Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Tulisan yang Mengubah Takdir
Tetua Agung Wen masih berdiri di depan pagar bambu.
Di tangannya terdapat gulungan kaligrafi yang kemarin ia beli dari Xu Ming.
Walaupun sudah dibungkus dengan kain khusus...
Ia tetap memperlakukannya dengan sangat hati-hati.
Bagi Xu Ming, itu hanyalah sebuah gulungan kertas.
Namun bagi Tetua Agung Wen...
Itu adalah kesempatan kedua dalam hidupnya.
"Senior."
"Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini."
Tetua Agung Wen membungkuk dalam-dalam.
Xu Ming segera melambaikan tangan.
"Tidak perlu seperti itu."
"Itu hanya kaligrafi."
"Kalau membantu, berarti bagus."
Tetua Agung Wen terdiam.
Kalimat sederhana itu kembali membuat hatinya bergetar.
Hanya kaligrafi...
Jika orang lain mengatakan hal itu, mungkin terdengar sombong.
Namun dari mulut Xu Ming...
Tidak ada sedikit pun kesombongan.
Dia benar-benar berpikir begitu.
Tetua Mu, Tetua Liu, dan Li Qingxue memperhatikan Tetua Agung Wen.
Mereka sudah mendengar cerita tentang kaligrafi itu.
Namun melihat sendiri bagaimana seorang ahli besar datang hanya untuk berterima kasih...
Membuat mereka semakin yakin.
Xu Ming memiliki pengaruh yang tidak mereka pahami.
"Tetua Wen."
Tetua Mu memberi salam.
Tetua Agung Wen tersenyum.
"Tetua Mu."
"Aku tidak menyangka kalian juga berada di sini."
Tetua Liu melihat gulungan di tangan Tetua Agung Wen.
"Apakah itu..."
Tetua Agung Wen mengangguk.
"Ya."
"Kaligrafi Senior Xu."
Mendengar jawabannya, Tetua Liu kembali diam.
Xu Ming memperhatikan mereka.
"Kalian semua kenal?"
Tetua Mu mengangguk.
"Iya, Senior."
"Beliau adalah Tetua Agung Wen, seorang ahli kaligrafi terkenal."
Xu Ming terkejut.
"Oh?"
"Ahli kaligrafi?"
Ia melihat gulungan yang dibawa Tetua Agung Wen.
"Lalu tulisanku kemarin..."
"Apakah benar tidak terlalu buruk?"
Suasana langsung membeku.
Tetua Agung Wen membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Ia tidak tahu bagaimana menjawab.
Tidak buruk?
Kaligrafi itu membuatnya memahami Dao Ketenangan.
Bahkan kemacetan kultivasinya selama puluhan tahun mulai terbuka.
Namun Xu Ming bertanya dengan serius.
"Senior..."
Akhirnya Tetua Agung Wen berkata.
"Tulisan Senior..."
"...sangat indah."
"Tapi aku percaya, bagi Senior sendiri, tulisan itu mungkin memang belum mencapai tingkat yang diinginkan."
Xu Ming tersenyum.
"Nah, benar."
"Masih banyak kekurangan."
Semua orang di halaman hampir kehilangan kata-kata.
Li Qingxue menatap Xu Ming dengan rasa kagum.
Ia mulai memahami satu hal.
Masalah terbesar Senior Xu bukan karena beliau menyembunyikan kekuatannya.
Melainkan...
Beliau benar-benar tidak tahu seberapa tinggi dirinya.
Tidak lama kemudian, Xu Ming membawa teh untuk semua orang.
Kali ini jumlah tamunya lebih banyak.
Tetua Mu.
Tetua Liu.
Li Qingxue.
Tetua Agung Wen.
Semuanya duduk di bawah pohon persik.
Xu Ming menuangkan teh.
Tetua Agung Wen baru saja meminum satu tegukan...
Tubuhnya langsung berhenti.
Aroma teh.
Rasa teh.
Energi yang mengalir perlahan.
Semuanya membuat pikirannya kembali jernih.
"Ini..."
Tetua Agung Wen menatap cangkirnya.
"Apakah ini teh biasa, Senior?"
Xu Ming mengangguk.
"Iya."
"Teh dari kebun belakang."
Tetua Agung Wen menundukkan kepala.
Ia sudah mulai terbiasa.
Namun tetap saja...
Sulit menerima kenyataan bahwa sesuatu yang disebut "biasa" oleh Xu Ming selalu berada di tingkat yang tidak bisa ia bayangkan.
Di saat semua orang menikmati teh...
Xu Ming tiba-tiba bertanya.
"Oh iya."
"Aku ingin bertanya."
Semua orang langsung memperhatikan.
"Ada apa, Senior?"
Xu Ming menunjuk ke arah mereka.
"Kenapa akhir-akhir ini banyak orang datang ke rumahku?"
Pertanyaan sederhana itu membuat semuanya terdiam.
Tetua Mu dan Tetua Liu saling melihat.
Mereka tidak tahu harus menjawab apa.
Karena alasan sebenarnya adalah...
Nama Xu Ming sudah mulai menyebar.
Bukan sebagai pedagang.
Bukan sebagai penduduk desa.
Melainkan sebagai sosok misterius yang bahkan para ahli tidak mampu memahami.
Namun Xu Ming sendiri tidak mengetahui hal itu.
Tetua Mu akhirnya berkata dengan hati-hati.
"Mungkin..."
"Karena banyak orang ingin mengenal Senior."
Xu Ming mengerutkan dahi.
"Mengenalku?"
"Iya."
Xu Ming berpikir sejenak.
Lalu tertawa kecil.
"Aku hanya orang biasa."
Kalimat itu membuat semua orang tersenyum pahit.
Mereka sudah tahu.
Tidak peduli berapa kali Xu Ming mengatakannya...
Mereka tidak akan pernah percaya.
Di kejauhan.
Di balik bukit Desa Qinghe.
Sebuah sosok berjubah hitam berdiri.
Ia mengamati rumah kecil itu.
Di tangannya terdapat laporan terbaru.
"Xu Ming..."
"Pedagang sederhana."
"Ahli kaligrafi."
"Ahli pedang."
"Pemilik rumah penuh harta."
Pria itu menyipitkan mata.
"Semakin banyak informasi..."
"Semakin mustahil orang ini."
Ia mengangkat kepala menatap langit.
"Siapakah sebenarnya dirimu, Xu Ming?"
Sementara di dalam rumah...
Xu Ming sedang berpikir tentang makan malam.
"Besok sepertinya harus membeli lebih banyak tepung."
Dua dunia yang berbeda.
Satu menganggap Xu Ming sebagai misteri terbesar.
Sedangkan Xu Ming hanya memikirkan kebutuhan sehari-hari.
Bersambung...