Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Memadamkan Api
Faris berlari secepat mungkin menuju dapur tahanan. Di belakangnya terdengar suara mandor yang berteriak.
"Faris! Ke mana?!"
Namun Faris tidak berhenti.
Asap hitam kini memenuhi langit di atas blok dapur. Bau kayu terbakar bercampur dengan aroma minyak goreng yang menyengat membuat napas terasa sesak bahkan dari kejauhan.
Semakin dekat, semakin jelas kepanikan yang terjadi.
"Air! Tambah air!"
"Selangnya macet!"
"APAR-nya habis!"
Dua orang sipir berusaha memadamkan kobaran api menggunakan alat pemadam api ringan. Namun api sudah telanjur membesar. Lidah api menjalar ke rangka atap kayu dan mulai merambat ke gudang penyimpanan bahan makanan.
Faris langsung menghentikan langkahnya.
"Sistem!"
DING!
[Analisis Kebakaran Aktif.]
Dalam sekejap, pandangannya berubah. Seluruh dapur dipenuhi garis-garis berwarna merah dan kuning. Jalur rambatan api terlihat jelas, lengkap dengan arah angin dan titik panas tertinggi.
[Api berasal dari kompor industri.]
[Penyebab utama pembesaran api: tumpahan minyak goreng.]
[Tabung gas utama belum meledak.]
[Peluang ledakan dalam 3 menit 42 detik.]
Mata Faris membelalak.
"Tiga menit?"
[Benar.]
"Kalau meledak?"
[Kerusakan bangunan meningkat 340%.]
[Risiko korban jiwa tinggi.]
Jantung Faris berdegup kencang. "Sistem! Ada paket bantuan?"
Layar segera berubah.
[Paket Tanggap Darurat tersedia.]
Insinyur Penanggulangan Bencana
Analisis +70%
Kecepatan berpikir +50%
Ketahanan panas +30%
Kekuatan +20%
Durasi: 15 menit.
Harga: 80 poin.
Faris menggertakkan gigi.
"Ambil!"
DING!
[80 poin dipotong.]
[Paket berhasil diaktifkan.]
Tubuh Faris kembali terasa ringan. Keringat yang semula mengganggu kini seolah tak lagi memengaruhi konsentrasinya.
Suara sistem terdengar jauh lebih cepat.
[Jalur pemadaman optimal ditemukan.]
[Tidak boleh menyiram pusat minyak terlebih dahulu.]
[Tutup suplai gas.]
[Putus jalur rambatan api.]
[Selamatkan gudang.]
Faris langsung berteriak. "Jangan siram minyaknya!"
Semua orang menoleh. Salah seorang sipir membentak.
"Faris! Mundur!"
"Itu malah menyebarkan apinya!" balas Faris.
Beberapa pekerja proyek ikut memandangnya.
Faris menunjuk pipa gas.
"Matikan katup utama dulu!"
"Tapi apinya—"
"Cepat!"
Entah kenapa, salah seorang pekerja spontan mengikuti perintahnya. Ia menerobos dari sisi belakang, menarik tuas katup gas, lalu memutarnya sekuat tenaga.
HISS...
Suara aliran gas berhenti. Api langsung mengecil sedikit.
"Sekarang APAR ke sisi kiri!" teriak Faris lagi.
"Kenapa kiri?"
"Karena jalur rambatnya ke gudang!"
Seorang sipir ragu-ragu. Namun karena tak ada pilihan lain, ia mengikuti instruksi Faris.
Benar saja. Api yang hampir menjalar ke gudang berhasil diputus.
"Berhasil!"
"Api berhenti ke sana!"
Semua orang mulai mengikuti aba-aba Faris tanpa sadar.
"Basahi dinding itu! Kayunya keluarkan! Yang itu jangan disentuh! Pakai pasir! Jangan air!"
Faris bergerak ke sana kemari. Dengan bantuan sistem, setiap keputusan terasa begitu tepat. Ia bahkan mampu memperkirakan bagian mana yang akan roboh beberapa detik sebelumnya.
"Hati-hati!"
BRUK!
Balok kayu besar jatuh tepat di tempat yang baru saja dikosongkan.
"Astaga..."
"Kalau telat sedikit...."
Para pekerja mulai menatap Faris dengan rasa kagum. Bahkan beberapa sipir ikut mengikuti arahannya.
"Faris!"
"Selanjutnya bagaimana?"
"Semprot bagian atas!"
"Yang bawah biar saya!"
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kobaran api mulai mengecil.
Lima belas menit kemudian, api berhasil dipadamkan seluruhnya. Yang tersisa hanyalah asap tipis dan kayu-kayu yang menghitam.
Seluruh halaman dipenuhi orang-orang yang terengah-engah karena kelelahan. Faris sendiri terduduk di tanah. Bajunya penuh jelaga. Wajahnya hitam oleh asap. Namun senyum kecil muncul di bibirnya.
"Akhirnya...."
DING!
[Misi Darurat selesai.]
[Bangunan berhasil diselamatkan.]
[Poin +2.000.]
[Mencegah ledakan tabung gas.]
[Poin +1.500.]
[Menyelamatkan gudang logistik.]
[Poin +1.200.]
[Mengurangi potensi korban.]
[Poin +1.000.]
[Bonus Kepemimpinan.]
[Poin +800.]
[Bonus Analisis Lapangan.]
[Poin +700.]
[Total hadiah: 7.200 poin.]
Mata Faris langsung membelalak.
"Tujuh ribu dua ratus?!"
[Sistem menilai kontribusi pengguna sangat tinggi.]
Faris hampir tertawa. "Akhirnya kamu royal juga."
[Sistem tidak pelit.]
"Hari ini iya."
[Sistem sedang dalam suasana hati yang baik.]
Faris menggeleng sambil tersenyum. "Aku bahkan tidak tahu sistem bisa punya suasana hati."
[Sistem sedang mencoba humor.]
"Itu humor?"
[Masih belajar.]
Faris terkekeh kecil. Namun tawa itu tidak berlangsung lama..Dari arah blok tahanan, terdengar peluit panjang.
PIIIIIIT!
Disusul teriakan yang jauh lebih panik.
"TAHANAN KABUR!"
Semua orang langsung menoleh.
"Apa?!"
"Tahanan kabur!"
Seorang sipir berlari sambil ngos-ngosan.
"Blok C dibobol!"
"Gerbang servis terbuka!"
Faris langsung berdiri. "Benar saja...."
Firasatnya sejak awal ternyata tepat. Kebakaran ini hanyalah pengalihan perhatian.
Di sisi lain lapas, Doni berlari paling depan. Tubuh kekarnya menerobos lorong servis yang kini hampir tanpa penjagaan. Di belakangnya belasan narapidana mengikuti.
"Cepat!"
"Kesempatan cuma sekali!"
Mereka melewati gudang. Melompati pagar pembatas. Salah seorang berhasil memotong kawat menggunakan alat yang entah sejak kapan disembunyikan.
"Jalan keluar!"
Doni tertawa keras. "Aku bilang juga apa!"
Namun baru beberapa meter, sebuah sirene darurat meraung.
WIIIIIIUUUUUU!!
Seluruh pintu otomatis menuju gerbang utama langsung ditutup.
"Brengsek!"
Doni membanting pagar besi. "Siapa yang membunyikan alarm?!"
Tak jauh dari sana, seorang sipir yang tadi membantu Faris ternyata sempat menekan tombol darurat sebelum ikut memadamkan api. Dalam hitungan menit, petugas tambahan berdatangan dari blok lain.
"Kejar mereka!"
"Jangan sampai lolos!"
Suasana berubah menjadi kacau. Beberapa tahanan menyerah. Sebagian lain mencoba memanjat pagar.
Doni justru melawan. Ia menghantam seorang sipir hingga terjatuh. Namun jumlah petugas terus bertambah.
"Borgol dia!"
"Lumpuhkan!"
Enam sipir sekaligus menerjang Doni. Setelah perlawanan sengit, tubuh besar itu akhirnya berhasil dijatuhkan ke tanah.
"LEPASKAN AKU!" Doni meraung.
"AKU HAMPIR BERHASIL!"
Seorang sipir memborgol kedua tangannya. "Kali ini selesai."
Doni masih berusaha bangkit. Tatapannya liar. Ketika melewati halaman proyek, matanya bertemu dengan Faris.
Untuk sesaat, tak satu pun dari mereka berbicara. Kemudian Doni menyeringai sinis.
"Kau... Ini semua gara-gara kau!" ujarnya dengan tatapan penuh amarah. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku tangannya memutih.