Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Penghianat di Dalam Perusahaan
Nara menatap foto itu dalam diam.
Tangannya masih memegang lembaran yang baru saja ditemukan di ruang tamunya.
Foto dirinya.
Diambil tanpa sepengetahuannya.
Seseorang telah mengikutinya.
Mengawasinya.
Dan yang membuatnya lebih merinding, orang itu memakai pin Grup Wijaya.
Napas Nara terasa berat.
Ia segera mengambil ponsel dan menelepon Damar.
Panggilan langsung diangkat.
"Ada apa?"
Suara Damar terdengar serius.
"Aku baru menemukan sesuatu."
"Apa?"
Nara memotret foto itu lalu mengirimkannya.
Beberapa detik kemudian suasana di ujung telepon berubah.
"Dari mana kau mendapat ini?"
"Tadi ada di rumahku."
Keheningan muncul.
Nara bisa membayangkan ekspresi Damar saat ini.
"Jangan sentuh apa pun lagi."
"Aku baik-baik saja."
"Aku akan ke sana."
Sebelum Nara sempat membantah, panggilan sudah berakhir.
---
Dua puluh menit kemudian.
Damar tiba bersama Raka.
Begitu masuk rumah, keduanya langsung memeriksa foto tersebut.
Raka menyipitkan mata.
"Lihat bayangan di belakang."
Damar mengangguk.
"Itu memang pin perusahaan."
Nara memeluk kedua lengannya.
"Artinya ada orang dalam."
"Itu kemungkinan terbesar."
jawab Damar.
Raka mengambil foto itu.
"Kita harus cari tahu siapa."
"Bagaimana caranya?"
tanya Nara.
Raka tersenyum tipis.
"Ada ratusan pegawai di perusahaan, tapi tidak semua punya akses untuk mengikuti aktivitasmu."
Nara mulai memahami maksudnya.
Jika pelaku berasal dari perusahaan, berarti lingkarannya bisa dipersempit.
---
Keesokan harinya.
Nara datang ke kantor seperti biasa.
Namun kini perasaannya berbeda.
Setiap orang yang lewat terlihat mencurigakan.
Setiap tatapan terasa aneh.
Bahkan suara langkah kaki di belakangnya membuat jantungnya berdebar.
"Tenang."
ucap Siska yang baru datang.
"Kamu seperti sedang diburu debt collector."
Nara tertawa kecil.
"Aku cuma kurang tidur."
"Itu jelas."
jawab Siska.
"Kamu butuh liburan."
Kalau saja masalahnya sesederhana itu.
---
Di ruang rapat utama.
Damar sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa direktur senior.
Salah satunya adalah pria yang muncul dalam foto lama bersama Leonard.
Namanya Bima Santoso.
Usianya sekitar lima puluh tahun.
Sudah bekerja di Grup Wijaya lebih dari dua puluh tahun.
Dan selama ini dikenal sebagai orang kepercayaan perusahaan.
Damar memperhatikannya diam-diam.
Pria itu terlihat biasa saja.
Tenang.
Profesional.
Tidak ada yang mencurigakan.
Namun justru itu yang membuat Damar semakin waspada.
---
Setelah rapat selesai.
Bima menghampiri Damar.
"Ada masalah?"
tanyanya.
"Maksud Anda?"
"Bapak terlihat banyak pikiran."
Damar tersenyum tipis.
"Pekerjaan sedang banyak."
Bima mengangguk.
"Lembur lagi?"
"Sepertinya."
Pria itu tertawa pelan lalu pergi.
Namun begitu sosoknya menghilang di balik pintu, tatapan Damar langsung berubah dingin.
---
Sore harinya.
Raka datang membawa hasil penyelidikan.
"Aku menemukan sesuatu tentang Bima."
Damar mengangkat kepala.
"Apa?"
"Dia pernah bekerja di perusahaan yang sama dengan Surya Mahendra."
Ruangan langsung sunyi.
"Seberapa dekat?"
tanya Damar.
"Cukup dekat."
Raka menyerahkan dokumen.
"Dulu mereka berada dalam satu divisi."
Damar membaca berkas itu perlahan.
Semakin lama ekspresinya semakin serius.
Karena nama Bima terus muncul berulang kali.
Terlalu sering untuk disebut kebetulan.
---
Malamnya.
Nara kembali bertemu Adrian.
Mereka membahas perkembangan terbaru.
Adrian tampak muram.
"Aku juga menemukan nama Bima."
ucapnya.
Nara terkejut.
"Serius?"
Adrian mengangguk.
"Namanya muncul di beberapa dokumen lama."
"Terlibat langsung?"
"Itu yang belum pasti."
Nara menghela napas.
Setiap kali mereka menemukan satu jawaban, muncul sepuluh pertanyaan baru.
---
Saat mereka sedang berbicara, ponsel Adrian berdering.
Ia melihat layar.
Lalu wajahnya berubah.
"Ada apa?"
tanya Nara.
Adrian tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian ia mengangkat telepon.
"Halo."
Wajahnya semakin tegang.
Kemudian ia berdiri.
"Apa?"
Nara langsung ikut berdiri.
"Kenapa?"
Adrian mematikan panggilan.
"Bu Ratna."
Jantung Nara langsung jatuh.
"Ada apa dengan beliau?"
"Beliau menghilang."
---
Dunia terasa berhenti sesaat.
Nara menatap Adrian tidak percaya.
"Menghilang?"
Adrian mengangguk.
"Rumahnya kosong."
"Sejak kapan?"
"Sejak pagi."
Nara merasakan bulu kuduknya berdiri.
Bu Ratna adalah saksi penting.
Orang terakhir yang mengetahui banyak hal tentang masa lalu.
Dan sekarang beliau menghilang.
---
Malam itu juga.
Nara, Damar, dan Adrian pergi ke rumah Bu Ratna.
Rumah sederhana itu tampak gelap.
Tidak ada lampu menyala.
Tidak ada suara.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Damar membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Mereka masuk dengan hati-hati.
Ruang tamu kosong.
Kamar kosong.
Dapur kosong.
Semuanya terlihat normal.
Terlalu normal.
Seolah pemilik rumah pergi begitu saja.
Namun kemudian Nara menemukan sesuatu.
Sebuah cangkir teh di meja.
Masih ada sisa teh di dalamnya.
Artinya Bu Ratna tidak berniat pergi jauh.
Setidaknya tidak secara sukarela.
---
Raka yang ikut datang memeriksa seluruh ruangan.
Lalu berhenti di dekat rak buku.
"Ada bekas perlawanan."
Semua orang mendekat.
Sebuah vas bunga pecah di lantai.
Ada goresan kecil di dinding.
Dan sebuah kancing baju.
Damar mengambil benda itu.
Tatapannya langsung berubah.
"Kancing seragam."
"Seragam apa?"
tanya Nara.
Damar membalik kancing tersebut.
Logo kecil terlihat di bagian belakang.
Logo Grup Wijaya.
---
Keheningan menyelimuti ruangan.
Nara merasa dadanya sesak.
Lagi-lagi perusahaan itu muncul.
Lagi-lagi petunjuk mengarah ke dalam.
---
Saat mereka hendak pergi, Adrian menemukan sebuah amplop terselip di bawah meja.
Isinya hanya satu lembar kertas.
Tulisan tangan yang sama seperti ancaman sebelumnya.
> Kalian terlambat.
Nara mengepalkan tangannya.
Pelaku seolah sedang mempermainkan mereka.
Selalu selangkah lebih maju.
Selalu tahu apa yang mereka lakukan.
---
Dalam perjalanan pulang, tidak ada yang banyak bicara.
Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Namun satu hal kini semakin jelas.
Pengkhianat itu benar-benar ada.
Dan kemungkinan besar masih bekerja di perusahaan sampai sekarang.
---
Sesampainya di apartemen, Damar menerima pesan dari nomor anonim.
Ia membukanya.
Isi pesan itu membuat darahnya langsung dingin.
Sebuah foto.
Foto Bu Ratna.
Beliau terlihat duduk di kursi dalam ruangan gelap.
Masih hidup.
Namun tampak ketakutan.
Di bawah foto itu terdapat tulisan.
> Berhenti sekarang atau dia yang pertama.
Rahang Damar mengeras.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, kemarahan memenuhi dirinya.
Bukan hanya karena ancaman.
Tetapi karena seseorang mulai menyakiti orang lain demi melindungi rahasianya.
Dan Damar tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ia segera menelepon Nara.
"Aku baru menerima sesuatu."
"Apa?"
"Aku akan kirim fotonya."
Beberapa detik kemudian Nara menerima gambar tersebut.
Jantungnya langsung berdebar keras.
Bu Ratna masih hidup.
Tapi waktunya mungkin tidak banyak.
"Damar."
suara Nara pelan.
"Kita harus menemukan beliau."
"Aku tahu."
jawab Damar.
"Kali ini kita tidak boleh terlambat."
Di tempat yang tidak diketahui.
Seorang pria sedang memperhatikan layar monitor.
Di sana terlihat foto Nara.
Damar.
Adrian.
Dan beberapa dokumen penyelidikan mereka.
Pria itu tersenyum tipis.
"Teruslah mencari."
gumamnya.
"Karena semakin dekat kalian dengan kebenaran..."
Tangannya menutup sebuah map tua bertuliskan nama Arman.
"...semakin dekat kalian dengan kehancuran yang sama."
Bersambung ke Bab 33