NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 - Tsunami

Pesan dari Vanessa tertera jelas di layar ponselnya:

"Faris, aku harap kau memilih ikut mengerjakan proyek denganku di Kalimantan. Skalanya jauh lebih besar dan menantang daripada apa pun yang sedang dikerjakan Pak Bandi. Ini kesempatan emas untuk membuktikan dirimu ke seluruh negeri. Pikirkan baik-baik, bergabunglah denganku, dan kamu bukan sekadar pekerja, tapi insinyur utama proyek ini. Aku tunggu kabarmu secepatnya."

Faris membaca kalimat itu berulang kali, namun hatinya tak tergoyahkan. Ia tahu tawaran itu terdengar gemilang, tapi Pak Bandi dan Pak Adilah orang pertama yang menolongnya saat tak ada satu pun yang mau menerima. Jadi Faris kemungkinan besar akan memilih bekerjasama dengan Pak Bandi. Lagi pula Vanessa selalu bersikap ketus kepadanya sejak awal.

Sebelum Faris menyimpan kembali ponsel ke meja kecil matanya perlahan terpejam. Kelelahan karena seharian bekerja akhirnya menyeretnya ke dalam tidur yang nyenyak. 

Waktu menunjukkan pukul dua lewat seperempat dini hari. Suasana sunyi senyap, hanya sesekali terdengar suara jangkrik dari halaman.

Belum sempat Faris terlelap dalam tidur yang dalam, tiba-tiba telinganya menangkap getaran halus yang aneh, seperti ribuan kendaraan berat melintas di bawah tanah. Detik berikutnya, sistem meledakkan peringatan yang memecah keheningan kamarnya.

[⚠️ PERINGATAN BENCANA TINGKAT MAKSIMAL ⚠️]

[GEMPA BUMI MAGNITUDO 7,8 SR PUSAT DI LAUT LEPAS

POTENSI TSUNAMI BESAR AKAN MENYENTUH PANTAI DALAM 7 MENIT

SEGERA EVAKUASI KE TITIK TERTINGGI MINIMAL 20 METER DI ATAS PERMUKAAN LAUT!]

"BU! BANGUN, BU! KITA HARUS PERGI SEKARANG!" Faris melompat dari kasur dalam sekejap, langsung berlari ke kamar ibunya sambil menggendong selimut tebal dan tas kecil berisi dokumen penting.

Lantai mulai berguncang hebat. Dinding rumah berderit keras, debu plester berjatuhan dari langit-langit, kaca jendela bergetar hingga berbunyi nyaring seperti mau pecah. Siti terbangun dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi karena ketakutan.

"Faris... apa ini? Gempa?" suaranya gemetar.

"Iya, Bu. Dan ada bahaya lebih besar lagi. Kita harus lari ke tempat tinggi sekarang juga!" Faris tak memberi waktu bicara lebih lama. Ia memapah ibunya berdiri dengan cepat.

Belum sempat mereka melangkah ke pintu depan, suara dentuman dahsyat terdengar dari arah laut, bukan suara ombak biasa, melainkan gemuruh seperti ribuan kereta api raksasa yang menyerbu daratan.

[Jarak gelombang air: 2,4 kilometer. Tiba dalam 4 menit]

[Jalan utama ke bukit terhalang puing tembok dan retakan tanah. Gunakan jalan tikus sebelah timur gang!]

Mereka berlari keluar. Pemandangan di luar sungguh mengerikan. Langit yang tadinya gelap kini disinari cahaya samar dari lampu-lampu yang mulai padam satu per satu. Teriakan histeris warga memenuhi udara. Orang tua memanggil anak, anak berteriak mencari orang tua, tangisan bercampur dengan suara benda-benda berat yang runtuh.

"Air! Air naik cepat sekali!" teriak seseorang dari kejauhan.

Faris menoleh sekilas. Di ujung jalan, tembok pembatas pantai yang kokoh selama puluhan tahun kini hancur berantakan seolah terbuat dari kertas. Dinding air hitam pekat setinggi pohon kelapa melaju kencang, menelan apa saja yang dilaluinya. Rumah, kendaraan, pagar, pepohonan, semuanya tersapu tanpa ampun.

Siti yang masih lemah kakinya tersandung batu, hampir jatuh. Napasnya tersengal hebat, dadanya naik turun dengan susah payah.

"Faris... Ibu tidak kuat... Tinggalkan Ibu, selamatkan dirimu saja..."

"Tidak akan! Aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu!" Faris langsung berlutut, membalikkan badannya. "Naik ke punggungku sekarang, Bu!"

Siti sempat menolak, tapi getaran tanah semakin hebat dan suara air semakin mendekat. Akhirnya dia memeluk leher anaknya erat. Faris bangkit berdiri dengan mantap, kemampuan fisik dan keseimbangan dari Paket Bela Diri Dasar bekerja sepenuhnya, membuat ia bisa membawa beban ibunya dengan stabil meski tanah berguncang liar.

[Belok kiri! Ada pohon tumbang di depan!]

[Lompat melewati parit selebar 1,5 meter!]

Faris menuruti setiap petunjuk sistem tanpa ragu. Ia berlari menyusuri jalan sempit yang berkelok, melompati retakan tanah yang dalam, menghindari puing-puing yang jatuh dari bangunan. Di belakangnya, suara air menghantam rumah-rumah semakin dekat. Bunyi gemuruhnya kini terasa hingga ke tulang, disertai suara kayu yang patah dan orang-orang yang berteriak minta tolong dengan putus asa.

Saat dia menoleh ke belakang, hatinya mencelos melihat air bah sudah menyapu seluruh gang tempat mereka tinggal tadi. Rumah tetangga, kios kecil, bahkan pohon besar semuanya hilang terseret arus keruh yang berisi lumpur dan puing tajam.

"Faris... lihat ke kanan! Jembatan kecil itu runtuh!" teriak Siti di atas punggungnya.

[Ganti arah! Naik lereng tanah di sebelah kiri! Itu jalan tercepat menuju bukit!]

Lereng itu curam dan licin karena tanah yang lembap. Faris mencengkeram akar pohon dan batu-batu besar, menapak dengan kekuatan penuh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, napasnya memburu tapi dia tak berhenti sedetik pun. Di bawah sana, air terus naik, setiap detik ketinggiannya bertambah, menyelimuti pekarangan, lalu mencapai atap rumah satu lantai.

Tiba-tiba sebuah gelombang besar menghantam dinding tembok tak jauh dari mereka. Semprotan air melesat ke arah kaki Faris, membuatnya hampir terpeleset.

[Tahan! Pegang akar pohon beringin di depan!]

Faris mengerahkan seluruh tenaganya. Ia merangkul ibunya lebih erat, menahan tubuh agar tak tergelincir ke bawah. Air bah melintas tepat di bawah kakinya, menyapu puing beton sebesar meja makan yang berputar kencang.

"Tahan sebentar lagi, Bu! Kita hampir sampai!"

Faris berusaha bertahan sekuat mungkin. Jantungnya berdegup kencang. Takut sekali dirinya akan tumbang seperti bangunan-bangunan yang sudah hancur. Ia tak menyangka, malamnya yang semula damai, bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi bencana.

1
Ambu Rinddiany Thea
ikut bahagia ya ris ..
Ita Xiaomi
Faris, jaga dan rawat ibu dgn baik.
Rommy Wasini Khumaidi
alhamdulillah,bu Siti sembuh,Faris punya banyak poin
Sri Supriatin
semangat thor n lanjuut 🙏🙏
Ita Xiaomi
Alhamdulillah Bu Siti udah sehat walafiat.
Ita Xiaomi
Perjuangan seorang anak utk ibu tercinta.
Rommy Wasini Khumaidi
masih penasaran dengan hasilnya,sayangnya selesai babnya😭😭
Rommy Wasini Khumaidi
semangat Faris,kamu pasti bisa
Ita Xiaomi
Semangat Faris.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.
Ita Xiaomi
Anak yg berbakti 👍
Ambu Rinddiany Thea
semangat faris demi ibu mu . semoga misinya lancar ya is .. doa para pembaca selalu bersamamu 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
ayok Ris kamu bisa,nanti author yang kasih tau caranya🤣
Rommy Wasini Khumaidi
kalau didunia nyata ada pil semacam ini pasti laris bgt,berapapun akan dibayar bagi mereka yang kaya raya
Ambu Rinddiany Thea
sistem nya ga bisa bantu gt , malah ngajak debat mulu .. ga tau gt yg baca udh mulai nyesek 😭😭😭
Rommy Wasini Khumaidi
😭😭ikut sedih aku Ris,gimana rasanya ketika kita dapat kerjaan ingin membahagiakan orang tua malah orang tua tidak bisa ikut menikmati
Ita Xiaomi
Mewek bacanya. Sedih banget😭😭😭
Ita Xiaomi
😭😭😭
Ita Xiaomi
Semangat bekerja Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
lah,murah amat 100rb thor?dapat hp apa tambah tunai 61rb
Desau: maaf typo kak. harusnya sejuta 🤭
total 1 replies
Ita Xiaomi
Berharap pd selamat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!