Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ting!
Suara mekanik sistem yang sudah lama dirindukan Devan kembali berbunyi di dalam pikirannya tepat pada saat yang krusial itu.
[Misi Opsional Ditemukan: Setujui dan jalani pernikahan kontrak dengan target Clarissa.]
[Deskripsi: Clarissa terdeteksi memiliki garis keturunan Yin Murni yang sangat langka di dunia ini. Berada di dekatnya akan secara drastis mempercepat pemulihan energi spiritual Host yang saat ini sedang tersegel rapat.]
[Hadiah Penyelesaian Opsional: Bonus 10% pembukaan segel teknik pernapasan naga kuno.]
Mata Devan sedikit melebar saat membaca barisan teks biru transparan yang melayang statis di hadapannya itu.
Dia benar-benar tidak peduli dengan uang sepuluh miliar, tapi pemulihan energi spiritual murni adalah sesuatu yang sangat dia butuhkan lebih dari apa pun saat ini.
Dulu saat dia berada di medan perang perbatasan, inti energinya hancur parah akibat dikeroyok oleh sepuluh petarung level dewa dari berbagai negara musuh.
Siapa yang sangka CEO cerewet dan menyebalkan ini ternyata adalah kunci rahasia untuk mengembalikan semua kekuatannya yang hilang.
Devan menarik sudut bibirnya secara perlahan membentuk senyuman tipis yang sangat misterius.
"Satu tahun bersandiwara untuk sepuluh miliar ya? Kedengarannya ini seperti kesepakatan yang sangat menguntungkan untuk pesuruh rendahan sepertiku." ucap Devan santai sambil mengambil pena mahal yang tergeletak di atas meja.
Clarissa menghela napas sangat lega dalam hati melihat pria keras kepala ini akhirnya menyerah dan mau mengambil pena itu.
Dia benar-benar sudah terdesak waktu dan tidak punya pilihan rencana lain selain harus memanfaatkan pria miskin ini sebaik mungkin.
Sret! Sret!
Devan langsung menandatangani kontrak tebal bermeterai itu dengan gerakan cepat di halaman paling belakang tanpa repot-repot membacanya sama sekali.
"Bagus, keputusan yang cerdas karena kamu ternyata tidak sebodoh yang terlihat dari luar." ucap Clarissa menarik napas lega seraya mengambil kembali map tersebut dan memasukkannya ke dalam laci mejanya yang terkunci.
"Kita akan pergi ke kantor catatan sipil sekarang juga untuk melegalkan pernikahan ini sebelum keluargaku curiga dengan gerak-gerikku." perintah Clarissa bersemangat sambil berdiri tegak dan mengambil tas tangan mahalnya.
Devan ikut berdiri dari kursinya dan menepuk-nepuk seragam kebersihannya yang masih sedikit basah dan kotor akibat ulah Riko tadi.
"Tunggu dulu." ucap Clarissa segera menghentikan langkahnya saat melihat penampilan berantakan Devan dari ujung kepala hingga kaki.
"Aku tidak mungkin nekat membawa seorang pesuruh berseragam dekil dan bau sepertimu ke kantor catatan sipil." keluh Clarissa kesal sambil memijat keningnya lagi.
Clarissa berjalan cepat menuju sebuah lemari besar tersembunyi di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah paper bag hitam yang tampak sangat eksklusif.
"Ambil pakaian ini dan segera ganti bajumu di kamar mandi dalam itu." perintah Clarissa setengah melempar paper bag tersebut ke arah dada Devan.
Devan menangkapnya dengan tangkas tanpa masalah dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi pribadi CEO tanpa berniat protes lagi.
Di dalam kamar mandi yang luasnya bahkan mengalahkan ukuran kamar kost kumuh Devan, pria itu membuka pelan isi paper bag tersebut.
Isinya ternyata adalah satu setel kemeja putih berlengan panjang bermerek mahal buatan desainer Italia, celana bahan hitam yang dipotong dengan sangat sempurna, dan sepasang sepatu pantofel kulit mengilap.
"Seleranya dalam memilih barang boleh juga," gumam Devan sambil melepaskan seragam petugas kebersihannya yang sangat bau air pel.
Saat seragam longgar itu terlepas dan jatuh ke lantai, terlihatlah bentuk tubuh asli Devan yang sangat kekar dan atletis dengan otot-otot perut yang terbentuk sempurna menyerupai pahatan patung dewa Yunani kuno.
Namun yang paling mengerikan adalah, seluruh punggung tegap dan dadanya dipenuhi oleh berbagai macam bekas luka mengerikan yang tumpang tindih.
Ada bekas sayatan pedang tajam yang sangat panjang, beberapa bekas tembakan peluru tajam, dan bekas luka bakar parah yang menjadi saksi bisu betapa brutal dan berdarahnya masa lalu pria yang merendah ini.
Devan mengabaikan kenangan buruk itu lalu segera memakai kemeja mahal pemberian Clarissa dan merapikan rambut hitamnya sedikit menggunakan air dingin di wastafel.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit berganti pakaian, aura pesuruh rendahan yang selalu melekat erat pada dirinya selama dua tahun ini lenyap seketika tanpa ada sisa.
Saat Devan memutar kenop pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan santai, Clarissa yang sedang sibuk mengecek tabletnya otomatis menoleh ke arah suara.
Deg!
Jantung Clarissa tiba-tiba berdetak satu ketukan jauh lebih cepat saat melihat penampakan pria yang baru saja keluar dari kamar mandinya itu.
Devan yang kini mengenakan kemeja putih pas badan tanpa dasi itu terlihat sangat luar biasa tampan, bersih, dan memancarkan aura kejantanan yang pekat.
Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap sempurna membuat pakaian mahal itu terlihat seolah-olah memang dirancang khusus hanya untuk dikenakan olehnya.
Bahkan aura datar yang selalu dia pancarkan setiap hari kini terasa seperti ketenangan menawan seorang bangsawan kelas atas yang sedang bersantai di rumahnya.
"Apakah pria tampan ini benar-benar Devan si pesuruh lobi yang selalu dimaki orang-orang?" batin Clarissa sama sekali tidak berani percaya dengan penglihatan matanya sendiri.
Clarissa buru-buru memalingkan wajah cantiknya ke arah jendela luar untuk menyembunyikan semburat merah tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya tanpa permisi.
"Ekhem, penampilanmu lumayan juga. Setidaknya kamu tidak akan terlihat terlalu memalukan saat berdiri di sampingku nanti." ucap Clarissa berusaha sangat keras menjaga nada suaranya agar tetap terdengar dingin dan angkuh seperti biasa.
Devan hanya bisa tersenyum kecil menahan tawa melihat tingkah salah tingkah sang CEO yang sangat ketara itu.
Sebagai mantan jenderal lapangan di medan perang, insting Devan sangat tajam untuk menyadari perubahan sekecil apa pun pada detak jantung dan bahasa tubuh seseorang yang berbohong.
"Jadi, istriku yang sangat cantik, apakah kita akan berangkat sekarang?" goda Devan dengan nada suara bariton yang sengaja dibuat sedikit rendah dan menggoda telinga.
Wajah putih mulus Clarissa langsung memerah hebat hingga ke ujung telinga mendengar panggilan mesra yang sangat tak terduga itu.
"Tutup mulutmu rapat-rapat! Jangan pernah berani memanggilku seperti itu kalau tidak ada orang lain di sekitar kita!" bentak Clarissa dengan galak sambil memutar tubuhnya dan berjalan cepat mendahului Devan menuju pintu keluar ruangan.
Devan tertawa pelan mendengarnya dan segera melangkah panjang menyusul calon istri bohongan yang ternyata sangat temperamental itu dari belakang.
"Sangat menarik, sepertinya jalan kehidupanku di kota ini tidak akan seboring yang aku bayangkan selama ini," batin Devan sambil menatap punggung ramping dan pinggul Clarissa yang bergoyang anggun saat berjalan.
Hari ini dipastikan adalah hari terakhirnya menjadi seorang pesuruh bodoh yang selalu dihina dan diinjak-injak orang sesuka hati.
Mulai besok pagi, orang-orang picik yang selama ini berani meremehkan harga dirinya harus bersiap-siap menghadapi mimpi buruk yang sesungguhnya.