NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Menjadi Ibu Tirimu Adalah Balas Dendamku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

​Cia mulai diserang rasa panik. Sudah hampir satu jam ia duduk di meja bar, namun belum ada tanda-tanda pintu ruang VIP itu akan terbuka. Ia meremas jemarinya sendiri, menatap gelas jus jeruknya yang mulai mencair. “Gila, kalau begini terus, rencanaku bisa gagal total sebelum dimulai,” batinnya frustrasi.

​Namun, dewi fortuna tampaknya sedang berpihak pada Cia.

​Tepat saat Cia menoleh ke arah lorong VIP, pintu kayu mahoni itu terbuka. Sosok tinggi tegap Dixon melangkah keluar sendirian. Pria itu menempelkan ponsel pintarnya di telinga kanan. Jarak yang cukup dekat membuat Cia samar-samar bisa mendengar suara manja seorang gadis dari seberang telepon yang memanggilnya, "Daddy, aku baru mendarat di Paris! Jangan lupa transfer uang jajan tambahan, ya?"

​Itu suara Amora.

​Melihat Dixon yang berjalan menjauh dari keramaian menuju sudut bar yang agak sepi demi merespons telepon putrinya, mata Cia langsung berkilat tajam. Ini peluang emas.

​Tanpa membuang waktu, Cia menyambar gelas wiski milik seorang pria di meja sebelah yang baru saja ditinggal ke toilet. Cia tidak meminumnya banyak—ia tahu ia harus tetap sadar penuh—ia hanya meneguk sedikit alkohol itu, lalu membasuh bibir dan sedikit lehernya dengan tetesan wiski agar aroma alkohol menguar kuat dari tubuhnya.

​Cia mengembuskan napas dalam-dalam, menata emosinya, lalu memulai sandiwaranya.

​Ia melangkah dengan sengaja dibuat sempoyongan. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi tampak goyah, persis seperti wanita yang kehilangan kesadaran akibat mabuk berat. Sambil berpura-pura hampir terjatuh, Cia mengarahkan tubuhnya tepat ke arah Dixon yang baru saja menutup teleponnya.

​Bruk.

​"Ah...!"

​Cia menabrak dada bidang Dixon. Tidak sampai di situ, tangannya dengan berani langsung mencengkeram lengan jas mahal yang dikenakan pria itu untuk menahan tubuhnya sendiri.

​Seketika itu juga, atmosfer di sekitar mereka membeku.

​Dixon adalah pria yang paling benci disentuh oleh orang asing, terutama oleh wanita malam di tempat seperti ini. Biasanya, siapa pun wanita yang berani mendekatinya dalam jarak satu meter akan langsung diempaskan tanpa belas kasihan olehnya atau oleh pengawalnya.

​Sepasang mata elang Dixon langsung menatap tajam ke arah wanita yang menabraknya. Guratan kemarahan tercetak jelas di rahangnya yang mengeras. Dixon dengan kasar langsung menepis tangan Cia dari lengannya, membuat Cia mundur satu langkah.

​"Singkirkan tanganmu," desis Dixon, suaranya berat, rendah, dan penuh intimidasi yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.

​Namun, Cia tidak mundur. Ia justru mendongak, menatap Dixon dengan kelopak mata yang sengaja dibuat sayu dan sayup-sayup basah, memberikan kesan erotis yang memikat. Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar manja dan tidak jelas layaknya orang mabuk.

​"Hii... tampan," igau Cia dengan suara yang sengaja dibuat serak dan menggoda. Ia melangkah maju lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga hidungnya hampir menyentuh dada Dixon. Aroma parfum maskulin bercampur cerutu dari tubuh Dixon beradu dengan aroma wiski dari bibir Cia. "Kenapa galak banget, sih? Temenin gue minum, yuk..."

​Dixon menatap dingin wanita di hadapannya dari atas ke bawah. Rok mini yang mengekspos paha mulus, crop top yang memperlihatkan lekuk pinggang indah, dan wajah cantik yang tampak sangat muda. Pikiran Dixon langsung melayang pada putrinya, Amora. Wanita di hadapannya ini pasti berusia tidak jauh berbeda dengan anaknya.

​"Pergi dari sini, gadis kecil. Kamu salah mencari mangsa," ucap Dixon dengan nada mengusir yang sarat akan penghinaan. Pria itu berniat berbalik dan meninggalkan Cia.

​"Aku bukan gadis kecil!" seru Cia, nadanya merajuk berbalut emosi yang dibuat-buat.

​Sebelum Dixon sempat melangkah, Cia dengan gerakan cepat maju dan meraba dada bidang Dixon yang dibalut kemeja hitam. Kedua telapak tangan mungil Cia bergerak sensual di atas dada keras itu.

​Dixon terkejut. Refleks, kedua tangan kekar Dixon langsung mencengkeram pergelangan tangan Cia, menahannya agar tidak bergerak lebih liar di atas tubuhnya. Kekuatan cengkeraman Dixon cukup kuat hingga membuat Cia sedikit meringis, namun Cia tidak menyerah.

​Menggunakan sisa ruang yang ada, Cia menjinjitkan kakinya. Wajah cantiknya mendekat ke leher kokoh Dixon. Dan tanpa diduga... Cup.

​Cia mendaratkan kecupan lembut tepat di atas jakun Dixon yang menonjol, lalu menggesekkan ujung hidungnya di sana dengan perlahan.

​Deg.

​Tubuh Dixon mendadak kaku bak batu. Sesuatu yang asing berdesir hebat di dalam darahnya, membuat bulu kuduk pria paruh baya itu merinding seketika. Sebuah sengatan listrik yang belum pernah ia rasakan dari wanita mana pun seolah menyengat akal sehatnya.

​Bagi Dixon, ini aneh. Sangat aneh. Jika itu wanita lain, Dixon dipastikan sudah mengempaskan tubuh perempuan itu ke lantai marmer tanpa peduli harga dirinya hancur. Namun saat ini, tangan Dixon yang mencengkeram pergelangan tangan Cia justru mendadak lemas. Ia terpaku, menahan diri dengan napas yang mulai memberat, membiarkan jemari lentik Cia yang terbebas kembali menelusuri rahang tegasnya.

​Di balik wajah mabuknya, Cia tersenyum kemenangan di dalam hati. Benteng es

miliarder rupanya mulai retak oleh umpan pertamanya.​"Menyingkir!" desis Dixon sekali lagi. Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih berat, dalam, dan parau, seolah ia sedang menekan sekuat tenaga sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.

​Namun, Cia justru semakin merapatkan tubuh indahnya. Sepasang paha mulusnya bergesekan dengan celana bahan mahal yang dikenakan Dixon, sengaja memancing reaksi pria itu.

​"Nggak mauuu..." rengek Cia dengan nada manja yang dibuat-buat, kelopak matanya berkedip sayu seolah kesadarannya benar-benar sudah melayang. "Kenapa buru-buru, sih? Temenin Kakak minum dulu, yuk?"

​Mendengar kata terakhir yang keluar dari bibir ranum Cia, alis tebal Dixon langsung menukik tajam. Kedua matanya menyipit, menatap Cia dengan pandangan tak percaya sekaligus tersinggung.

​"Kakak?" ulang Dixon dengan nada dingin yang sarat akan ketidaksukaan.

​Pria itu berusia 39 tahun, memiliki kekuasaan mutlak, dan dihormati di seluruh penjuru kota. Dipanggil 'Kakak' oleh seorang gadis muda yang pantas menjadi teman putrinya terasa seperti sebuah ejekan yang merendahkan harga dirinya.

​"Kamu sedang mengejekku, hah?!" bentak Dixon rendah, mencengkeram bahu Cia dan mendorongnya sedikit menjauh untuk menyadarkan wanita yang ia kira mabuk ini.

​Ditolak dan didorong seperti itu, Cia menaikkan level aktingnya. Ia memasang wajah cemberut, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi kesal yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata pria mana pun.

​"Ih, kok pelit banget sih jadi cowok! Padahal gue udah nawarin diri seseksi ini..." gumam Cia ketus, memalingkan wajahnya seolah merajuk.

​Namun, itu hanya taktik. Detik berikutnya, sebelum Dixon sempat memanggil asistennya untuk menyeret wanita ini keluar, Cia kembali merangsek maju dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga.

​Cia memegang kedua bahu lebar Dixon, menjinjitkan kakinya setinggi mungkin, lalu memiringkan kepalanya. Bukannya mencium, Cia justru membuka mulutnya dan... Hap.

​Gigi-gigi kecil Cia menggigit kulit leher Dixon yang kokoh dengan sedikit tekanan, tepat di area sensitif di bawah rahangnya. Gigitan itu tidak sampai berdarah, namun cukup kuat untuk membuat Dixon tersentak. Tidak berhenti di sana, Cia menempelkan bibir basah berselimut aroma wiski itu di atas bekas gigitannya, menyesap kulit hangat Dixon dengan perlahan hingga meninggalkan tanda kemerahan yang kontras di sana.

​Nngh.

​Satu geraman rendah lolos begitu saja dari tenggorokan Dixon. Sengatan panas berlipat ganda langsung menjalar dari lehernya menuju ke seluruh pusat sarafnya. Dixon, pria yang selama bertahun-tahun selalu berhasil mengendalikan hasrat dan emosinya, mendadak merasa akal sehatnya terbakar habis dalam sekejap mata.

​Hasrat kelelakian yang sudah terlalu lama ia kubur dalam-dalam kini meledak tanpa ampun. Tangan kekar Dixon yang semula berniat mendorong Cia, kini bergerak berlawanan dengan logikanya.

​Grep!

​Dixon mencengkeram pinggang ramping Cia dengan sangat erat, hampir membuat Cia memekik karena kekuatan tangan pria itu yang begitu dominan. Dixon menarik tubuh Cia tanpa jarak, mengunci pinggul gadis itu agar menempel sempurna pada tubuh tegapnya. Pria itu benar-benar telah kehilangan kendali dirinya.

​Napas Dixon memburu, berembus panas di permukaan kulit wajah Cia. Di bawah temaram lampu bar yang remang, sepasang mata elang Dixon yang kini menggelap dipenuhi gairah purba bertemu langsung dengan tatapan mata Cia yang sayu namun menyala.

​Cia tahu, umpannya telah ditelan sepenuhnya.

​Dengan keberanian yang tersisa, Cia mengalungkan kedua lengannya di leher Dixon, menarik kepala pria itu turun, dan langsung menempelkan bibirnya di atas bibir tipis Dixon yang kokoh.

​Dixon tidak lagi menolak. Alih-alih mengusir, pria sedingin es itu justru membalas ciuman Cia dengan sapuan yang luar biasa menuntut. Dixon memiringkan kepalanya, memperdalam pautan mereka. Lidahnya menerobos masuk tanpa permisi, melumat bibir manis Cia dengan kasar, liar, dan sarat akan dominasi yang mengintimidasi.

​Cup... mmph...

​Suara cecapan basah yang panas meredam riuh rendah musik bar di sekitar mereka. Dixon mencium Cia seolah-olah wanita muda ini adalah candu yang sudah lama ia cari, meremas pinggang Cia makin erat hingga membuat tubuh Cia melengkung pasrah dalam kuasanya. Cia membalas setiap lumatan panas itu dengan detak jantung yang berpacu gila—bukan hanya karena gairah yang mendadak tersulut, melainkan karena ia tahu, jerat balas dendamnya kini telah mengikat sang singa dengan sempurna.

1
Hasti Asti
semangat terus kak berkata, cerita kamu bagus
sryharty
sebelum pembalasan kamu terendus Amora,,kamu harus bikin duda karatan bertekuk lutut sama kamu cia,,biar si duda ga bisa jauh2 dari kamu,,kalo jauh dari kamu langsung gila,,jadi nanti si Amora tidak bisa banyak tingkah
aku
kudukung pembalasanmu dg 🌹 go cia go!!
aku
aduh aq juga tercia cia nih 😁 gasss ciaaaa 😃
Hasti Asti
lanjut kak😍
sryharty
kenapa seh ka up nya irit banget
Shion Hin
hohoho mulai seru 🔥🔥🔥
Marsya
wah mw nambah bacanya lagi,klanjutannya pasti lbih seru🤭🤭🤭🤭
Shion Hin
ayo kak semangat... 🔥🔥🔥🙏
sryharty
kenapa up nya cuma satu2 yah
Yuyun Suprapti
crazy up dong kk thor🤭💪
Shion Hin
😍
Rahman Hayati
wow
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
sryharty
ka doubel up lah
sryharty
😁 pokonya kamu harus jual mahal cia,,jangan kejar2 duda karatan
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
Rahman Hayati
jgn terlalu tua lah Thor yg sedang sedang saja umurnya
sryharty
semoga sampai selesai alurnya masih bagus
sryharty
si duda karatan udah mulai Ter cia2 neh
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
Shion Hin
huaaaa.... gk sabar deh ... 🥺
sryharty
pasti nanti cia hamil,,bawa kabur nanti anaknya cia
biar si duda karatan kelabakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!