Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Beberapa hari kemudian
Kini tibalah hari yang sudah lama dinanti Laras. Hari wisudanya. Ia tampil sangat cantik dengan kebaya jangan pilihannya, senyum bahagia tak lepas dari wajah saat mengajak suaminya segera berangkat.
“Ayo Kak, kita berangkat. Aku sudah siap,” ujar Laras.
Raka sedari tadi hanya terpaku memandang istrinya, terpesona hingga tak sadar Laras sudah mengajaknya pergi. Ia baru tersadar setelah panggilan itu diulang berkali-kali.
“Kak, ayo nanti kita terlambat,” panggil Laras sedikit meninggikan suara.
“Hah… kamu bilang apa tadi?” tanya Raka yang baru sadar dari lamunan.
“Ayo berangkat, nanti kita terlambat. Kenapa sih dipanggil berkali-kali tak menjawab?” tanya Laras dengan nada sedikit kesal.
“Aku hanya terpesona melihat kecantikanmu. Hari ini kamu terlihat sangat cantik, Laras. Aku suka sekali,” jawab Raka jujur.
Wajah Laras seketika memerah mendengar pujian itu dari orang yang dicintainya. Ia merasa malu karena terus dipandangi, lalu bergegas keluar kamar dan menunggu di ruang tamu.
“Kenapa kamu pergi duluan?” tanya Raka yang sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Astaga, Kak Raka, aku kaget. Makanya bergerak cepat,” jawab Laras sambil beralasan.
Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di kampus. Keduanya turun dari mobil, dan Raka tetap menggandeng tangan istrinya dengan mesra.
Dari kejauhan terlihat kedua orang tua Laras dan mertuanya sudah menunggu. Lina melambaikan tangan segera melihat mereka datang.
“Laras, kenapa lama sekali datangnya, Nak?” tanya Sari yang mulai cemas menunggu.
“Pasti karena terlalu lama berdandan. Lihat saja, menantumu terlihat sangat cantik hari ini,” sahut Lina sambil mencolek pipi putrinya.
“Menantu yang mana dulu nih?” canda Sari.
“Maaf, Ma, sudah menunggu lama. Habisnya Kak Raka melamun terus tadi,” adu Laras.
“Salahmu sendiri, terlalu cantik sampai membuat orang terpesona,” jawab Raka santai sambil tersenyum.
“Sudah-sudah, sebentar lagi acaranya dimulai. Ayo kita masuk,” ajak Darma menghentikan candaan mereka.
Darma hanya tersenyum melihat interaksi putri dan menantunya. Hatinya terasa lega melihat Raka mulai memperlakukan Laras dengan baik. Ia berdoa semoga kebahagiaan itu terus menyertai putri kesayangannya.
Hari itu langit tampak cerah, seolah turut merayakan momen yang sudah lama dinanti Laras. Ia berdiri di antara ribuan mahasiswa lain, mengenakan kebaya berwarna lembut lengkap dengan selendang dan topi wisuda, wajahnya bersinar penuh rasa syukur. Di ujung ruangan ada, Raka, Darma, Lina, serta keluarga lain duduk menanti dengan pandangan penuh harap.
Setelah serangkaian laporan dan pidato resmi selesai dibacakan, tibalah saat pembacaan nama satu per satu. Saat nama Laras terdengar jelas di seluruh ruangan, jantungnya berdebar kencang. Ia melangkah mantap menuju panggung, mengangkat kepala dengan bangga. Di sana, ia menyalami rektor dan menerima ijazah, lalu membalikkan topi wisudanya sebagai tanda resmi menyelesaikan pendidikan. Tepuk tangan riuh terdengar, paling keras dari barisan tempat keluarganya duduk. Raka bahkan tidak bisa menahan senyum lebar, matanya tak lepas dari sosok istri yang tampak begitu anggun dan bahagia.
Setelah seluruh rangkaian acara resmi selesai, para wisudawan dipersilahkan berkumpul kembali bersama keluarga. Raka segera menyambut Laras, memeluknya erat dan menyerahkan seikat bunga mawar merah yang sudah ia siapkan sejak pagi.
“Aku bangga sekali padamu,” bisiknya tepat di samping telinga Laras.
Kemudian mereka mengikuti sesi foto bersama. Rasa bahagia tampak jelas di wajah semua orang, termasuk Laras yang merasa hari itu menjadi yang paling lengkap karena dihadiri oleh orang‑orang yang dicintainya. Raka dan Laras berfoto berdampingan, dengan buket bunga indah di tangan Laras.
Laras juga berfoto bersama sahabatnya, Slamet dan Ana. Awalnya Raka terasa enggan dan sedikit cemburu melihat kedekatan Slamet dengan istrinya, namun ia berusaha menekan egonya agar tidak merusak momen bahagia itu. Terlebih lagi, sedari tadi ia sudah mendapat tatapan tajam dari Lina, seolah memberi peringatan agar membiarkan Laras berfoto leluasa dengan kedua temannya.
“Kalau begitu kami pamit dulu ya, Laras. Semangat untuk langkah selanjutnya, semoga kita bisa bertemu lagi,” ujar Ana setelah selesai berfoto.
Slamet pun ikut berpamitan karena keluarganya sudah menunggu, sehingga hanya tersisa Laras dan kerabat dekatnya.
“Masih ada acara lain, sayang?” tanya Darma mendekat.
Laras menggelengkan kepala, napasnya masih terasa sedikit terengah karena haru.
“Kalau begitu, ayo kita cari restoran yang nyaman untuk merayakan wisudamu,” ajak Darma.