NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DuaSatu—Jerat Malam Pengantin!

Shen Mufeng berjalan dengan tergesa-gesa. Ada hal aneh yang baru saja ia temui; Bibi Liu tidak berada di tempat yang seharusnya. Perempuan tua itu menghilang entah ke mana. Mengandalkan kecepatannya, Shen Mufeng segera bergerak kembali ke kamar pengantin. Ia mendadak teringat pada aroma samar dupa di sana sebelum ia pergi tadi. Pengalamannya selama bertahun-tahun serta berbagai godaan wanita yang pernah ia hadapi seketika memicu alarm kewaspadaan di benaknya.

Dupa perangsang. Aromanya persis sama, meski kini tersamarkan oleh wewangian lain.

Ia membuka pintu dengan cepat, hanya untuk mendapati Mingyue sedang berdiri dengan tubuh yang bergetar halus. Tangan gadis itu bersimbah darah dan rambutnya terurai berantakan. Air mukanya tampak begitu pucat, kontras dengan noda darah segar yang terciprat di wajah cantiknya.

Tatapan pria itu seketika beralih ke arah ranjang. Sebuah tubuh tengah meringkuk di sana tanpa bergerak. Tanpa membuang waktu, Shen Mufeng segera melangkah mantap. Ia menuju ke arah wadah dupa yang menyala, mematahkan batangnya yang membara, lalu menenggelamkan ujungnya ke dalam tumpukan pasir abu agar padam sepenuhnya. Selesai memadamkan racun itu, ia menoleh ke belakang, menatap Mingyue yang masih berusaha berdiri tegap dengan dada yang naik-turun akibat napas yang tersengal pekat.

"Mingyue..." panggilnya lirih. Di sela keheningan itu, indra pendengaran sang Jenderal menangkap suara derap langkah kaki beriringan dalam jumlah banyak yang tengah menuju ke arah sini.

Shen Mufeng segera bertindak cepat. Ia mengibaskan jubah besarnya, mematikan lilin di dekat ranjang hingga ruangan seketika jatuh dalam kegelapan remang, lalu menyentak tirai kelambu ranjang hingga tertutup rapat. Dengan satu gerakan kuat namun protektif, ia menggendong tubuh lemas Gu Mingyue. Pria itu mengambil posisi duduk di tepi ranjang, kini memangku tubuh istrinya dengan erat.

Di dalam dekapannya, Gu Mingyue bernapas tersengal-sengal. Bibirnya yang pucat bergetar halus, berbisik lirih, "Panas..."

Shen Mufeng terpaksa mengerahkan seluruh pengendalian dirinya. Pakaian istrinya berantakan, begitu pula seluruh penampilannya akibat pergulatan tadi. Dan benar saja dugaan mereka, pintu kamar yang semula setengah terbuka kini didorong paksa hingga terbuka lebar dari luar.

Di dalam kegelapan tirai yang remang, mata elang Shen Mufeng menangkap siluet beberapa pelayan tengah berdiri berkerumun di sana, dipimpin oleh Bibi Liu yang semula tengah menyunggingkan senyum kemenangan yang licik. Wanita tua itu mengira akan memergoki Gu Mingyue tengah ternoda oleh pria lain di atas ranjang pengantin.

"Kurang ajar!" geram Shen Mufeng rendah, suaranya bagai petir yang tertahan di malam hari. Bersamaan dengan hardikan itu, ia memeluk kepala Gu Mingyue, mendekap erat wajah dan tubuh istrinya ke dadanya sendiri agar posisinya berlawanan dari arah pandang para pelayan yang berniat menonton.

Mendengar suara bariton yang teramat akrab sekaligus mengerikan itu, para pelayan di ambang pintu langsung saling pandang dengan tubuh gemetar, sebelum akhirnya buru-buru menundukkan kepala dalam-dalam. Di barisan paling depan, Bibi Liu seketika meneguk ludahnya dengan susah payah. Seluruh persendiannya mendadak lemas; skenario mengerikan ini benar-benar sama sekali tidak sesuai dengan rencana awalnya.

"Kalian ingin melihat tuan kalian sedang bermesraan?" tanya Shen Mufeng datar, menatap tajam ke arah pintu.

"Ampuni kami, Tuan. Saya... saya melihat seorang pria asing menyelinap ke kamar ini..." dalih Bibi Liu dengan suara yang mulai gemetar.

"Tidak ada orang lain di sini selain diriku dan Nyonya Besar," potong Shen Mufeng dingin.

Seketika itu juga, mereka semua bungkam. "Semua keluar!" gertak sang Jenderal.

Dan bagai perintah yang tak boleh ditolak, seluruh pelayan langsung terbirit-birit pergi. Bibi Liu menjadi orang terakhir yang melangkah keluar. Wanita tua itu sempat menyipitkan matanya, mencoba mengintip ke arah ranjang yang kini tertutup rapat oleh kelambu sutra.

"Bibi Liu, jangan kurang ajar!" desis Shen Mufeng tajam.

Wanita tua itu tersentak, segera berbalik dan menutup pintu kamar dengan satu gerakan cepat.

Begitu suasana kembali sunyi, napas Gu Mingyue di ceruk leher Shen Mufeng terasa kian memburu. Desahan gadis itu melembut, berulang kali meracau, "Panas..."

Shen Mufeng sekuat tenaga menahan gejolak di dalam dirinya. Ia segera bangkit berdiri dan kembali menggendong Gu Mingyue. "He Si!" teriaknya kencang ke arah luar. Namun, belum ada balasan dari luar paviliun. Ia memanggil hingga tiga kali sampai akhirnya sang pengawal pribadi muncul dengan langkah panjang di depan pintu. "Iya, Tuan."

"Panggil Fan Li'er, minta dia menyiapkan air di bak mandi kamar samping. Sekarang!"

"Baik, Tuan."

"Dan singkirkan mayat di dalam ini tanpa jejak," perintah Shen Mufeng lagi dengan nada sedingin es.

Sebelum mengosongkan kamar, Shen Mufeng mendudukkan istrinya sebentar di atas kursi. Ia bergerak cepat membalikkan tubuh penyusup yang terkapar di bawah ranjang mereka. Napas pria itu sudah melemah, denyut nadinya kian tak terasa akibat tikaman konde perak Mingyue. Untuk terakhir kalinya, mata elang sang Jenderal menatap lama sosok tersebut, memastikan aroma minuman keras murah yang masih samar tercium dari pakaiannya.

Bugh!

Tiba-tiba, sebuah pelukan kencang mendarat di punggung Shen Mufeng dari arah belakang. Gu Mingyue tampaknya telah sepenuhnya kehilangan kendali akibat reaksi dupa dan air yang ia minum tadi. Tubuh gadis itu terasa membara.

Tanpa menunggu lebih lama, tepat setelah He Si masuk untuk mengurus si penyusup, Shen Mufeng langsung menyergap tubuh istrinya ke dalam gendongan. Ia melangkah cepat membelah kegelapan menuju kamar mandi di paviliun samping.

Air di dalam bak mandi besar baru saja disiapkan. Tanpa melepaskan pakaian mereka, Shen Mufeng langsung membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kolam air tersebut, membiarkan jubah merah pengantin mereka basah kuyup bersama. Efek dingin dari air perlahan menyentuh kulit, namun gairah di dalam tubuh Mingyue sudah terlanjur membakar habis kesadarannya.

Tanpa menunggu lama, Gu Mingyue langsung menyentakkan tubuhnya menjauh, bergerak ke arah berlawanan dari Shen Mufeng demi mencari sisa pertahanan diri. Napasnya tersengal-sengal hebat menahan gejolak yang membara, sebelum akhirnya Mingyue merapatkan tubuhnya pada dinding bak. Pegangannya mengerat kuat pada pinggiran kayu sesaat, hanya untuk melenguh lirih, "Panas..."

Shen Mufeng segera mendekat ke arahnya. Tangan kokohnya bergerak cepat mengambil sebatang jarum akupunktur yang memang selalu tersedia di dalam kotak obat dekat bak mandi. Dengan presisi yang tenang, ia mulai menusukkan jarum tersebut pada titik akupunktur khusus untuk meredam aliran racun dan gejala obat perangsang yang mengacaukan aliran darah istrinya.

Ia membiarkan jarum itu bekerja selama beberapa lama. Perlahan namun pasti, ketegangan di tubuh gadis itu kian melemah. Efek obat yang membakar perlahan meluruh, mengembalikan kesadarannya secara bertahap. Napas Mingyue mulai terdengar lebih teratur di dalam bak mandi, menyisakan riak air yang tenang di sekitar mereka.

"Mingyue..." panggil Shen Mufeng rendah.

"Tuan Shen..." lirihnya pelan.

Gu Mingyue menolehkan kepalanya yang masih terasa agak berat, membalas tatapan mata elang Shen Mufeng yang sejak tadi terus menguncinya lekat-lekat dalam keheningan yang panjang.

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!