NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Hukuman dan Kehangatan

Tangan pertama yang menarik Momo dari laut bukan tangan Renard.

Dua pengawal mengangkatnya ke atas dermaga dengan tergesa. Tubuhnya menghantam papan kayu basah. Momo batuk keras, mengeluarkan air asin dari tenggorokan. Seluruh tubuhnya gemetar, giginya beradu tanpa bisa dikendalikan. Gaun tidurnya melekat di kulit seperti kain mati.

Lalu bayangan hitam jatuh menutupinya.

Renard berdiri di dermaga.

Jas hujannya basah. Rambutnya menempel di dahi, tidak serapi biasanya. Sepatunya terkena air laut sampai mengilap. Ia tidak terlihat seperti pria yang baru datang setelah semua selesai. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah ada di sana terlalu lama, menunggu laut memuntahkan kembali sesuatu yang hampir ia ambil.

Momo ingin memaki.

Yang keluar hanya batuk.

Renard melepas jas hujannya dan menyelimutkan ke bahu Momo.

Kain itu berat, hangat oleh tubuhnya, dan berbau hujan, kayu mahal, serta laut. Momo ingin menepisnya. Tangannya bergerak sedikit, tetapi gemetar terlalu parah untuk menolak. Renard melihat gerakan itu. Rahangnya mengeras.

"Jangan keras kepala saat tubuhmu bahkan tidak bisa membenciku dengan benar."

Momo mengangkat mata. "Aku... hampir berhasil."

"Kau hampir mati."

"Setidaknya itu pilihanku."

Mata amber Renard turun ke bibirnya yang membiru. Ia berjongkok di depannya, cukup dekat untuk membuat Momo merasakan panas tubuhnya menembus udara dingin.

"Laut malam itu bunuh diri, Momo."

Untuk pertama kalinya, ia memanggil namanya.

Momo membeku bukan karena dingin.

Renard menyadari itu. Wajahnya kembali datar. "Kamu pikir aku akan membiarkanmu mati?"

"Kamu pikir kamu berhak menentukan aku hidup atau mati?"

"Ya."

Jawaban itu begitu tenang sampai dada Momo sakit.

Ia diangkat.

Renard menggendongnya tanpa meminta izin. Momo menegang, memukul bahunya sekali, lemah. "Turunkan aku."

"Tidak."

"Aku bisa jalan."

"Kau tidak bisa berdiri."

Tubuhnya tahu Renard benar. Itu yang paling memalukan. Kepalanya jatuh ke dada Renard ketika langkahnya mulai bergerak. Di bawah telinganya, jantung pria itu berdetak cepat. Tidak secepat orang panik, tetapi terlalu cepat untuk pria yang selalu tampak seperti es.

Momo memejamkan mata sebentar.

Hanya karena dingin, katanya pada diri sendiri.

Di kamar, Anthony muncul lewat layar besar. Pria berambut terang itu memperkenalkan diri singkat sebagai dokter, tetapi Renard tidak memberinya waktu bercanda. Perintahnya padat. Suhu tubuh. Napas. Paru. Luka di kaki. Anthony meminta Momo mengganti pakaian basah dan memeriksa apakah ia muntah lagi.

Momo menggigil di bawah selimut, wajahnya merah karena malu dan marah.

"Keluar," katanya kepada Renard.

Renard berdiri di dekat ranjang. "Albert akan membantu."

"Aku bisa sendiri."

"Kau hampir tenggelam."

"Aku tidak kehilangan tangan."

Anthony di layar batuk kecil, seolah menahan tawa. Renard menatap layar. Anthony langsung serius.

Akhirnya Renard keluar, tetapi hanya sampai sisi lain pintu. Momo tahu karena bayangannya masih jatuh di celah bawah pintu. Pelayan perempuan membantu mengganti baju dan mengeringkan rambutnya. Setiap sentuhan membuat Momo sadar betapa lelah tubuhnya. Lecet di kaki perih. Bahunya sakit. Tenggorokannya seperti terbakar.

Setelah pemeriksaan selesai, Renard kembali.

"Hukumanmu," katanya, "seminggu di kamar. Pintu penghubung ke kamarku dibuka permanen."

Momo menatapnya. "Kamu benar-benar tidak tahu cara terdengar waras."

"Aku tidak sedang berusaha terdengar waras."

"Aku akan membencimu."

"Lakukan sambil hidup."

Kalimat itu membuat Momo kehilangan jawaban.

Malamnya demam datang.

Momo terbangun dengan tubuh panas dan kepala berat. Kamar remang. Di luar jendela, laut tidak terlihat, hanya suara ombak yang jauh. Ia mencoba duduk, tetapi punggungnya nyeri. Saat tangannya meraba meja samping ranjang, ia menyentuh cangkir.

Teh hangat.

Masih mengepul tipis.

Di ujung ranjang ada selimut tambahan yang sebelumnya tidak ada. Lipatannya rapi, terlalu rapi untuk pelayan yang terburu-buru. Momo menatap pintu penghubung. Tidak tertutup. Tidak terbuka lebar. Hanya menyisakan celah cukup untuk seseorang masuk tanpa membangunkannya.

Ia seharusnya takut.

Ia memang takut.

Tetapi rasa hangat dari cangkir merembes ke telapak tangan, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di pulau ini, mata Momo tidak penuh kemarahan.

Momo memeluk selimut sampai buku jarinya memutih.

Ia ingin membenci teh itu. Ia ingin membuangnya, seperti ia membuang semua bukti bahwa Renard bisa melakukan sesuatu yang mirip perhatian. Tetapi tubuhnya menggigil terlalu keras. Giginya beradu, lututnya sakit, dan setiap tarikan napas masih membawa sisa laut.

Pada akhirnya, ia minum.

Teh jahe itu membakar lidah. Hangatnya turun ke dada dengan lambat, membuat mata Momo perih karena alasan yang lebih memalukan daripada garam.

Renard tidak masuk lagi setelah dokter Anthony selesai bicara lewat layar. Ia hanya memberi hukuman dengan suara datar: satu minggu tidak boleh keluar kamar, pintu penghubung tidak akan dikunci dari sisinya, dan setiap penjaga yang gagal malam itu akan dipindahkan. Kata dipindahkan terdengar halus. Momo tidak ingin tahu artinya.

"Jadi sekarang kau bisa mengawasiku bahkan saat tidur," katanya tadi dengan bibir pucat.

Renard, masih basah dari hujan dan laut, hanya menatapnya. "Kalau aku mengawasimu, kau tetap hidup."

"Kalau kau tidak menculikku, aku tidak perlu diselamatkan."

Matanya sempat berubah.

Hanya sesaat.

Lalu ia membungkuk, mengambil ujung selimut yang jatuh dari bahu Momo, dan menariknya kembali menutupi tubuhnya. Gerakannya tidak lembut. Terlalu pasti, terlalu memiliki. Tetapi jari-jarinya tidak menyentuh kulit Momo lebih dari perlu.

Justru batas itu membuat Momo lebih gelisah.

Monster yang tidak tahu batas mudah dibenci.

Monster yang berhenti satu sentimeter dari kulit membuat tubuh bodoh bertanya kenapa.

Sekarang, sendirian di kamar, Momo menatap pintu penghubung yang tidak terkunci. Celah bawahnya memantulkan garis cahaya. Di baliknya ada Renard. Ia tahu tanpa bukti. Seperti tahu badai belum pergi hanya karena angin diam.

Momo berjalan ke pintu itu. Tangannya berhenti di atas gagang.

Ia bisa menguncinya dari sisi dirinya.

Ia harus menguncinya.

Tetapi ingatan tentang tangan Renard yang menarik tubuhnya dari air menempel di kulit seperti garam. Ingatan tentang dadanya yang naik turun saat ia membungkus Momo dengan jas basah. Ingatan tentang suara rendahnya saat berkata, "Buka matamu."

Momo menarik tangan.

"Aku tetap membencimu," bisiknya ke pintu.

Tidak ada jawaban.

Namun di kamar sebelah, lantai kayu berderit pelan, seolah seseorang bergerak setelah lama menahan tubuh.

Momo kembali ke ranjang, meminum teh sampai habis, lalu membenci rasa hangat yang membuatnya hidup.

Subuh datang tanpa benar-benar terang.

Momo setengah tidur ketika mendengar suara pelan dari balik pintu penghubung. Bukan langkah. Bukan gelas. Hanya tarikan napas berat yang ditahan terlalu lama. Ia tahu Renard masih di sana. Ia tidak masuk, tidak bicara, tidak menuntut. Kehadiran itu tetap terasa seperti tangan di tengkuk.

Momo menarik selimut sampai dagu.

Hukuman satu minggu tiba-tiba tidak terasa seperti hukuman paling menakutkan. Yang lebih menakutkan adalah menyadari bahwa pintu terbuka antara kamar mereka bisa terasa seperti ancaman dan penjagaan pada saat yang sama.

Di kamar sebelah, sebuah bayangan duduk diam sampai subuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!