Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.
Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Angela buru-buru menggeleng, seolah ingin mengusir pikiran yang mulai ke mana-mana.
"Cuma ngomong biasa," gumamnya pelan. "Kenapa gue yang jadi salah tingkah, sih?"
"Ayo." ajak Raymon. Suara Raymond membuyarkan lamunannya, Angela s dikit tersentak.
"Iya." Ia mempercepat langkah hingga sejajar dengan Raymond. Di belakang mereka, Kevin dan Maya saling bertukar pandang sambil menahan senyum. Begitu keluar dari perpustakaan, angin sore langsung menyambut mereka. Langit yang sejak tadi mendung kini semakin gelap. Awan hitam menggantung rendah, seolah siap menumpahkan hujan kapan saja.
Angela mendongak.
"Wah... beneran mau hujan." Raymond ikut melihat ke langit sekilas.
"Hm." Angela menoleh sambil tersenyum usil.
"Berarti ramalan lo tadi bener."
"Bukan ramalan." Angela terdiam, mengangkat sebelah alisnya. "Lihat prakiraan cuaca." sambungnya. Angela langsung tertawa.
"Kirain indra keenam." Kevin ikut menimpali sambil terkekeh.
"Bos itu apa-apa dicek dulu."
"Pantesan," sahut Maya sambil mengangguk. "Orangnya serba siap." Mereka berjalan menuruni anak tangga perpustakaan.
Belum sampai ke halaman, tetes-tetes air mulai jatuh membasahi paving. Angela mengulurkan telapak tangannya.
"Hujan." Baru saja kata itu terucap, hujan turun semakin deras. Angela refleks mundur setapak.
"Deres banget!"
Mahasiswa yang berada di sekitar gedung perpustakaan langsung berlarian mencari tempat berteduh.
Beberapa orang mengeluh karena jemuran motor mereka kehujanan, sementara yang lain sibuk menutupi tas dengan jaket.
Maya mengusap lengannya yang basah.
"Gimana nih? Motor gue di parkiran fakultas."
"Motor gue juga," sahut Angela sambil meringis. Kevin menoleh ke arah Raymond.
"Bos?"
Tanpa banyak bicara, Raymond membuka payung lipat hitam yang entah sejak kapan sudah ada di dalam tasnya. Payung itu terbuka sempurna, sampai Angela langsung melongo.
"Serius deh." Raymond menatapnya.
"Kenapa?"
"Lo bawa payung?"
"Iya." Angela menoleh ke Maya.
"Tuh, kan." Maya ikut geleng-geleng kepala.
"Lengkap banget." Kevin terkekeh pelan.
"Bos selalu bawa payung." Angela mengangkat sebelah alis.
"Terus kalau nggak hujan?"
"Disimpan lagi." Jawaban Raymond yang datar membuat Angela spontan tertawa.
"Iya juga, ya." Raymond menggeser payung sedikit ke arah Angela.
"Ayo." Angela menunjuk Maya.
"Kita berempat muat?"
"Mepet," jawab Kevin sambil mengukur lebar payung. "Kalau dipaksa, nanti bahu gue mandi hujan." Maya terkikik.
"Yaudah, kita lari aja, Kev."
"Sanggup?"
"Nggak juga." Angela langsung melepas jaket tipis yang dipakainya.
"Nih, May." Maya menggeleng cepat.
"Eh, jangan."
"Pakai aja. Lo gampang masuk angin."
"Terus lo?"
"Gue nggak apa-apa." Belum sempat Maya menerima jaket itu, Raymond lebih dulu angkat bicara.
"Kevin."
"Iya, Bos?"
"Ambil payung di mobil." Kevin berkedip.
"Hah?"
"Masih ada satu."
"Oh!" Kevin langsung menepuk dahinya.
"Hampir lupa." Ia segera mengambil kunci mobil yang dilempar Raymond.
"Siap! Tunggu bentar." Kevin berlari menerobos gerimis menuju area parkir.
Angela menatap punggung Kevin yang semakin jauh.
"Dia kehujanan."
"Nggak apa-apa."
"Lho?"
"Dia larinya cepat." Angela menahan tawa.
"Kasihan amat." Beberapa menit kemudian Kevin kembali dengan napas tersengal.
"Dapet!" Ia mengangkat payung biru tua di tangannya dengan wajah bangga.
"Nih, Bos." Raymond mengangguk.
"Kalian berdua pakai itu." Kevin langsung membuka payung.
"May, sini." Maya tersenyum lega.
"Makasih." Angela ikut tersenyum.
"Nah, beres." Raymond memandang Angela.
"Ayo." Angela melangkah ke bawah payung Raymond. Karena ukuran payung tidak terlalu besar, jarak mereka otomatis menjadi lebih dekat. Bahu mereka beberapa kali bersenggolan saat berjalan. Angela berusaha sedikit menjauh. Raymond justru menggeser payung mengikuti langkahnya.
"Kena hujan."
"Gue nggak apa-apa."
"Kamu bisa sakit." Angela mendengus pelan.
"Lo ini."
"Apa?"
"Perhatian banget." Raymond terdiam beberapa detik. Lalu menjawab dengan nada yang tetap tenang.
"Kamu temanku." Jawaban itu terdengar sederhana, namun entah kenapa membuat senyum Angela mengembang pelan.
"Iya."gumamnya lirih.
"Teman."
Di belakang mereka, Kevin melirik ke arah Raymond, lalu berbisik pada Maya.
"May."
"Hm?"
"Menurut lo..." Kevin menyeringai kecil. "...Bos sadar nggak kalau payungnya lebih banyak nutupin Angela daripada dirinya sendiri?"
Maya memperhatikan beberapa saat. Benar saja. Sebagian bahu Raymond sudah mulai basah terkena tempias hujan. Sedangkan Angela nyaris tidak terkena setetes air pun.
Maya tersenyum tipis.
"Kayaknya..."
Ia mengalihkan pandangan kepada Raymond yang tetap berjalan santai tanpa memedulikan bajunya yang mulai basah.
"...dia sadar."
Kevin mengangkat alis.
"Terus sengaja?"
Maya hanya tertawa kecil.
"Hmm... siapa yang tahu?"
Rintik hujan berubah semakin deras.
Air mengalir di sepanjang jalan setapak menuju area parkir, sementara mahasiswa yang terlambat berteduh tampak berlari kecil sambil menutupi kepala dengan tas.
Angela melirik bahu Raymond yang mulai basah.
Keningnya langsung berkerut.
"Ray."
"Hm?"
"Geser dikit."
Raymond menoleh.
"Kenapa?"
"Bahu lo basah."
"Nggak apa-apa."
"Nggak bisa gitu."
Angela mengangkat sebelah tangan, lalu mendorong gagang payung ke arah Raymond.
"Sini."
Raymond menahan gagang payung itu.
"Kamu nanti kehujanan."
"Nggak bakal."
Angela kembali menggeser payung hingga posisi mereka sama-sama terlindungi.
"Nah, gini, kan, enak."
Raymond melirik bahunya sekilas.
"Kamu jadi mepet."
Angela baru sadar.
Karena sama-sama berebut posisi payung, jarak mereka kini nyaris tak menyisakan celah.
Lengan mereka beberapa kali bersentuhan.
Angela refleks mundur setengah langkah.
"Eh... maaf."
Raymond justru kembali menggeser payung.
"Nggak usah jauh-jauh."
"Lho?"
"Nanti kena hujan."
Angela mendesah pelan.
"Lo tuh..."
"Apa lagi?"
"Terlalu perhatian."
Raymond menjawab tanpa berpikir panjang.
"Memangnya salah?"
Angela langsung kehilangan kata-kata.
"Nggak... sih."
Di belakang mereka, Kevin yang melihat pemandangan itu spontan berdeham.
"Ehem."
Maya meliriknya sambil menahan senyum.
"Kenapa?"
Kevin menunjuk ke arah Raymond dengan dagunya.
"Bos basah setengah badan."
"Iya."
"Angela malah sibuk nyuruh Bos geser."
Maya tertawa pelan.
"Berarti sama-sama perhatian."
Kevin mengangguk mantap.
"Nah, itu."
Sementara itu, Angela masih belum menyadari kalau beberapa mahasiswa yang berteduh di depan kantin memperhatikan mereka.
"Itu Raymond, kan?"
"Iya."
"Kok rela kehujanan?"
"Cowok dingin ternyata romantis juga."
Bisik-bisik itu samar terdengar hingga ke telinga Angela.
Ia langsung salah tingkah.
"Ray."
"Hm?"
"Kayaknya..."
Angela melirik ke kanan dan kiri.
"...orang-orang pada lihat."
Raymond ikut menoleh sekilas.
"Lihat aja."
Angela memonyongkan bibir.
"Lo sih santai."
"Harus panik?"
"Bukan panik..."
Angela mengusap tengkuknya.
"Cuma... malu."
Raymond memperhatikan wajah Angela yang mulai memerah.
Beberapa detik kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat payung sedikit lebih rendah.
Kini wajah Angela tertutup sebagian oleh pinggiran payung.
Mahasiswa lain jadi lebih sulit melihat ekspresinya.
Angela berkedip bingung.
"Ngapain?"
"Biar nggak malu."
Angela spontan menatap Raymond.
"Lo..."
"Hm?"
"...sering bikin orang kaget, ya."
Raymond mengangkat bahu.
"Baru tahu."
Angela terkekeh pelan.
"Iya."
Tak lama kemudian mereka tiba di area parkir.
Kevin menekan tombol remote.
"Cklek."
Lampu mobil Raymond berkedip dua kali.
"Nah, sampai."
Raymond membuka pintu penumpang depan.
Angela justru berhenti melangkah.
Raymond menoleh.
"Kenapa?"
Angela menunjuk motornya yang terparkir beberapa petak dari sana.
"Motor gue."
"Nanti diambil."
Angela menggeleng.
"Kan gue pulangnya naik motor."
"Nggak hari ini."
"Lho, kenapa?"
"Hujan."
Angela tertawa kecil.
"Ya masa gara-gara hujan doang motor gue nginep di kampus?"
Raymond menjawab tenang.
"Bisa diambil besok."
Angela menggeleng lagi.
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Besok gue kuliah pagi."
"Aku antar."
Angela menghela napas panjang sambil memijat pelipis.
"Ray..."
"Hm?"
"Lo sadar nggak?"
"Sadar apa?"
"Semua solusi lo ujung-ujungnya selalu..." Angela menunjuk dada Raymond pelan. "...aku antar."
Kevin langsung membalikkan badan, pura-pura sibuk membuka bagasi mobil.
Bahunya sampai bergetar menahan tawa.
Maya menutup mulutnya rapat-rapat.
Raymond tampak berpikir beberapa saat.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Iya."
Angela mengangkat kedua alis.
"Hah?"
"Soalnya memang lebih gampang begitu."
Angela menatap Raymond cukup lama.
Lalu geleng-geleng kepala sambil terkekeh pasrah.
"Lo ini ya..."
Belum sempat kalimatnya selesai...
Sebuah mobil sedan putih melaju pelan memasuki area parkir.
Mobil itu berhenti tak jauh dari mereka.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria berjas rapi turun sambil membawa payung besar.
Tatapannya langsung tertuju pada Raymond.
"Maaf, Tuan Raymond."
Pria itu sedikit membungkukkan badan.
"Saya akhirnya menemukan Anda."
Angela, Maya, dan Kevin serempak menoleh.
Raymond tetap berdiri tenang.
"Ada apa?"
Pria itu mengulurkan sebuah map cokelat yang tampak tebal.
"Ketua meminta Anda segera datang. Ada urusan penting yang tidak bisa ditunda."
Angela memandangi pria asing itu dengan bingung.
Ketua?
Ketua apa?
Belum sempat rasa penasarannya terjawab, ekspresi Raymond yang sejak tadi santai perlahan berubah serius.
Hujan masih turun membasahi area parkir.
Namun suasana mendadak terasa jauh lebih tegang daripada sebelumnya.
Raymond menatap map cokelat yang masih diulurkan pria itu.
Tatapannya tenang, tetapi sorot matanya berubah lebih tajam.
"Aku lagi ada urusan."
Pria berjas itu tampak ragu.
"Tapi, Tuan Raymond... Ketua bilang rapatnya harus dimulai hari ini juga."
Raymond tidak langsung menjawab.
Ia justru melirik ke arah Angela yang masih berdiri di bawah payung sambil memegang erat tali tasnya.
Angela mengangkat sebelah alis.
"Jangan lihat gue."
"Hm?"
"Kalau emang penting, ya pergi aja."
Raymond masih diam.
Angela mengembuskan napas pelan.
"Serius. Gue nggak kenapa-kenapa."
Pria berjas itu ikut menimpali dengan hati-hati.
"Kami bisa menunggu beberapa menit lagi, Tuan."
Raymond menggeleng.
"Nggak usah."
Ia kembali menatap Angela.
"Kamu pulang sama Maya."
Angela spontan menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?"
"Iya."
"Lho, tadi katanya mau nganterin gue."
Raymond mengangguk.
"Tadinya."
"Nah."
Angela menyeringai kecil.
"Berarti sekarang giliran gue yang nganter lo."
Kevin langsung menahan tawanya.
Maya menoleh bingung.
"Maksudnya?"
Angela menunjuk mobil sedan putih yang datang menjemput Raymond.
"Ya... gue anter sampai masuk mobil."
Kevin refleks menepuk dahinya.
"Ya ampun, Angela."
"Apa?"
"Humornya mulai nular dari Bos."
Angela tertawa lepas.
Raymond hanya menggeleng pelan.
"Nggak lucu."
"Lah."
Angela pura-pura manyun.
"Baru juga sekali."
Raymond melangkah mendekat.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil payung dari tangan Angela.
"Eh?"
Angela menatapnya bingung.
"Mau diapain?"
Raymond membuka payung itu lebih lebar, lalu mengangkatnya di atas kepala Angela.
"Kamu di sini."
"Terus lo?"
"Aku ke mobil."
Angela melirik jarak antara mereka dan sedan putih itu.
"Ray, itu lumayan jauh."
"Hm."
"Ntar lo basah."
"Nggak apa-apa."
Angela langsung menarik pelan lengan kemeja Raymond.
"Eh."
Raymond berhenti melangkah.
"Apa?"
"Payungnya dibawa."
"Nanti kamu kehujanan."
Angela mendecak pelan.
"Kan masih ada atap parkiran."
"Tempias."
"Ray."
Angela menatapnya serius.
"Lo dari tadi yang nyuruh gue jangan kehujanan."
"Iya."
"Sekarang giliran gue."
Raymond terdiam.
Angela mengambil kembali gagang payung dari tangan Raymond.
"Nih."
Ia mengangkat payung itu sedikit lebih tinggi.
"Minimal kita jalan bareng sampai mobil."
Tatapan Raymond jatuh pada tangan Angela yang masih menggenggam gagang payung.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Oke."
Kevin yang melihat dari kejauhan langsung menyenggol Maya.
"May."
"Hm?"
"Baru kali ini ada orang yang bisa debat sama Bos."
Maya terkekeh.
"Hebat juga Angela."
Mereka berempat berjalan menuju sedan putih.
Hujan masih turun deras.
Sesekali angin bertiup, membuat tempias air membasahi ujung celana mereka.
Sesampainya di depan mobil, Angela menyerahkan payung itu kepada Raymond.
"Nih."
Raymond menerimanya.
"Makasih."
Angela tersenyum kecil.
"Iya."
Raymond membuka pintu mobil, tetapi belum langsung masuk.
Ia kembali menoleh.
"Pulangnya hati-hati."
Angela mengangguk.
"Iya."
"Kalau hujannya makin deres..."
Raymond berhenti sejenak.
"...jangan nekat naik motor."
Angela menghela napas sambil tersenyum geli.
"Iya, Pak."
Kevin langsung terkekeh.
"Tuh, dipanggil 'Pak' lagi."
Raymond hanya menggeleng tipis, lalu akhirnya masuk ke dalam mobil.
Pintu tertutup pelan.
Beberapa detik kemudian, sedan putih itu melaju meninggalkan area parkir.
Angela masih berdiri memandangi mobil yang semakin jauh.
Entah kenapa...
Suasana tiba-tiba terasa lebih sepi.
"Ang."
Suara Maya membuyarkan lamunannya.
"Hm?"
"Mobilnya udah hilang."
"Iya."
"Kok masih dilihatin?"
Angela tersentak.
"Hah? Nggak... gue cuma..."
Ia menggaruk tengkuknya, salah tingkah.
"...mastiin aja dia beneran udah pergi."
Kevin menyeringai jahil.
"Yakin cuma mastiin?"
Angela langsung melotot.
"Iya!"
"Perasaan tadi yang paling berat ninggalin parkiran bukan Bos."
"Kevin!"
"Oke, oke... gue diem."
Kevin tertawa sambil mengangkat kedua tangannya.
Maya ikut tersenyum geli.
"Ayo, kita juga pulang."
Angela mengangguk.
"Iya."
Namun baru beberapa langkah menuju parkiran motor, ponsel Angela tiba-tiba bergetar di dalam saku jaketnya.
Bzzzt...
Bzzzt...
Angela mengeluarkan ponselnya.
Layar menampilkan satu pesan baru.
Pengirimnya...
Raymond.
Angela mengernyit.
"Baru juga lima menit pergi..."
Ia membuka pesan itu.
«Raymond: Jangan lupa makan bekalnya.»
Angela terdiam beberapa saat.
Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Maya yang mengintip dari samping langsung menyenggol lengannya.
"Dari siapa?"
Angela buru-buru mengunci layar ponselnya.
"Nggak ada."
Maya menyipitkan mata.
"Bohong."
"Bener."
"Kalau bukan siapa-siapa..."
Sedan putih melaju mulus meninggalkan gerbang kampus.
Hujan yang mengguyur kota membuat jalanan sedikit padat. Deretan lampu kendaraan memantul di atas aspal yang basah.
Di dalam mobil, suasana begitu sunyi.
Raymond duduk di kursi belakang sambil menatap keluar jendela.
Pikirannya entah kenapa masih tertinggal di kampus.
Tepatnya...
Pada seorang mahasiswi yang baru dikenalnya dua hari lalu.
"Tuan Raymond."
Suara pria berjas di kursi depan membuyarkan lamunannya.
"Hm?"
"Direktur Utama kembali menghubungi saya."
"Apa katanya?"
"Beliau meminta Anda segera menghadiri rapat direksi. Seluruh jajaran direksi sudah menunggu di ruang rapat utama."
Raymond mengangguk singkat.
"Berapa lama lagi sampai?"
"Kurang lebih dua puluh menit, Tuan."
"Hm."
Pria berjas itu melirik kaca spion.
Ada satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya.
"Kalau boleh bertanya..."
"Tanya saja."
"Sejak kapan Tuan mengantar mahasiswi ke kampus?"
Raymond mengalihkan pandangan dari jendela.
"Kenapa memang?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Selama saya bekerja dengan Tuan, jangankan mengantar perempuan. Memberi tumpangan saja hampir tidak pernah."
Raymond terdiam sejenak.
"Dia temanku."
Pria itu mengangguk sopan.
"Baik, Tuan."
Meski begitu, dalam hati ia tidak sepenuhnya percaya.
Kalau hanya teman...
Mengapa Raymond rela memutar balik mobil hanya demi mengembalikan kotak bekal?
Mengapa menunggu jam kuliah selesai?
Bahkan rela kehujanan hanya agar Angela tetap terlindungi dari hujan?
Namun semua pertanyaan itu ia simpan rapat-rapat.
Ia tahu betul, Raymond bukan orang yang suka membicarakan urusan pribadinya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Raymond bergetar.
Nama Kevin muncul di layar.
Raymond segera menerima panggilan itu.
"Ya."
"Bos."
"Hm?"
"Angela udah pulang sama Maya."
"Hujannya?"
"Masih deras."
"Motornya?"
"Masih dititip di kampus."
Raymond mengembuskan napas pelan.
"Bagus."
Kevin terkekeh pelan.
"Bos."
"Apa?"
"Udah tenang sekarang?"
"Iya."
Kevin tersenyum sendiri.
"Baru kali ini saya lihat Bos nyuruh saya mastiin seseorang sampai segitunya."
"Biar aman."
"Iya, saya paham."
Kevin berhenti sejenak sebelum kembali berkata,
"Tapi kalau begini terus, lama-lama satu kampus bakal sadar kalau Bos perhatian banget sama Angela."
Raymond menatap jalanan yang dipenuhi rintik hujan.
"Lalu?"
Kevin langsung terdiam.
"Lho... Bos nggak keberatan?"
"Nggak."
Jawaban singkat itu justru membuat Kevin semakin bingung.
"Bos."
"Hm?"
"Boleh saya nanya sekali lagi?"
"Tanya."
Kevin menarik napas pelan.
"Bos... jangan-jangan Bos mulai suka sama Angela?"
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi.
Pria berjas di kursi depan bahkan ikut menahan napas sambil melirik Raymond lewat kaca spion.
Beberapa detik berlalu.
Raymond menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela yang dipenuhi titik-titik air hujan.
"Aku nggak tahu."
Jawaban itu terdengar pelan.
Mungkin...
Itu adalah pertama kalinya Raymond mengaku tidak memahami isi hatinya sendiri.
Yang ia tahu hanya satu.
Setiap berada di dekat Angela...
Hari-harinya yang biasanya terasa datar...
Mendadak menjadi jauh lebih hidup.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Pria berjas di depan menangkap pantulan senyum itu dari kaca spion.
Dalam hati ia bergumam,
"Sepertinya... akhirnya ada seseorang yang berhasil membuka hati Tuan Raymond."
Sedan hitam itu terus melaju menembus hujan menuju gedung pusat perusahaan.
Sementara di dalam benak Raymond, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.
"Kenapa setiap melihat Angela tersenyum... aku selalu ingin memastikan senyum itu tidak pernah hilang?"
Maya menunjuk senyum yang masih tertinggal di wajah Angela.
"...kenapa senyum-senyum sendiri?"
kalau bisa up nya di tambahin
padahal seru kenapa sepi komen nan y