Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12
Riven tiba di kediaman utama tepat seperti yang ia janjikan kepada Ruby. Langit masih diselimuti semburat warna pagi yang lembut ketika mobil hitam mewahnya meluncur memasuki area mansion keluarga Chamron.
Mobil itu bergerak perlahan melewati halaman yang luas sebelum akhirnya memasuki garasi utama.
Garasi tersebut begitu besar hingga luasnya hampir menyamai beberapa rumah sederhana, bahkan jauh lebih lapang daripada kebanyakan hunian pada umumnya.
Riven memarkirkan mobilnya. Mesin mobil pun dimatikan. Ketika ia keluar dari mobil, matanya mengedarkan ke beberapa mobil miliknya dan memeriksa. Apakah ada insiden baru atau kah semua aman.
Senyuman tipis mengulas di bibirnya. “Ya, tentu saja. Tidak mungkin jika tidak ada. Apapun barang yang dia pegang pasti rusak atau hilang. Adikku memang luar biasa.” Kata Riven berjongkok dan menyentuh bagian body mobil BMW seri M miliknya yang terlihat tergores.
Tanpa mengomel atau marah Riven keluar dari garasi dengan tenang, langkahnya panjang sepanjang kaki yang ia miliki, lalu menenteng jasnya yang sedikit kusut akibat perjalanan semalam.
Belum sempat ia melangkah jauh, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi sudah berdiri menunggunya di depan pintu utama.
Oakley.
Pria itu membungkukkan badan dengan hormat.
“Anda benar-benar pulang, Tuan. Saya sempat berpikir Anda akan terlalu sibuk bersenang-senang hingga lupa bahwa Anda adalah putra sulung Tuan Thomas Chamron,” ucap Oakley. Nadanya terdengar datar seperti biasa, tetapi sindiran halus di balik kata-katanya tetap terasa jelas.
Riven mengangkat sebelah alis.
“Kalau aku lupa, kau pasti sudah mencariku ke seluruh negeri.”
Senyum tipis muncul di wajah Oakley.
“Benar sekali, Tuan.”
“Di mana Ayah?”
“Tuan Thomas sudah berangkat lebih dulu. Beliau akan menghadiri rapat dewan direksi pagi ini. Tuan berpesan anda harus segera menyusul dan tidak boleh terlambat.”
Riven mengangguk pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah memasuki mansion. Pintu utama yang menjulang tinggi terbuka perlahan.
Kemegahan interior langsung menyambutnya. Sebuah lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit yang tinggi, sementara lantai marmer mengilap memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di sekeliling ruangan.
Namun baru beberapa langkah berjalan, Riven menghentikan langkahnya.
Di ruang keluarga utama, seorang wanita cantik yang telah menginjak usia lima puluh tahun duduk di atas sofa mewah. Wajahnya masih menyimpan pesona yang sulit diabaikan meski usia terus bertambah.
Saat melihat Riven berdiri di hadapannya dengan senyum santai yang seolah tidak memiliki beban apa pun, wanita itu segera bangkit dari duduknya. Ia menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala.
“Kau tahu? Ayahmu bisa saja membunuhmu karena ulahmu,” katanya sambil mendelik tajam.
Riven hanya tersenyum ringan.
“Aku tahu. Tapi kalau Ayah benar-benar berniat membunuhku, dia pasti sudah mengirim anak buah untuk mencariku sejak lama.”
“Riven! Kau tahu bagaimana ayahmu!” Suara Hellary langsung naik satu oktaf.
Riven terkekeh pelan sebelum melangkah mendekat dan memeluk ibunya.
Sesaat, Hellary terdiam.
Lalu kedua lengannya perlahan melingkari tubuh putra sulungnya itu, membalas pelukan yang telah lama ia rindukan. Putra sulungnya yang kini jauh lebih tinggi darinya.
“Aku sangat merindukanmu,” bisiknya.
Air mata mulai menggenang sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Riven memejamkan mata sejenak. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia kembali berdiri di rumah yang pernah menjadi dunianya, karena ada sang ibu. Riven memeluk erat-erat ibunya seolah itu tak akan pernah cukup mengganti kerinduannya selama ini.
Sudah terlalu lama mereka hanya saling menyapa melalui panggilan telepon dan pesan singkat.
Semua itu karena Thomas Chamron melarang Riven pulang sebelum putranya berhasil menaklukkan perusahaan cabang keluarga Chamron di Jepang dan membuktikan kemampuannya sebagai pewaris utama keluarga.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Riven akhirnya kembali.
Dan bagi Hellary, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada melihat putranya berdiri di hadapannya dalam keadaan sehat dan selamat.
“Di mana Ruby?” tanya Riven.
“Masih di kamarnya. Sepertinya dia belum bangun.”
Riven mengangguk pelan.
“Aku harus bersiap dan segera pergi.”
“Ya, sebaiknya begitu. Daripada kau benar-benar dibunuh oleh ayahmu karena tidak menghadiri rapat hari ini.” Hellary menghela napas sambil menyentuh lengan putranya. “Tapi kau bahkan belum tidur sejak tiba.”
“Tenang saja, Ibu.” Riven tersenyum tipis. “Sejak tinggal di Jepang, aku sudah terbiasa bekerja tanpa tidur. Semua itu kulakukan agar bisa kembali ke rumah ini secepat mungkin.”
Raut wajah Hellary justru semakin dipenuhi kekhawatiran.
“Ayahmu sudah mengatur agar Oakley menemanimu. Kalian akan bertemu dengannya di perusahaan nanti,” ujar Hellary. “Oakley ditugaskan mengantarmu karena ayahmu takut kau akan membuat kekacauan di hari pertamamu bekerja di kantor pusat.”
Riven terkekeh pelan.
“Aku berhasil membuat perusahaan cabang di Jepang berkembang jauh melampaui target. Jika para direktur masih meragukan kemampuanku, maka bukan aku yang seharusnya khawatir.”
Senyumnya berubah tipis namun penuh keyakinan.
“Mereka yang seharusnya khawatir. Dan cepat atau lambat, mereka akan menyesali keraguan itu.”
Hellary hanya menggelengkan kepala. Ia sudah terlalu mengenal putranya. Kepercayaan diri Riven terkadang terdengar seperti kesombongan, tetapi berkali-kali pria itu selalu berhasil membuktikan bahwa ucapannya bukan sekadar omong kosong.
Akhirnya, Hellary membiarkan Riven pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Riven menaiki tangga utama dan berjalan menyusuri koridor panjang menuju kamar pribadinya.
Saat pintu terbuka, langkahnya terhenti sesaat.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di ruangan itu.
Namun hampir tidak ada yang berubah.
Semua dekorasi masih tertata persis seperti saat ia meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Pandangannya berkeliling ke seluruh sudut kamar yang luas tersebut.
Koleksi kesayangannya masih terpajang rapi.
Deretan topi bermerek dengan harga fantastis tersusun di rak-rak khusus. Beberapa bola bisbol bertanda tangan atlet profesional masih berada di dalam kotak kaca. Di dinding, berbagai foto dan poster mobil sport impiannya tetap menghiasi ruangan.
Senyum tipis muncul di wajah Riven.
Perlahan ia berjalan menuju ruangan lain yang terhubung langsung dengan kamarnya.
Saat pintu dibuka, tampaklah sebuah ruang koleksi pribadi yang dipenuhi lemari kaca besar.
Di dalamnya tersimpan ratusan topi eksklusif dari berbagai merek ternama dunia.
Sebagian besar merupakan koleksi langka yang ia beli langsung dari luar negeri. Ada yang didapatkan melalui lelang, ada pula yang hanya diproduksi dalam jumlah sangat terbatas.
Namun Riven segera menyadari ada beberapa tempat yang kosong. Beberapa topinya menghilang.
Alih-alih marah, ia justru terkekeh pelan. Ia sudah tahu siapa pelakunya.
Jika bukan Ruby, maka pasti Gavin atau Zayn yang jelas mengambilnya. Tidak mungkin orang lain berani menyentuh koleksi pribadinya tanpa izin.
Setelah puas melihat-lihat kamarnya, Riven berjalan menuju ruang ganti. Ia mulai bersiap untuk hari yang akan menjadi awal babak baru dalam hidupnya.
Hari ini, ia akan kembali menginjakkan kaki di perusahaan keluarga Chamron sebagai seorang eksekutif.
Dan suatu hari nanti, cepat atau lambat, seluruh perusahaan itu akan berada di bawah kendalinya sebagai pewaris utama keluarga Chamron.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor