Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
Sensor inframerah pada kamera tersebut menangkap tanda panas tubuh manusia di dalam minibus hitam dengan presisi koordinat yang sangat akurat, merekam balik seluruh aktivitas pengintaian kotor tersebut tanpa disadari sedikit pun oleh sang fotografer bayaran dari balik rimbunnya dedaunan pohon mahoni yang basah.
Kepala tim keamanan, Pak Beni, segera mengirimkan rekaman termal tersebut langsung ke tablet kerja milik Nadine Lavena.
Nadine yang sedang menikmati sarapan bubur oat instan di meja makan sayap barat, segera menghentikan gerakan sendoknya saat mendengar bunyi notifikasi khusus.
@Laporan keamanan eksternal: Terdeteksi aktivitas pengintaian aktif di perimeter belakang menggunakan lensa telekamera jarak jauh.@
Seketika itu juga, otak kalkulatif Nadine langsung menghitung potensi kerugian finansial jika foto-foto kamar terpisah itu sampai bocor ke publik.
(Jika saham Ernest Group anjlok sepuluh persen karena skandal ini, nilai opsi saham yang dijanjikan Kyle padaku di akhir tahun akan menyusut hingga tiga puluh miliar rupiah.)
Nadine sama sekali tidak memikirkan masalah reputasi pernikahan atau perasaannya, melainkan murni tentang angka-angka digital di rekening pribadinya yang terancam berkurang.
Ia segera bangkit berdiri, lalu melangkah cepat menuju sayap timur rumah tanpa peduli bahwa dirinya masih mengenakan piyama satin tipis yang longgar.
Langkah kaki Nadine yang terburu-buru itu membawanya langsung ke depan pintu ruang kerja Kyle yang setengah terbuka.
Kyle sedang duduk di balik meja kerja mahoni besarnya, menatap tumpukan dokumen laporan keuangan bulanan dengan wajah sekaku patung es.
Nadine langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu, menunjukkan sifat cerobohnya yang kerap mengabaikan tata krama formal jika menyangkut urusan uang.
"Tuan Ernest, kita menghadapi situasi darurat yang berpotensi memotong nilai investasi saya sebesar tiga puluh persen."
Kyle mendongak perlahan, menatap Nadine dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan cuek namun menyembunyikan kilat posesif saat melihat piyama satin istrinya yang sedikit tersingkap di bagian bahu.
(Wanita ini, apakah dia tidak sadar sedang memakai pakaian sekurang ini di depan seorang pria dewasa?)
Namun, Kyle tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang sedingin es, sengaja bersikap tidak peduli untuk memancing reaksi Nadine.
"Ketuk pintu terlebih dahulu, Nona Lavena, kecuali Anda memang sengaja ingin memamerkan piyama satin murah Anda itu di hadapan saya."
Nadine mendengus kesal, sama sekali tidak merasa malu atau tersinggung karena baginya, pakaian hanyalah penutup tubuh fungsional yang tidak memengaruhi logika bisnisnya.
"Fokus pada layar ini, Pak Kyle, jangan mengalihkan pembicaraan dengan urusan tekstil piyama."
Nadine melangkah mendekati kursi kerja Kyle, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah meja untuk menunjukkan layar tabletnya secara langsung.
Karena gerakannya yang terburu-buru dan ceroboh, kaki Nadine tidak sengaja tersangkut pada ujung karpet tebal yang berlipat di dekat meja kerja.
Tubuh Nadine limbung ke depan, kehilangan keseimbangan dengan sangat tiba-tiba.
Kyle yang memang memiliki refleks sangat cepat, segera mengulurkan kedua tangan kokohnya untuk menangkap tubuh wanita yang selalu menantangnya itu.
Bukannya menahan bahu Nadine, tangan licik Kyle justru sengaja diarahkan untuk melingkari pinggang ramping Nadine dengan sangat erat, menarik tubuh wanita itu hingga jatuh tepat di atas pangkuannya.
Nadine terduduk di atas paha kokoh Kyle, merasakan kehangatan tubuh pria itu yang mendadak mengalir menembus kain piyama tipisnya.
Wajah mereka kini berada dalam jarak yang sangat dekat, hingga Nadine bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di dalam manik mata kelabu Kyle yang sedingin es namun berkilat jahil.
(Sial, situasi ini sama sekali tidak menguntungkan bagi posisi tawar-menawar hukumku.)
Nadine mencoba bangkit berdiri dengan segera, namun cengkeraman tangan Kyle di pinggangnya justru semakin mengencang, mengunci posisinya dengan sangat posesif.
"Lepaskan saya, Tuan Ernest, ini adalah pelanggaran fisik kedua dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam."
Kyle menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman smirk licik yang sangat tipis dan menyebalkan.
"Anda yang datang menerobos masuk dan menjatuhkan diri ke pangkuan saya, Nona Nadine, jadi ini murni kecerobohan Anda yang harus dibayar dengan denda kenyamanan."
"Saya tidak suka ditantang dalam urusan hukum kontrak, Pak Kyle, silakan lepaskan tangan Anda sekarang juga sebelum saya menaikkan tarif konsultasi saya dua kali lipat."
Meskipun Nadine berkata dengan nada tegas dan keras kepala, wajahnya yang mulai memerah tidak bisa menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyerang sistem pertahanannya.
Kyle yang menyadari ketidaknyamanan Nadine justru merasa sangat puas, menikmati kesempatan dalam kesempitan ini untuk mencuri keintiman yang jarang bisa ia dapatkan dari istrinya yang sekaku robot pembayar pajak.
"Tarif konsultasi Anda bisa dibicarakan nanti, tapi untuk sekarang, mari kita bahas isi laporan keamanan ini dalam posisi yang efisien seperti ini."
"Sama sekali tidak efisien, posisi ini justru meningkatkan risiko distorsi fokus kognitif saya akibat kedekatan fisik yang tidak higienis."
Kyle mendengus geli mendengar istilah medis fiktif yang diciptakan Nadine hanya untuk menutupi rasa gugupnya yang mulai kentara.
||||
Kyle perlahan melonggarkan pelukannya, namun tidak membiarkan Nadine pergi terlalu jauh dengan tetap memegangi pergelangan tangan wanita itu dengan lembut.
(Sungguh keras kepala, bahkan dalam posisi terdesak pun dia masih sempat mengkhawatirkan higienitas kognitif.)
Sifat tsundere Kyle kembali mengambil alih, membuatnya langsung memasang wajah datar seolah-olah tidak ada hal manis yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Lihat ke layar, seseorang sedang mengintai dari luar pagar belakang menggunakan lensa tele."
Nadine yang akhirnya bisa berdiri tegak segera merapikan piyamanya dengan gerakan kasar, mengabaikan debaran aneh di dadanya demi fokus pada gambar di tablet.
"Kinara dan Heyden, mereka pasti menyewa fotografer itu untuk membuktikan bahwa kita tidur terpisah."
"Dua parasit itu benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah dari urusan rumah tangga orang lain."
Kyle berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah luar, membiarkan aura dinginnya kembali mendominasi ruangan.
"Mereka ingin bukti bahwa kita tidak harmonis? Kalau begitu, mari kita beri mereka pertunjukan visual yang paling meyakinkan."
Nadine mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna maksud dari ucapan Kyle yang terdengar sangat mencurigakan.
"Maksud Anda pertunjukan visual?"
"Fotografer itu berada di seberang jalan, memantau jendela lantai dua ini dengan lensa jarak jauh."
Kyle berbalik, lalu melangkah mendekati Nadine kembali dengan langkah yang lambat namun penuh tekanan intimidasi yang aneh.
"Kita akan berpura-pura melakukan interaksi intim di depan jendela ini, agar kamera mereka menangkap apa yang ingin mereka lihat, namun dengan narasi yang berbalik seratus delapan puluh derajat."
Nadine langsung menolak ide tersebut dengan tegas, merasa bahwa ini adalah taktik licik Kyle untuk memanfaatkan situasi agar bisa menyentuhnya lagi.
"Tidak perlu drama fisik, saya bisa menyuruh tim siber ayah saya untuk meretas kamera mereka atau memanggil polisi dengan tuduhan pelanggaran privasi."
"Itu terlalu lambat dan akan menimbulkan kecurigaan publik, Nadine, cara terbaik adalah menghancurkan motif mereka sejak awal dengan gambar kemesraan yang tidak terbantahkan."
Kyle melirik Nadine dengan tatapan meremehkan yang sengaja ia buat-buat untuk memicu sifat keras kepala istrinya yang tidak suka diremehkan.
"Atau, apakah Nona Nadine yang pemberani ini sebenarnya takut tidak bisa menahan pesona fisik saya jika kita terlalu dekat?"
Seketika itu juga, harga diri Nadine yang setinggi langit langsung terusik hebat mendengar tantangan verbal dari pria menyebalkan di hadapannya.
"Takut? Di dalam kamus hidup saya, kata takut hanya digunakan untuk menggambarkan situasi kebangkrutan massal, bukan untuk menghadapi pria kaku seperti Anda."
"Kalau begitu, buktikan ucapan Anda, Nona Lavena."
Kyle tersenyum culas di dalam hatinya, menyadari bahwa umpan jailnya sekali lagi berhasil membuat Nadine masuk ke dalam perangkap yang sudah ia siapkan dengan sangat rapi.
Penulis rasa, Nadine memang sangat cerdas dalam urusan angka, tetapi jika dihadapkan pada kelicikan tingkat tinggi dari seekor rubah es seperti Kyle, dia benar-benar tampak seperti domba polos yang dengan sukarela berjalan masuk ke kandang serigala.