NovelToon NovelToon
DARAH PEWARIS DEWA

DARAH PEWARIS DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Darah Pewaris Dewa

Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.

Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.

Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.

Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...

sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTANA PARA DEWA YANG TERLUPAKAN

Cahaya dari Gerbang Kuno menelan tubuh Atlas, Oliver, dan Raka.

Tidak ada suara.

Tidak ada arah.

Hanya perasaan seperti melewati ribuan tahun dalam satu detik.

Atlas merasa seluruh darah di tubuhnya bergetar. Seolah setiap bagian dari dirinya sedang membaca tempat yang baru mereka masuki.

Lalu—

DUAARR!

Ketiganya jatuh ke permukaan batu kuno.

Atlas segera bangkit dan mengangkat pedangnya.

Namun tidak ada serangan.

Tidak ada pemburu.

Tidak ada makhluk kegelapan.

Hanya keheningan.

Oliver perlahan berdiri.

“Jangan bilang…”

“Ini tempat aman?”

Raka melihat sekeliling.

Wajahnya berubah serius.

“Tidak.”

“Ini jauh lebih berbahaya.”

ISTANA YANG HILANG

Di hadapan mereka berdiri sebuah istana raksasa.

Namun bukan istana biasa.

Bangunannya melayang di antara awan hitam dan cahaya keemasan. Pilar-pilarnya sangat tinggi, dipenuhi ukiran pendekar kuno yang membawa berbagai senjata.

Di setiap dinding terdapat simbol yang sama dengan simbol darah Atlas dan kalung Oliver.

Atlas berjalan mendekati salah satu pilar.

Ketika tangannya menyentuh permukaan batu…

ukiran itu menyala.

Sebuah gambar muncul.

Seorang pendekar berdiri di tengah ribuan pasukan.

Wajahnya tidak terlihat.

Tapi pedang di tangannya sama seperti milik Atlas.

Atlas langsung menarik tangannya.

“Aku pernah melihat ini…”

Raka menatap ukiran itu.

“Bukan.”

“Kau tidak pernah melihatnya.”

“Itu darahmu yang mengingat.”

PENINGGALAN PEWARIS LAMA

Mereka memasuki gerbang istana.

Di dalamnya terdapat ruangan yang sangat luas.

Di sepanjang dinding tersimpan puluhan senjata kuno.

Pedang.

Tombak.

Busur.

Bahkan senjata yang tidak dikenal oleh dunia manusia.

Oliver melihat sebuah ruangan penuh kristal biru.

“Ini apa?”

Raka menjawab.

“Penyimpanan memori.”

“Para pewaris lama meninggalkan pengalaman mereka sebelum mereka mati.”

Oliver terdiam.

“Mati?”

Raka mengangguk.

“Menjadi Pewaris Dewa bukan hadiah.”

“Itu adalah tugas yang membawa kematian.”

Rahasia Keluarga Mereka

Atlas berjalan semakin dalam.

Semakin jauh ia masuk, semakin kuat tarikan dari darahnya.

Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu besar.

Berbeda dari pintu lainnya.

Pintu itu hanya memiliki dua simbol.

Satu merah.

Satu biru.

Atlas menyentuh simbol merah.

Oliver menyentuh simbol biru.

KRAAAK…

Pintu perlahan terbuka.

Di baliknya bukan ruangan biasa.

Melainkan sebuah aula kosong.

Di tengah aula terdapat sebuah meja batu.

Dan di atasnya…

sebuah benda yang membuat Atlas dan Oliver membeku.

Sebuah lambang keluarga mereka.

Pesan Terakhir Sang Ibu

Di atas meja batu terdapat kristal kecil.

Raka langsung terdiam.

“Tidak mungkin…”

Atlas menoleh.

“Kau mengenalnya?”

Raka tidak menjawab.

Matanya terpaku pada kristal itu.

“Ini milik ibu kalian.”

Oliver langsung mendekat.

“Ibu?”

Kristal itu tiba-tiba menyala.

Cahaya memenuhi ruangan.

Lalu muncul sebuah bayangan.

Seorang wanita.

Ibu mereka.

Namun bukan seperti yang mereka ingat.

Bukan wanita biasa.

Ia mengenakan pakaian penjaga kuno dengan simbol yang sama seperti mereka.

Atlas dan Oliver terdiam.

Bayangan itu mulai berbicara.

"Jika kalian melihat pesan ini..."

"berarti darah kalian sudah bangkit."

Suara itu membuat Atlas mengepalkan tangan.

Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar suara ibunya.

Kebenaran yang Disembunyikan

Bayangan sang ibu melanjutkan.

"Aku tahu suatu hari kalian akan menemukan kebenaran ini."

"Kalian bukan manusia biasa."

"Kalian adalah keturunan terakhir dari dua garis pewaris."

Oliver menatap kosong.

"Dua garis?"

Bayangan itu menjelaskan.

"Atlas..."

"darahmu membawa warisan Penjaga Langit."

"Kau adalah pewaris kekuatan yang melindungi dunia dari kehancuran."

Lalu cahaya kristal berubah.

"Oliver..."

"darahmu membawa warisan Penjaga Waktu."

Oliver terdiam.

Selama ini ia mengira kekuatannya hanya kebetulan.

Ternyata...

itu adalah warisan.

Pesan Terakhir

Bayangan ibu mereka mulai melemah.

"Maaf karena menyembunyikan semuanya."

"Aku tidak ingin kalian tumbuh sebagai senjata."

"Aku ingin kalian hidup sebagai manusia."

Atlas menunduk.

Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.

Kenapa ibunya pergi?

Kenapa mereka harus mengetahui semua ini setelah kehilangan dirinya?

Namun bayangan itu hanya tersenyum.

"Tapi jika kalian sudah sampai di sini..."

"berarti dunia kembali berada dalam bahaya."

Ruangan tiba-tiba bergetar.

Suara retakan terdengar dari luar istana.

Raka langsung menoleh.

Wajahnya berubah.

"Dia menemukan kita."

Oliver panik.

"Siapa?"

Raka menggenggam senjatanya.

"Algojo Langit."

Di luar Istana Para Dewa yang Terlupakan…

langit mulai berubah gelap.

Sosok berjubah hitam berdiri di depan gerbang kuno.

Algojo Langit telah mengikuti mereka.

Dan kali ini…

dia tidak datang untuk menangkap.

Dia datang untuk menghapus.

Getaran dari luar istana semakin kuat.

Debu jatuh dari langit-langit aula.

Patung-patung para pendekar kuno yang berdiri di sepanjang dinding mulai retak, seolah merasakan kedatangan seseorang yang membawa kehancuran.

Atlas menatap ke arah pintu besar.

Dia bisa merasakan tekanan itu.

Sama seperti sebelumnya.

Bahkan lebih kuat.

"Dia datang..."

Oliver berdiri di samping kakaknya.

"Algojo itu?"

Atlas mengangguk.

Raka berjalan ke depan mereka.

"Kalian harus pergi lebih dalam."

Atlas menatapnya.

"Kamu mau menghadangnya sendirian?"

Raka tidak menjawab.

Tapi ekspresinya mengatakan semuanya.

Oliver langsung menggeleng.

"Tidak."

"Kita sudah melewati banyak hal bersama. Kita nggak akan ninggalin kamu."

Raka terdiam sesaat.

Lalu tersenyum kecil.

"Anak-anak..."

"Kalian benar-benar mirip dia."

Atlas mengerutkan kening.

"Mirip siapa?"

Raka melihat kristal yang tadi menampilkan ibu mereka.

"Ibu kalian."

PINTU WARISAN TERBUKA

Tiba-tiba lantai aula bergerak.

Sebuah lingkaran besar muncul di bawah kaki Atlas dan Oliver.

Simbol merah dan biru kembali menyala.

Raka langsung melihat ke bawah.

"Ini..."

"Aula pewaris."

Oliver menatap bingung.

"Maksudnya?"

Raka menjawab.

"Tempat di mana darah asli kalian akan diuji."

Atlas mengepalkan tangannya.

"Kita tidak punya waktu."

Seolah mendengar perkataan itu, suara dari luar terdengar.

BOOOOM!

Pintu istana hancur.

Gelombang energi hitam masuk ke aula.

Sosok tinggi berjubah zirah hitam berjalan melewati asap.

Algojo Langit.

"Akhir perjalanan."

Suaranya bergema.

Atlas langsung mengangkat pedang.

Namun Algojo tidak menyerang.

Ia hanya melihat lingkaran warisan di lantai.

Lalu berkata:

"Jadi..."

"Tempat ini masih memilih kalian."

PERINTAH PENGHAPUSAN

Algojo mengangkat pedangnya.

"Kalian adalah sisa kesalahan masa lalu."

"Cara paling sederhana adalah menghapusnya."

Energi hitam berkumpul di ujung pedangnya.

Raka langsung berteriak.

"ATLAS! OLIVER!"

"MASUK KE LINGKARAN ITU SEKARANG!"

Mereka berdua bergerak.

Namun Algojo lebih cepat.

Dalam satu langkah, ia sudah berada di depan mereka.

Pedangnya turun.

CLANG!

Atlas menahan serangan itu.

Tanah di bawah kakinya langsung hancur.

Kekuatan itu membuat lengannya mati rasa.

Oliver mencoba membantu.

Ia menggunakan kekuatan waktunya.

Namun Algojo langsung mengangkat tangan.

Waktu di sekitarnya berhenti.

Oliver membeku.

"Apa..."

"Aku tidak bisa bergerak..."

Algojo menatapnya.

"Penjaga Waktu."

"Warisan yang merepotkan."

ATLAS MELAWAN BATASNYA

Atlas melihat Oliver tidak bisa bergerak.

Amarah muncul dalam dirinya.

Bukan amarah kehilangan kendali.

Tapi amarah seseorang yang melindungi keluarganya.

Cahaya merah keemasan kembali muncul.

Namun kali ini berbeda.

Energinya jauh lebih padat.

Pedang Atlas berubah.

Ukiran lama muncul di seluruh bilahnya.

Raka terkejut.

"Dia membuka lapisan kedua..."

Atlas mengangkat pedangnya.

"Aku tidak peduli siapa dirimu."

"Aku tidak peduli apa aturan dunia ini."

"Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil keluargaku lagi."

Untuk pertama kalinya...

Algojo berhenti bergerak.

Seolah kalimat itu mengingatkannya pada sesuatu.

MEMORI SANG ALGOJO

Sesaat.

Atlas melihat sesuatu.

Bukan melalui darahnya.

Tapi melalui mata Algojo.

Sebuah medan perang kuno.

Ribuan tahun lalu.

Sang Algojo berdiri bersama para penjaga lama.

Di depannya...

seorang wanita muda.

Ibu Atlas dan Oliver.

Namun saat itu dia masih seorang pejuang.

Dia berdiri membawa pedang.

Dan tersenyum.

"Kalau suatu hari anak-anakku harus menghadapi dunia ini..."

"aku berharap mereka memilih menjadi manusia."

Atlas membeku.

"Ibu..."

Algojo perlahan menurunkan pedangnya.

Sangat sedikit.

Tapi cukup untuk menunjukkan keraguan.

RAHASIA ALGOJO

Raka melihat perubahan itu.

"Kamu masih mengingatnya..."

Algojo tidak menjawab.

Namun suaranya berubah sedikit.

"Aku adalah saksi terakhir."

Atlas menatapnya.

"Saksi apa?"

Algojo melihat ke arah kristal pesan ibu mereka.

"Pengkhianatan para dewa."

Ruangan menjadi hening.

Oliver akhirnya terbebas dari efek waktu.

"Apa maksudmu?"

Algojo menggenggam pedangnya.

"Sejarah yang kalian ketahui..."

"...adalah kebohongan."

WARISAN YANG TERKUNCI

Lingkaran merah dan biru di bawah kaki Atlas dan Oliver menyala semakin terang.

Pintu di belakang mereka terbuka.

Di dalamnya terdapat dua ruangan.

Satu dipenuhi cahaya merah.

Satu dipenuhi cahaya biru.

Raka menatap keduanya.

"Ini waktunya."

Atlas menoleh.

"Waktunya apa?"

Raka menjawab:

"Menerima warisan kalian."

Oliver melihat ruangan biru.

Atlas melihat ruangan merah.

Namun sebelum mereka masuk...

Algojo berbicara.

"Jika kalian mengambil kekuatan itu..."

"Kalian tidak akan pernah bisa kembali menjadi manusia biasa."

Atlas dan Oliver saling menatap.

Mereka tahu.

Ini adalah pilihan terbesar mereka.

Atlas melangkah menuju ruangan merah.

Oliver menuju ruangan biru.

Di belakang mereka, Algojo Langit berdiri diam.

Tidak menyerang.

Tidak menghentikan.

Hanya melihat.

Karena ia tahu...

setelah pintu warisan terbuka...

dua pewaris terakhir akan lahir kembali.

Dua pintu warisan tertutup bersamaan.

Atlas berada di dalam ruangan merah.

Oliver berada di dalam ruangan biru.

Untuk pertama kalinya sejak mereka mengetahui kebenaran tentang darah mereka…

mereka harus menghadapi sesuatu sendirian.

Tidak ada Raka.

Tidak ada bantuan.

Tidak ada jalan keluar.

Hanya diri mereka sendiri.

UJIAN DARAH ATLAS

Ruangan Atlas dipenuhi api merah keemasan.

Namun api itu tidak membakar.

Ia hanya mengelilinginya.

Di tengah ruangan berdiri sebuah patung pendekar kuno dengan pedang tertancap di tanah.

Wajah patung itu tidak terlihat.

Namun auranya membuat Atlas merasa kecil.

Suara kuno terdengar.

"Pewaris Penjaga Langit."

"Apakah kau ingin kekuatan?"

Atlas menatap pedang di depan patung.

"Aku ingin kekuatan untuk melindungi."

Suara itu kembali.

"Banyak yang mengatakan hal yang sama."

"Namun ketika kekuatan diberikan..."

"mereka berubah menjadi sesuatu yang mereka benci."

Api semakin besar.

Lalu Atlas melihat bayangan.

Dirinya sendiri.

Versi dirinya yang memiliki kekuatan penuh.

Tapi tidak memiliki belas kasihan.

Sebuah sosok yang menghancurkan musuh tanpa peduli siapa yang terkena.

"Itulah jalan termudah."

"Menjadi dewa."

"Meninggalkan kelemahan manusia."

Atlas menatap bayangan itu.

Lalu menggeleng.

"Aku tidak mau."

"Kenapa?"

Atlas menggenggam tangannya.

"Karena aku masih manusia."

"Aku masih punya rasa takut."

"Aku masih bisa kehilangan."

"Dan justru itu yang membuatku tahu apa yang harus kulindungi."

Api di ruangan itu berhenti.

Pedang kuno perlahan terangkat.

"Jawaban diterima."

WARISAN PENJAGA LANGIT

Pedang itu bergerak menuju Atlas.

Saat tangannya menyentuh gagang pedang...

seluruh ingatan para pewaris lama masuk ke dalam dirinya.

Ribuan pertempuran.

Ribuan pengorbanan.

Ribuan nama yang hilang dari sejarah.

Atlas merasakan semuanya.

Namun ia tidak hancur.

Karena ia memahami satu hal.

Kekuatan bukan tentang menjadi yang paling kuat.

Tapi tentang tetap berdiri ketika semua orang lain sudah jatuh.

Cahaya merah keemasan menyelimuti tubuhnya.

Sebuah simbol muncul di dadanya.

WARISAN PENJAGA LANGIT TELAH DITERIMA.

UJIAN DARAH OLIVER

Di sisi lain...

Oliver berdiri di ruangan biru.

Berbeda dengan Atlas.

Tidak ada api.

Tidak ada pedang.

Hanya lautan.

Dan di tengah lautan itu terdapat jam raksasa yang jarumnya bergerak mundur.

Suara kuno terdengar.

"Pewaris Penjaga Waktu."

"Apakah kau ingin mengubah masa lalu?"

Oliver terdiam.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari serangan apa pun.

Karena jauh di dalam hatinya...

ada satu hal yang ingin ia lakukan.

Mengembalikan waktu.

Mencegah kematian ibunya.

Suara itu kembali.

"Kau bisa menghapus rasa sakit."

"Kau bisa mengulang semuanya."

Di depannya muncul bayangan.

Ibunya.

Hidup.

Tersenyum.

Memanggil namanya.

Oliver hampir melangkah.

Namun berhenti.

Tangannya mengepal.

"Kalau aku mengubah masa lalu..."

"...maka semua yang membuat aku dan kakakku menjadi diri kami sekarang akan hilang."

Bayangan ibunya tersenyum.

Lalu perlahan menghilang.

Oliver menahan air matanya.

"Aku tidak mau hidup dalam kebohongan."

"Aku akan menjaga waktu yang masih tersisa."

WARISAN PENJAGA WAKTU

Jam raksasa berhenti.

Lalu pecah menjadi cahaya biru.

Cahaya itu masuk ke tubuh Oliver.

Ia melihat masa lalu.

Masa kini.

Dan kemungkinan masa depan.

Namun ia tidak kehilangan dirinya.

Simbol biru muncul di tangannya.

WARISAN PENJAGA WAKTU TELAH DITERIMA.

KEMBALINYA DUA PEWARIS

Pintu ruangan merah dan biru terbuka bersamaan.

Atlas keluar dengan aura yang berbeda.

Oliver juga berubah.

Mereka masih orang yang sama.

Masih kakak dan adik.

Namun kekuatan dalam darah mereka kini sudah bangun sepenuhnya.

Raka yang menunggu di luar terdiam.

"Jadi kalian berhasil..."

Atlas menatap tangannya.

"Aku mengerti sekarang."

Oliver melihat simbol di tangannya.

"Ini bukan hadiah."

"Ini tanggung jawab."

PENGUNGKAPAN SANG ALGOJO

Algojo Langit masih berdiri di aula.

Namun kali ini ia tidak mengangkat pedangnya.

Ia menatap mereka berdua.

"Luar biasa."

Atlas menatapnya.

"Kau tahu tentang semua ini?"

Algojo diam beberapa saat.

Lalu menjawab.

"Aku adalah salah satu orang yang membantu ibu kalian menyegel kebenaran."

Oliver langsung menegang.

"Kenapa?"

Algojo menatap mereka.

"Karena para dewa yang kalian percaya..."

"...adalah alasan kenapa dunia hampir hancur."

Raka menunduk.

Seolah ia sudah mengetahui sebagian kebenaran itu.

Atlas menggenggam pedangnya.

"Jelaskan."

Algojo menatap ke arah langit istana.

"Ribuan tahun lalu..."

"Perang terbesar bukan terjadi antara dewa dan kegelapan."

"Tapi antara para dewa sendiri."

Langit Istana Para Dewa yang Terlupakan mulai retak.

Bukan karena serangan.

Tapi karena sesuatu yang lebih besar sedang bangkit.

Algojo membuka jalan menuju bagian terdalam istana.

"Jika kalian ingin mengetahui kebenaran tentang ibu kalian..."

"...ikuti aku."

Atlas dan Oliver saling melihat.

Mereka tahu perjalanan mereka baru saja memasuki tahap yang lebih berbahaya.

Karena musuh terbesar mereka mungkin bukan makhluk kegelapan.

Melainkan...

para dewa itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!