Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Informasi di Balik Angin Malam
Pagi hari setelah kejadian menegangkan di lorong gelap itu, Kota Metropolitan tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang hampir merenggut nyawa seseorang.
Namun bagi Kirana, dunia telah berubah warna. Bayangan sepasang mata hitam yang dingin milik Tuan Muda misterius itu terus berputar-putar di kepalanya, bahkan saat ia sedang sibuk membersihkan sisa-sisa debu di teras kosannya yang sempit.
"Kirana! Kamu melamun lagi?" suara cempreng dari Bu Ratna, pemilik kos yang bertubuh tambun, membuyarkan lamunan gadis itu.
Kirana tersenyum riang, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja lolos dari bahaya besar tadi malam. "Ah, tidak kok, Bu. Hanya sedang memikirkan betapa cerahnya hari ini, secerah wajah Ibu kalau uang kosan saya bayar tepat waktu nanti," candanya dengan nada manja yang khas.
Bu Ratna hanya bisa geleng-geleng kepala. Di antara puluhan anak kos yang menyewa kamarnya, Kirana adalah yang paling miskin, namun entah mengapa, gadis itu juga yang paling menyenangkan untuk diajak mengobrol. Sifatnya yang ceria dan pintar mengambil hati orang tua membuat Bu Ratna seringkali memberikan kelonggaran jika Kirana terlambat membayar sewa beberapa hari.
"Kamu ini ya, mulutnya manis sekali. Oh ya, omong-omong, tadi malam di dekat gudang tua ada keributan besar. Katanya ada sekelompok preman pasar yang dihajar sampai masuk rumah sakit oleh orang-orang berpakaian jas hitam. Kamu tahu sesuatu? Bukankah kamu lewat jalan sana semalam?" tanya Bu Ratna dengan rasa ingin tahu yang tinggi, khas ibu-ibu kompleks.
Kirana menghentikan sapuannya sebentar, matanya berkedip pintar. "Benarkah, Bu? Wah, syukurlah kalau begitu. Preman-preman itu memang sering mengganggu. Mungkin mereka kena batunya karena mengganggu orang yang salah." Kirana sengaja menyembunyikan keterlibatan dirinya. Ia tahu, dalam lingkungan seperti ini, semakin sedikit orang tahu tentang masalahmu, semakin aman hidupmu.
Namun, rasa penasaran Kirana sendiri sudah berada di ambang batas. Siapa sebenarnya pria itu? Mengapa anak buahnya membawa senjata api militer di tengah kota seolah hukum tidak berlaku bagi mereka?
Sore harinya, setelah menyelesaikan pekerjaan serabutan mengantar koran, Kirana menyempatkan diri singgah di sebuah warung kopi kecil di dekat kawasan pelabuhan lama.
Tempat ini terkenal sebagai tempat berkumpulnya para sopir truk, buruh pelabuhan, dan beberapa orang yang memiliki koneksi dengan dunia jalanan. Dengan kecerdasannya, Kirana tahu bahwa informasi terbaik tentang "dunia hitam" kota ini tidak akan ditemukan di berita televisi, melainkan di tempat-tempat pengap seperti ini.
Kirana memesan secangkir kopi hitam dan duduk di sudut, berpura-pura membaca koran bekas sambil menajamkan pendengarannya. Di meja sebelah, dua orang pria paruh baya bertato sedang asyik menenggak minuman keras sambil berbisik-bisik tegang.
"Aku katakan padamu, itu pasti ulah orang-orang dari Keluarga Arseto," ujar salah satu pria yang mengenakan jaket jins belel. "Hanya mereka yang berani meletupkan senjata di wilayah barat tanpa ada polisi yang berani datang."
"Keluarga Arseto? Maksudmu, keluarga konglomerat yang punya gedung pencakar langit di pusat kota itu?" tanya temannya dengan suara rendah.
"Siapa lagi? Di kota ini, mereka menguasai jalur bisnis legal dari hulu ke hilir. Perhotelan, perbankan, pelayaran... semua ada di tangan mereka. Tapi di balik itu, semua orang di dunia bawah tahu kalau mereka adalah penguasa tertinggi perputaran uang hitam. Seluruh gangster dan mafia lokal harus bertekuk lutut di hadapan mereka. Dan kudengar, putra mahkota mereka, Tuan Muda Adrian Arseto, baru saja kembali dari luar negeri untuk mengambil alih kendali operasi."
Kirana menahan napasnya. Adrian Arseto. Nama itu bergaung indah sekaligus mengerikan di dalam benaknya.
Pria berjaket jins itu melanjutkan dengan sisa ketakutan yang jelas di wajahnya. "Hati-hati kalau menyebut namanya. Adrian itu terkenal sebagai iblis berwajah malaikat. Dia sangat cerdas dan tegas dalam bisnis, tapi kalau ada musuh atau pengkhianat yang tertangkap... dia sendiri yang akan turun ke ruang bawah tanah kediamannya untuk menyiksa mereka sampai memohon untuk mati. Dia kejam, dingin, dan tidak punya belas kasihan."
Mendengar cerita mengerikan itu, bukannya merasa ngeri atau menjauh, jantung Kirana justru berdetak lebih cepat. Rasa obsesi yang aneh itu semakin mencengkeram dirinya. Seorang pria yang menguasai dunia hitam dan putih, seorang penguasa yang kejam namun telah menyelamatkan hidupnya dari kegelapan lorong itu.
"Adrian... nama yang bagus untuk seorang iblis," gumam Kirana dengan senyum kecil yang misterius. Sifat nakalnya berbisik bahwa pria sedingin itu pasti akan sangat menarik jika digoda.
Hari berganti hari, alur kehidupan Kirana berjalan perlahan dari minggu ke minggu tanpa ada lompatan waktu yang berarti. Ia terus bertahan hidup di kota besar ini dengan bekerja keras, namun kini ia memiliki satu tujuan baru yang tersembunyi di dalam hatinya: menemukan jalan untuk bisa mendekati sang Tuan Muda.
Dua bulan setelah kejadian malam itu, kesempatan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang dari arah yang sama sekali tidak terduga.
Saat itu, Kirana sedang membaca kolom lowongan pekerjaan di sebuah surat kabar harian di perpustakaan umum kota—tempat gratis yang sering ia kunjungi untuk menghemat uang sekaligus menambah pengetahuannya. Matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah pengumuman kecil di sudut halaman belakang.
LOWONGAN PEKERJAAN
Dibutuhkan segera: Pelayan Domestik Khusus (Housekeeping) untuk kediaman pribadi di kawasan elit Bukit Permai.
Kriteria:
Wanita, usia 20-25 tahun.
Cerdas, berpenampilan rapi dan bersih, memiliki ketahanan mental yang kuat.
Bersedia tinggal di dalam kediaman dan mematuhi aturan kerahasiaan tingkat tinggi.
Proses seleksi ketat melalui beberapa tahapan ujian tertulis dan wawancara fisik.
Kawasan Bukit Permai adalah kawasan paling elit di kota itu, tempat di mana rumah-rumah bak istana berdiri tersembunyi di balik dinding-dinding beton yang tinggi. Dan yang membuat dada Kirana bergemuruh adalah alamat kontak yang tertera di bawahnya tertulis di bawah nama sebuah yayasan penyalur yang teraudit langsung oleh Arseto Group.
"Ini dia," bisik Kirana, matanya berbinar penuh tekad.
Ia tahu pekerjaan ini tidak akan mudah. Kata-kata "ketahanan mental yang kuat" dan "kerahasiaan tingkat tinggi" adalah kode jelas bahwa tempat itu bukanlah rumah orang kaya biasa. Itu adalah kediaman utama milik keluarga penguasa dunia bawah. Dan pria kejam itu, Adrian Arseto, kemungkinan besar berada di sana.
Kirana segera merapikan pakaiannya, mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi proses perekrutan yang ia tahu akan sangat lama dan melelahkan. Baginya, ini bukan sekadar tentang merubah nasib hidupnya dari seorang gadis yatim piatu miskin menjadi pekerja di rumah mewah. Ini adalah langkah pertamanya untuk masuk ke dalam sangkar emas milik sang iblis dingin yang telah mencuri seluruh perhatiannya.