NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan dan Payung yang Terlalu Kecil

Langit Semarang mendung sejak siang, namun baru pada pukul empat sore hujan benar-benar turun dengan deras. Air mengguyur kaca jendela perpustakaan kota, menciptakan tirai kabur yang memisahkan dunia dalam yang hening dari kekacauan luar.

Viona berdiri di lobi utama, memeluk tumpukan tiga buku tebal di dadanya. Ia menatap jam tangannya. Pukul 16.45. Zidan seharusnya sudah datang lima belas menit lalu.

Ponselnya bergetar.

Zidan: "Macet di perempatan Simpang Lima. Ada kecelakaan. Tunggu di lobi. Jangan keluar."

Viona mengetik balasan cepat.

Viona: "Iya, Kak. Aku tunggu di dalam."

Ia menghela napas, lalu duduk di bangku kayu dekat pintu masuk. Di sebelahnya, seorang kakek tua sedang kesulitan membuka payung lipat yang macet. Viona tersenyum, lalu membantu menarik mekanisme payung itu hingga terbuka dengan bunyi klik.

"Terima kasih, Nduk," ucap kakek itu ramah. "Hujannya deras sekali ya."

"Iya, Pak. Hati-hati jalannya licin," jawab Viona sopan.

Kakek itu mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju halte bus. Viona menatap punggungnya, lalu kembali melihat ke arah jalan raya yang dipenuhi lampu rem merah. Hatinya cemas. Bukan karena hujan, tapi karena ia tahu Zidan membenci keterlambatan. Dan jika Zidan stres, ia akan menjadi lebih dingin, lebih tertutup. Viona tidak ingin malam ini berakhir dengan ketegangan.

Sepuluh menit kemudian, mobil sedan hitam Zidan akhirnya terlihat menerobos genangan air, berhenti tepat di depan lobi. Klakson berbunyi singkat—satu kali, tegas.

Viona bergegas keluar, melindungi buku-bukunya dengan jaket denimnya. Hujan langsung menyiram tubuhnya, membuat rambutnya lembap dalam hitungan detik. Ia berlari kecil menuju mobil, membuka pintu penumpang depan dengan napas terengah.

"Maaf, Kak! Aku nggak sengaja kehujanan pas lari dari lobi," ucap Viona sambil menutup pintu, mengusap air dari wajahnya.

Zidan menoleh, matanya menyapu tubuh Viona yang basah kuyup. Alisnya berkerut tajam. "Kenapa tidak menunggu aku sampai benar-benar parkir di bawah kanopi? Kau bisa sakit."

"Kanopinya penuh, Kak. Aku takut Kakak lama nunggunya," alasan Viona, mencoba tersenyum meski giginya sedikit bergemeretak karena dingin.

Zidan tidak menjawab. Ia meraih handuk kecil dari bagasi belakang—yang ternyata selalu ia siapkan—dan melemparkannya ke pangkuan Viona. "Keringkan rambutmu. AC-ku sudah kusetel hangat."

Viona menangkap handuk itu, hatinya melunak. "Kakak selalu siap sedia ya?"

"Aku antisipatif. Beda hal," koreksi Zidan singkat, kembali menyetir. Mobil melaju pelan menembus hujan.

Di dalam mobil, keheningan kembali turun, tapi kali ini terasa lebih berat. Viona mengeringkan rambutnya, mencuri-curi pandang ke arah Zidan. Pria itu tampak tegang, rahangnya mengeras.

"Kak," panggil Viona pelan.

"Hm?"

"Maaf ya, bikin Kakak repot macet-macetan begini."

Zidan menghela napas, matanya tetap pada jalan. "Bukan soal repot, Vion. Soal risiko. Jika kau sakit, skripsimu terhambat. Jika skripsimu terhambat, kelulusanmu mundur. Jika kelulusanmu mundur, rencana masa depanmu berubah. Itu rantai efek yang tidak efisien."

Viona tertawa kecil, meski ada rasa pahit di lidahnya.

"Selalu ada alasan logis, ya, Kak?"

"Logika menjaga kita tetap selamat," jawab Zidan datar.

"Tapi kadang perasaan juga perlu didengar, Kak," bisik Viona, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Zidan.

Zidan mendengarnya. Tangannya yang memegang setir mengencang sesaat.

"Perasaan itu variabel yang tidak stabil, Vion. Sulit dikendalikan."

"Kalau nggak dicoba dikendalikan, kita nggak akan pernah tahu hasilnya," tantang Viona lembut.

Zidan tidak menjawab. Ia hanya menyalakan wiper dengan kecepatan lebih tinggi, seolah ingin menghapus bukan hanya air hujan, tapi juga kata-kata Viona yang terlalu jujur.

Mereka tiba di rumah Candisari saat hujan mulai reda menjadi gerimis. Rani menyambut mereka di pintu dengan wajah khawatir.

"Lho, kok Viona basah kuyup? Zidan, kenapa kamu biarkan adikmu kehujanan?" tanya Rani sambil segera mengambil handuk besar.

"Dia yang nekat lari, Bu," jawab Zidan tenang, melepas sepatu. "Aku sudah peringatkan."

"Ah, kamu ini. Selalu saja alasannya logis," keluh Rani gemas, lalu menarik Viona ke dalam. "Sana, ganti baju cepat. Ibu buatkan wedang jahe."

Viona mengikuti ibunya, tapi sebelum naik tangga, ia menoleh ke arah Zidan. Pria itu sedang berdiri di ruang tamu, menatap hujan di luar jendela dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tatapan mereka bertemu sebentar. Zidan mengangkat alis, isyarat diam-diam: Cepat ganti.

Viona tersenyum tipis, lalu berlari ke kamarnya.

Setengah jam kemudian, Viona turun ke ruang keluarga dengan pakaian kering dan rambut yang masih agak lembap. Ia menemukan Zidan duduk di sofa, membaca buku arsitektur tebal. Di meja kopi, ada dua cangkir wedang jahe yang masih mengepul.

Viona duduk di kursi tunggal di seberangnya.

"Ini buat aku?"

Zidan tidak mengangkat kepala dari bukunya.

"Ibu yang buat. Aku cuma memindahkannya ke sini agar tidak dingin."

Viona mengambil cangkir itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya.

"Terima kasih, Kak."

Ia menyesap jahe itu, lalu memberanikan diri bertanya.

"Kak, besok... aku ada presentasi kelompok di kampus. Jam sepuluh pagi."

Zidan membalik halaman bukunya.

"Dan?"

"Bisa... Kakak temani aku? Maksudku, nggak perlu masuk kelas. Cuma... tunggu di kafetaria sampai selesai? Aku jadi lebih tenang kalau tahu Kakak ada di dekatku."

Permintaan itu terdengar kekanak-kanakan, tapi Viona tidak peduli. Ia butuh kehadiran Zidan. Bukan sebagai pelindung, tapi sebagai jangkar.

Zidan akhirnya menutup bukunya. Ia menatap Viona, matanya menyelidiki.

"Presentasimu penting?"

"Penting banget, Kak. Nilainya 30 persen dari total nilai akhir."

"Dan kehadiran saya akan meningkatkan kepercayaan dirimu?"

"Iya," jawab Viona jujur. "Karena Kakak adalah orang yang paling aku percaya opininya. Kalau Kakak ada di sana, aku merasa... aku punya backup."

Zidan diam lama. Jari-jarinya mengetuk sampul buku. Viona menahan napas, menunggu jawaban.

"Jam berapa presentasimu selesai?" tanya Zidan akhirnya.

"Sekitar jam sebelas."

"Aku ada panggilan video dengan klien Singapura jam setengah dua belas," ucap Zidan. "Jadi aku punya waktu satu jam setelah presentasimu."

Viona tersenyum lebar. "Jadi... boleh?"

"Aku akan berada di kafetaria. Membaca email. Jangan harap aku akan memberikan tepuk tangan atau sorak-sorai," peringatan Zidan dingin.

"Nggak perlu, Kak. Cukup Kakak ada di sana. Itu udah cukup buat aku," jawab Viona bahagia.

Zidan menghela napas, seolah menyerah pada kegigihan Viona. "Baiklah. Tapi kau harus janji fokus. Jangan lihat ke arahku terus-menerus saat presentasi. Itu akan mengganggu konsentrasi mu."

"Janji!" seru Viona semangat.

Zidan menggelengkan kepala, tapi sudut bibirnya tertarik naik sangat tipis.

"Dasar anak kecil."

"Anak kecil yang Kakak sayangi," goda Viona berani.

Wajah Zidan sedikit memanas. Ia segera membuka kembali bukunya, menyembunyikan ekspresinya.

"Minum jahemu. Jangan sampai dingin. Efisiensi energi tubuhmu menurun jika kau minum minuman dingin saat suhu tubuh belum stabil sepenuhnya."

Viona tertawa, menikmati kemenangan kecilnya. Di balik topeng logika dan efisiensi itu, Zidan tetap saja menuruti permintaannya. Dan bagi Viona, itu adalah bentuk cinta yang paling nyata: tindakan yang berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Hujan di luar telah berhenti sepenuhnya, meninggalkan udara malam yang segar. Di dalam ruangan yang hangat, dengan aroma jahe dan kehadiran Zidan yang diam-diam melindungi, Viona merasa bahwa meskipun cinta ini salah tempat, ia tidak ingin berada di tempat lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!