NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Runtuhnya Atap Terakhir

Malam merayap masuk ke dalam rumah mewah di kawasan Menteng itu seperti jelaga yang mengotori sisa-sisa kemegahan yang kian memudar. Tanpa aliran pendingin ruangan yang biasanya berdesis lembut, udara di dalam ruang tengah terasa begitu pekat, pengap, dan berbau keputusasaan.

Di atas sofa kulit Italia yang mulai berdebu, Ningsih berbaring dengan tubuh yang tampak menyusut. Wajahnya yang biasa dipoles bedak tebal kini pucat pasi, matanya cekung menatap langit-langit yang dihiasi lampu gantung kristal yang padam. Perutnya yang kosong terus berbunyi, mengirimkan rasa perih yang menjalar ke seluruh tubuh rentanya. Di sampingnya, sebotol air mineral yang tadi siang masih setengah penuh, kini telah kosong tak bersisa.

Reza duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada kaki meja jati yang kokoh. Kemeja birunya yang kotor oleh abu jalanan belum juga diganti. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kini dipenuhi kapalan tipis akibat berjalan berkilo-kilometer di bawah terik matahari siang tadi. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah dingin Naya di ruang rapat kantor selalu hadir, menjelma menjadi mimpi buruk yang nyata bahkan sebelum ia sempat tertidur.

"Andi... Andi..." rintih Ningsih, suaranya nyaris tak lebih keras dari bisikan angin malam yang menyusup lewat celah jendela. "Apakah tidak ada makanan sedikit pun? Bibi... Bibi lapar sekali, Nak..."

Andi, yang duduk di sudut ruangan yang gelap sembari menatap layar ponselnya yang kini menyala berkat sisa daya baterai yang kritis, hanya mendesah malas. Sikap hormat dan santun yang biasanya ia tunjukkan kini telah menguap, digantikan oleh tatapan dingin penuh kebosanan. Di dalam sakunya, sisa uang hasil menggadaikan kalung safir Ningsih masih tersimpan, namun tak sepeser pun berniat ia gunakan untuk membeli makanan bagi bibi dan pamannya. Uang itu adalah pelindung nyawanya dari ancaman para penagih utang judi daring yang terus menerornya tanpa henti.

"Sudah Andi katakan sejak sore, Bibi," jawab Andi, nadanya datar tanpa empati. "Semua toko di sekitar sini tidak ada yang mau memberikan utang. Dan aplikasi di ponsel Andi tidak bisa digunakan karena tidak ada saldo. Kita harus menunggu sampai Paman Reza mendapatkan uang."

Reza mendongak, matanya merah menatap keponakannya. "Uang dari mana, Andi?! Kamu tahu sendiri hari ini aku ditolak di lima perusahaan! Mereka semua tahu kasusku di Sinar Surya! Nama baikku sudah habis!" teriak Reza, suaranya parau oleh rasa frustrasi yang kian memuncak.

Sebelum Andi sempat membalas, sunyi malam di luar rumah tiba-tiba koyak oleh suara deru mesin mobil yang berhenti di depan pagar rumah mereka. Disusul oleh bunyi bantingan pintu mobil yang berat, lalu langkah kaki yang teratur menapak di atas lantai paving karpot yang kosong.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu depan terdengar begitu keras, bergaung di dalam rumah yang sepi bagai ketukan palu hakim di ruang sidang.

Ningsih tersentak bangun, tubuhnya gemetar ketakutan. "Siapa... siapa itu, Reza? Apakah orang-orang penagih mobil itu datang lagi?"

Reza berdiri dengan lutut yang lemas. Ia merapikan pakaiannya yang kusut secara refleks, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawa manajernya yang sebenarnya sudah runtuh. "Biar aku periksa, Ibu."

Dengan langkah kaki yang berat, Reza berjalan menuju pintu utama. Saat ia menarik gagang pintu jati yang besar itu, embusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajahnya. Di ambang pintu, berdiri tiga orang pria bersetelan jas hitam rapi. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya berkacamata yang membawa sebuah map kulit berwarna hitam dengan logo Atmadja Group yang sangat ia kenal.

Dia adalah salah satu pengacara senior dari divisi legalitas pusat PT Sinar Surya, didampingi oleh seorang juru sita pengadilan yang mengenakan seragam dinas resmi.

"Selamat malam, Bapak Reza Adijaya," ucap pengacara itu, suaranya terdengar sangat formal, dingin, dan tanpa cela. "Saya harap kami tidak mengganggu waktu istirahat Anda."

Jantung Reza seolah merosot ke lambung seketika. "Ada... ada keperluan apa Anda kemari malam-malam begini? Dan mengapa membawa petugas pengadilan?"

Ningsih yang berjalan tertatih-tatih sembari berpegangan pada dinding, muncul di belakang Reza. "Siapa mereka, Reza? Suruh mereka pergi! Ini rumah kita! Mereka tidak berhak masuk!"

Pengacara tersebut tidak memedulikan teriakan Ningsih. Ia membuka map kulit hitamnya, menarik selembar kertas putih tebal yang memiliki kop surat resmi dengan garis batas merah menyala di sekelilingnya.

"Bapak Reza Adijaya," pengacara itu membacakan dokumen tersebut dengan suara yang lantang, memastikan setiap kata terdengar jelas di telinga semua orang yang berada di ruangan itu. "Berdasarkan Keputusan Direksi PT Sinar Surya Nomor 88/SK-Aset/Atmadja/2026 mengenai penertiban dan penarikan aset korporasi. Kami ke sini untuk menyampaikan Surat Perintah Pengosongan dan Penyitaan Fisik atas unit bangunan rumah tinggal yang beralamat di Jalan Erlangga Nomor 12, Menteng, Jakarta Pusat."

"Penyitaan?!" teriak Reza, suaranya melengking panik. "Atas dasar apa?! Ini rumahku! Aku yang menempatinya selama tiga tahun ini bersama keluargaku!"

Ningsih merangsek maju, mencoba merebut kertas di tangan pengacara tersebut dengan jari-jarinya yang gemetar. "Kalian bohong! Rumah ini milik anakku! Reza yang membelinya untukku! Dia manajer sukses! Jangan coba-coba menipu kami, dasar perampok!"

Pengacara itu menarik mundur kertasnya dengan tenang, lalu menatap Ningsih dengan pandangan yang sangat merendahkan.

"Ibu Ningsih, mohon tenangkan diri Anda," ujar pengacara itu dingin. "Rumah mewah ini tidak pernah dibeli oleh anak Anda. Sertifikat Hak Milik nomor 405/Menteng secara hukum terdaftar atas nama PT Sinar Surya Logistik, salah satu anak perusahaan di bawah naungan Atmadja Group. Rumah ini merupakan bagian dari fasilitas jabatan ('Housing Benefit') yang dipinjamkan sementara kepada Bapak Reza Adijaya selama masa baktinya sebagai Manajer Divisi Logistik."

Pengacara itu menjeda sesaat, lalu menatap Reza yang kini wajahnya telah berubah pucat pasi bagai mayat.

"Berdasarkan klausul kontrak fasilitas nomor 7C mengenai pemutusan hubungan kerja akibat pelanggaran berat: Seluruh hak guna pakai atas fasilitas jabatan, termasuk kendaraan operasional dan rumah dinas, dicabut seketika tanpa somasi tertulis apabila karyawan yang bersangkutan diberhentikan secara tidak hormat akibat tindakan fraud atau korupsi jabatan."

"T-Tapi... bagaimana bisa... tiga tahun..." gumam Reza, suaranya parau, lututnya mendadak lemas hingga ia harus bersandar pada kusen pintu agar tidak jatuh tersungkur.

Selama ini, Reza selalu berbohong kepada ibunya. Ia selalu memberi tahu Ningsih dan teman-teman sosialitanya bahwa rumah megah di Menteng itu adalah hasil keringatnya sendiri yang ia beli secara tunai sebagai bukti kesuksesannya. Ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa rumah itu hanyalah pinjaman kantor yang dibayar sewanya oleh Yayasan Dharma Atmadja melalui memo rahasia yang dikendalikan oleh Naya.

Kini, kebohongan besar yang ia rawat dengan kesombongan selama tiga tahun itu, dikuliti habis secara telanjang di hadapan ibunya sendiri.

Ningsih menatap anaknya dengan mata membelalak tak percaya. "Reza... apa yang orang ini katakan? Rumah ini... rumah ini bukan milikmu? Kamu... kamu tidak membelinya untuk Ibu?" tanya Ningsih, suaranya bergetar hebat oleh rasa syok yang teramat sangat.

Reza tidak mampu menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai paving yang dingin dengan air mata penyesalan yang mulai mengalir membasahi pipinya yang kotor.

"Bapak Reza Adijaya," juru sita pengadilan melangkah maju, menyerahkan secarik kertas merah segel penyitaan kepada Reza. "Berdasarkan keputusan pengadilan, Anda dan seluruh anggota keluarga Anda diberikan waktu maksimal dua puluh empat jam sejak surat ini diterima untuk mengosongkan seluruh barang pribadi dari dalam rumah ini. Besok sore, tepat pukul empat, kami akan kembali bersama aparat kepolisian untuk melakukan penyegelan fisik secara total."

"Dua puluh empat jam?!" pekik Ningsih, tangisnya pecah seketika. Ia jatuh berlutut di atas lantai teras, memegangi kaki celana juru sita tersebut dengan histeris. "Tolong jangan lakukan ini! Kami tidak punya tempat tinggal lain! Kami tidak punya uang! Di mana kami harus tidur besok malam?! Tolong kasihanilah kami!"

Juru sita itu menarik kakinya dengan perlahan namun tegas. "Kami hanya menjalankan tugas berdasarkan hukum yang berlaku, Ibu. Silakan ajukan keberatan Anda melalui jalur hukum yang sah."

Andi, yang berdiri di balik bayangan ruang tengah, perlahan-lahan mundur ke dalam kegelapan koridor kamar. Matanya liar menatap sekeliling. Ia tahu, kapal ini telah hancur sepenuhnya dan akan segera tenggelam ke dasar samudera kemiskinan. Di dalam kepalanya yang licik, ia mulai memikirkan bagaimana cara melarikan diri membawa sisa uang hasil gadaiannya sebelum badai penyitaan ini menyeret dirinya ikut binasa bersama paman dan bibinya yang kini tak lebih dari seonggok sampah tak berguna.

Pengacara Atmadja Group merapikan kembali map kulit hitamnya, memberikan penghormatan formal yang terakhir, lalu berbalik arah menuju mobil mereka yang telah menunggu di luar pagar.

Malam itu, di bawah temaram cahaya lampu jalanan yang redup, teras rumah mewah itu dipenuhi oleh suara raungan tangis histeris Ningsih yang memukul-mukul dadanya sendiri di atas lantai paving yang dingin, sementara Reza hanya bisa terduduk diam di samping ibunya, menatap selembar kertas segel merah di tangannya dengan pandangan kosong—sebuah simbol mutlak bahwa atap terakhir yang melindungi kesombongan mereka telah runtuh sepenuhnya tanpa menyisakan ruang untuk berteduh.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!