Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VII - Konfrontasi Pertama
Seorang perawat masuk ke ruangan Sulastri dengan senyum lebar. "Selamat pagi, Bu. Kabar baik, ibu Anda dijadwalkan kateterisasi pagi ini, langsung sama Dokter Wulandari."
Kirana mengedipkan matanya cepat, setengah tidak percaya. "Secepat ini? Kemarin katanya masih nunggu jalur prioritas?"
"Oh, itu udah diurus dari kemarin sore. Pak Wibowo sendiri yang minta dipercepat."
Nama itu menghantam dada Kirana.
"Pak Wibowo?" suaranya tercekat.
"Iya, Pak Raditya Wibowo. Kebetulan lagi kunjungan CSR kemarin, terus denger soal kasus ibu Anda, langsung minta dipercepat." Perawat itu tersenyum, tidak sadar sudah mengguncang seluruh dunia Kirana dengan kalimat seringan itu. "Baik banget orangnya, ya."
Kirana tidak bisa menjawab apa-apa untuk beberapa detik. Radit. Radit yang membantu ibunya. Radit yang minta ini dirahasiakan.
"Makasih infonya," ia akhirnya berkata, suaranya jauh lebih tenang dari yang sebenarnya ia rasakan. "Saya keluar sebentar."
Ia melangkah keluar dari ruangan ibunya, mencari sudut sepi di lorong rumah sakit, mencoba menstabilkan napasnya. Lega, karena ibunya akhirnya dapat penanganan yang layak. Bingung, kenapa Radit melakukan ini. Dan yang paling mengganggu dari semuanya, ia marah — marah yang bahkan ia sendiri tidak mengerti dari mana asalnya.
...****************...
Ia mendampingi kateterisasi ibunya, memusatkan perhatian pada kesehatan Sulastri sekuat yang ia bisa. Dokter Wulandari keluar menjelang tengah hari dengan senyum meyakinkan.
"Penyumbatannya berhasil kami tangani dengan pemasangan ring jantung. Ibu Anda perlu istirahat beberapa hari, tapi hasilnya sejauh ini tampak baik."
Air mata syukur nyaris tumpah begitu Kirana masuk menemui ibunya yang masih setengah sadar akibat obat bius.
"Ibu?" Ia menggenggam tangan Sulastri yang terasa hangat kali ini.
"Kirana... Ibu baik-baik aja, Nak."
Kirana mengecup kening ibunya, membiarkan air mata mengalir sebentar. Tapi begitu ia yakin kondisi ibunya stabil dan bisa dipercayakan pada Bi Inah, kemarahan yang sejak pagi ia tahan mulai meluap.
"Anter gua ke Wibowo Group," katanya pada Nadia yang baru datang membawa bubur.
"Sekarang? Lu belum istirahat, Kir. Lu belum makan."
"Gua nggak bisa nunggu. Gua harus tahu sekarang, selagi masih kepikiran."
"Kalau gitu gua ikut." Nadia meraih kunci mobil tanpa berdebat lebih jauh, meski wajahnya menyimpan kekhawatiran. "Tapi gua nggak janji bisa nahan lu kalau lu udah ngamuk di sana."
"Gua nggak butuh ditahan. Gua cuma butuh jawaban."
Sebelum keluar dari rumah sakit, Kirana berhenti di depan cermin toilet, menatap bayangannya sendiri. Mata bengkak, rambut acak-acakan, wajah pucat, sisa satu malam panjang di kursi tunggu rumah sakit masih terlihat jelas. Ia menepuk pipinya, mencoba menyusun ulang wajah yang biasa ia pakai di ruang rapat. Tapi kali ini, sekeras apa pun ia berusaha, sesuatu di matanya tetap terlihat rapuh.
Persetan, pikirnya akhirnya. Biar Radit lihat. Biar dia tahu persis apa yang udah dia buat.
Di dalam mobil, Nadia mencuri pandang ke arah sahabatnya, rahang mengeras, mata menatap lurus ke depan. "Lu yakin mau langsung konfrontasi kayak gini? Nggak lebih baik lu tenangin diri dulu?"
"Kalau gua tenang dulu, gua bakal mikir dua kali dan akhirnya nggak jadi." Kirana menggeleng. "Gua udah cukup lama nunggu jawaban dari orang itu, Nad. Tujuh tahun. Gua nggak mau nunggu lagi."
"Oke." Nadia menghela napas, fokus lagi ke jalanan. "Tapi kalau lu keluar dari sana nangis lagi, gua nggak akan diem aja kayak kemarin. Gua bakal masuk ke sana dan semprot dia sendiri."
Kirana nyaris tertawa, meski suaranya keluar lebih seperti hembusan napas. "Nggak akan sejauh itu. Gua cuma mau denger dia ngaku."
Lobi Wibowo Group ramai karena jam makan siang ketika Kirana melangkah masuk. "Saya perlu ketemu Pak Raditya Wibowo. Sekarang."
Resepsionis sedikit terkejut mendengar nada mendesak itu, tapi setelah memeriksa jadwal, mengangguk. "Baik, Bu. Beliau nggak ada rapat. Saya hubungi sekretarisnya."
Sepuluh menit kemudian, Kirana berdiri di depan pintu ruang kerja Radit di lantai 42. Farrel keluar dari ruangan sebelahnya tepat saat itu, membawa map, dan berhenti begitu mengenalinya.
"Kirana?" Ia melirik ke arah pintu Radit, lalu kembali ke Kirana, seolah menghubungkan sesuatu di kepalanya. "Lu tahu soal rumah sakit itu?"
"Baru tahu pagi ini." Kirana tidak berniat berbasa-basi. "Radit ada di dalam?"
Farrel menimbang sesuatu sebelum menjawab. "Ada. Tapi, Kirana… apa pun yang bakal lu omongin sama dia, coba dengerin dulu sebelum marah. Dia bukan orang jahat."
"Gua nggak butuh dibela," Kirana menjawab dengan intonasi yang tajam. "Gua cuma butuh jawaban."
Farrel mengangguk pelan, mundur selangkah, membiarkan Kirana lewat tanpa menghalangi. Tapi tatapannya, sesaat sebelum Kirana mengetuk pintu, menyimpan sesuatu yang mirip kekhawatiran — seolah ia tahu, apa pun yang terjadi di dalam ruangan itu, sahabatnya tidak akan siap menghadapinya.
Jantungnya berdegup kencang karena amarah yang membara.
Radit membuka pintu, ia terkejut dengan apa yang ia temukan di balik pintu ruang kerjanya itu. "Kirana?"
"Kenapa kamu lakuin itu?" Kirana tidak repot dengan basa-basi.
Radit menghela napas, mempersilakannya masuk, menutup pintu di belakang mereka. "Aku rasa kamu udah tahu jawabannya, kalau kamu sampai ke sini."
"Aku mau denger langsung dari kamu." Kirana berdiri di tengah ruangan, menolak duduk di kursi yang ditawarkan. "Kenapa diam-diam? Kenapa kamu nggak langsung bilang ke aku?"
"Karena aku tahu kamu bakal nolak kalau tahu itu aku." Suara Radit tenang, tapi ada sesuatu yang tegang di baliknya. "Dan aku nggak bisa biarin ibumu menderita cuma karena kebencianmu sama aku."
"Kebencian?" Kirana hampir tertawa, meski suaranya lebih mirip jeritan tertahan. "Kamu pikir aku benci kamu? Kamu pikir ini soal harga diri doang?"
"Terus soal apa?" Suara Radit ikut meninggi, kesabarannya mulai hilang.
"Soal kamu yang tiba-tiba merasa berhak ikut campur lagi di hidup aku!" Kirana melangkah maju, tidak lagi peduli suaranya terdengar sampai ke luar ruangan. "Kenapa sekarang kamu peduli?! Dulu kamu pergi tanpa sepatah kata pun! Ninggalin aku begitu aja, tanpa penjelasan! Terus sekarang, tiba-tiba kamu muncul lagi, diam-diam bantuin ibuku, seolah kamu masih punya hak buat peduli sama hidupku?!"
Suaranya bergetar, air mata yang selama ini ia tahan mengambang di ujung matanya. Ia menahannya sekuat tenaga, menolak jatuh di depan pria yang pernah menghancurkannya.
Radit terdiam, wajahnya pucat. Untuk sesaat, Kirana melihat sesuatu di matanya — penyesalan yang begitu dalam hingga hampir membuatnya lupa alasan kenapa ia marah.
"Kirana." Suaranya melunak. "Aku tahu aku nggak punya hak. Aku tahu apa yang aku lakuin tujuh tahun lalu nggak bisa dimaafin gitu aja. Tapi percaya sama aku, aku nggak pernah niat nyakitin kamu kayak gitu."
"Terus kenapa kamu lakuin?" Kirana mendesak, satu langkah lagi lebih dekat. "Jelasin sama aku, Radit. Aku berhak tahu. Setelah tujuh tahun, minimal kasih aku itu."
"Kalau aku jelasin sekarang, kamu bakal langsung pergi dari sini, Kirana. Dan aku nggak bisa biarin itu terjadi sebelum aku yakin kamu aman."
"Aman dari apa?" Kirana nyaris berteriak. "Kamu terus-terusan ngomong soal ngelindungin aku, tapi dari apa? Dari siapa? Kamu pikir aku ini anak kecil yang harus dijauhin dari kebenaran biar nggak kaget?"
"Bukan itu maksud aku..."
"Terus apa?!"
Radit menatapnya lama. Untuk sesaat, Kirana pikir ia akan mendapat jawaban yang selama ini ia cari. Tapi kemudian sesuatu di wajah Radit berubah, seolah baru saja mengingat sesuatu yang menahannya untuk jujur.
"Ada hal-hal yang nggak sesederhana itu, Kirana." Nada suaranya melemah.
"Kenapa nggak?" Frustrasi Kirana memuncak, suaranya nyaris pecah. "Apa yang begitu rumit sampai kamu nggak bisa jujur, setelah tujuh tahun ini? Apa yang lebih penting dari sekadar bilang yang bener ke orang yang pernah kamu..."
Ia berhenti, tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu.
Radit tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sesaat, ekspresi sedih terpancar dari wajahnya, sebelum berjalan melewati Kirana menuju pintu.
"Radit —"
"Aku minta maaf." Tangannya sudah di gagang pintu. "Tapi ada hal yang harus aku urus sekarang."
Ia membuka pintu dan keluar dari ruangannya sendiri, meninggalkan Kirana berdiri di tengah ruang kerja yang tiba-tiba terasa terlalu luas.
"Kamu masih sama," gumamnya pada ruangan kosong itu, sebelum akhirnya melangkah keluar sendiri.
Nadia sudah menunggu di lobi, wajahnya cemas begitu melihat ekspresi sahabatnya. "Gimana?"
"Dia nggak mau jelasin apa-apa." Suara Kirana bergetar menahan tangis. "Dia cuma bilang *'ada hal-hal yang nggak sesederhana itu*,' terus ninggalin aku sendirian di ruangannya. Ruangan dia sendiri, Nad. Siapa yang kabur dari ruangannya sendiri?"
Nadia menggenggam tangannya erat, tidak berkata apa-apa, membiarkan keheningan menjadi bentuk dukungan yang paling Kirana butuhkan.
Di dalam mobil, Kirana menatap keluar jendela, menyaksikan gedung Wibowo Group menjauh. Ekspresi terakhir Radit sebelum pergi terus terputar di kepalanya — bukan kemarahan, bukan ketidakpedulian, tapi sesuatu yang lebih mirip ketakutan. Ia mengaitkan itu dengan dua hal yang selama ini mengganjal: dokumen lama peninggalan ayahnya yang menyebut nama "Wibowo", dan telepon dari Hartono yang mengubah segalanya malam itu, tujuh tahun lalu. Dua serpihan yang mungkin, selama ini, adalah bagian dari gambar yang sama.
Sesampainya di kantor, Kirana langsung menuju mejanya sendiri, mengunci pintu ruangan pribadinya. Ia membuka laci, mengeluarkan folder lama yang sudah bertahun-tahun ia simpan tanpa pernah Ia buka — dokumen peninggalan ayahnya, tempat nama "Wibowo" tersembunyi di antara berkas-berkas lain yang belum pernah ia baca sampai tuntas.
Jarinya berhenti di atas sampul folder itu.
Ia menutupnya lagi, memasukkannya kembali ke laci, mengunci laci itu rapat-rapat. Belum waktunya. Tapi ia sudah tahu, cepat atau lambat, kunci itu harus dibuka.
Ketukan pelan di pintu membuatnya buru-buru menyeka wajah. Dimas berdiri di ambang pintu, sudah dengar dari Nadia bahwa hari ini bukan hari yang mudah.
"Gua nggak akan tanya apa yang terjadi," katanya, meletakkan segelas air putih di meja Kirana tanpa diminta. "Tapi gua di sini kalau lu butuh temen ngobrol. Atau butuh temen diem-dieman aja."
Kirana menatapnya, merasa sedikit lega untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruangan Radit. "Makasih, Dim."
Dimas mengangguk, lalu keluar tanpa memaksa lebih jauh, meninggalkan Kirana sendirian dengan gelas air dan folder yang masih terkunci di lacinya.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪