Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ancaman
"Cepat masuk!" gertak Mawar, mendorong tubuh Melati. Kasar. "Dasar buta tak berguna!"
Langkah kakinya menghentak maju, seakan ingin mengambil alih sosok buta di depannya.
Saat tangan Mawar akan menyeret Melati.
Satya sigap menahan. "Jangan kasar sama dia!" bentaknya dengan suara bariton yang bergetar penuh amarah. Mengunci pergelangan tangan Mawar dengan cengkeraman kuat.
"Kamu siapanya? Kenapa marah?" Mawar melipat tangan. Menepis tangan Satya. "Oh, aku tahu." Ia mengangguk, menyeringai. "Kamu pasti pacarnya kan? Cocoklah. Gadis buta dan pemuda buruk rupa." Gelak tawanya pecah, bernada ejekan yang sangat menusuk perasaan.
Turi ikut menimpali, "Hei pemuda buruk rupa! Kalau kamu menyukai Melati. Kenapa kamu tidak menikahinya saja! Cukup bayar utangku pada Juragan Herwanto. Dan kau bisa memperlakukan si buta ini sesuka hatimu!"
Tangannya dengan kasar, mendorong tubuh Melati. Membuatnya hampir terhuyung, membentur dada bidang Satya.
"Biar buta begini, lihatlah dia cantik. Masih perawan juga. Gih, bawa dia. Sudah cocok gitu kok." Sambil mendengkus sinis, membalikkan badan dengan angkuh seolah baru saja menyelesaikan transaksi dagang yang menguntungkan bagi kelicikan bisnis keluarganya.
“Satya,” sela Melati, sambil meraba udara. “Maafkan sepupu dan bibiku ya!” Jemarinya yang bergetar akhirnya menyentuh lengan Satya, mencengkeram kain jaketnya, erat. Seakan memohon agar pemuda itu tidak sakit hati dengan ucapan jahanam yang terlontar.
“Ciye dibelain,” sindir Mawar, tersenyum mengejek. “Andai kamu nggak buta, pasti kamu bisa lihat dia menyentuh aku. Tapi tenang. Jangan cemburu. Aku nggak suka cowok jelek, kayak pacarmu ini. Eh, bukan cuma jelek. Wajahnya … hiiii … ngeri. Kayak bekas apa gitu ya. Jijik deh pokoknya.”
Dengan gaya begidik, Mawar mencoba menjatuhkan Satya. Ia lalu melangkah mundur dua langkah, sengaja memasang raut muka mual demi mempertegas hinaannya di depan halaman rumahnya.
“Nggak apa. Yang penting Satya baik.” Melati menyahut lantang, mendongakkan wajahnya yang tanpa ekspresi lurus ke arah sepupunya.
Pembelaan Melati, membuat Satya tersentak sesaat. Kaget. ‘Apa benar … Melati tidak akan mempersalahkan wajah burukku, andai dia bisa melihat?’ pikirnya.
Jantung Satya berdegup kencang, ada rasa hangat yang menyeruak di dada, sekaligus perih yang mendalam, karena bencana, di masa lalu yang merusak fisiknya.
“Wes terserah kamu.” Turi melipat tangan. Wajah kurusnya menegang, menatap Melati dengan pandangan dingin tanpa belas kasih.
“Sekarang kamu mau sama dia. Atau kamu … aku jual ke juragan?”
“Bi, aku akan kerja. Akan aku tebus utang Bibi. Tapi tolong jangan jual aku?” Melati memohon. Suaranya bergetar, menahan isak. Ia jatuh berlutut di tanah. Meraba-raba ujung sandal bibinya demi seonggok rasa kemanusiaan yang telah sirna.
“Mel, jangan mau diperdaya,” sergah Satya, “utang itu, kamu tak ada kewajiban membayar. Biarkan mereka ….” Ia hendak menarik bahu Melati agar kembali berdiri.
Namun ditepis oleh sentakan kasar Mawar, yang menatap tajam padanya. Dengan kilat amarah bercampur jijik.
“Hei buruk rupa! Bisa diam nggak?!” bentak Turi, seakan menjelaskan tepisan tangan sang putri. “Kamu pergi gih. Nggak ada urusan juga kan sama kita?” Turi menghentakkan kakinya ke tanah, menunjuk jalan keluar gang dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi yang meluap.
“Baiklah. Dan mengenai … urusan dengan juragan atau siapa itu, aku yang akan bicara. Besok. Awas saja. Kalau ada yang menyentuh Melati, aku akan memberi pelajaran padanya.”
Satya mengancam tegas, suaranya yang berat bergaung penuh intimidasi, membuat nyali kedua wanita itu menciut sesaat. “Berani bertindak pada Melati, aku akan laporkan kalian ke polisi.”
“Silahkan kalau kamu punya duit, buat lapor. Saranku sih, bayar utangku dan kamu bisa bawa pergi si buta.” Turi mencibir, lalu membalikkan badan dengan angkuh. Ia menarik paksa lengan Melati masuk ke dalam rumah, kemudian membanting pintu kayu itu, keras di depan wajah Satya yang membeku dalam amarah.
—
Satya melajukan motor. Ke rumah Wak Kaji. Niat mengembalikan. Pikirannya carut-marut memikirkan nasib Melati yang kini terkurung di rumah bibinya yang kejam.
“Kok cepet, Sat.” Wak Kaji yang mendengar deru motor. Langsung kembali berbalik. Ke teras. Beliau merapikan sarungnya, menatap heran pada pemuda yang tampak pucat itu.
“Iya, Wak. Ini.” Satya mengembalikan kunci. Bukannya pergi, ia malah diam gelisah. Tangannya meremas ujung jaket, matanya menatap kosong ke lantai semen teras yang dingin. Ketegangan batin begitu jelas tercetak di wajah rusaknya.
“Kamu lagi ada masalah ya?” tebak Wak Kaji, menatap menyelidik. “Ayo duduk dulu.” Ia mempersilahkan Setya duduk di teras. “Ini ada gorengan anget. Kalau mau.” Wak Kaji menyodorkan piring anyaman bambu berisi pisang goreng yang masih mengepulkan asap.
“Makasih, Wak.” Satya menunduk gelisah. Ia mengabaikan hidangan itu, tenggorokannya terasa terlalu tercekat oleh intrik pelik yang sedang dihadapinya. “Sebenarnya … ini bukan masalah saya. Tapi saya merasa harus bantu.”
“Eh, kenapa begitu?” Wak Kaji mengernyit. Beliau memiringkan tubuh, menaruh perhatian penuh pada rahasia yang hendak dibagi oleh pemuda panti asuhan tersebut.
“Karena dia teman saya. Teman pertama, waktu di panti. Yang tadi saya antar pulang itu.” Satya menjelaskan dengan suara parau.
“Oh itu.” Wak Kaji manggut-manggut, mulai menangkap benang merah drama kehidupan yang sedang bergulir.
Satya mengangguk. “Inggih. Namanya Melati. Saya pinjam motor. Buat antar dia balik. Tapi ….” Kalimat terhenti, Satya berpikir lama.
Suasana di teras mendadak terasa mencekam, bersaing dengan kecemasan yang terus memburu detak jantungnya.
“Tapi kenapa, Sat?” Wak Kaji mulai tak sabar. Ia sampai mencondongkan badan ke depan, mendesak Satya untuk segera menuntaskan kalimatnya.
“Melati mau dijual sama bibinya.” Satya berbisik lirih, penuh penekanan gejolak emosi.
“Eh dijual? Mana bisa begitu.” Wak Kaji tersentak, menepuk lututnya sendiri dengan raut wajah yang seketika berubah tegang dan gusar.
Satya menelan ludah. “Bibi Melati punya utang. Karena nggak bisa bayar, jadi ia menjadikan Melati jaminan,” jelasnya, “sebenarnya tadi saya diberi pilihan. Mau menikahi Melati, dan membawanya pergi. Tapi saya ragu, Wak.” Satya mengusap wajahnya kasar, meraba parut luka bakar yang menghancurkan masa lalunya sebagai pewaris keluarga Utama.
Wak Kaji tersemum. Menatap Satya setengah menggoda. “Kamu suka dia?” tanyanya lembut, mencoba mencairkan atmosfer dramatis yang mencekik dada pemuda itu.
Satya mengangguk malu. “Iya. Tapi saya takut, Wak. Wajah saya seperti ini. Ya, meski Melati tidak bisa melihat. Tapi kan tetap Wak, kalau suatu saat Melati bisa lihat … saya cemas kalau Melati takut melihat saya.” Setitik air mata kepedihan mengambang di pelupuk mata Satya yang cacat, meratapi takdir rupa yang malang.
Wak Kaji tertawa. “Sesuatu yang belum pernah kita coba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya.” Sambil menepuk pundak Satya dengan mantap, memberikan kekuatan dan dorongan batin agar pemuda itu berani memperjuangkan cintanya. Serta menyelamatkan Melati dari cengkeraman Juragan Herwanto besok pagi.
—
Brak!
Turi membanting pintu kamar. Usai mendorong Melati masuk. Sentakan keras itu membuat dinding papan kayu bergetar, menciptakan gema ketakutan di dalam ruangan yang sempit dan pengap.
“Kamu tak akan bisa ke mana-mana. Sampai anak buah Juragan membawamu besok!” ancamnya.
Suara langkah kaki Turi terdengar menjauh, diiringi bunyi kunci slot yang diputar kasar dari luar.
Melati terdiam. Berusaha bangkit sambil meraba udara. Tangisnya mulai tumpah. Mengingat nasib buruknya. Ia terduduk di atas dipan tua yang reyot, memeluk kedua lututnya yang gemetar hebat di tengah intrik kejam keluarganya sendiri.
“Satya,” cicihnya, tiba-tiba. Suara bisikan itu bergetar, sarat akan kerinduan mendalam pada satu-satunya pelindung yang ia miliki.
Mengingat kembali saat pertama ia bertemu dengan pemuda itu. Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, memori masa lalu berputar, membawa kehangatan yang kontras dengan malam yang mencekam ini.
Kala itu, Melati sudah ada di panti, bersiap hendak masuk SMP. Saat Satya masuk Panti, pertama kali. Langkah kaki yang diseret tak beraturan kala itu menjadi penanda kehadiran sang pemuda di dunianya yang sunyi.
Ia yang sudah sendirian, karena semua temannya dijemput. Merasa bahagia. Memiliki teman baru. Melati melangkah maju dengan penuh harapan di aula panti asuhan yang sepi.
“Aku Melati.” Melati mengulurkan tangan. Ia menyodorkan jemari kecilnya ke depan, menunggu dalam ketegangan yang mendebarkan.
Di awal tak ada balasan. Hingga penjaga panti, memaksa Satya membalas uluran tangannya. Gesekan kulit yang kasar dan dingin sempat membuat Melati tersentak sesaat.
“Satya.” Kata pertama terdengar dingin. Meski begitu, Melati dalam keterbatasannya, berusaha bersikap ramah.