NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Kekuatan Dahsyat Milik Alan

"Kita harus segera mengumpulkan sisa tenaga dan bergerak kembali ke air sekarang," bisik Justin dengan nada suara serak yang bergetar. "Alan masih berada di dalam sana, Moana, Helios. Kita tidak memilik banyak jatah waktu sebelum arus bawah laut menyeret tubuh kecilnya lebih jauh ke dasar palung."

Moana mencoba memaksa tubuhnya untuk bangkit berdiri, bertumpu pada permukaan batang kelapa yang kasar. Meskipun rasa nyeri yang hebat menjalar di sepanjang jalur tulang belakangnya, gadis berambut merah muda itu menganggukkan kepalanya secara tegas. Rasa kekhawatirannya pada keselamatan nyawa Alan saat ini berada di titik yang jauh lebih besar daripada harus memedulikan rasa sakit fisiknya sendiri.

Namun, pemandangan di tengah laut lepas seketika itu juga bertransformasi berubah menjadi sunyi yang teramat mencekam setelah amukan elemen energi murni Alan mereda sepenuhnya.

Jajaran tubuh-tubuh kawanan Siren yang hancur, hangus terpanggang oleh sengatan sihir petir murni milik Alan tampak mengapung tak berdaya di atas permukaan air sebelum akhirnya perlahan-lahan tenggelam hancur menuju dasar samudera Blue Waves, menjelma menjadi santapan ikan kecil.

Meskipun secara kronologis usia Alan baru menginjak fase tujuh tahun pertumbuhan, namun performa tempurnya hari ini telah menunjukkan alasan fundamental mengapa ras klan Pegasus dari dimensi Planet Diamond begitu disegani, ditakuti, dan dihormati di seluruh penjuru alam semesta.

Kapasitas kekuatannya bukan sekadar sihir elemen sekunder biasa yang dipelajari lewat buku literatur, melainkan sebuah bentuk kendali absolut atas hukum alam semesta itu sendiri.

Dalam hitungan menit di bawah air, dia berhasil menggabungkan manipulasi pusaran angin (tornado), tekanan hidrolik air samudra, dan hantaran arus listrik petir murni yang membuat para Siren mati seketika di tempat layaknya sekumpulan 'ikan goreng' yang gosong.

Dengan sisa-sisa pasokan mana sihir di jantungnya yang telah hampir mencapai titik habis total, Alan melakukan sebuah manuver akrobatik udara yang luar biasa dahsyat—dia melompat tinggi melesat keluar menembus permukaan air menuju ke angkasa, mengubah wujud ekor emasnya kembali menjadi sepasang kaki normal, dan mengepakkan kembali sepasang sayap putih megahnya untuk terbang meluncur cepat menuju ke arah daratan pantai.

Di tepian pantai pasir, Justin, Moana, dan Helios Marine yang masih terduduk lemas di bawah naungan pohon kelapa hanya bisa melongo dengan mulut ternganga lebar menyaksikan rentetan kejadian supranatural tersebut berlangsung di depan mata mereka.

Rasa sakit di punggung akibat terhempas gelombang ombak tadi seolah-olah sirna seketika, digantikan oleh rasa takjub dan syok yang luar biasa masif di dalam kepala mereka.

"Makhluk macam apa dia... apakah yang baru saja kulihat itu adalah sihir petir murni yang dilepaskan dari dalam air laut?" gumam Helios Marine dengan nada suara yang bergetar hebat menahan takjub, sekop plastiknya terlepas jatuh ke pasir.

Dia belum pernah sekali pun menyaksikan ada seorang ksatria dari kaum Mermaid—bahkan termasuk paman agungnya, Raja Roland Nixie sekalipun—yang memendam kapasitas untuk melepaskan sihir gabungan multi-elemen sedahsyat itu di dalam air tanpa membunuh dirinya sendiri.

"Itu adalah Alan, Helios! Aku sudah tahu bahwa sahabatku itu memang bukan merupakan anak kecil biasa!" seru Justin bangga, mengabaikan total rasa perih di kulit bahunya.

Dia segera bangkit berdiri dan berlari kencang menuju ke arah batas air saat melihat bayangan tubuh Alan terbang meluncur melesat jatuh ke arah posisi mereka.

BRUKK!

Alan mendarat di atas hamparan pasir pantai putih dengan posisi kaki yang tidak sempurna. Struktur tubuh kecilnya terhuyung hebat ke depan, sepasang sayap putihnya terkulai lemas menyentuh pasir tanpa energi, dan deru napas di dadanya tersengal-sengal teramat parah.

Raut wajahnya yang semula selalu memasang ekspresi datar dan kaku, kini sepenuhnya telah digantikan oleh raut kelelahan fisik dan magis yang amat sangat ekstrem.

Dia mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah wajah Justin dengan sepasang manik mata yang perlahan-lahan mulai bergerak kembali memudar menuju ke warna ungu aslinya.

"Justin... syukurlah... apakah kau... saat ini sudah berada di dalam kondisi yang aman dan baik-baik saja?" bisik Alan lirih.

Justin tidak langsung menjawab ia malah terpaku melihat kehadiran Alan yang mendadak muncul di tengah daratan pantai menampakkan kembali wujud transformasinya yang belum sepenuhnya matang secara biologis, seketika itu juga menciptakan atmosfer canggung yang luar biasa pekat, berbaur dengan rasa kelegaan yang masif di antara jajaran anak-anak Pesisir Azure.

Justin ternganga lebar dengan mulut yang sulit untuk dikunci kembali. Sepasang mata hitam sang pangeran vampir bergerak panik, beralih cepat menilai antara sepasang sayap putih megah Alan yang baru saja menyusut menghilang ke balik punggung, dengan kondisi sepotong celana panjang milik sahabatnya yang kini tampak telah hancur berantakan, compang-camping akibat robekan tekanan mutasi ekor emas di bawah air laut sebelumnya.

Justin mengedipkan sepasang kelopak matanya berkali-kali berturut-turut, mengerahkan seluruh kapasitas logikanya untuk mencoba memproses visualisasi abnormal di hadapannya saat ini.

"Aku baik-baik saja, Alan. Dan kau... bagaimana bisa... sayap itu... lalu celanamu..." untaian kalimat interogasi Justin menggantung hampa di udara.

Sementara di sisi lain, Moana sempat menghentikan erangan rintihan perih di punggungnya selama beberapa detik, menatap lekat sosok anak kecil berambut putih di depannya dengan sepasang mata bulat biru safir yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang teramat polos.

Meskipun saat ini penampilannya hanya diselimuti oleh selembar kaos oblong putih longgar kebesaran yang menjuntai ke bawah laksana sebuah tunik darurat, Alan tetap mengayunkan langkah kakinya dengan ekspresi wajah yang teramat tenang, kaku, dan datar seolah-olah tidak terjadi hal memalukan apa pun.

"Buang fokus kepalamu dari masalah celana kain konyol ini, Justin," gumam Alan datar dengan intonasi bariton anak-anaknya yang kaku, meskipun jika diperhatikan secara saksama, sepasang daun telinga mungilnya telah memancarkan rona warna merah pekat akibat menahan rasa malu yang masif.

Dia melangkah mendekat, lalu mengambil posisi berlutut rendah di atas pasir basah tepat di samping Moana, mengabaikan fakta visual bahwa penampilannya detik ini berada di titik paling jauh dari kesan citra ksatria heroik yang biasa dia pamerkan semasa di Planet Diamond.

"Buka tanganmu, biarkan indraku memeriksa seberapa parah tingkat kerusakan fisik di tubuhmu," ujar Alan pelan, telapak tangannya yang hangat bergerak taktis memeriksa area pundak Moana.

Dari pori-pori kulit anak Pegasus itu, samar-samar masih memancarkan sisa-sisa radiasi hawa dingin laut dalam yang pekat, sisa dari efek samping metamorfosis transisi ekor emasnya kembali menjelma menjadi sepasang kaki normal manusia.

Justin akhirnya berhasil memulihkan kembali kontrol kesadaran supernatural vampirnya, menarik napas panjang untuk menstabilkan diri.

"Ledakan gelombang hidrolik di bawah air tadi benar-benar berada di level yang gila, Alan! Aku, Moana, dan Helios sempat mengira bahwa tubuh kecilmu telah hanyut tenggelam terseret arus palung samudera Azure. Dan pasang jawaban di kepalaku, sejak menit kapan kau memendam kemampuan untuk menumbuhkan... benda sirip air itu di tubuhmu?" tanya Justin sembari jarinya menunjuk kearah anatomi kaki Alan di mana wujud ekor Mermaid emasnya sempat bermanifestasi.

Helios Marine yang sejak tadi sibuk membersihkan sisa pasir di helai rambut pirang madunya, kini ikut melangkah mendekat penuh minat, menatap Alan dari atas ke bawah. "Dia benar, mahluk daratan berambut putih! Struktur ekor emasmu tadi memancarkan esensi energi yang teramat masif, merusak formasi berenangku!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!