"Apa kau tidak bisa sedikitpun memberikan rasa cintamu padaku?"
Lily Anastasya.
"Tidak karena aku sudah berikan seluruhnya pada gadis masa kecilku, aku sudah menyukainya sejak dulu dan aku tidak akan pernah bisa menyukaimu"
Jason Louvis
Lily Anastasya dikenal sebagai gadis yang ceria, dan dia bertemu seorang pria yang awalnya dia anggap khayalan hingga dia pun bertindak di luar kebiasaannya. Tapi siapa sangka jika awal pertemuan itu membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pria itu.
Tapi bagaimana jika pria itu sudah mencintai orang lain yang tak lain adalah gadis masa kecilnya. Akankah Lily bisa memperuangkan cintanya, atau dia akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Teriak Lily sambil meronta melepaskan tangan Jason dari tangannya.
"Kau bisa diam sendiri atau aku yang akan membungkam mulutmu," kata Jason dingin sambil menatap Lily tajam.
Dan Lily pun pada akhirnya berhenti berontak. Dia tidak ingin jika pria dingin yang saat ini menariknya ke dalam mobil melakukan hal yang membuat hati Lily goyah.
Jason kemudian membuka pintu mobil dengan kasar dan mendorong Lily untuk masuk dan duduk di kursi samping kemudi.
Kemudian Jason berlari menuju ke kursi kemudi dan duduk disana.
Jason mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa peduli Lily berteriak menyuruhnya untuk menghentikan mobil.
"Berhenti! Aku mohon hentikan!" Teriak Lily ketakutan, tiba-tiba terlintas bayangan-bayangan kecelakaan yang dulu pernah dialaminya.
"Aku mohon hentikan!" Lily berteriak histeris bahkan kini air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya.
Jason yang melihat gadis aneh itu menangis, langsung menepikan mobilnya.
"Hei kau kenapa? Aku sedang tidak ingin bercanda!" Kata Jason melihat Lily kini menaikkan kakinya di tempat duduk dan melipatnya kemudian menelungkupkan wajahnya diatas kedua lutut.
"Hei kenapa kau menangis? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa," kata Jason lagi bingung melihat Lily seperti itu, apalagi Lily hanya diam saja dan hanya terdengar isak tangis darinya.
"Jadi benar apa yang Ibu katakan, aku kini mengingatnya, aku…" Lily tidak bisa melanjutkan ucapannya dan malah kini kembali terisak.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti apa maksudmu," jawab Jason karena gadis aneh di sampingnya bukannya menjawab pertanyaannya, justru mengatakan hal-hal yang tidak jelas.
"Akh!" Teriak Lily menjambak rambutnya sendiri saat mengingat ucapan Ibunya saat itu, saat mengatakan dirinya adalah anak dari selingkuhan ayahnya.
Jason merasa ada yang tidak beres dengan Lily kemudian mengangkat kepala Lily, dan terlihat dia sangat kacau. Jason kemudian mendekat dan menarik Lily ke dalam pelukannya, ada rasa sakit di dalam dadanya saat melihat gadis yang dianggapnya aneh seperti ini, karena Jason baru melihat kali ini sisi lain dari sahabat Nona Mudanya itu, yang selama ini Jason lihat darinya hanya gadis yang ceria, konyol, berbuat hal-hal yang kadang di luar dugaan dan itulah yang membuat Jason menyebutnya gadis aneh.
"Hiks, hiks, kenapa aku harus berada di dunia ini, Kenapa? Aku benci diriku sendiri! Aku benci!" Teriak Lily lagi memberontak di pelukan Jason.
Jason tidak tahu harus berbuat apa, Jason sungguh bingung melihat gadis yang saat ini ada di pelukannya, tiba-tiba berteriak, dan menangis histeris seperti ini, padahal Jason tidak melakukan apa-apa.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa gadis aneh ini tiba-tiba seperti ini? Apa dia pernah mengalami sesuatu? Kenapa aku merasakan jika saat ini, inilah sisi sebenarnya gadis aneh," Tanya Jason dalam hatinya.
Jason ingin sekali bertanya, tapi tidak dia memilih mengurungkan niatnya, Jason bukan siapa-siapa, dan dia tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lily.
Tapi karena rasa penasaran yang begitu besar, akhirnya pertanyaan pun keluar dari mulut Jason.
"Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Jason sambil mengusap punggung Lily yang masih bergetar.
Lily merasakan sesuatu dalam dirinya, saat ada yang menanyakan itu kepadanya selain sahabatnya Jasmine. Lily merasa jika masih ada orang-orang yang peduli dan menyayanginya walau hanya sedikit rasa sayang itu. Lily merasakan jika Jason sebenarnya orang yang baik, walaupun kadang dia sangat menyebalkan.
Lily kemudian melepaskan tubuhnya dari pelukan pria dingin yang menyebalkan, "Aku mau turun," ucapnya kemudian sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Kau yakin akan turun dengan penampilan seperti orang gila ini? Tanya Jason dengan nada mengejek.
Lily langsung menarik ucapannya yang tadi mengatakan bahwa Jason adalah pria baik, karena nyatanya pria yang tadi mendekapnya tetaplah pria yang menyebalkan.
"Hei apa yang kau lakukan?" Tanya Jason saat Lily menarik tangannya, dan yang membuat Jason kesal gadis aneh ini, menghapus sisa ingusnya di lengan kemejanya.
"Kenapa kau bertanya? Apakah kau tidak melihat apa yang sedang tadi aku lakukan?" Bukannya menjawab, Lily justru melayangkan pertanyaan.
""Selain aneh kau juga gadis yang jorok, kau tidak lihat disini ada tisu, kenapa kau malah memakai lengan kemejaku" ketus Jason lalu mengambil tisu dan mengelap lengan kemejanya tadi.
"Kau tidak lihat mataku ini, dipenuhi air mata, mana bisa aku melihat dengan jelas kalau ada tisu disitu," jawab Lily kesal.
Berbicara denganmu membuatku semakin pusing," kata Jason dan akhirnya kembali melajukan mobil.
"Kenapa kau menjalankan mobilnya? Aku bilang aku mau turun," kata Lily saat melihat Jason kembali menyetir mobil.
"Diam atau aku akan melemparmu," ancam Jason.
Dan mau tidak mau, Lily pun memilih diam. Dia kemudian membuang muka ke arah jendela, dan memejamkan matanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Jason sesekali melirik Lily yang kini tampak terlelap, karena Jason mendengar nafasnya yang kini mulai teratur.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa tadi yang aku lihat seperti bahwa seperti itulah dirimu, kau seperti gadis yang rapuh, tidak seperti yang selama ini kamu tunjukkan di depan banyak orang. Jason kembali menepikan mobilnya di saat telinganya menangkap suara.
Drt
Drt
Ponsel Lily tampak bergetar di saku celananya, entah apa yang Jason pikirkan, hingga sesaat setelah itu Jason mengambil ponsel Lily dengan pelan-pelan dan tak butuh waktu lama, dia bisa mendapatkannya.
Jason melihat ponsel Lily yang terkunci, dan dia kemudian menempelkan jari Lily pada belakang ponselnya dan akhirnya ponsel pun terbuka.
Dilihatnya nama seseorang yang selalu membuatnya marah mengirim pesan. Kak Al nama yang ada di layar mengirim pesan menanyakan pada pemilik ponsel mau dijemput atau tidak, dan ketika membaca itu, Jason tanpa sadar mengepalkan tangannya, untung saja ponsel Lily tidak remuk dibuatnya.
Jason lalu mengetik sesuatu di sana sebagai balasan, dan kemudian menghapus pesan dari nama Kak Al.
"Jangan harap kau bisa bertemu dengannya," gumam Jason kemudian memblokir kontak Al dan menghapusnya.
Jason kemudian memasukkan kembali ponsel Lily tapi kali ini dia memilih memasukkan ponsel itu ke dalam tas Lily yang ada di pangkuan gadis itu daripada memasukkan kembali ke saku celananya, karena hal itu terlalu beresiko.
Kini wajah Jason sangat dekat dengan wajah Lily hanya berjarak beberapa senti saja, saat gadis itu berpindah posisi dengan wajah yang kini menghadap ke depan.
Jason semakin mendekat, semakin dekat, hingga Jason kehilangan akalnya dan kemudian,
Cup
Jason mengecup bibir Lily yang masih terlelap cukup lama. Hingga saat tersadar, Jason langsung menarik tubuhnya dan membenarkan posisi duduknya kembali di kursi kemudi.
"Ini tidak benar, tidak! ini tidak mungkin, tidak mungkin aku menyukai gadis aneh ini, tapi…," Jason pun menghentikan perkataannya dan meletakkan tangan di dadanya, dapat dia rasakan jika saat ini jantungnya berdebar dengan kencang.