NovelToon NovelToon
女将军的命运之幕 ( Tirai Takdir Sang Jenderal Wanita )

女将军的命运之幕 ( Tirai Takdir Sang Jenderal Wanita )

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Ahli Bela Diri Kuno / Keluarga & Kasih Sayang / Action / Fantasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syifa Fha

Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Bragh!!!

Feng Yan melemparkan barang barang yang ada disekitarnya dengan murka. Kabar tentang kegagalan misi Zhao Yuxiu, telah sampai ke telinganya. Zhao Yuxiu dan pasukannya gagal membawa kembali Feng Xin Lan, sang Jenderal Hantu Organisasi Mo Hui, Kembali.

"Bodoh!" geram Feng Yan, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. "Bagaimana bisa kalian gagal dalam misi sesederhana ini? Hah!!"

Para anggota Mo Hui yang berlutut di hadapannya gemetar ketakutan. Mereka tahu bahwa Feng Yan tidak akan mentolerir kegagalan.

"Laporkan!" perintah Feng Yan dengan nada dingin.

Seorang anggota Mo Hui yang berani maju ke depan dan membungkuk hormat. "Lapor Ketua! ,Zhao Yuxiu dan pasukannya telah disergap oleh 2 pendekar yang tidak dikenal. Mereka mengalami kerugian besar dan terpaksa mundur."

"Penyergapan?" tanya Feng Yan dengan alis terangkat,tiba tiba Feng yan tertawa membuat ruangan yang diterangi obor itu semakin mencengkam."Pasukan terbaikku bisa dikalahkan oleh 2 orang pendekar biasa!? Itu sebabnya, aku lebih memilih Xin Lan untuk melakukan tugas tugas sulit!!! Tugas remeh seperti ini saja kalian satu pasukan gagal!!! Payah!!"

Para anggota organisasi Mo hui bergetar ketakutan.

Feng yan mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Cari dia!" perintah Feng Yan dengan suara menggelegar. "Cari Feng Xin Lan! Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, aku ingin dia kembali ke sini!"

"Si...Siap, Ketua!" jawab para anggota Mo Hui serentak.

"Dan bunuh semua orang yang berani melindunginya!" tambah Feng Yan dengan nada sadis. "Jangan sisakan satu pun!"

Para anggota Mo Hui kembali membungkuk hormat dan segera meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah Feng Yan.

Setelah mereka pergi, Feng Yan berjalan mendekati altar yang berlumuran darah. Ia menatap altar itu dengan tatapan kosong.

"Xin Lan..." bisik Feng Yan lirih. "Mengapa kau meninggalkanku? Seperti Liu Mei? Mengapa kau mengkhianatiku?"

Feng Yan tidak mengerti mengapa Feng Xin Lan, yang selama ini menjadi andalannya, tiba-tiba meninggalkannya. Ia merasa dikhianati dan terluka.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi," gumam Feng Yan dengan nada penuh tekad. "Berani sekali kau membawa kabur , keponakan kesayanganku."

Feng Yan mengangkat tangannya dan memukul poster visual bergambar seorang pria dengan nama Xiao zhang itu dengan keras. poster visual itu hancur berkeping-keping, darah segar muncrat ke mana-mana.

"Aku bersumpah," kata Feng Yan dengan suara menggelegar. "Aku akan membuat semua orang yang berani menghalangi jalanku membayar dengan darah!"

Dengan amarah yang membara di dalam hatinya, Feng Yan bersumpah untuk membalas dendam kepada siapa pun yang telah membuatnya menderita. Ia akan menghancurkan semua musuhnya dan membangun kembali kekuasaannya yang hilang.

...

Yu zhang dan Xin Lan sedang bahu membahu memperbaiki sebuah gerobak.Namun, Diam diam Yu Zhang menatap Xin Lan lebih dalam, sesuatu yang aneh terjadi. Tanpa sadar Wajahnya perlahan mendekat, seolah ada daya tarik tak terlihat yang menariknya. Tangannya terulur alami.

Xin Lan terkejut dengan perubahan sikap Yu Zhang yang tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang, bercampur antara rasa gugup dan penasaran. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Xin lan menutup matanya. Namun,

"Rambutmu kotor, Untuk apa kau menutup matamu? Apa nona yun punya pikiran ke hal yang lain?"Goda yu zhang.

sebelum Xin Lan membalas godaan yu Zhang tiba tiba sebuah pukulan keras mendarat di wajah Yu Zhang, membuatnya terhuyung ke belakang.

"Brengsek!" umpat Yun Banxia geram. Umpatan Yun Banxia menarik perhatian para warga desa, matanya menyala-nyala karena marah. "Apa yang kau lakukan, mesum?!"

Yu Zhang memegangi pipinya yang terasa nyeri. Ia menatap Yun Banxia dengan tatapan bingung. "Aku... aku tidak..."

"Jangan mengelak!" bentak Yun Banxia. "Aku melihat semuanya! Kau mencoba mencium adikku!"

Xin Lan hanya bisa menatap kedua pria itu dengan tatapan nanar. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Ini salah paham, Senior Yun," kata Yu Zhang berusaha menjelaskan. "Aku tidak bermaksud..."

"Cukup!" potong Yun Banxia. "Aku tidak mau mendengar alasanmu. Jaga jarak dengan adikku !"

Yu Zhang menghela napas. Ia tahu bahwa percuma saja berdebat dengan Yun Banxia yang sedang marah.

Dengan langkah berat, Yu Zhang pergi namun ia diam diam memperhatikan Xin lan yang terlihat tertawa kecil di balik tubuh besar Yun Banxia. Ia masih kebingungan kenapa Yun Banxia tiba tiba memukulnya.

Setelah Yu Zhang pergi, Yun Banxia mendekati Xin Lan dan memeriksa keadaannya. "Kau tidak apa-apa, Yun Xiao?" tanyanya khawatir.

Xin Lan mengangguk lemah. "Aku baik-baik saja, Kakak."

Yun Banxia menghela napas lega. Ia kemudian menatap Xin Lan dengan tatapan serius. "Dengar, Yun Xiao, berhati-hatilah dengan pria itu."

"Maksud Kakak?" tanya Xin Lan bingung.

"Yu Zhang itu... dia bukan orang yang bisa dipercaya," jawab Yun Banxia. "Aku merasakan aura yang berbahaya darinya. Aku tidak ingin kau terluka karenanya."

Xin Lan tertawa tipis melihat reaksi kakaknya yang protektif. Ia tahu bahwa Yun Banxia hanya ingin melindunginya. Namun, ia juga merasa bahwa Yu Zhang memiliki sesuatu yang bisa membantunya mencapai tujuannya.

"Aku mengerti, Kakak," ucap Xin Lan akhirnya. "Aku akan berhati-hati."

Yun Banxia mengangguk lega. Ia kemudian memeluk Xin Lan erat-erat. "Aku menyayangimu, Yun Xiao. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa."

Xin Lan membalas pelukan Yun Banxia dengan erat. Ia merasa beruntung memiliki saudara seperti Yun Banxia yang selalu ada untuknya.

Yu Zhang berdiri termenung memperhatikan keakraban Xin Lan dan Yun Banxia dari kejauhan. Ia memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Ia tidak mengerti mengapa Yun banxia itu tiba-tiba memukulnya dan mengatainya mesum.

"Ssstt...,Au!"Yu zhang meringis mengobati luka memarnya bekas tinju Yun Banxia.

....

Malam semakin larut, desa kecil itu mulai diselimuti kegelapan. Yu Zhang duduk termenung di dekat api unggun, pikirannya berkecamuk. Ia masih memikirkan kejadian siang tadi.

"Kenapa si besar itu memukulku?" gumam Yu Zhang pada dirinya sendiri. "sambil mengompres luka memar yang ada pada pipinya dengan es.

"Sial," umpat Yu Zhang lagi. "Ini benar-benar merepotkan."

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia menoleh, Terkejut saat melihat Xin Lan berjalan ke arahnya.

"Apa kau baik baik saja? ini untukmu."Ucap Xin Lan dengan ekspresi biasa saja, sambil memberikan kompres baru.

Yu zhang sedikit terkejut melihat kehadiran Xin Lan yang tiba tiba.

"Ah..., ya, baiklah."Ucap yu zhang sambil,Mengambil kompres tersebut.

"Aku ingin meminta maaf pada atas perilaku kakak pertamaku yang sudah memukulmu."Ucap Xin Lan.

"Ti...tidak apa apa nona Yun , i..ini hanya luka kecil."Ucap yu zhang sambil meringis.

"ka...kau seharusnya segera beristirahat,kau kan belum sembuh sepenuhnya."Ucap yu zhang mencoba menghilangkan kegugupannya.

"Yun xiao? Kau belum tidur?" Yun Banxia tiba tiba muncul dihadapannya membuat keduanya terkejut dan segera bangkit.

"kakak!?" tanya Xin Lan Terkejut.

Yun Banxia masih memberikan tatapan mata yang tajam kearah yu zhang.

"Ada apa, Kakak?" tanya Xin Lan.

Yun Banxia menarik tangan Xin Lan dan menatap Xin Lan dengan tatapan serius. "Aku ingin berbicara denganmu tentang Yu Zhang," katanya.

Xin Lan terdiam. Ia tahu bahwa ini tidak akan menjadi percakapan yang menyenangkan.

"ikut aku, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," kata Yun Banxia dengan nada serius.

Xin Lan hanya mengangguk,pelan pelan dan memberikan salam perpisahan kepada yu Zhang yang sepertinya terlihat trauma dengan Yun Banxia.

...

Yun Banxia menatap Xin Lan yang sedang duduk di ayunan dengan tatapan tidak percaya. "Yun xiao, apa kau menyukai yu zhang?" tanyanya.

Xin Lan terdiam mendengarnya.

Yun Banxia menghela napas lega. Ia kemudian memeluk Xin Lan erat-erat. "Aku hanya bertanya, Yun Xiao. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa," bisiknya.

Xin Lan membalas pelukan Yun Banxia dengan erat. Ia merasa beruntung memiliki saudara seperti Yun Banxia yang selalu ada untuknya.

"Aiya,Kakak pertama, kau terlalu khawatir padaku, aku dan yu zhang hanya teman,."Ucap Xin Lan sambil menggosok lengan atasnya.

"Dan tadi siang itu!"Ucapan Yun Banxia membuat Xin Lan terkekeh geli melihat tingkah laku kakaknya.

"Astaga kakak! sebenarnya siang itu yu Zhang bukan ingin menciumku,Tapi, membersihkan rambut ku."Ucap Xin Lan mencoba menyakinkan yun Banxia.

"Hah!?"Yun banxia terkejut.

"Kakak seharusnya minta maaf dengan tuan yu zhang."Xin Lan melotot tajam kearah yu zhang.

Yun Banxia hanya tersenyum."Baiklah, baiklah, aku akan meminta maaf kepadanya nanti."sambil mengelus kepala xin lan.

"Ah ya, Apa akhir akhir ini kau sudah bisa mengingat sesuatu tentang dirimu?" Xin Lan sudah menduga jika Yun Banxia akan menanyakan hal yang sama setiap seminggu sekali.

"Yah..., begitulah.., Belakangan ini Aku sedikit mengingat, aku berasal dari Kekaisaran Tiandou dan....ugh!"Xin lan kembali memegangi kepalanya yang padahal itu hanya akting nya.

"A...ah, Ja...jangan terlalu dipaksakan, jika kau memang tidak bisa mengingat nya. sebentar,aku ambilkan minum untukmu."Yun Banxia pergi ke dapur dengan raut wajah khawatir.

"Maafkan aku Yun Banxia, aku membohongimu."Batinnya.

Yun Banxia kembali sembari membawa segelas air dan memberikannya kepada Xin Lan.

"Pelan pelan."Ucap Yun Banxia, ia lantas mengambil kursi dan duduk disebelah Xin Lan.

"Kau baik baik saja , Yun Xiao?"Ucapnya dengan khawatir.

Xin Lan hanya mengangguk,sambil memberikan gelas tersebut kepada yun Banxia.

Tanpa mereka sadari ,Diam diam yu zhang memperhatikan keduanya dari kejauhan.

Yu Zhang berdiri di balik pohon rindang, matanya menyipit mengamati interaksi antara Yun Banxia dan Xin Lan.

Di ayunan, Xin Lan menyesap air yang diberikan Yun Banxia. "Terima kasih, Kakak," ucapnya lirih.

Yun Banxia mengusap lembut rambut Xin Lan.

Xin Lan tersenyum tipis. Ia menatap langit malam yang bertaburan bintang. "Kak, apa menurutmu aku akan bisa mengingat semuanya?"

Yun Banxia menggenggam tangan Xin Lan. "Tentu saja. Jangan khawatir, kau akan mengingatnya."

"Tapi, bagaimana jika ingatanku kembali dan aku bukan orang yang kalian kenal?" Xin Lan menunduk, menyembunyikan kegelisahannya.

Yun Banxia mengangkat dagu Xin Lan, menatapnya dengan tatapan meyakinkan. "Tidak peduli siapa dirimu di masa lalu, yang penting adalah siapa dirimu sekarang. Dan sekarang, kau adalah Yun Xiao, adikku."

Mata Xin Lan berkaca-kaca. Ia memeluk Yun Banxia erat. "Terima kasih, Kak."

Yu Zhang mengepalkan tangannya semakin erat. Ia tahu, ada sesuatu yang disembunyikan Xin Lan. Ia bisa merasakannya.

"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumam Yu Zhang. Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan keduanya dalam keheningan malam.

Dasar kau ini, Sudahlah, ayo masuk, ibu akan marah padaku jika ketahuan mengajakmu ke luar seperti ini."Ajak Yun Banxia.

Xin Lan kembali terkekeh kemudian mengekori kakaknya masuk kedalam.

....

Keesokan harinya, di kediaman keluarga Yun, Xin Lan berlatih pedang di halaman belakang. Gerakannya lincah.

"Kau semakin mahir saja," sapa Yu zhang yang tiba-tiba muncul.

Xin Lan menghentikan gerakannya dan tersenyum. "Ini semua berkat latihanmu, tuan yu zhang."

"Jangan merendah dan jangan panggil aku tuan, panggil yu zhang saja. Aku tahu kau memiliki bakat alami," balas Yu zhang. Ia menatap Xin Lan dengan tatapan menyelidik.

Yu zhang perlahan mendekati Xin Lan yang sedang beristirahat.

"Sebenarnya, kau siapa, Yun Xiao?"

Xin Lan terkejut. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Apa maksudmu?."

"Sudah kuduga, kau selalu menghindar setiap kali aku bertanya apalagi soal tentang dirimu!?" Yu zhang mendekat, menatap Xin Lan dengan intens.

Xin Lan terdiam. Ia tahu, ia tidak bisa terus berbohong pada Yu zhang dan keluarga Yun.

Xin Lan mendorong yu zhang agak menjauh.

"Tuan yu, anda harus menjaga jarak anda."Ucap Xin Lan dengan nada peringatan.

"Baiklah baiklah..., Ah ya, aku ingin bertanya sesuatu ,kau pernah bilang padaku untuk membantumu mengalahkan organisasi Mo hui bukan?"

Xin Lan mengangguk.

"Apa kau punya hubungan sesuatu dengan organisasi itu?"

Xin Lan terdiam sejenak, berpikir.

"Jujur saja, Aku hanya ingin organisasi itu musnah dari dunia ini."Ucap Xin Lan dengan membara.

Yu zhang menatap Xin lan menyelidik.

"Untuk apa seorang pendekar bebas seperti mu melakukan hal yang merepotkan itu? Jadi apa alasanmu."

Xin Lan lagi lagi hanya terdiam.

"Apa yang kau katakan Memang benar,Tapi, ada beberapa orang yang berada di organisasi Mo hui yang menjadi targetku, Orang orang yang harus menerima rasa sakit yang sama sepertiku. Aku, akan menghancurkan mereka semua!"Ucap Xin Lan gemetar dengan kepala tertunduk.

Yu zhang hanya terdiam mendengarnya, sesekali melirik kearah Xin Lan yang mengepalkan tangannya.

"Kau seakan hidup hanya untuk membalas dendam, Tapi, Bukankah ini bagus, kita sama sama saling membutuhkan bantuan untuk menuntut,mereka membayar perlakuan mereka terhadap kita."Ucap yu zhang.

"Omong omong kenapa kau tertarik padaku?"

"Entahlah, mungkin karena kau tipe orang yang sangat membenci orang-orang yang tersenyum manis didepan,tapi memiliki pemikiran jahat dibelakang, mungkin, itu alasanku memilihmu."

Xin Lan hanya tersenyum tipis.

"Rupanya kau sangat tertarik padaku karena itu."

"kau memang memiliki kekurangan tapi hebatnya kau bisa mengatasi kekurangan itu."

...

1
Marini Dewi
ditunggu revisi nya KK. semangat
Dewi Asuma
oh Thor kau buat teka teki apalagi bikin penasaran. lanjut Thor 💪💪
Marini Dewi
semangat terusss untuk author y.💪💪💪
Marini Dewi
cerita y sangat menarik dan untuk author y tetap semangat
Marini Dewi
terus apa yang akan terjadi selanjutnya, ku tunggu update mu Thor
Marini Dewi
update lagi y thor.🙏🙏🙏
Marini Dewi
karyamu Thor sangat bagus. update lagi y🙏🙏
Marini Dewi
makin seru cerita y, up lagi y thor
Marini Dewi
bikin penasaran Thor
Marini Dewi
wow, siapa tuh
lanjut thor
Marini Dewi
cerita y sangat menarik. sukses selalu untuk author y. ditunggu kelanjutannya
Syaifudin Fudin
Sederhana namun dalam
RinSantorski
Jalan cerita hebat.
·Laius Wytte🔮·
Thor, aku sudah tidak sabar untuk baca kelanjutannya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!