"Sekali saja kita melangkah melewati batas ini, Arden... semuanya tidak akan pernah sama lagi."
Alyssa tidak pernah menyangka pernikahannya akan menyeretnya ke dalam pusaran dosa yang terlarang. Sebagai istri yang berbakti, ia selalu menekan keinginan pribadinya demi menjaga kehormatan keluarga besar suaminya.
Namun, benteng pertahanan itu runtuh saat Arden—adik iparnya—kembali dari luar negeri.
Arden bukan lagi remaja tanggung yang dulu ia kenal. Pria itu telah menjelma menjadi sosok dewasa yang penuh pesona, perhatian, dan diam-diam menawarkan kehangatan yang tak pernah Alyssa dapatkan dari suaminya sendiri.
Di sisi lain, Arden tersiksa. Semakin ia mencoba menjauh, semakin ia mendambakan Alyssa—wanita yang seharusnya haram untuk ia sentuh.
Kini, keduanya terjebak dalam tarik ulur perasaan yang menyiksa. Antara kesetiaan pada keluarga, atau menyerah pada godaan gairah yang candu.
Saat batas suci itu akhirnya dilanggar, siapkah mereka membayar harga yang teramat mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.34 -Kebenaran yang Menghancurkan
Beberapa minggu kemudian...
Alyssa pada akhirnya tak jadi keluar dari rumah Narendra atas bujukan dan desakan Maya. Walau terkesan sangat egois, Maya benar-benar menolak keras jika Alyssa sampai berpisah dari Adrian—demi menjaga imej keluarga dan rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Alyssa yang lelah, memilih bertahan dalam keheningan tanpa memedulikan Adrian lagi.
Sementara itu di rumahnya, Hanum mendadak merasa tak enak badan. Kepalanya terasa begitu berat dan pusing hebat melanda sejak pagi.
"Hanum, minum obatnya dulu, Nak," ucap Vira, ibu kandung Hanum, sambil menyerahkan segelas air dan obat.
Hanum menurut tanpa membantah. Ia meminum obat tersebut agar rasa pusingnya berkurang, lalu menyandarkan kepala di pangkuan ibunya. Jemari Vira memijat lembut pelipis sang anak demi meredakan rasa sakitnya.
"Kamu... bulan ini belum datang bulan, kan?" tanya Vira tiba-tiba, teringat kalau Hanum belum ada menitip pesan untuk membeli pembalut seperti biasanya.
Mata Hanum yang tadinya terpejam mendadak terbuka lebar. Kalimat sederhana sang ibu seolah menyentak kesadarannya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Hanum langsung beranjak dari pangkuan Vira dan berlari cepat menuju kamar mandi.
Vira yang melihat tingkah impulsif anaknya hanya bisa melangkah menyusul dengan perasaan bingung bercampur cemas.
"Hanum? Kamu kenapa, Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Vira panik dari balik pintu kamar mandi yang tertutup.
"Aku baik-baik saja, Ma!" sahut Hanum dari dalam.
Tangan Hanum gemetar saat menatap wadah kecil berisi urine dan sebatang testpack yang baru saja ia celupkan. Beberapa menit terasa begitu menyiksa, hingga akhirnya indikator alat itu menampilkan dua garis merah yang sangat jelas.
"Hamil... aku hamil!" bisiknya kegirangan. Senyum licik dan puas seketika terukir di wajahnya.
Namun, saat memutar kunci dan keluar dari kamar mandi, raut wajah Hanum berubah drastis menjadi murung dan ketakutan. Dengan mata berair, ia tiba-tiba berlutut dan bersimpuh di hadapan Vira.
"Ma... maafkan aku, Ma. Maaf..." isak Hanum pecah, berpura-pura hancur.
"Kamu kenapa, sih, Hanum? Coba jelaskan sama Mama!" tuntut Vira makin cemas.
"Aku... aku..." Dengan tangan gemetar, Hanum menyerahkan testpack bergaris dua itu ke genggaman ibunya.
Vira membeku. Matanya melebar menatap alat penanda kehamilan tersebut dengan napas tercekat.
"Hanum, kamu...!" Vira mengguncang keras kedua bahu anaknya dengan raut ketakutan yang nyata. "Katakan sama Mama, siapa yang menghamili kamu, Hanum?! SIAPA?!"
"Adrian," ucap Hanum pelan, menunduk dalam.
"Adrian? Adrian Narendra?!" pekik Vira. Matanya terbelalak tak percaya. Detik berikutnya, tangannya spontan mencengkeram dada yang mendadak terasa nyeri luar biasa. Wajah wanita paruh baya itu memucat sebelum akhirnya tubuhnya merosot lemas ke lantai.
"Ma! Mama! Mama kenapa, Ma?!" jerit Hanum panik luar biasa. Ia segera berteriak memanggil satpam rumah untuk membantu mengangkat ibunya ke dalam mobil dan melesat menuju rumah sakit terdekat.
Di tengah perjalanan, dengan tangan bergetar Hanum menghubungi ayahnya, Galang, yang sedang berada di perusahaan.
Lorong IGD terasa begitu mencekam. Hanum hanya bisa mondar-mandir sambil menangis, menanti dokter yang tengah menangani ibunya. Tak berselang lama, Galang datang berlari dari ujung lorong dengan napas memburu dan raut wajah tegang.
"Hanum! Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi pagi ibumu baik-baik saja!" desak Galang, mencengkeram kedua bahu putrinya dengan tatapan menuntut.
Hanum makin gemetar. Ia tahu ayahnya adalah pria tegas yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Tepat saat itu, seorang dokter keluar dari ruangan dan menjelaskan bahwa Vira mengalami syok berat akibat tekanan emosional yang mendadak, membuat jantungnya sempat bermasalah.
Mendengar penjelasan dokter, rahang Galang mengeras. Ia menarik Hanum menjauh dari keramaian.
"Apa yang kamu katakan sampai ibumu syok berat seperti itu? Jawab Papa, Hanum!" bentak Galang dengan suara tertahan.
Tak punya pilihan lain, Hanum kembali mengeluarkan testpack bergaris dua dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada sang ayah. Di sela isak tangisnya, ia mengulang satu nama yang sama. "Adrian, Pa... Ini anak Adrian."
Mata Galang berkilat penuh amarah. Mengetahui putri semata wayangnya dihamili oleh pria yang sudah beristri—yang tak lain adalah putra dari Bagas Narendra—membuat harga dirinya terinjak-injak.
"Pria brengsek!" desis Galang penuh kebencian. Tanpa basa-basi, ia menarik pergelangan tangan Hanum dengan kasar. "Kita ke kediaman Narendra sekarang. Papa akan seret Adrian di depan keluarganya untuk bertanggung jawab, atau Papa hancurkan nama baik mereka hari ini juga!"
*
*
Hanum dan Galang akhirnya tiba di kediaman keluarga Narendra. Meski jantung Hanum berdebar sangat kencang, dalam hati ia sudah lama menantikan momen ini—momen di mana Alyssa akan tersingkir dan diceraikan oleh Adrian.
Bi Sri melangkah tergesa-gesa menuju ruang tengah, melapor pada Maya bahwa ada Hanum dan ayahnya yang ingin bertemu di luar.
"Suruh mereka masuk, Bi," titah Bagas tegas. Kebetulan Indah dan keluarganya masih menginap di sana, sementara Silvia sudah lebih dulu pulang ke Jogja.
"Baik, Tuan," balas Bi Sri lalu bergegas menyambut tamu.
Begitu Galang dan Hanum melangkah masuk, atmosfer ruang tengah seketika berubah tegang. Di saat yang bersamaan, Adrian turun dari lantai atas sambil memegang ponsel—heran karena pesan singkatnya sama sekali tak dibalas oleh Hanum.
"Adrian!" panggil Galang berat.
Adrian mendongak, terkejut melihat kehadiran ayah Hanum, lalu pandangannya beralih pada Hanum yang berwajah pucat. Namun sebelum Adrian sempat menyapa atau bertanya, sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kirinya.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema. Cap lima jari seketika membekas kemerahan di wajah Adrian.
"Tuan Galang! Apa-apaan Anda?! Kenapa Anda lancang memukul anak saya?!" bentak Bagas terkejut bukan main. Maya yang panik pun langsung berlari mendekati Adrian untuk memeriksa kondisinya.
"Tanyakan sendiri pada anak bajingan mu ini! Apa yang sudah dia perbuat pada putriku?!" seru Galang murka. Dengan penuh kejengkelan, ia melempar sebatang testpack tepat ke dada Adrian hingga jatuh ke lantai.
Maya memungut alat itu. Matanya bergetar hebat menatap dua garis merah yang tercetak di sana.
"Hamil?! Hanum hamil?!" seru Indah sengaja membesarkan suaranya, memancing keributan agar Alyssa mendengar dari atas.
"Kamu harus bertanggung jawab, Adrian! Jika tidak, jangan salahkan saya kalau hari ini juga saya hancurkan bisnis Narendra sampai tak bersisa!" tegas Galang memberi ultimatum.
"Jangan, Om! Saya mohon jangan lakukan itu!" pangkas Adrian panik. Dalam tekanan luar biasa, rahasia besar itu akhirnya terlontar dari mulutnya. "Aku... aku dan Hanum sudah menikah siri kurang lebih empat minggu yang lalu!"
PLAK!
Kali ini giliran Maya yang melayangkan tamparan keras ke wajah Adrian.
"Kamu gila, Adrian?!"
Sementara itu di ujung tangga, Alyssa berdiri mematung. Kejutan pagi hari ini menghantam dadanya hingga sesak tak bertara.
"Adrian... sudah menikah dengan Hanum?" gumam Alyssa lirih dengan senyum hampa dan masam.
Dari sudut mata, Hanum melirik ke arah Alyssa. Ia menyunggingkan senyum sinis yang tipis, memamerkan kemenangan besarnya atas posisi nyonya rumah di kediaman ini.
"Nggak, Adrian! Bagaimana dengan Alyssa?!" celetuk Maya menolak keras pengakuan itu, masih berusaha menyelamatkan nasib Alyssa.
"Aku akan menceraikan Alyssa secepatnya, Ma!" sahut Adrian tegas tanpa beban. "Alyssa tidak hamil dan belum bisa memberikanku keturunan. Sementara Hanum... dia sedang mengandung anakku!"
Adrian beralih menatap Alyssa yang berdiri di tangga. Tanpa diduga, Adrian berjalan mendekat lalu berlutut di hadapan Alyssa yang matanya sudah digenangi air mata.
"Alyssa, aku mohon... Maafkan aku," ucap Adrian, matanya menatap Alyssa tanpa rasa bersalah. "Empat tahun kita menikah, aku sudah mencoba segalanya untuk mencintaimu. Tapi aku tidak bisa, Alyssa. Aku tidak pernah bisa mencintaimu... Karena sejak awal, aku hanya mencintai Hanum!"
Bersambung ...
mana sih Suami'y.,
wwooii Suami Indah yang gak Indah.,
bawa pulang noh istri durjana'mu itu
🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : kali ini klo Kamu bikin ulah., mengganggu siapapun termasuk Alis., Aku akan mengembalikan Kamu sm Kakak'mu
KAMU BOLEH BALIK KE SINI KLO SUDAH BAWA SURAT CERAI
s' Han ini bebener ya...
astagaaaaaaaa...
Han : ko' nyalahin Aku Jum., ini semua gegara Otor lo., bukan Aku
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣