⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 6
Dua hari berlalu.
Bagi murid-murid SMA Seiran, dua hari hanyalah dua hari. Tapi bagi Lucy, dua hari adalah waktu yang cukup untuk mengukir namanya di benak seseorang.
Setiap pagi, Ren Arisugawa kini menyapanya. Bukan sapaan hangat tentu saja bukan. Hanya anggukan kecil. Atau kadang, "Pagi," yang diucapkan dengan nada datar sambil berlalu. Tapi bagi seseorang yang sebelumnya bahkan tidak menyadari keberadaannya, itu adalah lompatan besar.
Dan setiap sore, saat Lucy selesai latihan klub musik dan Ren selesai rapat OSIS, mereka sering bertemu di koridor. Kadang mereka berjalan bersama menuju gerbang tidak berdampingan, tapi cukup dekat. Kadang Ren bertanya hal-hal kecil: "Latihanmu bagaimana?" atau "Kakimu sudah baikan?" Dan Lucy akan menjawab dengan suara pelan, pipi memerah, mata menunduk.
Akting yang sempurna.
"Kau benar-benar menikmati ini," komentar Lili suatu malam saat Lucy sedang mengaplikasikan sesuatu ke wajahnya.
Mereka ada di apartemen Lucy. Sang Dewi Rubah duduk di depan cermin, sebuah toples kecil di tangannya berisi krim putih mutiara yang berkilau samar bukan produk perawatan manusia, melainkan ramuan dari kastilnya sendiri.
"Aku tidak percaya perawatan manusia," kata Lucy, mengoleskan krim itu ke pipinya. "Terlalu banyak bahan kimia. Terlalu lambat hasilnya. Ini lebih aman." Dia menepuk-nepuk wajahnya pelan. "Dan ya, aku menikmatinya. Sangat-sangat menikmatinya."
"Berpura-pura menjadi gadis pemalu yang gugup?"
"Itu menyenangkan." Lucy tersenyum pada bayangannya. "Seperti memainkan peran di drama panggung. Hanya saja penontonnya tidak tahu bahwa mereka sedang ditonton."
Kulitnya kini terlihat lebih cerah, lebih lembut. Bukan perubahan drastis hanya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang akhirnya cukup tidur dan minum air yang cukup. Tapi Lucy tahu persis apa yang dia lakukan. Dia merawat dirinya dengan standar surgawi, dan hasilnya mulai terlihat.
Rambutnya masih hitam dan itu tidak akan berubah dulu. Softlens hitam masih menutupi mata birunya. Tapi cara dia membawa dirinya, sedikit demi sedikit, berubah.
Keesokan harinya adalah hari terakhir latihan sebelum acara ulang tahun sekolah. Besok adalah hari besar.
Tapi klub musik tidak sedang latihan hari ini. Sebagai gantinya, mereka sibuk mempersiapkan peralatan mengecek mikrofon, menyetel amplifier, memastikan semua alat musik dalam kondisi prima. Nao, Rina, dan Mika sibuk mondar-mandir, tapi Lucy sudah menyelesaikan bagiannya lebih awal.
"Aku mau jalan-jalan sebentar," katanya pada ketiga temannya. "Kalian tidak apa-apa di sini?"
"Jalan-jalan? Ke mana?" tanya Nao.
"Ha-hanya... melihat-lihat..."
"Ah, aku tahu!" Rina tiba-tiba menyeruduk di antara mereka, matanya berbinar. "Kita juga hampir selesai. Gimana kalau kita ke ruang basket?"
"Ruangan basket?" Mika ikut berbinar. "Buat nonton Kaito Fujiwara maksudmu?!"
"Jelas! Siapa lagi?" Rina sudah meraih tasnya. "Lucy, ikut yuk! Kita belum pernah ajak kamu nonton anak basket!"
Lucy memiringkan kepalanya, pura-pura tidak tahu. "Kaito... Fujiwara?"
"KAMU TIDAK TAHU KAITO?!" Ketiga gadis itu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Dia ketua klub basket! Satu kelas sama kamu lagi!"
"A-aku... tidak terlalu memperhatikan..."
"Ya ampun, Lucy." Nao menggeleng-gelengkan kepala. "Hari ini kamu harus ikut. Ayo!"
Sebelum Lucy bisa memprotes lebih lanjut, ketiga temannya sudah menariknya keluar ruangan. Dia membiarkan dirinya diseret, sebuah buku kecil di tangannya siap untuk pura-pura membaca.
Antagonis pria, pikirnya. Aku sudah memperhatikanmu dari jauh. Tapi hari ini... aku akan melihat lebih dekat.
Ruang basket SMA Seiran sangat luas. Tribune penonton bertingkat tiga di kedua sisi, dan di tengah, lapangan kayu mengilap dengan garis-garis putih bersih. Suara sepatu basket berdecit di lantai, dicampur teriakan pemain dan peluit pelatih.
Lucy duduk di tribune paling atas bersama ketiga temannya. Buku terbuka di pangkuannya dengan judul buku Pengantar Sosiologi tapi matanya tidak membaca satu kata pun.
Di bawah, tim basket sedang berlatih. Dan di tengah-tengah mereka, Kaito Fujiwara bermain seperti badai yang dikurung dalam kulit manusia.
Gerakannya cepat, agresif, penuh tenaga. Setiap lompatannya eksplosif. Setiap lemparannya presisi. Dia menggiring bola melewati lawan dengan kemudahan yang nyaris menghina, dan saat dia melakukan dunk, seluruh tribune bergetar oleh tepukan tangan.
"Lihat, lihat, lihat!" Rina mencengkeram lengan Lucy. "Itu dia! Kaito! Ganteng banget kan?!"
"Cool banget," tambah Mika dengan napas hampir tertahan. "Dia kayak nggak tersentuh gitu."
"Justru karena dia nggak tersentuh makanya menarik," Nao menambahkan bijak. "Katanya sih, nggak ada perempuan yang bisa deketin dia. Semua ditolak."
"Bahkan Akane Minagawa?" tanya Mika.
"Kata orang sih, Akane itu tunangannya cuman karena urusan keluarga. Kaito sendiri kayaknya nggak peduli."
Lucy mendengarkan percakapan mereka dengan setengah telinga. Matanya mengikuti gerakan Kaito, menganalisis setiap detail. Posturnya yang tinggi dan berotot. Caranya mengabaikan teriakan dari tribune perempuan-perempuan yang memanggil namanya. Caranya bahkan tidak melirik sedikit pun.
Dia benar-benar tidak suka perempuan yang mendekatinya, pikir Lucy. Menarik.
Latihan berakhir dengan peluit panjang. Para pemain mulai beristirahat, menyebar ke pinggir lapangan. Dan seperti jamur setelah hujan, sekelompok gadis muncul entah dari mana, membawa botol minuman dan handuk.
Teman-teman Kaito yang merupakan anggota Five Shadows menerima minuman itu dengan senyum lebar. Mereka terbiasa dengan perhatian. Tapi Kaito? Dia hanya berjalan melewati gadis-gadis itu tanpa melihat. Satu gadis mencoba memberinya botol, dan dia menggeleng singkat, dingin, final.
Gadis itu mundur dengan wajah merah padam, entah karena malu atau marah.
"Tuh kan," bisik Nao. "Katanya, dia bahkan nggak suka dikasih minuman. Nggak ada yang bisa deketin."
"Tapi justru itu bikin penasaran," Rina menghela napas dramatis. "Pria dingin yang nggak tersentuh... aduh."
Lucy hampir terkekeh. Pria dingin yang tidak tersentuh. Kalian belum melihat apa-apa.
Saat itulah, di tengah kerumunan yang mulai membubarkan diri, Kaito mendongak.
Matanya menyapu tribune dan berhenti di satu titik.
Tepat di tempat Lucy duduk.
Lucy sedang memegang bukunya, matanya tidak menatap lapangan. Dia pura-pura membaca, wajahnya tenang, tidak peduli. Tapi dia bisa merasakan tatapan itu di kulitnya. Sebuah insting lama insting seorang predator yang sadar sedang diamati oleh predator lain.
Dia mendongak.
Kontak mata. Sesaat. Dua detik, mungkin tiga.
Mata cokelat Kaito menatapnya dengan sesuatu yang sulit diartikan. Bukan ketertarikan yang pastinyabelum. Tapi... kesadaran. Kesadaran bahwa ada seseorang di tribune yang tidak seperti yang lain. Seseorang yang tidak berusaha menarik perhatiannya.
Lucy mengalihkan wajahnya lebih dulu. Dia menutup bukunya, berdiri, dan berjalan menuruni tangga tribune.
"Eh, Lucy? Mau ke mana?" panggil Nao.
"Ke toilet sebentar."
Dia berjalan keluar dari ruang basket tanpa menoleh. Tapi di punggungnya, dia masih bisa merasakan tatapan itu.
Bagus, pikirnya. Dia menyadariku. Itu langkah pertama.
Koridor di luar ruang basket sepi. Lucy berjalan perlahan, buku di tangannya, pikirannya menyusun rencana untuk Kaito. Dia belum meminta Lili menyelidiki latar belakang antagonis pria ini dan itu terlalu mudah, terlalu membosankan. Dia ingin mencari tahu sendiri. Menggali lapisan demi lapisan. Menemukan apa yang membuat Kaito Fujiwara menjadi seperti ini.
Kenapa dia begitu benci perempuan yang mendekatinya? Ada sejarah di baliknya. Pasti ada.
"Lucy."
Suara itu datar, tenang, familiar membuyarkan pikirannya. Dia berhenti dan menoleh.
Ren Arisugawa berdiri di dekat mesin minuman otomatis, satu tangannya memegang dua kotak susu. Seragam OSIS-nya rapi sempurna seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda. Mungkin caranya berdiri sedikit lebih santai. Atau caranya memandang Lucy sedikit lebih lembut.
"Ke-Ketua OSIS..." Lucy menunduk, pipinya langsung memerah.
"Aku sudah bilang, panggil Ren." Dia melangkah mendekat, lalu mengulurkan satu kotak susu. "Ini."
"Eh?"
"Untukmu. Susu stroberi."
Lucy menatap kotak itu. Susu stroberi. Manis. Dia ingat aku suka manis? Atau... dia memilih rasa yang dia suka?
"A-aku... kenapa...?"
"Kau kelihatan lelah. Latihan klub musik pasti berat." Suara Ren tetap datar, tapi ada sesuatu yang hangat di baliknya. "Minumlah."
Dengan tangan sedikit gemetar akting yang cukup bagus nona, tapi juga sedikit asli karena dia tidak menyangka Lucy menerima kotak susu itu. "Te-terima kasih..."
Dia membuka sedikit tutupnya, menyesap. Rasanya manis, creamy, menghangatkan tenggorokan yang tidak benar-benar haus.
Lalu dia teringat sesuatu.
"Ah! Tu-tunggu sebentar." Lucy membuka tasnya, merogoh sebentar, dan mengeluarkan sebuah kotak bekal kecil. "Ini... untukmu."
Ren menatap kotak itu. "Apa ini?"
"A-aku... membuatnya tadi pagi. Hanya... hanya kue mochi. Dan beberapa makanan manis lainnya." Suara Lucy semakin mengecil di akhir kalimat. "Karena... ka-kau selalu kelihatan lelah juga... setelah rapat OSIS... jadi... kukira kau butuh gula..."
Ren tidak segera mengambilnya. Dia menatap kotak bekal itu, lalu menatap Lucy. Pipi gadis itu merah padam, matanya menunduk, tangannya sedikit gemetar saat memegang kotak itu.
Dia membuatkanku makanan. Pikiran itu terasa asing di kepala Ren. Dia memperhatikanku.
Perlahan, dia mengambil kotak itu. Tangannya yang besar menyentuh jemari Lucy sekilas, dan gadis itu langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik.
"A-aku pergi dulu! Sampai jumpa!"
Sebelum Ren bisa menjawab, Lucy sudah berbalik dan setengah berlari menyusuri koridor. Susu stroberi masih di tangannya. Pita kuning kecil di rambutnya hadiah dari Nao pagi tadi bergerak-gerak seirama langkahnya.
Ren berdiri di sana, kotak bekal di tangannya. Dia membukanya perlahan.
Di dalamnya, tersusun rapi mochi bulat-bulat berwarna pink dan putih, beberapa kue kering berbentuk bintang, dan dua potong dorayaki mini. Semuanya tertata dengan hati-hati, seolah pembuatnya benar-benar peduli.
Dia menutup kotak itu lagi. Dan untuk sesaat hanya sesaat sudut bibirnya tertarik ke atas.
Sebuah senyuman. Kecil. Cepat menghilang. Tapi senyuman.
Dia berbalik dan berjalan ke arah ruang OSIS, kotak bekal itu dipegang erat di tangannya. Satu tangannya lagi merogoh saku, mengambil earphone-nya. Tapi dia tidak langsung memasangnya. Sebagai gantinya, dia menatap koridor kosong tempat Lucy menghilang.
Rasa stroberi, pikirnya. Dia suka rasa stroberi.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Ren Arisugawa menantikan hari esok.
Sementara itu, di taman belakang sekolah yang sepi, Lucy duduk di bangku batu di bawah pohon sakura yang belum mekar. Susu stroberi di tangannya sudah setengah habis. Dia menguap lebar.
"Lili," panggilnya.
Lili muncul dari balik semak-semak, melompat ke bangku di sebelahnya. "Apa?"
"Presentase."
Lili memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya. "Ren Arisugawa: ♡♡ | 20%."
"Dua puluh persen." Lucy menyesap susunya. "Naik sepuluh persen lagi. Cukup bagus."
"Hanya 'cukup bagus'? Kebanyakan manusia akan melompat kegirangan dengan perkembangan seperti ini."
"Kebanyakan manusia." Lucy menekankan kata itu. "Aku bukan manusia."
Dia menyandarkan punggungnya di bangku, menatap langit sore. Awan-awan mulai berubah warna menjadi jingga.
"Dia mudah didekati sebenarnya," kata Lucy, lebih ke dirinya sendiri. "Di balik semua dinding es itu, dia hanya butuh seseorang yang tidak mencoba menghancurkannya. Seseorang yang memberi tanpa meminta."
"Dan kau memberinya makanan manis."
"Makanan manis adalah jalan menuju hati." Lucy terkekeh. "Secara harfiah maupun metaforis."
Dia menghabiskan susunya, lalu meremukkan kotaknya dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat wacca tepat sasaran.
"Manusia pada umumnya akan deg-degan sekarang. Jantung berdebar. Pipi merona. Bertanya-tanya apakah dia juga menyukaiku." Lucy berdiri, meregangkan tubuhnya. "Aku? Aku hanya memikirkan apa yang harus kumakan untuk makan malam."
"Kau tidak merasakan apa-apa?"
"Aku merasakan ketertarikan. Jiwanya indah. Tubuhnya juga." Lucy mulai berjalan pulang. "Tapi deg-degan? Itu untuk manusia, Lili. Aku Dewi. Aku menghargai diriku sendiri terlalu tinggi untuk gemetar hanya karena seorang pria memberiku susu kotak."
Lili melompat ke bahunya, ekornya melingkar di leher Lucy seperti syal berbulu. "Tapi dia tidak tahu kau Dewi. Yang dia lihat adalah Lucy si kutu buku yang semakin hari semakin cantik."
"Dan itu yang membuat ini menyenangkan." Lucy menyeringai. "Dia jatuh hati pada gadis biasa. Bukan pada Dewi. Itu lebih... jujur."
Mereka berjalan melewati gerbang sekolah. Matahari mulai terbenam, menciptakan siluet panjang di trotoar.
"Besok acara," kata Lili.
"Besok aku akan bernyanyi di depan semua orang." Mata Lucy berkilat. "Dan Ren akan duduk di barisan depan. Aku akan pastikan itu."
"Lalu?"
"Lalu..." Lucy memiringkan kepalanya, memikirkan Kaito yang menatapnya dari lapangan basket. "...setelah Ren, aku akan mulai dengan Kaito. Tapi itu nanti. Untuk sekarang, biarkan aku menikmati kemenangan kecilku."
"Kemenangan kecil berupa 20%?"
"Dua puluh persen yang diperoleh dengan susah payah." Lucy menguap lagi. "Sekarang, makan malam. Aku ingin ramen. Kau mau?"
"Aku kucing."
"Kucing juga bisa makan ramen. Aku akan pesankan porsi untukmu."
Lili mendengus, tapi tidak menolak. Mereka berjalan di bawah langit senja, dua makhluk yang bukan manusia, menyamar di dunia yang bukan milik mereka, memainkan permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Dan di suatu tempat di belakang mereka, di ruang OSIS yang mulai gelap, Ren Arisugawa membuka kotak bekal itu lagi. Dia mengambil sepotong mochi pink, menggigitnya perlahan, dan membiarkan rasa manisnya menyebar di lidah.
Dia tersenyum lagi. Kali ini, tidak ada yang melihat.