Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Perlindungan yang Tak Disadari
Seminggu berlalu sejak makan malam keluarga itu. Perlahan, Laras mulai menemukan ritme kehidupannya sendiri di kediaman Pratama. Ia tidak hanya duduk diam menunggu waktu berlalu. Setiap pagi, setelah Arga berangkat ke kantor, ia menghabiskan waktunya membantu Bu Rina memeriksa kebutuhan rumah, membaca buku-buku di perpustakaan besar yang jarang disentuh orang, atau sekadar berjalan-jalan di taman belakang yang luas dan rindang.
Bu Rina sendiri lambat laun mulai melunak hatinya. Awalnya ia khawatir Nyonya muda ini akan manja, rewel, atau merasa paling berkuasa. Namun sikap Laras yang sopan, rendah hati, dan tidak pernah memandang rendah pekerjaan orang lain membuat wanita tua itu mulai menyayanginya seperti anak sendiri.
“Nyonya, sebaiknya jangan terlalu sering bekerja sendiri. Tugas kami sudah cukup untuk mengurus semuanya,” ucap Bu Rina suatu sore saat melihat Laras sedang menyiram bunga di taman.
Laras tersenyum lembut, tangan tetap memegang selang air. “Tidak apa-apa, Bu Rina. Melakukan hal seperti ini justru membuatku merasa tidak terasing di rumah yang begitu besar ini. Rasanya lebih hidup. Terima kasih sudah mengingatkanku.”
Bu Rina mengangguk haru, matanya menatap penuh arti. “Anda wanita yang luar biasa, Nyonya. Semoga Tuhan melunakkan hati Tuan Arga. Sebenarnya dia bukan orang jahat… hanya saja luka masa lalunya membuat dia membentengi hatinya setebal ini.”
Laras berhenti sejenak, menoleh penasaran. “Luka masa lalu? Maksud Ibu?”
Bu Rina terdiam seketika, seolah menyadari telah bicara terlalu jauh. Ia menggeleng pelan. “Maafkan saya, Nyonya. Itu bukan rahasia yang pantas saya sebarkan. Suatu hari nanti, jika Tuan Arga mengizinkan, dia sendiri yang akan menceritakannya. Yang penting Nyonya tahu, dibalik sikap dinginnya, dia tetap memiliki rasa tanggung jawab yang sangat besar.”
Laras hanya mengangguk paham, tidak memaksa. Ia menghargai kepercayaan itu meski rasa penasarannya sedikit tergugah. Hari ini pun berjalan seperti biasa, hingga sore menjelang malam membawa kejadian yang tidak terduga.
Laras menerima telepon dari kampus tempat ia sempat mengenyam pendidikan sebelum menikah. Mereka memberitahu bahwa ijazah sementara dan berkas administrasi lainnya sudah bisa diambil. Mendengar kabar itu, hatinya berbunga senang. Mendapatkan ijazah adalah salah satu mimpinya, bukti bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia.
Ia memberanikan diri menghubungi Arga lewat pesan singkat—karena menelpon terasa terlalu mengganggu. Bahasanya dipilih sehati-hati mungkin: “Permisi, Arga. Maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, bolehkah saya keluar sebentar sore ini untuk mengambil berkas penting di kampus? Saya akan kembali sebelum malam tiba.”
Laras menunggu balasan dengan jantung berdebar. Butuh waktu hampir satu jam hingga pesan masuk: “Boleh. Tapi jangan pergi sendirian. Sopir akan mengantarkan dan menunggu. Jangan mampir ke tempat lain tanpa izin.”
Membaca jawaban itu, Laras tersenyum lega sekaligus sedikit kesal dengan nada perintahnya. Namun setidaknya Arga mengizinkannya. Ia segera bersiap, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, lalu berangkat ditemani Pak Darto, sopir keluarga yang sudah dipercaya bertahun-tahun.
Sesampainya di kampus, suasananya terasa sangat akrab. Melihat gedung dan teman-teman lama membuat Laras merasa kembali ke masa lalu yang sederhana namun bebas. Ia menyelesaikan urusannya dengan cepat, lalu berdiri mengobrol sejenak dengan dua orang teman dekatnya.
Namun kebahagiaannya terganggu ketika tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria muda turun dengan sikap sombong dan senyum meremehkan. Itu adalah Raka, putra dari mitra bisnis keluarga Pratama yang sering mendengar namanya.
“Wah, benar saja dengarannya. Ternyata benar kamu yang menjadi istri Arga Pratama?” sapa Raka mendekat, pandangannya menelanjangi tubuh Laras dengan tatapan tidak sopan. “Saya penasaran sekali apa kelebihanmu sampai bisa memikat pria sedingin itu. Mungkin dia hanya bosan dan menjadikanmu mainan sementara saja, bukan?”
Perkataan itu membuat kedua teman Laras marah dan hendak membalas, tapi Laras menahan mereka dengan tenang. Ia menatap lurus ke mata Raka, tidak gentar sedikit pun.
“Silakan berpikir apa pun yang kau mau. Tapi ingat, sekarang aku adalah Nyonya Pratama. Menghinaku sama saja meremehkan posisimu sendiri sebagai mitra bisnis suamiku. Aku harap kau tahu batasan sopan santun,” jawab Laras tegas namun tenang.
Raka tertawa sinis, semakin mendekat mencoba menyentuh dagu Laras. “Wah, berani juga bicara. Tapi di mataku, kau tetap gadis biasa yang dijual demi melunasi utang. Cobalah saja bersikap baik padaku, mungkin aku bisa memberimu kebahagiaan yang tidak bisa diberikan Arga Pratama yang tak punya hati itu.”
Belum jarinya sempat menyentuh kulit Laras, sebuah genggaman kuat seperti besi mencengkeram pergelangan tangan Raka dari belakang.
“Beraninya kau menyentuh istriku dan bicara kotor di depannya?”
Suara itu dingin, berat, dan mengandung amarah yang tertahan namun cukup membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Semua orang menoleh terkejut. Di sana berdiri Arga Pratama sendiri. Wajahnya pucat dingin, matanya menyala tajam menatap Raka seolah sedang melihat serangga menjijikkan.
Raka terkejut luar biasa, wajahnya memucat ketakutan. “T-Tuan Arga… saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya bercanda saja…”
“Bercanda?” Arga memutar pergelangan tangan itu sedikit saja hingga Raka meringis kesakitan. “Ingat baik-baik. Di dunia ini, satu-satunya orang yang berhak berbicara soal posisinya, memperlakukannya, atau bahkan mencampuri hidupnya hanyalah aku sendiri. Jika aku mendengar satu kata buruk lagi keluar dari mulutmu tentang dia, percayalah… tidak hanya karirmu yang hancur, tapi seluruh nama baik keluargamu akan kubawa jatuh bersamamu. Mengerti?”
“Iya… iya! Saya mengerti, maafkan saya!” Raka segera melepaskan diri saat Arga mendorongnya kasar, lalu berlari masuk ke mobilnya dan pergi dengan tergesa-gesa.
Suasana kembali hening. Kedua teman Laras hanya bisa terpaku melihat sosok Arga yang mengeluarkan aura kekuasaan luar biasa itu. Laras sendiri berdiri kaku, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa terkejut yang luar biasa. Ia tidak menyangka Arga akan datang, apalagi membela dirinya dengan amarah sedemikian rupa.
Arga segera memutar tubuhnya menghadap Laras. Tatapannya langsung menyapu seluruh tubuhnya dari atas ke bawah, memeriksa apakah ada luka atau rasa takut di matanya. Saat melihatnya aman, ketegangan di bahunya perlahan mengendur, meski wajahnya tetap datar.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, nadanya sedikit lebih lembut dari biasanya meski terdengar kaku.
“Aku… aku baik-baik saja. Terima kasih, Arga. Tapi kenapa kau ada di sini?” tanya Laras perlahan, matanya menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Kebetulan lewat jalan ini untuk urusan rapat,” jawab Arga singkat, menghindari tatapan matanya seolah mencari alasan paling masuk akal. Padahal jujur saja dalam hatinya, begitu ia menerima laporan dari Pak Darto bahwa Laras sudah sampai kampus, perasaannya tiba-tiba gelisah tidak menentu. Ia memutuskan membatalkan rapat dan menyusul hanya untuk memastikan semuanya aman—sesuatu yang belum pernah ia lakukan untuk siapa pun sebelumnya.
Arga melirik sekilas ke arah teman-teman Laras, lalu kembali menatapnya. “Sudah selesai urusannya? Kalau sudah, kita pulang.”
Laras mengangguk, berpamitan pada teman-temannya dengan senyum lega. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, suasana terasa hangat namun juga canggung. Keheningan pecah saat Laras memberanikan diri bicara.
“Arga… tadi… terima kasih banyak. Kalau kau tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan perkataanmu tadi…” Laras terdiam sebentar, menatap wajah profilnya yang tampan. “Kau bilang aku istriku… dan melindungiku seolah itu hal yang paling penting.”
Arga menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam kuat di atas pahanya. Ia tidak mau mengakui bahwa hatinya berdebar saat melihat tangan Raka hendak menyentuhnya. Rasanya amarah meledak melebihi logika bisnis apa pun.
“Sudah kubilang, bukan?” jawabnya dengan nada berusaha tetap dingin. “Meremehkanmu sama saja meremehkan nama Pratama. Aku tidak membiarkan orang lain menghina milikku—apa pun itu, termasuk kesepakatan yang sudah kutandatangani. Kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Itu saja alasannya.”
Namun kali ini, jawaban dingin itu tidak lagi terasa menusuk hati Laras seperti biasanya. Ia bisa merasakan di balik alasan itu, ada rasa perhatian yang tersembunyi meski diselimuti logika.
“Baiklah,” jawabnya pelan sambil tersenyum tipis. “Kalau begitu… terima kasih sudah melindungi ‘milikmu’ itu.”
Senyuman lembut itu melintas di wajah Laras, menerpa pandangan Arga. Seketika napas Arga tercekat sejenak. Cahaya matahari sore yang masuk lewat kaca jendela menerpa wajah Laras, membuatnya terlihat bersinar alami. Jantung Arga berdegup lebih cepat dari biasanya—rasa asing yang membuatnya gelisah namun juga tidak ingin menghilang.
Ia segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk melihat jalan, berusaha keras mengabaikan getaran aneh yang mulai muncul di dadanya. Ini hanya efek sesaat saja, bisik hatinya. Ini tetap hanya kesepakatan. Jangan biarkan perasaan bodoh ini tumbuh.
Namun takdir tidak pernah peduli pada kesepakatan kertas. Sejak hari itu, sesuatu perlahan berubah di antara mereka. Arga mulai sadar, melihat Laras terluka atau dihina membuat hatinya terasa lebih sakit daripada kerugian bisnis terbesar sekalipun. Dan Laras mulai menyadari, di balik benteng es itu, ada kehangatan yang perlahan mulai menyelinap masuk ke dalam kehidupannya yang hampa.
Malam itu, di kediaman megah itu, tidur keduanya terasa lebih nyenyak dari malam-malam sebelumnya. Sebuah benih kepercayaan dan rasa aman telah tertanam, meski belum berani disebut cinta.