" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .
......
Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .
" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .
" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .
" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.
" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.
next
yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Cinta si gadis polos
"Aku juga tidak tahu dia suka wanita seperti apa," ucap Melly menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa dia suka wanita karier?" ucap Ara dengan suara kecil, menatap Melly dengan tatapan sendu.
"Lalu kalau dia suka wanita karier, kenapa? Kamu tidak perlu menjadi versi orang lain hanya untuk dicintai," pernyataan Melly mengusap air mata Ara.
"Kamu tidak perlu melakukan hal bodoh hanya karena seorang laki-laki," ucap Melly merapikan penampilan Ara dan mengajaknya berjalan menuju kelas.
"Ara, kenapa kamu berubah semenjak menyukai Kak Sean? Bukankah selama ini kamu selalu ceria dan masih banyak pria tampan di kampus ini yang bisa kamu goda? Buka mata kamu," ucap Melly yang tidak bisa melihat Ara yang selalu ceria jadi sering bersedih.
"Iya juga," kata Ara yang langsung mengedipkan sebelah matanya pada seseorang pria tampan yang lewat dekat mereka.
Sedari dulu Ara adalah seorang gadis ceria, murah senyum, yang senang menggoda. Hanya saja, ketika pertama kali melihat Sean, dia jatuh cinta pada pandangan pertama sehingga mengejar pria itu.
"Sekarang jadi versi kamu yang dulu. Kalaupun mau mendapatkan Kak Sean, dapatkan dengan cara yang elegan, bukan mengemis apalagi menangis seperti ini," ucap Melly.
"Aku akan mendapatkannya dengan cara yang nakal," kata Ara tiba-tiba tersenyum senang, lalu berjalan sambil bergoyang menggenggam tangan Melly.
"Ara," panggil Melly, terus berjalan mengikuti Ara yang mood-nya langsung berubah baik setelah menangis.
......
Brak!
Sean melempar tablet yang dipegangnya, lalu berjalan keluar ruangannya sambil berlari dengan emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Tuan Muda," bodyguard mengejar dengan tidak kalah cepatnya.
Sean masuk ke ruangan direktur keuangan, lalu memukulnya dengan membabi buta dan menyeretnya keluar ruangan sampai ke hadapan puluhan karyawan serta stafnya.
"Tuan Muda, sudah. Anda bisa terkena jeratan hukum jika memukulnya di depan umum," ucap Bimo memegang Sean yang bahkan menghajar pria itu walaupun sudah tersungkur dan lemah tanpa perlawanan.
"Kalian bawa dia ke ranah hukum, sita semua aset yang pernah digelapkannya dan ambil semua dana perusahaan yang pernah dikorupsinya," ucap Sean menatap detail setiap karyawan dan staf yang mungkin melakukan hal yang sama.
"Satu lagi, lakukan proses hukum sebagaimana mestinya dan lupakan bahwa dia adalah keluarga ku. Tidak ada ampun untuk seorang pengkhianat sekalipun itu keluargaku. Bawa dia," perintah Sean pada bodyguard-nya.
"Bimo dan Hans, aku ingin kalian melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap semua lapisan karyawan dan staf. Jika menemukan kejanggalan dalam data, apalagi anggaran, segera laporkan padaku," perintah Sean yang membuat wajah beberapa orang tegang seketika.
"Sean, kenapa harus melakukan hal-hal seperti itu? Kita kan keluarga, bahkan Ayah kamu mempercayai kami selama bertahun-tahun," ucap salah satu dari keluarga Sean.
"Ayah mungkin mempercayai banyak orang, tapi aku tidak, Paman. Sekarang lakukan perintahku dan jika menemukan kasus korupsi lagi, proses secara hukum tanpa pandang bulu," perintah Sean, lalu dia berjalan pergi meninggalkan ketakutan di wajah beberapa orang.
Setelah emosinya cukup stabil, Sean memilih pulang untuk membicarakan dengan Ayahnya beberapa permasalahan yang sangat krusial dalam perusahaan keluarga.
Sean menemukan akar permasalahan mengapa perusahaan keluarganya sulit berkembang meskipun bergerak di beberapa bidang.
......
Di perjalanan pulang.
"Apa yang dilakukan gadis itu di sana?" ucap Sean yang dari awal emosinya sudah membuat mood-nya menjadi buruk, malah semakin buruk lagi ketika melihat Ara di kafe tepi jalan.
"Nongkrong, Tuan Muda," jawab Bimo dengan polos menatap Ara bersama teman-temannya.
"Berhenti di sini. Aku juga ingin beli kopi," pernyataan Sean yang mengejutkan Bimo dan bodyguard yang sedang menyetir.
Mereka sangat tahu kalau selama ini Sean adalah tipe orang yang sangat higienis dan pilih-pilih soal tempat minum atau makan.
Kenapa tiba-tiba ingin beli kopi pinggir jalan?
Sean keluar sendiri dari mobilnya tanpa menunggu dibukakan pintu oleh bodyguard dan berjalan ke seberang jalan untuk membeli kopi.
"Hmmmmm," cuek Ara langsung duduk memunggungi begitu melihat Sean tidak excited seperti biasanya setiap bertemu.
"Selamat datang, Tuan. Anda ingin memesan apa?" ucap pelayan kafe dengan sedikit gugup melihat pria menggunakan stelan jas yang sangat berwibawa.
"Berapa harga kafe ini?" pertanyaan Sean yang berdiri cukup dekat dari Ara yang duduk membelakanginya.
"Katanya ingin beli kopi," suara kecil Bimo langsung melotot mendengar Sean yang malah menanyakan harga kafe ini.
"Di sini jual kopi, bukan jual sekalian tempatnya," kata Ara langsung berbalik mendengar tempat nongkrong sepulang kuliahnya akan dibeli.
Sean menatap Ara dengan tatapan datar.
"Ehhhh, nantang, ya?" kata Ara akan berdiri menghampiri Sean.
"Ara!" Alex memegang tangan Ara yang akan berjalan cukup kuat hingga Ara tertarik dan jatuh tepat di atas pangkuan Alex yang masih duduk.
Sean langsung menarik Ara agar tidak duduk lebih lama lagi di pangkuan pria itu.
"Apa sih?" ucap Ara berjalan mengikuti Sean yang menyeret lengannya ke sudut ruangan.
"Gadis, kamu bilang menyukaiku, lalu kenapa jalan dengan pria lain?" pertanyaan Sean menatap Ara yang berdiri di hadapannya.
"Itu teman Ara," kata Ara menatap Melly dan kedua teman laki-lakinya yang masih duduk menatap mereka bersama bodyguard.
"Teman apaan jalan dua pasang begitu?" ketus Sean.
"Kak Sean cemburu?" tanya Ara menebak dengan polosnya.
"Aku bukan cemburu, namun heran. Kamu bilang suka padaku, tapi masih jalan dengan orang lain, membuat aku jadi ragu kamu benar-benar menyukaiku atau tidak," ucap Sean dengan bahasa yang berbelit-belit.
"Ara benar-benar suka Kak Sean, suweer," kata Ara dengan polos mengatakan perasaannya. Bahkan dari matanya terlihat begitu jujur.
"Tapi Kak Sean jahat, perhatian sama wanita lain," ngambek Ara memangku kedua tangannya dengan tatapan sebal.
"Astaga, perhatian itu berarti baik, bukan jahat," ucap Sean dengan seulas senyum menatap wajah bete Ara.
"Kak Sean nggak boleh perhatian sama wanita lain. Ara nggak suka," pernyataan Ara dengan posesifnya.
"Tapi kamu tidak punya hak untuk marah, Gadis," gemas Sean melihat ekspresi wajah Ara.
"Mmmmh, makanya ayo jadi pacar Ara," kata Ara yang benar-benar sangat menyukai Sean, bahkan seolah-olah lupa apa yang Melly katakan hingga dia kembali menyatakan perasaannya.
"Aku butuh pembuktian. Nanti pas sudah pacaran, kamu tidak benar-benar menyukaiku," ucap Sean meragukan cinta Ara.
"Bukti apa lagi? Ara benar-benar suka Kak Sean," pernyataan Ara dengan tidak sabar.
"Kita pendekatan dulu beberapa minggu ini. Setelah kamu membuat aku percaya kamu mencintaiku, kita akan pacaran," kata Sean mengelus kepala gadis polos itu.
"Oke."