Lanjutan dari "Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen"
"Perasaanku sudah mati sejak lama. Tidak ada satu pun di antara kalian yang mampu membuat hatiku kembali bergetar seperti dulu. Berhentilah! Aku tidak akan memilih satu di antara kalian. Jangan perjuangkan sesuatu yang sia-sia!" ~Diandra.
"Aku tidak akan berhenti! Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu kembali! Maafkan aku yang sudah pernah menorehkan luka yang sangat dalam di hatimu! Kamu tidak perlu memberi aku kesempatan, karena aku yang akan berusaha mendapatkan kesempatan itu!" ~Alden.
"Aku tidak akan berhenti! Aku mencintaimu apa adanya. Tapi, aku tidak akan egois. Semua terserah padamu. Aku tau betapa hancurnya hatimu, dan bukanlah hal mudah untuk kembali jatuh cinta setelah sakit yang teramat dalam. Aku ingin menjadi penyembuh hatimu yang luka, tapi itu semua terserah padamu. Siapa pun yang kamu pilih, aku harap kamu akan bahagia nantinya." ~Austin.
"Mau bermain? Bagimana jika kita putar balik alurnya." ~Unknown
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakkan Halus Rara
"Papa!" Kelvin langsung berlari menuju Austin, tanpa basa-basi dia langsung melompat ke pulakan Austin. Sementara Naya, ia hanya berjalan santai menghampiri dua orang dewasa tersebut, kemudian duduk dengan elegan di atas sofa.
"Hai boy! Aduh anak Papa udah gede aja ternyata," ucap Austin, lalu menghujani pipi Kelvin dengan kecupan. Kelvin hanya tertawa dikecup oleh Austin.
"Kau tidak ingin memeluk Papa mu Princess?" tanya Austin dengan lembut. Tapi tetap saja, pandangan Naya tetap datar.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah besar untuk digendong. Lagian, apakah kalian gay? Kenapa berciuman dengan sesama jenis?" tanya Naya dengan menautkan kedua alisnya.
"Astagfhirullah." Austin sontak melepaskan gendongannya. Untungnya Kelvin tidak terjatuh.
"Enggak gitu konsepnya Princess. Apa kamu mau Papa cium juga?" goda Austin dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tunggu aku dewasa nanti, dan Papa harus menikahi aku dulu jika ingin menciumku," jawab Naya dengan tenang.
Uhuk Uhuk
Rara terbatuk mendengar ucapan putrinya. Sementara Austin justru tertawa nyaring mendengar ucapan Naya barusan. Berbeda dengan mereka, Kelvin justru mengelus dagunya, seolah sedang berpikir keras. Hal itu tentu tidak lepas dari pandangan Naya.
"Kenapa kau sepertinya bingung?" tanya Naya sambil menatap abangnya.
"Evin bingung Nay. Mommy tiap hari cium Evin kok, apa Evin udah nikah ya sama Mommy? Soalnya kata orang kalau belum nikah hukumnya haram," jawab Kelvin polos.
Mereka semua yang ada di sana menepuk jidat mendengar jawaban polos Kelvin. Rara hanya mampu mengelus dadanya, sepertinya ia harus lebih banyak bersabar nantinya jika menghadapi Kelvin, karena jika salah sedikit nyawanya mungkin akan melayang, akibat nekad bunuh diri.
"Udah nggak usah banyak mikir! Sekarang kalian siap-siap gih! Kita hari ini akan pergi jalan-jalan ke Mall. Papi yang akan membelanjakan kalian, karena besok pagi kita harus pergi ke Indonesia," ucap Austin, yang langsung diangguki si kembar. Kelvin lalu berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap, sedangkan Naya hanya berjalan biasa saja.
"Kak, kau terlalu memanjakan anak-anak. Kau selalu saja membawa mereka berbelanja. Kau tau sendiri jika mereka sudah berada di Mall, akan banyak sekali mainan yang akan mereka ambil." Rara tentu merasa sedikit tidak nyaman pada Austin yang selalu membawa anak-anaknya pergi ke Mall.
"Tidak masalah Ra. Lagian aku tidak keberatan, karena mereka juga anak-anakku. Hanya ibu mereka saja yang belum memberikan signal hijau untukku," sahut Austin sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kak, tolong jangan membuatku merasa tidak nyaman. Aku menghargai dan mengucapkan terima kasih dengan semua yang sudah kau lakukan dan berikan padaku dan anak-anak. Aku juga menyayangimu. Tapi untuk cinta, aku trauma Kak. Masa laluku sudah membuat hatiku benar-benar mati rasa. Hidupku selalu dibayang-bayangi rasa takut, takut kejadian yang sama akan kembali terulang lagi. Jadi mohon, jangan terlalu berharap padaku, karena mungkin saja hatiku tidak akan pernah terbuka lagi. Di luar sana ada beribu gadis yang lebih baik dariku, dan lebih pantas bersanding denganmu. Jangan kotori hidupmu dengan menikah dengan seorang janda sepertiku," ucap Rara memandang sendu Austin. Austin memang pernah menyatakan cinta pada dirinya, saat si kembar masih kecil. Tapi Rara tetap menolak.
"Aku tidak yakin bisa mendapatkan wanita seperti dirimu di luaran sana. Lagian aku tidak mempermasalahkan perihal statusmu Diandra. Aku mencintaimu tanpa memandang apa pun. Jadi tolong, jangan menyuruh aku untuk berhenti, aku akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan hatimu, dan aku akan selalu menunggumu sampai kamu bisa menerimaku. Bukan karena kasihan, tapi karena cinta!" ucap Austin tersenyum lebar.
"Kak ...."
"Sudah diam. Anak-anak sudah turun," ucap Austin dengan lembut.
"Ya udah ayok Pa, Mom," ucap Kelvin dengan wajah penuh semangat.
Rara merasa sedih, ia tidak tahu mengapa hatinya tidak bisa terbuka kembali, hatinya bahkan tidak bisa bergetar dengan kebaikan Austin, mengapa ia tidak bisa mencintai pria sesempurna Austin? Padahal jika dibandingkan dengan Alden, Austin sepertinya jauh lebih baik. Tapi, kehancuran rumah tangganya membuat ia tidak berani kembali membangun rumah tangga. Dirinya benar-benar merasa trauma.
Mereka lalu pergi ke salah satu Mall besar yang ada di kota tersebut. Sepanjang perjalanan diisi oleh Kelvin yang selalu berbicara dan bercerita. Sementara Naya lebih memilih menutup matanya saja, merasa malas mendengar cerita abangnya yang sama sekali tidak ada faedahnya.
Tak berselang lama mereka akhirnya sampai. Banyak orang yang memandang kagum pada mereka, mengira jika mereka adalah sekeluarga. Bahkan banyak yang terang-terangan mengatakan jika dirinya beruntung bisa menikah dengan laki-laki tampan seperti Austin.
Baik Austin dan Rara sama-sama melemparkan senyum manis manis mereka, membiarkan orang-orang berpikir semau mereka, karena merasa tidak penting jika memberitahukan perihal status mereka yang sebenarnya.
Mereka lalu pergi ke tempat permainan anak. Kelvin dan Kanaya mulai bermain semua permainan yang ada di sana. Meskipun Naya memiliki sifat dingin, tapi ia juga sama seperti anak normal lainnya, yang juga merasa senang jika diajak ke tempat permainan anak-anak.
Puas bermain, Kelvin dan Kanaya lalu kembali berlari menuju Rara yang sedang duduk sambil memperhatii mereka dari tadi.
Tak berselang lama, Austin kembali dengan membawa sekantong ice cream untuk mereka semua.
"Yeay! Papa memang terbalik. Evin jadi makin sayang deh," ucap Kelvin yang melihat banyak sekali ice cream yang dibawa Austin.
"Jangan berbicara seperti itu! Kau terlihat seperti bencong jadinya," ucap Naya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kelvin mengerucuti bibirnya, merasa kesal dengan ucapan saudara kembarnya. Sementara Austin hanya terkekeh, ia justru merasa gemes dengan sikap putrinya.
Austin memberikan ice cream tersebut pada kedua bocah kembar tersebut. Kemudian memberikan pada Rara, dan yang terakhir tentu untuknya.
"Kenapa yang ngaku udah besar masih makan ice cream, ya?" celetuk Rara menyindir putrinya.
"Huh, apakah orang yang sudah besar tidak boleh memakan ice cream Mom? Bagaimana pun aku masih membutuhkan makanan yang manis-manis untuk masa pertumbuhanku. Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau juga memakan ice cream ? Bukankah kau sudah besar? Bahkan sudah tua," jawab Naya dengan tenang.
Rara yang mendengarnya sontak tersedak ice creamnya sendiri. Apakah itu putrinya? Mengapa lidahnya tajam sekali?
Austin menyodorkan tisu dengan senyum yang tak mampu ia sembunyikan. Austin juga benar-benar dibuat bingung, kenapa Kanaya bisa sangat berbeda dengan Kelvin?
"Kak, apa kau yakin dia anakku? Atau anakku sebenarnya ditukar olehmu sewaktu berada di rumah sakit? Bagaimana mungkin lidahnya lebih tajam dariku?" gerutu Rara yang membuat tawa Austin seketika pecah.
"Kenapa Mommy mengatakan ditukar oleh Papa? Seharusnya Mommy menanyakan itu kepada Daddy nanti. Bukankah Daddy yang lebih tau apakah aku ditukar atau tidak? Karena Daddy lah yang menemani Mommy melahirkan, bukan Papa Austin, benar?" Rupanya Naya sangat teliti, pendengarannya sangat cepat menangkap apa yang orang bicarakan.
Sebenarnya Naya tau apa saja yang terjadi di kehidupan ibunya dulu. Naya dengan mudah meretas tentang identitas Rara, dan siapa sangka, di sana ia menemukan situs peninggalan kakek buyutnya, dan ternyata tidak ada satu pun yang bisa membuka situs tersebut, bahkan dia sendiri harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membuka situs itu, karena situs itu sangat susah untuk dibobol. Ada banyak informasi dan cara-cara yang dijelaskan kakek buyutnya untuk orang yang bisa membobol situs itu, yang kakek buyutnya yakini adalah salah satu keturunannya nanti.
Naya juga tau jika sebenarnya Daddy-nya tidak ada saat Mommy-nya melahirkan dirinya dan Kelvin. Naya tau itu dari pesan yang ia pulihkan dengan mudah, bahkan banyak lagi informasi yang ia dapatkan. Saat Mommy-nya berada di taman dengan hujan yang sangat deras, di rumah yang sedang menangis, bahkan di rumah sakit saat papa Austin menggendong dan membawa Mommy-nya ke sebuah ruangan. Semua itu Naya dapatkan dari CCTV yang ada di sekitar. Naya hanya tau sampai situ saja, karena ruangan di mana ibunya melakukan persalinan tidak ada CCTV-nya.
Meski pun rekaman CCTV itu sudah sangat lama, bahkan sudah dihapus oleh pemiliknya, tapi Naya dengan mudah memulihkan rekaman CCTV tersebut. Cara itu ia dapatkan dari situs kakek buyutnya.
Jujur saja Kanaya merasa benci pada ayah kandungnya. Dirinya sudah ingin sekali membalas dendam pada laki-laki yang sudah berani menorehkan luka di hati mommy-nya.
Rara hanya diam mendengar pertanyaan putrinya. Tidak mungkin dirinya mengatakan jika Alden tidak ada saat itu.
Austin yang menyadari jika suasana menjadi canggung langsung mengajak Kelvin dan Naya untuk bermain kembali.
'Tenanglah Mom, aku sangat menyayangimu. Jadi, tidak akan kubiarkan satu orang pun yang melukai hatimu kembali. Jika itu terjadi, akan ku pastikan mereka mendapat hukuman yang setimpal! Sekali pun itu adalah Daddy!' batin Naya sambil tersenyum tipis.
Austin kembali duduk di sebelah Rara, sambil memperhatikan si kembar bermain.
"Kenapa kamu melamun dari tadi? Apa kamu tidak senang kita jalan-jalan?" tanya Austin memecah keheningan.
"Tidak! Aku sangat bahagia kok Kak. Aku hanya kepikiran besok. Entah kenapa aku merasa takut untuk kembali," jawab Rara.
"Kenapa kamu tidak menyuruh orang kepercayaanmu saja untuk mengurus masalah perusahaan?" tanya Austin heran.
"Karena aku merasa justru mereka lah biang keroknya," jawab Rara kesal.
Austin mengangguk paham, lalu tangannya menggenggam erat tangan Rara. "Tenanglah! Aku akan selalu ada untukmu," ucap Austin mantap.
"Terima kasih Kak, kau selalu ada untukku. Aku merasa bahagia mempunyai Kakak yang selalu melindungiku," ucap Rara terharu.
"Apakah aku tidak punya kesempatan untuk lebih, Ra? Aku benar-benar sangat mencintaimu." Austin semakin mengeratkan genggamannya sambil menatap mata wanita itu.
"Kak ...."
"Baiklah, aku tidak memaksa. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu. Tidak ada kata menyerah selagi kamu bukan milik siapa pun."
"Ayo sekarang kita pulang. Besok kita harus segara kembali ke Indonesia," ucap Austin lembut.
"Baiklah."
Mereka berempat lalu pulang.
.
.
.
.
Bukan berarti Austin nggak ada kesempatan buat dapatin Rara yaa ><
Ada yang nanya, kenapa Twins K manggil Alden dengan panggilan Daddy? Kenapa nggak paman atau Om? Sebenarnya Rara belum cerita perihal dirinya yang sudah cerai dengan Alden, dia hanya bilang kalau Alden lagi kerja. Rara cuman cerita perihal siapa Austin yang sebenarnya.
Itu semua karena Rara nggak mau nyakitin hati anak-anaknya. Tapi, sebentar lagi akan Rara ceritain kok, pas udah di Indonesia :)
bs kalii dipakai disesuaikan dgn bahasa anak2 seusianya/Grin/