"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sikap yang seharusnya
Di balik meja kerjanya yang megah, wanita itu sudah duduk dengan manis di kursi kebesaran Elio, menatap sang tuan rumah dengan senyuman penuh percaya diri. Penampilan Angel malam itu tampak begitu mencolok dan terang-terangan menggoda, ia hanya mengenakan gaun tidur (dress sleep) satin berwarna biru tua berpotongan rendah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya tanpa sekat perlindungan formal.
Kehadiran Angel yang tiba-tiba di ruang pribadi itu membuat rahang Elio yang tadinya sudah lelah mendadak kembali mengeras, menaikkan kembali tingkat emosinya yang belum sepenuhnya mendingin setelah insiden di acara keluarga tadi.
Rasa lelah yang menggelayut di tubuhnya membuat Elio enggan membuang tenaga untuk berdebat panjang lebar malam ini. Tanpa membuang waktu, pria itu segera melontarkan titah tegas agar Angel beranjak dari kursi kebesarannya.
Angel yang mendapati tatapan tajam dan nada suara dingin dari Elio tidak berani membantah. Wanita itu buru-buru bangkit dan memindahkan posisinya, duduk manis di atas sofa empuk yang terletak tidak jauh dari meja kerja Elio.
Melihat wanita itu sudah menyingkir, Elio memilih untuk mengabaikannya sepenuhnya. Pria itu langsung menarik tumpukan dokumen, menundukkan kepala, dan memfokuskan seluruh atensinya untuk membaca satu per satu detail huruf pada berkas penting yang harus segera ia tanda tangani malam itu juga.
🌴🌴🌴
Di kamar, Aratala melangkah gontai usai membersihkan diri dari segala penat dan debu yang melekat di tubuhnya sepanjang hari. Mengenakan pakaian tidur yang lebih nyaman, gadis itu berniat untuk langsung merebahkan diri di atas ranjang dan memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menghapus rasa lelah.
Kelopak mata Aratala yang tadinya sudah terasa sangat berat perlahan-lahan mulai terpejam, menikmati keheningan malam yang menenangkan, belum sempat ia terlelap sepenuhnya, sebuah suara benturan keras dari lantai bawah mendadak memecah keheningan dan langsung membangunkannya dengan sentakan.
Brakkk!
"Ada apa sih, Pa Elio ini...?" gumam Aratala dalam hati, rasa kesal dan herannya bercampur menjadi satu.
Baru saja ia hendak menarik napas panjang dan kembali mencoba memejamkan mata, suara benda jatuh itu kembali terdengar, menggema samar dari arah ruang kerja Elio.
Aratala mengembuskan napas berat, rasa kantuknya seketika menguap, tergantikan oleh rasa penasaran bercampur jengkel. Dengan gerakan malas, ia bangkit dari pembaringannya, merapatkan jubah tidurnya, lalu melangkah pelan keluar kamar menuju sumber suara yang berasal dari lantai bawah.
Sementara itu di ruang kerja, suasana mendadak tegang.
Brak!
Sebuah vas kaca kecil di sudut meja terpelanting jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai. Angel berdiri terperanjat dari sofa, napasnya memburu akibat ulahnya sendiri yang secara sengaja menyenggol meja demi mencari perhatian Elio.
"Apa yang kamu lakukan, Angel?" geram Elio dingin. Pria itu mendongak, tatapan matanya menajam penuh peringatan, sama sekali tidak tergiur dengan gestur menggoda wanita di hadapannya. "Kalau kamu cuma mau bikin keributan di rumah saya tengah malam begini, silakan keluar sekarang."
Angel menggigit bibir bawahnya, mencoba mendekat dengan langkah ragu. Namun, sebelum ia sempat membuka suara untuk membela diri, terdengar derap langkah kaki seseorang yang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat itu perlahan terdorong dari luar.
Gerakan Angel terlampau cepat dan di luar dugaan. Sebelum Elio sempat bereaksi untuk mendorongnya, wanita itu dengan sengaja menerjang dan mendudukkan diri tepat di atas pangkuan sang pria. Tanpa ragu sedikit pun, tangan lentiknya melingkar erat pada leher Elio, memaksa wajah pria itu mendongak.
Chup!
Angel langsung melumat bibir Elio secara sepihak, menciptakan kontak fisik yang panas dan provokatif di detik yang sama ketika pintu ruang kerja terdorong terbuka lebar.
Di ambang pintu, Aratala yang berniat meluapkan kekesalannya seketika terpaku di tempat. Napasnya tercekat, matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan yang seharusnya ia tak lihat dengan kepala kepalanya sendiri: sang suami tengah memangku dan berciuman mesra dengan wanita lain di ruang kerjanya tengah malam begini.
Kalimat makian yang tadinya sudah berada di ujung lidah Aratala runtuh seketika, tergantikan oleh rasa sesak yang menghantam dadanya telak.
Untuk sepersekian detik, ruangan itu berubah menjadi sangat sunyi. Suara detak jam dinding seolah berhenti berputar, digantikan oleh denging tajam yang tiba-tiba menguasai kepala Aratala. Darahnya berdesir panas, menjalar cepat ke dada dan tenggorokannya, meninggalkan rasa sesak yang begitu menyiksa.
Elio, yang baru sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, langsung meradang. Dengan kasar, pria itu mendorong bahu Angel hingga wanita tersebut hampir terjungkal dari pangkuannya.
"Angel! Brengsek, apa yang kamu lakukan?!" bentak Elio murka, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Pria itu buru-buru berdiri, menepis sisa-sisa sentuhan wanita itu dari kemejanya dengan jijik dan kemarahan yang membara.
Namun, keterkejutan Elio berlipat ganda saat ia menoleh ke arah pintu.
Di sana, Aratala berdiri mematung
"Aratala..." pusing Elio mendadak berputar. Pria itu melangkah maju dengan panik, berniat meraih tangan istrinya.
Sudut bibir Aratala terangkat sedikit, membentuk senyuman manis daripada sebuah amukan.
"Maaf mengganggu," ucap Aratala suaranya terdengar sangat tenang, namun begitu dingin dan menusuk sampai ke tulang.
Tanpa menunggu penjelasan apa pun dari Elio yang masih berdiri kaku dengan napas memburu, Aratala perlahan menarik mundur langkahnya. Gadis itu merapatkan kembali daun pintu ruang kerja tersebut dengan pelan, menutupnya rapat-rapat, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu dalam sunyi.
Sadar, Aratala. Kamu cuma nikah kontrak, wajar dong kalau Pa Elio begitu, batin Aratala merutuki dirinya sendiri, mencoba menepis rasa sesak yang tiba-tiba mencengkeram dadanya.
Ia terus melangkah cepat menaiki anak tangga dengan napas yang memburu. Setibanya di kamar, gadis itu langsung membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat. Tanpa membuang waktu, Aratala merebahkan tubuhnya yang lemas di atas kasur—tepat di sebelah sisi kasur Elio yang masih kosong—lalu membenamkan wajahnya ke dalam bantal, membiarkan pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh dalam kesunyian malam.
"Bodoh, Aratala, bodoh!" maki Aratala pada dirinya sendiri dengan suara tertahan di balik bantal, merutuki kebodohannya karena sempat membiarkan hatinya berharap lebih pada pria seperti Elio.
Brakkk!
Suara hantaman pintu kamar yang dibuka secara paksa membuat kasur di bawahnya bergetar hebat. Elio berdiri dengan napas memburu di ambang pintu, wajahnya menyiratkan kepanikan yang luar biasa. Tanpa membuang sedetik pun, pria itu buru-buru melangkah cepat mendekati ranjang, berniat menghampiri Aratala yang masih meringkuk di atas kasur.
"Aratala!" panggil Elio dengan suara serak, mencengkeram tepi ranjang dan berusaha meraih bahu istrinya yang memunggunginya. "Bangun, Tala. Dengar penjelasan saya dulu. Tadi itu bukan seperti yang kamu lihat—perempuan itu yang sengaja—"
aratala langsung berbalik dan duduk berhadapan dengan elio.
"Kita sama-sama tahu apa batasan di antara kita," lanjut Aratala dengan suara tenang yang justru membuat dada Elio semakin bergemuruh hebat. "Jadi, silakan kembali ke bawah, atau lanjutkan urusan Bapak dengan dia. Jangan buang waktu ke kamar ini."
"Bapak sudah selesai?" tanya Aratala sambil tersenyum tipis—sebuah senyuman hampa yang tidak sampai ke matanya, tercipta begitu ia menyadari Elio kini telah berdiri tepat di sebelahnya.
Pandangan mata gadis itu bertemu dengan manik mata suaminya, namun senyuman itu hanya bertahan sepersekian detik saja. Sebentar sekali, sebelum akhirnya Aratala kembali membuang muka, menarik napas berat, dan menutup rapat-rapat kelopak matanya, seolah enggan menatap pria itu lebih lama lagi.
Aratala, kamu harus jadi cewek gila (cegil) sekarang biar nggak gampang goyah! Jangan mau kelihatan lemah di depan dia! batin Aratala keras, mencoba memupuk benteng pertahanan terakhir di dalam hatinya yang nyaris runtuh.
Dengan tarikan napas panjang, Aratala kembali mendongak untuk menatap Elio yang masih berdiri terpaku di sisinya. Namun, kontak mata itu hanya berlangsung sebentar sekali sebelum ia kembali memalingkan wajah dengan ekspresi sinis yang dipaksakan.
"Nanggung banget, apa mau pindah ke kamar ini makanya Bapak naik ke atas?" tanya Aratala tajam, nada suaranya menyiratkan sindiran telak.
Elio tetap bergeming. Pria itu terpaku di tempatnya, seolah kehilangan kemampuannya untuk merangkai kata-kata di hadapan tatapan dingin sang istri.
Melihat tidak ada respons dari elio Aratala mendengus pelan. "Ya sudah, kalau begitu aku saja yang tidur di bawah di kamar tamu," ucapnya enteng.
Tanpa menunggu persetujuan atau bantahan dari Elio, Aratala langsung bangkit dari ranjang, menyambar bantal empuknya serta boneka kesayangannya dalam dekapannya, lalu melangkah melewati Elio begitu saja menuju pintu keluar.
Cengkeraman tangan Elio begitu cepat dan bertenaga. Sebelum Aratala sempat melangkah lebih jauh melewati ambang pintu, pergelangannya sudah lebih dulu dicekal erat oleh pria itu.
Tarikan tajam yang mendadak membuat keseimbangan Aratala langsung hilang. Gadis itu terhuyung ke belakang, jatuh tersungkur dan menubruk empuknya kasur di bawah tekanan tubuh Elio yang seketika ikut merangsek maju, mengurungnya di antara kedua lengan sang suami.
"Ehhh, Pa Elio, ada apa?! Lepasin!" seru Aratala kaget, berusaha meronta dan mendorong dada bidang pria itu begitu tubuhnya terperangkap di bawah kukungan Elio.
🌴🌴🌴
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu