Masalah ekonomi membuat sepasang suami istri terpaksa harus tinggal di salah satu rumah orang tua mereka setelah menikah. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua sang istri, Namira.
Namira memiliki adik perempuan yang masih remaja dan tengah mabuk asmara. Suatu hari, Dava suami Namira merasa tertarik dengan pesona adik iparnya.
Bagaimana kisah mereka?
Jangan lupa follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main Bareng
Sore ini Sera hendak ke kamar mandi, akan tetapi ia tidak sengaja melihat kakak iparnya tengah membuat kopi di dapur. Dia melihat ke sekitar untuk memastikan jika kakaknya tidak ada di sana. Dia pun berjalan menghampiri pria itu.
"Kak," panggil Sera membuat pria itu menoleh.
"Eh, Sera. Kenapa?"
"Kak Namira mana?"
"Kakak kamu lagi ke warung sebentar, katanya mau beli gula."
"Oh gitu. Oh ya kak, kakak jadi bantu aku buat cari jalan keluar supaya aku dapat uang buat bayar SPP sekolah. Seharusnya minggu ini aku udah bayar, tapi aku minta waktu sampai minggu depan."
Dava hampir lupa jika dia harus membantu Sera untuk hal itu. Seketika dia jadi teringat akan pembicaraan nya dengan Edo tadi siang di tempat kerja.
"Aku punya teman, namanya Edo. Nah dia punya teman yang kerja di kafe, katanya di kafe itu lagi butuh karyawan. Nanti aku coba tanyakan, apa di sana bisa kerja paruh waktu atau tidak."
"Jauh gak, kak?"
"Dekat sama tempat kerja aku, kurang lebih dua ratus meter dari sana."
"Wah, serius?"
"Iya."
"Ok, makasih ya kak. Kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu."
"Iya."
Sera pun melipir pergi dari sana, sementara Dava membawa kopinya dan duduk di sofa ruang tengah. Sambil menunggu Namira pulang, dia main game online sebentar.
Baru mau login, Namira sudah datang.
"Assalamu'alaikum .."
"Walaikumsalam .. Kok lama?"
"Iya, mas. Soalnya tadi ada ibu-ibu yang ajak aku ngobrol. Katanya dia pernah lihat ada orang yang mencurigakan dekat rumah kita minggu lalu waktu subuh."
"Mencurigakan bagaimana?" tanya Dava penasaran.
"Aku juga gak tahu, mas. Katanya si ibu itu bilang dia melihat ada laki-laki masih muda di depan rumah kita waktu dia mau ke pasar habis shalat subuh, si ibu itu kira dia mau maling, tapi dia malah pergi dan lari."
Dava tertegun sejenak. Entah kenapa dia merasa jika laki-laki yang di maksud oleh ibu itu adalah Riki, pacar Sera.
"Gak usah terlalu di pikirin, lagian orang itu gak macam-macam juga bukan?"
"Iya, mas. Tapi tetap saja kita harus hati-hati dan waspada, kita gak pernah tahu kan apa yang bakal terjadi kedepannya."
"Iya, sayang. Tapi gak usah terlalu over."
"Iya, kalau begitu aku mau ke dapur naruh gula nya dulu," pamit Namira bergegas pergi dari tempat berdirinya.
***
Malamnya, Sera merasa badannya lelah sekali hari ini, sehingga dengan mudahnya ia tidur dan pulas. Sementara Dava belum juga ngantuk, daripada mengganggu istrinya yang sedang tidur, lebih baik dia main game online di tengah rumah saja.
Suara game online yang berasal dari ponsel Dava mengundang perhatian Sera dari dalam kamarnya. Ia pun keluar kamar dan menghampiri pria itu.
"Kak Namira udah tidur ya, kak?"
Pertanyaan Sera mengalihkan pandangan Dava dari layar ponsel. Pria itu terskesiap melihat penampilan Sera malam ini. Gadis itu hanya memakai tanktop hitam dengan tali kecil di masing-masing bahunya, serta celana pendek katun yang sebatas baha.
Tanpa menunggu jawaban Dava, Sera pun ikut duduk di sebelah kakak iparnya. Dia memainkan ponselnya dan memperlihatkan sesuatu pada pria itu.
"Aku juga jago main em el, kak." Sera memperlihatkan game online mobile legends yang di singkat em el.
Dava di buat gagal fokus oleh gadis itu.
"Gimana kalau kita main bareng?" tawar Sera kemudian di angguki oleh Dava.
"Iya, ayo."
Keduanya pun mulai memainkan game itu di hp masing-masing. Dava tidak menyangka jika Sera cukup jago juga dalam memainkan permainan tersebut.
"Yeayy .. Aku menang .." teriak Sera girang.
"Ah kamu curang tadi. Kita main sekali lagi gimana?" Dava kurang terima jika dirinya kalah, dan ia harap kali ini dia menang.
"Ok, ayo."
Keduanya memainkannya lagi, tapi kali ini Dava yang menang. Giliran Sera yang tidak terima, akhirnya mereka sepakat untuk main lagi untuk yang terakhir kali. Dan ternyata yang menang Dava lagi.
Sera melempar Hp nya ke kursi yang lain, ia sedikit kesal lantaran kalah dua kali.
"Kak Dava curang ah, masa aku bisa kalah dua kali, sih."
"Itu artinya aku yang lebih jago."
"Aku juga gak kalah jago, kok."
"Buktinya kalah dua kali barusan."
"Itu karena kak Dava curang, harusnya kan aku yang menang."
"Mana ada curang."
"Emang curang kok!"
"Curang darimana coba?"
"Gak tahu ah, pokoknya kak Dava curang!"
Keduanya saling adu mulut karena Sera belum juga bisa terima kalau dirinya kalah. Sera sampai ingin mencubit pria itu untuk memberi hukuman lantaran dia anggap curang, akan tetapi Dava mempertahankan diri agar tidak terkena serangan cubitan dari Sera.
"Iihh kak Dava curang!"
"Mana ada aku curang."
"Curang pokoknya, curang curang curang!"
Dava malah terkekeh melihat kekesalan Sera dan terus berniat ingin mencubitnya. Hingga di antara keduanya sudah tidak sadar dengan posisi tubuh mereka saat ini.
Keduanya pun langsung diam, ketika tubuh Dava secara tidak sadar sudah berada di atas Sera dan Sera berada di bawah tubuh Dava. Kedua tangan Dava memegang tangan Sera di samping kepala gadis itu guna menghalangi Sera yang ingin menyerangnya dengan cubitan tersebut.
Di tengah sunyinya malam kedua mata mereka saling menatap satu sama lain, deru napas salah satu dari mereka kini sudah terdengar memburu.
Melihat penampilan Sera yang seperti ini membuat kesadaran Dava hilang. Pandangannya tertuju pada bibir Sera yang sedikit terbuka. Rasa ingin mencicipi bibir gadis itu semakin memenuhi seisi kepalanya. Dan perlahan pria itu mulai menurunkan kepalanya.
Alih-alih menyadarkan diri dan kakak iparnya, Sera justru ikut terhanyut dalam suasana begitu bibir kakak iparnya menempel di bibirnya. Hingga keduanya saling memagut bibir lawan.
_Bersambung_