#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Cinta dan yang Dikorbankan
Dan malam itu, Raka merasa seperti anak kecil yang kembali dipeluk dunia yang paling aman yaitu ibunya sendiri.
Ia belum mendapat jawaban.
Tapi setidaknya, ia tahu satu hal yaitu Ia tidak sendirian. Dan percaya lah secapek apapun kita, hal yang paling nyaman dan aman adalah Keluarga.
Bunda tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah anaknya yang sejak kecil ia besarkan dengan penuh kasih, lalu tersenyum pelan, lembut, seperti biasa.
“Raka… kamu tahu kenapa Bunda nggak pernah maksa kamu dalam hal apa pun?”
Raka mengangkat kepala, menatap mata bundanya yang kini menatapnya dalam-dalam.
“Karena kamu anak laki-laki. Dan laki-laki itu harus belajar memilih. Harus belajar memimpin, bukan cuma mengikuti perasaan.”
Raka menelan ludah. Diam.
“Tapi dalam cinta,” lanjut Bunda pelan, “memilih itu bukan soal siapa yang paling kamu cintai, Nak. Tapi siapa yang bisa kamu genggam tanpa mengorbankan dirimu sendiri.”
Kalimat itu menamparnya pelan.
“Kalau cinta itu bikin kamu kehilangan pondasi hidupmu, kehilangan dirimu sendiri… maka itu bukan cinta. Itu pengorbanan. Dan pengorbanan itu ada batasnya.”
Bunda menepuk pelan tangan Raka.
“Aku tahu kamu sayang sama Kristiana. Tapi kamu juga tahu… kalau kamu dan dia jalan terus, kamu bukan cuma beda keyakinan. Kamu akan selalu hidup dalam tanya dan ketakutan.”
Raka memejamkan mata. Hening beberapa saat.
“Aku takut, Bun. Takut kehilangan dia. Tapi aku juga takut… kalau terus begini, aku malah kehilangan diriku sendiri.”
Bundanya tersenyum. “Jangan buru-buru ambil keputusan. Tapi jangan juga terlalu lama menggantung hati orang lain. Karena perempuan itu, Nak… hatinya lembut, tapi juga kuat menunggu. Sampai akhirnya dia sadar, dia menunggu seseorang yang tak pernah benar-benar memilihnya.”
Raka menatap bundanya. Dan di matanya, ada butir bening yang belum sempat jatuh.
Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Rara memandangi layar ponselnya yang kini gelap. Telepon dari Dhian baru saja berakhir, tapi pikirannya justru makin kacau.
Bukan karena apa yang dikatakan Dhian, tapi karena apa yang tidak dikatakan.
Ia tidak menyebutkan apa pun soal toko perhiasan. Soal perempuan itu.
Padahal Rara tahu jelas apa yang ia lihat tadi siang Dhian sedang memilih cincin bersama orang tuanya, ditemani seorang perempuan muda yang tidak asing baginya.
Perempuan yang juga pernah ia lihat di restoran waktu itu.
Namun Dhian hanya menanyakan apakah Rara sudah pulang, bagaimana harinya di sekolah, dan bilang akan menelepon lagi nanti malam, seolah tak ada hal penting yang terjadi.
Apakah itu artinya memang bukan sesuatu yang penting?
Atau justru… terlalu penting untuk diakui?
Rara menggigit bibir bawahnya. Ada dorongan kuat untuk bertanya, menuntut penjelasan.
Tapi entah kenapa, hatinya menolak. Ia ingin Dhian bicara duluan.
Kalau memang ia serius, bukankah ia akan jujur?
Rara memeluk lutut di tempat tidurnya, kepala bersandar di dinding. Ia belum bisa bercerita pada siapa pun, bahkan Nayla.
Karena hatinya belum siap untuk kemungkinan paling menyakitkan: ditinggalkan tanpa alasan yang jelas.
“Aku cuma pengen... kamu jujur, Dhian,” gumam Rara dalam hati.
“Bukan karena aku curiga. Tapi karena aku gak mau berharap pada bayangan.”
Sementara itu, di kamar lantai dua rumah bercat krem itu, Raka duduk bersandar di tempat tidurnya.
Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, aroma kopi susu menguar dari cangkir di meja kecil di sampingnya.
Bunda baru saja keluar dari kamar setelah percakapan yang panjang dan tenang — seperti biasa, tak banyak nasihat, tapi selalu tepat sasaran.
Raka masih memikirkan kalimat terakhir yang ibunya ucapkan sebelum menutup pintu.
“Bahagia itu bukan sekadar bersama siapa, tapi bagaimana kamu bisa tetap jadi dirimu ketika bersamanya.”
Kalimat itu menghantam pikirannya dengan pelan tapi dalam.
Ia mencintai Kristiana, tapi ia juga mencintai keyakinannya.
Dan kenyataan bahwa dua hal itu saling bertabrakan membuatnya merasa seperti berdiri di tepi jurang tanpa tahu harus melompat atau mundur.
Tadi sore, sebelum pulang, ia sempat membuka ponsel di parkiran kantor.
Pesan terakhir yang ia kirimkan kepada Kristiana masih belum dibaca.
Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan muncul dalam waktu dekat.
Raka bukan hanya menunggu pesan. Ia sedang menunggu kejelasan.
Dan semakin lama ia menunggu, semakin ia merasa seperti menggenggam sesuatu yang perlahan menghilang dari jari-jarinya.
Dalam hening, ia memejamkan mata dan bersandar pada dinding kamar.
“Kalau aku tetap berjuang, aku takut kehilangan jati diriku. Tapi kalau aku menyerah, aku takut kehilangan dia.”
Ia tahu tidak ada jalan mudah.
Dan saat ini, tak ada yang bisa memutuskan selain dirinya sendiri.
Ia merasa seperti seseorang yang harus memilih satu sayap dan melepaskan yang lain padahal ia butuh keduanya untuk terbang.
Di kamar kost sederhana namun rapi, Rara masih duduk memeluk lutut.
Ponselnya kembali bergetar. Bukan dari Dhian.
Bukan juga dari nomor misterius itu.
Tapi dari Nayla.
"Ra, kamu kenapa? Aku ngerasa kamu beda."
Rara tak langsung membalas. Ia menatap layar itu lama, lalu akhirnya mengetik perlahan
"Nay… aku lihat sesuatu tadi. Tapi aku belum siap cerita. Belum siap denger jawabannya juga."
Balasan dari Nayla datang cepat, seperti pelukan hangat yang tak perlu banyak kata:
"Aku di sini, ya. Kapan pun kamu siap."
Dan untuk pertama kalinya hari itu, air mata Rara jatuh.
Bukan karena Dhian. Tapi karena hatinya… mulai goyah.
Ia menatap langit-langit kamar, bertanya-tanya:
Apakah selama ini ia hanya percaya pada sesuatu yang ingin ia percayai?
Apakah Dhian pernah benar-benar memintanya menunggu?
Atau selama ini, ia sendiri yang menggantungkan hati pada ilusi?
Di lantai bawah rumah keluarga Raka, suara televisi masih menyala pelan.
Papa dan Bunda berbincang santai sambil menikmati camilan.
Mereka tampak damai nyaman dalam kehidupan yang telah mereka bangun puluhan tahun lamanya.
Raka menatap mereka sebentar dari tangga atas sebelum kembali ke kamarnya.
Ia merasa asing dengan ketenangan itu.
Bukan karena tak bersyukur, tapi karena dalam hatinya, badai sedang tak kunjung reda.
Ia kembali duduk di meja kerjanya, membuka laptop, tapi tak ada satu pun dokumen yang berhasil dibaca.
Pikirannya berkelana kembali pada saat pertama kali bertemu Kristiana.
Caranya tertawa.
Caranya berbicara soal masa depan.
Tentang dunia yang ingin mereka bangun bersama.
Namun dunia itu tampak seperti negeri dongeng jika tak berpijak pada kenyataan.
“Dia bilang cinta itu cukup. Tapi kenyataannya, cinta aja gak bisa jawab semua pertanyaan.”
Raka menatap cermin kecil di samping meja.
Wajahnya lelah, tapi matanya belum kehilangan harap.
Ia tahu, di ujung perjuangan ini, akan ada sesuatu yang harus dikorbankan.
Dan ia belum siap.
Belum siap kehilangan cinta. Tapi juga belum siap kehilangan pondasinya.
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Raka hanya bisa menghela napas panjang — membiarkan waktu perlahan menguji keberanian hatinya.
Begitu pula dengan Rara.
Di kamar kost yang sunyi, ia akhirnya menarik selimut, bukan karena ingin tidur, tapi karena ingin bersembunyi dari kenyataan.
Ia tahu, diam bukan solusi. Tapi terkadang, diam adalah satu-satunya ruang aman saat hati belum sanggup memilih.
Dan seperti dua dunia yang berjalan paralel, Rara dan Raka terus melangkah dalam hidup mereka masing-masing.
Belum saling mengenal, tapi sama-sama bergulat dengan hal yang paling dalam: cinta yang menuntut pengorbanan.
Mereka belum tahu bahwa di ujung waktu, takdir sedang menyiapkan pertemuan.
Namun sebelum itu, mereka harus lebih dulu berdamai dengan diri sendiri, dengan cinta, dan dengan yang akan mereka korbankan.
( BERSAMBUNG...)
--------------------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like
Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️
Maaf kalau menurut kakak alurnya terasa terlalu berliku. Aku memang mencoba membuat cerita dengan beberapa konflik dan kejutan supaya perjalanan para tokohnya lebih terasa ✨
Tapi aku tetap menerima kritik dan sarannya. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku 🤍