikan pada mafia semalam hanyalah salinan palsu yang sudah kumanipulasi tanggalnya. Biarkan saja mafia itu mengira mereka telah menyita rumah ini secara legal."

Albert memasukkan kembali dokumen-dokumen berharga itu ke dalam brankas, lalu menguncinya kembali dengan rapat.

Ia membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari ruang kerja gelap itu dengan perasaan seperti seorang pemenang sejati.

Di luar sana, Alice mungkin sedang menangis darah di dalam sangkarnya, menatap masa depannya yang hancur di tangan Elvano Lucane Salvatore.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!