NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda"

Acara ulang tahun sekolah berlangsung meriah sepanjang siang. Stand makanan, permainan, dan pertunjukan klub-klub lain mengisi panggung utama bergantian. Tapi semua orang tahu—puncak acaranya adalah pertunjukan klub musik.

Dan tahun ini, ada sesuatu yang berbeda.

Di balik panggung, Lucy berdiri di depan cermin kecil yang disediakan panitia. Tapi cermin ini bukan cermin apartemennya yang retak. Ini cermin biasa, dan yang terpantul di dalamnya bukan lagi Lucy si kutu buku.

Tangannya yang terampil—terlatih selama ribuan tahun—mengaplikasikan sentuhan akhir pada riasannya. Bedak tipis yang membuat kulitnya bercahaya. Lip balm pink yang memberi kesan segar. Dan yang paling penting: tidak ada kacamata.

Softlens hitam masih menutupi mata birunya, tapi tanpa kacamata tebal, bentuk wajahnya yang sebenarnya mulai terlihat. Tulang pipi yang halus. Rahang yang lembut. Mata yang besar dan ekspresif.

"Kau terlihat... seperti dirimu sendiri," komentar Lili yang duduk di atas meja rias, ekornya bergerak-gerak.

"Hampir." Lucy tersenyum. "Tapi belum sepenuhnya."

Dia meraih gaun yang tergantung di sudut ruangan. Bukan gaun biru muda yang dia pakai tadi—itu sudah diganti. Ini adalah gaun biru panjang, berkilau dengan manik-manik kristal yang dijahit tangan. Bukan dari toko manusia. Ini dari lemarinya di kastil.

Gaun itu meluncur ke tubuhnya seperti air. Potongannya sederhana—leher bulat, lengan pendek, rok yang jatuh anggun hingga mata kaki. Tapi cara manik-manik kristal itu menangkap cahaya... setiap gerakan kecil menciptakan kilauan seperti bintang.

Dia melangkah ke cermin, lalu mengambil pita biru dan mengikatkannya di rambut sebahu. Sebagai sentuhan akhir, dia menyelipkan jepitan kecil berbentuk ekor rubah—perak dengan mata safir biru—di samping kepalanya.

"Jepitan ekor rubah," gumam Lili. "Subtle."

"Aku tetap harus memberi penghormatan pada diriku sendiri."

Dari luar, suara pembawa acara terdengar. Pertunjukan grup sudah selesai—Nao, Rina, dan Mika baru saja tampil dengan meriah, menyanyikan lagu ceria yang membuat penonton bertepuk tangan. Sekarang, giliran solo.

"Penampilan solo pertama: Lucy, dari klub musik sesi B!"

Lucy mengambil gitarnya—gitar kayu mahoni yang dipernis halus—dan melangkah ke arah panggung.

"Saatnya," bisiknya.

---

Panggung utama SMA Seiran dihiasi lampu-lampu kuning yang hangat. Di atasnya, sebuah kursi kayu sederhana dan satu mikrofon berdiri. Latar belakangnya adalah layar hitam polos—tidak ada hiasan berlebihan, karena pertunjukan solo memang dimaksudkan untuk menonjolkan penampilnya.

Tirai terbuka.

Dan dunia seakan berhenti.

Sesosok gadis melangkah keluar. Gaun biru panjangnya berkilau diterpa lampu panggung, setiap langkahnya menciptakan percikan cahaya dari manik-manik kristal. Rambut hitam sebahu dengan pita biru dan jepitan ekor rubah. Wajah tanpa kacamata, dengan kulit putih bersih yang nyaris bercahaya. Dia berjalan dengan anggun—bukan anggun seorang model yang terlatih, tapi anggun alami yang tidak bisa dipelajari.

Seluruh aula terdiam.

Di barisan depan, Ren Arisugawa duduk dengan tangan terlipat. Awalnya, dia hanya datang karena sebagai ketua OSIS, dia harus hadir di semua acara. Tapi begitu gadis itu melangkah keluar, tangannya perlahan-lahan terlepas dari lipatan.

Itu... Lucy?

Gadis yang sama yang dia gendong beberapa hari lalu? Gadis yang memberinya kotak bekal berisi mochi? Gadis yang selalu menunduk malu setiap kali mereka bertemu?

Ren berkedip. Sekali. Dua kali. Tapi pemandangan di depannya tidak berubah.

Dia... selama ini dia...

Di sisi lain barisan depan, dipisahkan oleh beberapa kursi, Kaito Fujiwara duduk menyandar dengan kaki disilangkan. Dia baru saja selesai bertanding, masih mengenakan jaket tim basket di balik kemeja kasualnya. Dia datang ke aula karena teman-temannya memaksa—"Nonton klub musik, siapa tahu ada yang cantik."

Tapi ini bukan sekadar cantik.

Ini... berbeda.

Kaito menegakkan tubuhnya. Gadis di panggung itu—dia mengenalnya. Dia gadis yang sama yang duduk sendirian di tribune saat latihan basket. Gadis yang sama yang tidak peduli padanya. Gadis yang sama yang baru saja dia lihat di ruang basket tadi, dalam gaun biru muda.

Tapi sekarang... sekarang dia terlihat seperti seseorang yang sama sekali berbeda. Seseorang yang tidak bisa diabaikan.

Lucy duduk di kursi. Gitar di pangkuannya. Dia mendekatkan mulutnya ke mikrofon, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum—bukan senyum pemalu, bukan senyum gugup. Tapi senyum tenang, damai, seolah dia adalah pemilik panggung ini. Pemilik malam ini.

"Selamat malam," suaranya lembut, mengalun seperti air. "Aku akan membawakan sebuah lagu. Judulnya... 'Kesenanganku adalah Milikku Sendiri'."

Jemarinya mulai memetik gitar.

Dan musik mengalir.

---

♪ Di tepian senja yang sunyi... ♪

♪ Tempat ombak berbisik pada pasir... ♪

♪ Aku berdiri, sendiri, tanpa takut... ♪

♪ Karena langit ini milikku sepenuhnya... ♪

---

Suaranya bukan sekadar merdu. Ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Setiap nada yang keluar dari bibirnya membawa perasaan yang sulit digenggam. Sedih. Senang. Rindu. Damai. Semua bercampur menjadi satu, menciptakan gelombang emosi yang menyapu seluruh aula.

---

♪ Mereka bilang, jadilah seperti ini... ♪

♪ Mereka bilang, ikuti jalan itu... ♪

♪ Tapi siapa yang bisa menentukan... ♪

♪ Kebahagiaanku selain diriku sendiri? ♪

---

Ren tidak berkedip. Matanya terpaku pada sosok di panggung. Setiap kata yang Lucy nyanyikan terasa seperti... berbicara padanya. Langsung padanya.

Jadilah seperti ini. Ikuti jalan itu.

Berapa kali dia mendengar kata-kata itu dari ayahnya? Berapa kali dia mengikuti, tanpa pernah bertanya apakah itu yang dia inginkan?

Kebahagiaanku adalah milikku sendiri.

Jari-jarinya mencengkeram lututnya. Sesuatu di dalam dadanya bergetar—sesuatu yang sudah lama dia kubur. Mimpi-mimpinya. Musik. Gitar yang dihancurkan ayahnya. Semua hal yang dia sukai tapi tidak pernah diizinkan untuk dia kejar.

Dan di atas panggung, gadis ini—gadis yang dia kira hanya kutu buku pemalu—sedang menyanyikan kebebasan.

---

♪ Jangan takut pada bayanganmu sendiri... ♪

♪ Jangan lari dari cermin di hadapanmu... ♪

♪ Kau adalah satu-satunya dirimu... ♪

♪ Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup... ♪

---

Kaito menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

Kau adalah satu-satunya dirimu.

Sejak kecil, dia selalu merasa tidak cukup. Tidak cukup pintar. Tidak cukup penurut. Tidak cukup sempurna untuk membuat ibunya bahagia. Dia membangun dinding di sekelilingnya, menolak semua perempuan yang mendekat, karena dia tidak percaya ada yang bisa menerima dirinya apa adanya.

Tapi gadis di panggung itu... dia bernyanyi seperti seseorang yang tahu. Seperti seseorang yang mengerti apa artinya dikurung dalam ekspektasi orang lain. Seperti seseorang yang sudah menemukan jalannya sendiri dan kini menawarkan tangannya pada siapa pun yang mau mendengarkan.

Dan Kaito mendengarkan. Dia benar-benar mendengarkan.

---

♪ Kesenanganku adalah milikku sendiri... ♪

♪ Tak perlu kau mengerti atau menyetujui... ♪

♪ Karena di ujung malam yang paling gelap... ♪

♪ Akulah cahaya untuk diriku sendiri... ♪

---

Lucy memetik senar terakhir. Nadanya menggantung di udara, melayang pelan sebelum menghilang ke dalam keheningan.

Lalu tepuk tangan.

Bukan tepuk tangan biasa. Tepuk tangan yang meledak, bergemuruh, memenuhi seluruh aula. Beberapa penonton berdiri. Beberapa menyeka mata mereka. Nao, Rina, dan Mika di sisi panggung berpelukan sambil menangis, tidak percaya teman mereka yang pemalu bisa bernyanyi seperti itu.

Lucy berdiri dari kursinya. Dia membungkuk sopan—sekali, dua kali—lalu berjalan keluar panggung dengan langkah yang sama anggunnya seperti saat dia masuk.

Tapi sebelum dia benar-benar menghilang di balik tirai, matanya sekilas menatap ke arah barisan depan. Ke arah Ren. Ke arah Kaito.

Dan dia tersenyum—senyum kecil yang hanya berlangsung sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dua pasang mata di barisan depan itu tidak bisa berpaling.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!