Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
"Lo masuk duluan, gue mau jemput Nara."
Alvin menutup kaca helm fullfacenya, lalu melajukan motor bahkan sebelum Michelle merespon. Michelle mendesis kesal sambil mengepalkan tinju ke arah Alvin pergi.
"Nyebelin banget sih!"
"Beraninya pas orangnya udah pergi."
Michelle menoleh saat mendengar suara tawa mengejek, keningnya berkerut tidak suka karena merasa ditertawakan, apalagi pelakunya Devis.
"Bukan urusan lo!" judes Michelle, lalu melangkah memasuki gerbang.
Devis menatap punggung Michelle yang menjauhinya, sudut bibirnya tertarik sambil menggeleng, ia segera menyusul cewek itu dan menyejajarkan langkah dengan mudah.
"Lo ngapain sih ngikutin gue terus?!" kesal Michelle.
Devis melirik. "Lo kenapa sih kepedean banget? Orang gue mau ke kelas," jawab Devis santai.
Michelle menyipitkan mata, menatap Devis seolah siap mencakar-cakar wajah cowok itu. Sementara Devis malah menaikkan sebelah alis seolah menantang.
Michelle menghela napas. "Udahlah, masih pagi, nggak mau darah tinggi dulu," ucap Michelle akhirnya, lalu melangkah lemas memasuki gedung sekolah.
Devis tertawa, cowok itu kembali menyejajarkan langkah dengan Michelle, dan kali ini cewek itu tidak peduli.
Desas desus terdengar di sepanjang koridor yang mereka lewati, beberapa kali Devis mendengar namanya, nama Alvin, dan cewek di sampingnya ini disebut, ditambah dengan kata-kata tidak pantas. Hal itu membuatnya geram sendiri.
"Heh, lo mau ke mana?" tanya Michelle sambil menahan tas Devis saat cowok itu hendak berbalik.
"Mau nutup semua mulut di sana," jawab Devis kesal.
Michelle menghela napas. "Tangan lo cuma dua, mana bisa nutup mulut sebanyak itu?" tanyanya malas.
Devis mengerutkan keningnya. "Lo nggak risih gitu diomongin kayak tadi? Emang lo nggak denger mereka bilang apa aja? Mereka ngatain lo, dan lo diem aja?!"
"Terus gue harus apa? Marah? Ngamuk? Mukul mereka semua?" Michelle menggeleng. "Gue cuma punya dua tangan Vis, yang bisa gue lakuin cuma nutup telinga, bukan nutup mulut mereka semua," jawab Michelle yang membuat Devis terdiam.
Devis menatapnya heran. "Bego banget sih jadi cewek, mereka ngatain lo murahan tau nggak?!"
"Tau," sahut Michelle.
"Kenapa lo diem aja, bego?!" umpat Devis yang kelewat kesal dengan sikap santai Michelle.
Michelle menatap Devis dengan sorot yang sulit diartikan. "Sekarang gue tau kenapa lo sama Kak Alvin bisa musuhan," ujar Michelle tiba-tiba, senyum tipis namun menjengkelkan terukir di bibirnya.
"Kak Alvin yang batu dan lo yang mudah marah. Kalian nggak bakal nemu solusi kalau kayak gini, Vis," tambahnya.
Tatapan Devis berubah, jelas sekali ia tidak suka saat Michelle membahas hal ini, cewek itu bahkan tidak tahu apa-apa.
"Maksud lo apa, ha?"
"Nggak ada apa-apa, cuma mau bilang. Masalah kalian nggak akan selesai kalau nggak ada yang mau ngalah turunin ego."
"Jangan sok tau lo!"
Michelle mengedikkan bahu. "Minggir sana, gue mau ke kelas. Jangan ketemu gue kalau masih emosi, entar malah nambah emosi."
Michelle menyingkirkan Devis dari hadapannya, lalu pergi meninggalkan cowok itu di tengah koridor menuju kelasnya. Kedua tangan Devis terkepal, sorot matanya menajam sarat akan kemarahan.
.
.
.
.
"Vis, pacar lo tuh!"
Devis yang semula sibuk mengatur senar gitarnya, mengangkat wajah karena senggolan Azra pada lengannya. Seorang cewek bersurai curly tampak mendekat dengan raut kesal.
"Gue mencium aura nggak baik, Vis," bisik Arga.
"Ini kamu?" tanya cewek itu langsung sambil memamerkan layar ponselnya di depan wajah Devis.
Devis melihat foto yang tertampil di layar ponsel mahal itu, lalu mengangguk santai.
Kirana membulatkan mata. "Terus cewek ini siapa?! Kamu selingkuh?!"
Azra melirik Arga, memberi kode agar segera pergi dari tempat ini. Arga yang mengerti lantas mengangguk, lalu perlahan beranjak dan menjauhi dua sejoli yang sedang meluruskan masalah rumah tangga mereka itu.
"Santai dulu, Na, kalem. Sini duduk dulu, kamu pasti capek jalan dari kelas ke sini," ujar Devis sambil tersenyum.
Kirana sempat tertegun dengan senyuman Devis, tapi kemudian cewek itu kembali sadar. Tatapannya kembali nyalang menusuk mata hitam Devis.
"Kamu itu pacar aku, Vis! Nggak seharusnya kamu jalan sama cewek lain di belakang aku!" tegur Karina, kedua mata cewek itu memerah.
Devis meletakkan gitarnya, lalu beranjak. Sekarang ia berdiri berhadapan dengan Kirana, menatap datar cewek itu.
"Jadi mau lo apa?" tanyanya dengan aksen berbeda, Devis membuat Kirana terkejut karena kembali menggunakan lo-gue.
"Jauhin cewek itu, atau kita putus!"
Devis menaikkan sebelah alisnya. "Fine," jawabnya santai. "Kita putus."
Kedua mata Kirana membulat, ia tidak menyangka kalau jawaban Devis seperti itu. Pertahanannya runtuh, bulir bening mengalir dari mata cewek itu.