NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian

Setelah menyelesaikan sarapan paginya yang tenang, Gisella segera bersiap-siap.

Dia memilih gaun kasual berwarna krem yang sopan, mengurai rambut cokelat bergelombangnya, dan membawa tas tangan kecil yang hanya berisi ponsel serta kartu identitas.

Sesuai dengan apa yang dikatakannya pada Adrian, dia meminta supir keluarga Arthur, Pak pengawal merangkap supir bernama Thomas, untuk mengantarkannya ke Perpustakaan Pusat Aethelgard.

Sepanjang perjalanan, Gisella menatap keluar jendela mobil, mengamati arsitektur kota Aethelgard yang megah dan modern.

Pikirannya berputar cepat.

Rencana jangka pendeknya berjalan lancar, tetapi dia tidak boleh lengah.

Sambil memikirkan strategi finansialnya untuk mengumpulkan modal, ada satu hal penting yang terus mengusik benaknya: kesehatan Adrian.

Sebagai seorang transmigran yang tahu jalan cerita novel, dia ingat betul bab 25 dalam novel asli Belenggu Cinta di Aethelgard.

Di bab itu, Adrian pingsan di laboratoriumnya akibat serangan ketoasidosis diabetik akut—sebuah komplikasi serius akibat lonjakan gula darah yang ekstrem yang dipicu oleh stres berat dan konsumsi kafein serta gula berlebih secara simultan.

Kejadian itu membuat riset pentingnya tertunda dan menjadi celah bagi karakter antagonis lain untuk mencuri data penelitiannya.

"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengubah takdir tubuh ini. Berarti, aku juga harus memastikan lingkungan di sekitarku tetap stabil. Jika Adrian jatuh sakit, fokus keluarga Arthur akan terpecah, dan posisiku sebagai menantu yang sedang menunda cerai bisa terancam,"

gumam Gisella pelan.

Setibanya di perpustakaan, Gisella tidak mencari buku tentang keuangan terlebih dahulu.

Langkah kakinya justru menuntunnya ke rak fisiologi medis, nutrisi metabolisme, dan manajemen diabetes.

Dengan kecerdasan lamanya yang digabungkan dengan memori tubuh Gisella asli yang sebenarnya memiliki ingatan fotografis (hanya saja jarang digunakan untuk hal berguna), Gisella mencatat beberapa resep suplemen herbal alami, daftar makanan ber-indeks glikemik rendah, dan jurnal riset terbaru tentang regenerasi sel pankreas.

Dia menghabiskan waktu empat jam untuk mencatat dan menyusun sebuah

 "Buku Panduan Diet Ketat" khusus untuk Adrian.

"Bagus. Langkah pertama adalah membersihkan ruang kerjanya dari simpanan gula rahasia,"

ucap Gisella dengan senyuman penuh tekad saat menutup buku catatannya.

Sore harinya, sekitar pukul empat, Gisella kembali ke kediaman Arthur.

Begitu melangkah masuk melalui pintu utama, dia langsung disambut oleh Bibi Martha yang tampak membawa nampan berisi cangkir teh kosong.

"Bibi Martha, apakah Adrian sudah pulang?" tanya Gisella sambil meletakkan tasnya.

"Sudah, Nona Muda. Tuan Muda Adrian baru saja kembali sekitar tiga puluh menit yang lalu. Beliau langsung mengunci diri di ruang kerja lantai bawah karena tampaknya ada masalah dengan analisis data di universitas. Wajah Tuan Muda terlihat sangat lelah," jawab Bibi Martha cemas.

"Beliau bahkan meminta saya membuatkan secangkir kopi hitam dengan tiga sendok gula tambahan."

Mendengar kata 'tiga sendok gula', alarm di kepala Gisella langsung berbunyi keras.

"Tiga sendok gula? Ditambah kopi pekat saat sedang stres berat? Itu adalah formula instan menuju keruntuhan kesehatan!"

"Apakah Bibi sudah membuatnya?" tanya Gisella panik.

"Belum, Nona. Saya baru saja ingin menyalakan mesin kopi."

"Biar aku yang urus, Bibi. Kau bisa istirahat atau membantu membersihkan ruang makan,"

potong Gisella cepat.

Gisella segera mengambil alih dapur.

Alih-alih membuat kopi hitam penuh racun manis itu, dia merebus air dan menyeduh teh bunga krisan organik yang dicampur dengan beberapa lembar daun mint segar dan sejumput kayu manis bubuk.

Kayu manis dikenal secara medis mampu meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah, sementara bunga krisan dan mint akan memberikan efek menenangkan pada saraf Adrian yang tegang tanpa efek samping kafein.

Sambil membawa nampan berisi cangkir teh hangat dan semangkuk kecil kacang almon panggang tanpa garam, Gisella berjalan menuju ruang kerja Adrian.

Dia mengetuk pintu kayu ek itu dengan pelan.

"Tok. Tok."

"Masuk,"

terdengar suara berat Adrian dari dalam, ketus dan sarat akan kekesalan.

Gisella mendorong pintu dengan siku dan melangkah masuk.

Ruangan itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu meja kerja yang menyorot langsung ke tumpukan berkas dan layar monitor yang menyala.

Adrian duduk di sana, dasinya sudah dilonggarkan, dua kancing atas kemejanya terbuka, dan rambutnya sedikit berantakan karena frustrasi.

Pria itu bahkan tidak mendongak saat mendengarkan langkah kaki mendekat.

"Letakkan kopinya di meja sebelah kanan, Martha. Dan jangan ganggu aku sampai—"

Kalimat Adrian terhenti saat dia mencium aroma wangi herbal yang menenangkan, bukan aroma pekat kopi hitam yang dia minta.

Adrian mendongak dan mendapati Gisella—bukan Bibi Martha—yang sedang meletakkan nampan di atas mejanya dengan gerakan anggun.

"Di mana kopi dengan tiga sendok gula yang ku pesan?"

 tanya Adrian, matanya menyipit di balik kacamata peraknya, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.

"Kopi itu sudah dibatalkan oleh perintah otoritas tertinggi di dapur ini, yaitu aku,"

jawab Gisella dengan nada tenang, bahkan cenderung santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan tajam sang profesor.

Dia menggeser cangkir teh krisan kayu manis ke dekat tangan Adrian.

"Minumlah ini. Teh krisan dengan kayu manis dan mint."

Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kayu mahoninya, melipat tangan di depan dada, dan menatap Gisella dengan dahi berkerut dalam.

"Gisella, aku sedang tidak ingin bermain-main. Kepalaku hampir pecah karena kesalahan kode pemrograman di laboratorium, dan aku butuh kafein serta glukosa untuk membuat otakku bekerja. Bawa ini kembali dan buatkan apa yang kuminta."

Alih-alih menuruti atau takut, Gisella justru melangkah mendekati meja kerja Adrian.

Dengan berani, dia menarik laci meja sebelah kanan tempat Adrian biasanya menyimpan stoples kue kering semalam.

Kosong. Gisella tersenyum tipis.

Dia kemudian berbalik mendekati lemari buku di sudut ruangan, memeriksa di balik deretan ensiklopedia tebal.

Benar saja, di sana tersembunyi sebuah kotak cokelat premium berlapis karamel.

"Hei! Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku?"

seru Adrian, sedikit terkejut dengan tindakan lancang Gisella yang memeriksa ruang pribadinya.

Gisella berjalan kembali ke meja kerja sambil membawa kotak cokelat tersebut.

Dengan ekspresi serius, dia menjatuhkan kotak cokelat itu ke dalam tempat sampah di samping meja Adrian.

"Pluk."

"Gisella!"

Adrian berdiri dari kursinya, postur tubuhnya yang jangkung menjulang di depan Gisella, memancarkan amarah yang tertahan.

"Kau sudah keterlaluan. Kau boleh mengubah menu sarapanku, tapi kau tidak berhak membuang barang-barangku atau mengatur apa yang ingin ku konsumsi di ruang kerjaku sendiri!"

Gisella tidak mundur satu inci pun.

Dia menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam Adrian di balik lensa kacamata itu.

Keberaniannya yang tenang membuat Adrian tertegun sesaat.

"Aku melakukan ini demi nyawamu, Adrian Arthur!"

kata Gisella, suaranya naik satu oktav namun tetap terkendali.

"Apakah kau pikir kau ini robot? Kau bekerja delapan belas jam sehari, kurang tidur, terus-menerus memicu stres, dan mengkompensasinya dengan memasukkan berton-ton gula dan kafein ke dalam tubuhmu. Apakah kau tahu apa yang akan terjadi jika kau terus seperti ini?"

Adrian mendengus sinis.

"Aku seorang ilmuwan, Gisella. Aku tahu batasan tubuhku sendiri."

"Tidak, kau tidak tahu!" potong Gisella tegas.

"Gula darahmu bisa melonjak kapan saja. Gejala kelelahan kronis, emosi yang mudah tersulut, dan pusing di pelipis yang kau rasakan sekarang... itu adalah sinyal darurat dari tubuhmu bahwa pankreasmu sudah kewalahan memproduksi insulin! Jika kau pingsan di laboratorium karena ketoasidosis, riset yang kau banggakan itu akan hancur, dan keluargamu akan menderita. Apakah itu yang kau sebut tahu batasan?"

Mendengar istilah 'ketoasidosis' dan analisis akurat tentang gejala pusing di pelipis yang memang sedang dia rasakan sejak satu jam lalu, Adrian terhenyak.

Matanya melebar karena terkejut.

Bagaimana bisa seorang Gisella—wanita yang selama ini hanya tahu tentang mode, belanja, dan merengek demi Julian—bisa mengetahui istilah medis yang begitu spesifik dan membaca kondisi fisiknya dengan begitu tepat?

Suasana di dalam ruang kerja mendadak menjadi sunyi senyap.

Hanya terdengar suara deru napas halus mereka berdua.

Gisella menyadari bahwa dia mungkin telah berbicara terlalu banyak dan menunjukkan pengetahuan yang terlalu tinggi untuk karakter aslinya.

Dia segera melembutkan ekspresi wajahnya, mengembuskan napas perlahan, dan mengambil cangkir teh hangat yang tadi dia bawa. Dia menyodorkannya kembali ke depan dada Adrian.

"Aku tidak berniat mencampuri urusan pekerjaanmu, Adrian,"

ucap Gisella dengan nada yang jauh lebih lembut, menatap Adrian dengan sepasang mata bulatnya yang memancarkan kekhawatiran yang tulus.

"Tapi kita punya kesepakatan satu bulan. Selama satu bulan ini, aku ingin melihatmu tetap sehat. Minumlah teh ini. Kayu manis di dalamnya akan membantu menurunkan tekanan darahmu dan menstabilkan gula darahmu, sementara mint akan meredakan sakit kepalamu. Tolong... hargai usahaku."

Adrian menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis itu, lalu beralih menatap wajah Gisella.

Di bawah cahaya lampu meja yang temaram, wajah jelita istrinya tampak begitu tulus.

Tidak ada kepalsuan, tidak ada agenda tersembunyi.

Hanya ada kepedulian murni yang belum pernah dia terima dari wanita itu selama pernikahan mereka.

Perlahan, amarah Adrian mereda.

Rasa pening di kepalanya entah mengapa terasa sedikit berkurang hanya dengan mendengarkan suara lembut Gisella.

Dengan ragu, Adrian mengulurkan tangannya, mengambil cangkir teh tersebut dari tangan Gisella.

Kulit jari mereka sempat bersentuhan sesaat, mengirimkan sengatan hangat yang asing ke dalam dada mereka masing-masing.

Adrian membawa cangkir itu ke bibirnya dan meminumnya perlahan.

Rasa hangat, sedikit manis alami dari kayu manis, dan kesegaran mint langsung menjalar ke tenggorokannya, memberikan efek rileks yang instan pada otot-otot tubuhnya yang tegang.

Pria itu mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan cangkir yang kini sudah kosong setengahnya kembali ke atas meja.

Dia mendudukkan dirinya kembali ke kursi kerjanya, tampak jauh lebih tenang.

"Dari mana kau belajar tentang semua istilah medis itu?"

tanya Adrian, matanya menatap Gisella dengan rasa ingin tahu yang besar.

Gisella tersenyum tipis, sudah menyiapkan jawaban daruratnya.

"Hari ini aku menghabiskan waktu empat jam di Perpustakaan Pusat untuk membaca jurnal kesehatan. Aku menyadari betapa buruknya gaya hidupmu dari apa yang kulihat selama ini, jadi aku memutuskan untuk belajar sedikit. Anggap saja ini bagian dari tugas ringanku selama menumpang di rumahmu."

Adrian terdiam, namun sudut bibirnya tampak berkedut kecil, membentuk lengkungan tipis yang hampir tidak terlihat—sebuah senyuman yang sangat langka.

"Membaca jurnal kesehatan demi aku? Kupikir kau ke perpustakaan untuk mencari cara menghabiskan uangku."

"Uangmu aman di bank, Profesor,"

canda Gisella dengan kedipan mata jenaka. Dia kemudian mendorong mangkuk kecil berisi kacang almon ke dekat Adrian.

"Jika kau butuh sesuatu untuk dikunyah saat berpikir, makanlah almon ini. Lemak sehat dan proteinnya bagus untuk otakmu, dan yang terpenting: bebas gula."

Gisella melangkah mundur, bersiap untuk meninggalkan ruang kerja.

"Aku akan membiarkanmu melanjutkan pekerjaanmu. Jangan bekerja lewat dari jam sebelas malam, atau besok pagi sarapanmu akan kuganti dengan menu yang lebih ekstrem."

"Ancaman yang menarik,"

sahut Adrian, nadanya kini terdengar sedikit lebih santai dan tidak sedingin biasanya.

Gisella tertawa kecil, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja, menutup pintu dengan perlahan.

Di dalam ruangan, Adrian menatap mangkuk almon dan cangkir teh yang tersisa setengah.

Dia mengambil sebutir almon, memasukkannya ke dalam mulut, dan kembali menatap layar komputernya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan fokus yang mendadak pulih sepenuhnya.

Batasan gula yang diterapkan Gisella malam itu, anehnya, justru membuat sang profesor merasa lebih hidup daripada sebelumnya.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!