Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Rayan terpaku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, pandangannya benar-benar tertuju pada Alya, bukan sebagai perempuan yang pernah hadir dalam lembaran kelam masa lalu, melainkan sebagai seorang ibu yang selama ini menyembunyikan rasa takut di balik ketegarannya. Ada beban yang begitu berat di bahunya, beban yang dipikul seorang diri tanpa tempat bersandar, hingga perlahan menggerus senyum dan kekuatannya. Baru saat itu Rayan menyadari, di balik sikap tenang Alya, tersimpan luka yang telah lama ia pendam sendirian.
Rayan melangkah perlahan menuju ambang pintu, seolah takut satu gerakan saja bisa menghancurkan momen rapuh di hadapannya. Namun, baru satu kaki melewati batas rumah, Alya spontan bergeser ke belakang. Kedua lengannya mengerat memeluk Fariz, tubuh kecil itu nyaris tersembunyi sepenuhnya di balik pelukannya. Naluri seorang ibu membuatnya berdiri seperti benteng, siap melindungi anaknya dari apa pun yang dianggap mengancam.
Pemandangan itu membuat dada Rayan terasa diremas. Jarak yang tercipta bukan sekadar beberapa langkah, melainkan jurang yang dibangun oleh rasa takut dan luka yang selama ini ia tinggalkan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan bahwa dirinya bukan lagi seseorang yang disambut, melainkan sosok yang diwaspadai. Dan kesadaran itu menghantam hatinya jauh lebih keras daripada kata-kata penolakan mana pun.
Rayan menelan ludah, sorot matanya dipenuhi penyesalan. Bibirnya bergerak pelan sebelum akhirnya ia berkata dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Percayalah... aku datang bukan untuk menyakitimu," ucapnya lirih. "Aku tidak akan melakukan apa pun yang membuatmu atau Fariz terluka."
Nada suaranya begitu pelan, seakan ia sendiri takut setiap kata yang keluar justru akan membuka kembali luka yang selama ini berusaha Alya tutup rapat. Di hadapan perempuan itu, ia menyadari bahwa penyesalan saja tidak cukup untuk menghapus rasa takut yang telah terlanjur mengakar.
Pandangan Rayan perlahan beralih kepada bocah kecil yang berada dalam dekapan Alya. Anak itu menatapnya tanpa berkedip, dengan sepasang mata bening yang dipenuhi rasa penasaran. Tidak ada sorot ketakutan ataupun kebencian di wajah mungil itu, hanya keinginan polos untuk mengenali sosok asing yang berdiri di hadapannya.
Kepolosan itulah yang justru membuat napas Rayan terasa berat. Dadanya dihimpit perasaan yang sulit dijelaskan. Tatapan tanpa prasangka itu menjadi pengingat paling menyakitkan tentang semua waktu yang telah hilang waktu yang seharusnya bisa ia habiskan untuk mengenal, menemani, dan menyaksikan anak itu bertumbuh.
Bocah itu begitu menyerupainya. Garis wajahnya, sorot matanya, bahkan kebiasaan kecil mengernyitkan dahi setiap kali dilanda kebingungan tampak sama persis. Pemandangan itu membuat dada Rayan berdesir, seolah sedang menatap bayangan dirinya sendiri dalam wujud yang lebih kecil.
Tanpa aba-aba, teriakan Alya menggema, mengoyak keheningan yang terasa begitu menyesakkan.
"Jangan mendekat! Menjauh dari kami sekarang juga!"
Rayan membeku. Langkah yang semula hendak maju terhenti begitu saja, seakan teriakan itu menjadi tembok tak kasatmata yang menghalangi setiap niatnya untuk mendekat.
Wajah Alya memucat, menyiratkan amarah yang bercampur dengan ketakutan mendalam. Tatapannya berkelana tanpa arah, seolah mencari jalan untuk melindungi diri. Tubuhnya bergetar hebat saat ia merengkuh Fariz semakin erat di dadanya. Si kecil yang terkejut oleh suasana mencekam itu akhirnya ikut menangis, memecah keheningan dengan isak yang membuat hati siapa pun terasa pilu.
Rayan perlahan mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat bahwa dirinya datang tanpa niat untuk mencelakai siapa pun.
"Tenang... aku nggak akan mendekati, apalagi menyakiti kalian. Aku cuma ingin bicara sebentar."
Keluar!" bentak Alya sekali lagi, suaranya kali ini jauh lebih lantang hingga menggema di ruangan.
*****
Di saat yang sama, Bu Ami baru saja pulang dari warung sambil menenteng beberapa kantong belanja. Langkahnya mendadak terhenti ketika melintasi gang menuju rumah Alya. Dahinya berkerut saat pandangannya menangkap dua pria berjas berdiri di depan rumah sederhana itu. Dari tempatnya berdiri, ia juga melihat satu sosok lain masih berada di dalam rumah, membuat firasatnya seketika berubah tidak tenang.
Tak lama kemudian, sebuah jeritan menggema dari dalam rumah, memecah kesunyian di gang sempit itu.
"Jangan mendekat! Keluar dari sini sekarang!"
Bu Ami sontak terperanjat. Ia langsung mengenali pemilik suara yang baru saja berteriak itu.
"Alya?" seru Bu Ami dengan nada cemas.
Raut wajah Bu Ami seketika berubah tegang. Tatapannya langsung mengarah kepada kedua pria itu dengan sorot mata penuh kewaspadaan dan curiga.
"Siapa orang-orang itu? Jangan-jangan Alya sedang dalam bahaya..." batin Bu Ami, dadanya mendadak dipenuhi kecemasan.
Tanpa membuang waktu, Bu Ami langsung memutar badan. Dengan langkah tergesa, ia berlari menuju rumah Pak Kades yang letaknya hanya beberapa rumah dari sana.
*****
Sementara itu, di kediaman Pak Kades, suasana masih tampak tenang.
Tok.. Tok..
Pintu rumah terbuka perlahan. Pak Kades yang usianya sudah tidak muda lagi tampak mengernyit heran saat melihat Bu Ami berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah penuh kepanikan.
"Bu Ami, ada apa sampai terburu-buru begini?" tanya Pak Kades dengan nada heran.
"Pak, cepat ikut saya! Ada orang asing di rumah Alya. Tadi saya dengar dia menjerit dari dalam. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya!" ucap Bu Ami tergesa-gesa, napasnya masih memburu.
*****
Sementara itu, di rumah Alya, suasana masih dipenuhi ketegangan.
Rayan baru saja menarik langkah ke belakang ketika suara dari luar rumah tiba-tiba memecah keheningan.
"Permisi... boleh tahu sedang terjadi apa di sini?"
Pak Kades berdiri di ambang pintu, sorot matanya menyapu seluruh ruangan dengan penuh kewaspadaan. Sementara itu, Bu Ami tak membuang waktu. Ia segera menghampiri Alya dan Fariz yang masih terduduk di atas tikar, keduanya tampak belum mampu melepaskan diri dari kepanikan yang baru saja mereka alami.
"Alya... Nak, kamu baik-baik saja?" tanya Bu Ami lembut seraya mengusap bahu Alya dengan hati-hati.
Alya perlahan mendongakkan kepala. Kedua matanya tampak memerah dan bengkak akibat tangis yang belum lama reda. Di pelukannya, Fariz masih melingkarkan kedua tangan di leher sang ibu, enggan melepaskan diri karena rasa takut yang masih membayangi. Begitu pandangannya bertemu dengan Bu Ami, pertahanan Alya seakan runtuh. Bibirnya bergetar, dan air mata yang sedari tadi berusaha ditahan nyaris kembali mengalir.
"Nak, mereka tidak berbuat apa-apa kepadamu, kan?" tanya Bu Ami lirih, penuh kekhawatiran. Seusai bertanya, ia mengangkat wajah dan mengarahkan tatapan tajam kepada Rayan dan Arka yang masih berdiri terpaku di sudut ruangan.
Pak Kades melangkah ke depan dengan tenang. Meski nada suaranya tetap terkendali, ketegasan terpancar jelas dari setiap kata yang diucapkannya.
"Maaf, boleh saya tahu siapa kalian? Apa tujuan kalian datang ke rumah Alya?" tanya Pak Kades dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Jadi... namanya Alya." Rayan mengulang nama itu dalam hati. Entah mengapa, dadanya mendadak dipenuhi gejolak yang sulit dijelaskan.
Nama itu terdengar begitu asing di telinga Rayan. Namun entah mengapa, ada kesan mendalam yang langsung menyentuh relung hatinya. Seolah nama itu menyimpan kisah panjang tentang seseorang yang selama ini memikul seluruh beban hidup seorang diri.
Rayan memandang Alya tanpa berkedip. Wanita itu menundukkan kepala, tampak lelah dan rentan. Namun ketika sesaat Alya mengangkat pandangannya, Rayan menangkap keteguhan yang tak biasa di balik sorot matanya. Kekuatan itu bukan lahir dari kehidupan yang mudah, melainkan ditempa oleh deretan luka, kehilangan, dan perjuangan panjang yang dijalani seorang diri.
Pak Kades maju beberapa langkah, lalu mengambil posisi di tengah, seolah menjadi pembatas di antara kedua belah pihak.
"Nak, saya ingin mendengar penjelasanmu. Siapa kamu sebenarnya, dan apa tujuanmu datang ke rumah ini?" tanya Pak Kades dengan suara mantap.
Rayan perlahan mendongakkan kepala. Setelah menarik napas singkat, ia mulai berbicara dengan suara rendah, tetapi penuh keyakinan.
"Saya datang hanya untuk berbicara dengannya. Ada sesuatu yang harus saya jelaskan secara langsung."
Tatapan Rayan tetap tertuju pada Alya. Ia seolah menyampaikan setiap ucapannya langsung kepada wanita itu, mengabaikan keberadaan orang-orang lain yang memenuhi ruangan.
Alya menahan napas pelan, sementara tubuhnya masih diliputi getaran yang belum juga reda. Di balik sorot mata Rayan, ia dapat menangkap kesungguhan yang sulit dipalsukan. Namun luka yang selama ini ia pendam masih terlalu dalam. Hatinya belum sanggup membuka ruang untuk menerima niat baik yang baru hadir setelah begitu banyak waktu terlewat.
Pak Kades mengamati Rayan dan Alya secara bergantian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan menyelimuti ruangan untuk beberapa saat. Yang terdengar hanyalah embusan napas yang berat, diselingi isak lirih Fariz yang perlahan mulai mereda di dalam dekapan hangat sang ibu.
"Maksudmu persoalan apa? Coba jelaskan dengan pelan supaya kami bisa memahaminya," tanya Pak Kades lagi. Kali ini nada suaranya lebih lembut, tetapi tetap penuh kehati-hatian.
"Ini tentang kejadian malam itu... lebih dari tiga tahun yang lalu. Aku datang hanya untuk meminta penjelasan darinya," ujar Rayan lirih, tetapi setiap katanya terdengar tegas.
Pak Kades mengangguk pelan, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu dengan hati-hati. Pandangannya beralih ke Alya yang masih memeluk Fariz erat di dadanya, lalu bergeser kembali ke arah Rayan yang berdiri di hadapannya.
"Alya masih dalam keadaan takut," ucap Pak Kades dengan tenang. "Tapi kalau memang ini hal penting dan tidak bisa ditunda, lebih baik kalian selesaikan sekarang di sini agar semuanya jelas."
Rayan menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. Ia melangkah sedikit maju, menjaga jarak agar suaranya cukup terdengar oleh Alya tanpa membuatnya merasa tertekan atau terancam.
Pandangan Rayan bergeser dari wajah Alya, lalu turun ke bocah kecil yang masih berada dalam pelukannya.
"Apa benar... dia anakku?" ucap Rayan hati-hati, menahan emosi yang mulai naik di dadanya.
"Apa kejadian malam itu yang membuatmu hamil?" tanya Rayan hati-hati.
Keheningan langsung menyelimuti ruangan.
Alya hanya diam. Pandangannya tertunduk ke lantai yang kusam, seolah seluruh beban hidup menekan bahunya tanpa ampun. Bibirnya bergetar, namun suaranya tak juga keluar.
Rayan tetap diam menunggu. Ia tidak mendesak, karena ia sadar setelah semua yang terjadi, Alya tidak bisa dipaksa untuk langsung menjawab.
Di sisi Alya, Bu Ami menatapnya dengan penuh kelembutan, lalu menggenggam tangan dingin itu erat-erat untuk memberi kehangatan.
"Al... jujur sama Ibu, ya. Katakan yang sebenarnya," bisik Bu Ami penuh keyakinan.
"Dia perlu tahu, dan Fariz juga berhak tahu semuanya," ucapnya pelan namun tegas.
Fariz menatap ibunya dengan tatapan polos, seakan ikut mencari jawaban dari pertanyaan yang belum terucap.
Dalam keheningan yang panjang itu, seolah dunia ikut berhenti bernapas, menanti jawaban yang akan mengubah segalanya.
Alya tetap membisu, tubuhnya masih bergetar pelan akibat ucapan Bu Ami. Ia memeluk erat bahu kecil Fariz, seolah jika ia melepasnya sedikit saja, seluruh dunianya akan hancur.
Alya perlahan menganggukkan kepalanya, meski ragu masih terlihat jelas di wajahnya.
Tanpa sepatah kata pun,
Dalam keheningan,
Sebuah anggukan kecil saja sudah cukup membuat dada Rayan terasa sesak.
Air mata Alya mengalir deras tanpa bisa ia hentikan. Ia segera membenamkan wajahnya di rambut Fariz, berusaha meredam sesak yang selama ini ia pendam sendiri.
Pak Kades menundukkan kepala pelan. Di sisi lain, Bu Ami mengusap punggung Alya dengan lembut sambil tak kuasa menahan air mata yang ikut jatuh.
Rayan tetap diam, hanya menarik napas panjang. Dadanya naik turun, berusaha meredam emosi yang tiba-tiba membuncah.
Jarinya mengencang hingga membentuk kepalan.
Matanya menatap langit-langit rumah itu atap seng berkarat dengan beberapa lubang kecil yang membiarkan cahaya sore menembus masuk. Pemandangan itu seolah bercerita tentang keterbatasan dan kerasnya hidup yang selama ini dijalani wanita itu sendirian.
Seorang wanita yang diam-diam mengandung anaknya, lalu membesarkannya seorang diri tanpa pernah meminta apa pun.
Dan kini, anak itu duduk di pelukannya buah dari malam yang bahkan tak sepenuhnya ia ingat, namun darahnya mengalir dalam diri bocah kecil itu.
Rayan memejamkan mata sejenak dalam diam. Di balik keheningan itu, penyesalan dan rasa hancur perlahan memenuhi dirinya.
*****
Suasana di dalam rumah masih hening, hanya isak tangis Alya yang terdengar sayup. Rayan tetap diam, menatap langit-langit dengan rahang mengeras dan dada yang bergemuruh oleh emosi.
Tak berselang lama, terdengar derap langkah kaki dari luar rumah.
"Itu suara Bu Ami, ya?"
"Ada apa ini, kok ramai sekali?"
"Katanya ada pria yang tiba-tiba masuk ke rumah Alya."
Warga mulai berdatangan ke depan rumah kecil itu. Para ibu dengan daster dan kerudung seadanya, sementara para bapak berdiri di pinggir gang sambil saling bertanya. Anak-anak kecil ikut mengintip penasaran dari celah dinding bambu dan pagar rumah tetangga.
Arka yang berdiri di luar segera menegakkan tubuhnya, bersikap waspada sambil berusaha mengalihkan tatapan warga yang mengamati mereka dari atas hingga bawah.