Setiap rumah tangga pasti memiliki ujiannya masing-masing. Tergantung kita, apakah bisa menyikapinya dengan baik atau justru semakin memperburuk keadaan.
Rasa cinta Zarina Febrianti diuji saat sang suami mendapatkan masalah. Dia terjebak ke dalam hubungan gelap dengan seorang pria asing yang dikenal melalui media sosial.
Semua hancur ketika Robby, sang suami tahu bahwa anak sang istri bukan berasal dari benihnya. Bagaimana Zarina akan menjalani kehidupan bersama anak hasil perselingkuhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurma Azalia Miftahpoenya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Siaga
Kandungan Zarina kini sudah mulai memasuki usia sembilan bulan. Detik-detik kelahiran anak yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Robby pun semakin dekat. Zarina mulai susah berjalan karena kakinya yang semakin bengkak. Tidurnya pun tidak pernah nyenyak seiring dengan membesarnya perut wanita itu.
Robby benar-benar kasihan melihat kondisi sang istri yang terlihat sangat tersiksa di minggu-minggu terakhir kehamilan. Sebagai suami siaga, dia pun sampai cuti bekerja karena mengkhawatirkan keadaan istrinya yang bisa melahirkan kapan saja.
"Rin, maaf ya. Demi mengandung dan melahirkan keturunanku, kamu jadi susah begini." Robby berkata sambil memijat pelan punggung istrinya.
"Tidak apa-apa, Mas. Anak ini kan memang anakku," jawab Zarina lembut.
"Iya, sih! Kalau saja bisa di alihkan, aku bersedia menggantikan posisi kamu, Rin."
"Ya ampun, Mas! Laki-laki tidak mungkin mengandung apa lagi melahirkan."
"Maksudku rasa sakitnya, Rin. Biar aku saja yang merasakannya," jelas Robby meluruskan ucapannya tadi.
"Kamu bisa saja, Mas!"
Saat keduanya sedang berbincang-bincang ringan, tiba-tiba Zarina mengernyit. Wanita itu menggigit kecil bibir bawahnya saat merasakan perutnya tiba-tiba melilit.
"Kenapa, Rin?" tanya Robby heran saat Zarina memegangi perutnya.
"Aku mules, Mas. Aku mau ke toilet dulu." Zarina langsung turun dari ranjang dan berjalan dengan susah payah menuju toilet.
Robby mengekori di belakang tubuh sang istri. Laki-laki itu sedikit cemas karena Zarina terus-menerus memegangi perut bagian bawah. Wanita tercintanya itu juga mendesis pelan.
"Perlu aku bantu, Sayang?"
"Tidak, Mas. Kamu tunggu di sini saja," tolak Zarina yang langsung masuk ke toilet.
Cukup lama wanita itu berada di dalam toilet. Entah apa yang dilakukan olehnya, Robby pun tidak tahu. Beberapa saat kemudian Zarina keluar dari toilet. Keadaannya masih sama seperti tadi.
"Gimana, Rin?"
"Masih mules, Mas. Sekarang malah makin terasa sakitnya," jawab Zarina jujur.
"Mungkin kamu mau melahirkan, Rin. Kita ke klinik sekarang ya?"
Tanpa berpikir panjang, Zarina mengiyakan ajakan Robby. Mendapat persetujuan dari Zarina, Robby membantu istrinya itu untuk duduk sambil menunggunya mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa ke klinik.
Desisan yang keluar dari bibir Zarina semakin keras terdengar. Wanita itu masih memegangi perut besarnya. Beberapa kali Robby sempat melihat Zarina meremas sprei kasur. Peka dengan rasa sakit yang dirasakan istrinya, Robby mempercepat kegiatannya memasukkan beberapa barang ke dalam tas berukuran besar.
"Ayo, Rin!" ajaknya setelah selesai mempersiapkan keperluan lahiran.
"Ayo!"
Dengan susah payah Zarina berjalan keluar dari kamar dengan bantuan Robby. Suaminya itu begitu sabar memapah dirinya hingga sampai di luar rumah. Mariana yang berada di pekarangan rumah sedang menyiram bunga tergopoh-gopoh menghampiri anaknya yang tengah memapah sang menantu ke tempat di mana motor terparkir.
"Kenapa, Rob?" tanya Mariana khawatir.
"Sepertinya Rina akan melahirkan, Bu. Robby mau bawa dia ke klinik," jawabnya mulai panik.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan! Ibu nanti menyusul."
Robby segera naik ke atas motornya. Sementara itu, Zarina pun ikut naik ke boncengan dengan bantuan ibu mertuanya.
"Doakan semua lancar, Bu," pinta Robby sebelum melajukan motornya.
Dengan mengendarai motornya, Robby membawa sang istri pergi ke klinik. Meskipun sudah kesakitan karena kontraksi yang dirasakan, nyatanya Zarina masih berusaha menahan agar suaminya tidak kesulitan.
"Mas, sakit," desis Zarina dengan pelan.
Wanita yang duduk di belakang itu meremas kaos yang dipakai Robby sebagai pelampiasan rasa sakit. Robby semakin panik saat merasa istrinya semakin kesakitan. Laki-laki itu membiarkan sang istri melakukan apapun asal dapat mengurangi rasa sakitnya, meski Robby tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi.
Tidak tega melihat sang istri semakin kesakitan, Robby mempercepat laju kendaraannya. Hampir lima belas menit mengendarai motor, mereka akhirnya sampai di klinik terdekat. Robby segera membantu sang istri setelah memarkirkan motornya.
Dengan satu tas besar yang digendong olehnya, Robby bersusah payah memapah Zarina yang sudah semakin kesulitan berjalan.
"Mas, rasanya sakit sekali," keluh Zarina yang sesekali menarik napas dalam saat merasakan kontraksi yang amat menyakitkan.
"Iya, sebentar, Rin. Kamu yang kuat, yah!"
"Sus, tolong!" teriak Robby semakin panik ketika melihat Zarina semakin pucat.
Beberapa suster datang mendekat lalu membawa Zarina menggunakan brankar pasien. Para suster membawa Zarina ke ruang persalinan. Robby masih setia mengikuti ke mana pun sang istri di bawa.
"Sus, tolong. Perut saya sakit sekali," keluh Zarina yang semakin tidak karuan.
"Saya periksa dulu ya, Bu."
Petugas kesehatan itu melakukan beberapa pemeriksaan kepada Zarina. Robby terus menggenggam tangan istrinya yang terlihat sangat kesakitan. Wajahnya semakin pucat, keringat dingin membanjiri wajah cantiknya yang polos tanpa make up.
"Pembukaan sudah lengkap, Bu. Sebentar lagi bayinya akan lahir!"
diselingkuhi, istri yang selingkuh bukan nya menyesal dan sujud minta maaf padanya tapi istri seakan tidak merasa bersalah pada Robby dan segampang itu pergi dan tinggal Robby, dan Robby malah dibuat menderita karena berpisah dengan istri jahanamnya, malah Robby yang dibuat mengejar2 dan berjuang merebut cinta istri jahanamnya
kalau hidup author dibuat kayak Robby, adil tidak author rasakan
hor jadi orang harus punya hati juga sedikit jangan mentang author wanita dan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita jadi author seenak buat karakter pria kayak lelaki bodoh dan tidak punya harga diri
ini yang jadi masalah karena ratusan novel yang konfliknya
suami selingkuh
* suami dibuat menderita, menyesal, mengemis minta maaf, berjuang mati2an dapat kesempatan dan mengejar istri yang pergi
*pemseran utama wanita tegas pergi dan tidak mudah memaafkan
*novel hadir lelaki lain yang baik dan berkesempatan besar menggantikan posisi pemeran utama pria (bukti banyak novel pemeran utama pria digantikan PEBINOR)
*semua orang yang peduli pada istri dicap orang baik dan semua orang akan melaknat perbuatan suami
yang jadi masalah dinovel2 (banyak sekali novel). karena berbanding terbaik jika konfliknya pemeran utama wanita (istri) yang selingkuh
*istri hanya menyesal, paling jauh hanya minta maaf dan mudah sekali dimaafkan, tidak dibuat berjuang, tidak dibuat mengemis, tidak dibuat mengejar suami, malah dia yang dia buat pergi tinggalkan suaminya tampa peduli perasaan sakit hati suami, yang paling parah sebagian novel malah membenarkan perselingkuha itu dan satu lagi posisi pemeran utama wanita aman 100%, tidak akan tergantikan
*suami dibuat karakternya bodoh, kayak tidak punya harga diri yang Terima saja dan mudah memaafkan dan malah sang suami dibuat balik berjuang
*lelaki selingkuhan sebagian novel dilaknat tapi ada sebagian novel lelaki ini dispesialkan dan diistimewakan dan akhirnya juga bahagia dan malah ada beberapa novel lelaki tetap berhasil merebut istri orang dan mengantikan posisi pemeran utama pria
beda dari yg lain