Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.
Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.
Namun, takdir berkata lain.
Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:
[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]
Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....
#kehidupandidesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Rencana Sabotase
"Diman! Ini beneran beli satu gratis tiga?!" Uni Linda langsung menerobos masuk ke dalam warung, menyikut Uda Zal yang juga ikutan berebut di depan meja kasir.
"Benar, Uni! Benar sekali!" Budiman menjawab dengan senyum paling ikhlas yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
"Mi rasa cokelat mentol impor ini harganya cuma seribu rupiah per bungkus! Tapi syaratnya, Uni wajib mengambil bonusnya, dengan membawa pulang tiga bungkus sekalian!"
Uni Linda sempat mengernyitkan dahi melihat bungkusan mi instan yang gambarnya aneh itu.
"Mi rasa apa ini, Man? Kok warnanya cokelat gelap begini? Ndak bikin Uni mati setelah memakannya kan?"
"Ondeh, Uni ... ini mi edisi terbatas! Asal Uni tau saja, rasanya ... akan sangat membekas di tenggorokan. Ayo diambil dulu, Uni, mumpung harganya murah! Nanti belum tentu mendapat harga semurah ini lagi," hasut Budiman dalam hati bersorak kegirangan.
'Mampus kau, Uni Linda. Rasakan sensasi makan mi rasa kuah odol! Pasti habis ini warungku dilempar batu dan tak akan ada lagi yang mau datang belanja di sini!'
Uda Zal tidak mau kalah. Ia langsung menyambar lima bungkus kopi saset rasa cabai hijau dan beberapa batang sabun bau balsem.
"Uda ambil yang ini, Diman! Masukkan ke buku utang biasa, ya."
"Eit, tunggu dulu, Uda Zal!" Budiman menahan tangan Uda Zal.
Sesuai aturan yang diberi sistem, dia tidak boleh sengaja membiarkan orang berhutang tanpa usaha menagih.
"Khusus jualan hari ini, Ambo ndak akan beri utang! Harus bayar tunai karena harganya sudah di bawah modal. Masa harga seribu rupiah masih mau diutang pula?"
Uda Zal bersungut-sungut. Tapi karena melihat harganya yang memang murahnya dan tidak masuk akal, ia akhirnya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan yang telah layu, dengan berat hati.
"Nah! Ambil kembaliannya buat kamu saja!"
.
.
Dalam waktu dua jam saja, warung Budiman yang tadinya dipenuhi barang ampas, kini tak satu pun yang bersisa. Ibu-ibu kompleks telah menjarah semuanya demi prinsip dasar, yang penting murah dan bonusnya banyak.
Budiman berdiri di tengah warungnya yang kembali kosong melompong. Ia menghitung uang di laci kasir. Total uang yang masuk dari penjualan obral itu hanya sekitar Rp250.000. Padahal modal yang dia keluarkan di grosir Koko Alung tadi pagi adalah sebanyak Rp5.000.000.
Artinya, Budiman sukses mengalami kerugian bersih sebesar Rp4.750.000.
Budiman langsung melompat kegirangan, berjoget kecil di balik meja kasir.
"Yesss! Rugi hampir lima juta! Hancur kau Kedai Budiman! Sore ini juga aku sudah resmi bangkrut dan bisa tidur dengan tenang membawa Rp250.000 untuk makan satu minggu."
Namun, belum sempat Budiman menyelesaikan tarian kemenangannya ... Sebuah notifikasi yang hanya bisa didengar oleh pikirannya, kembali terdengar.
[ TIINGG! ]
[ Misi Sesi 1 Berhasil Diselesaikan dengan Sempurna! ]
[ Analisis Sistem: Pengguna berhasil menerapkan strategi 'Loss Leader' yang agresif untuk menghancurkan kompetitor, serta berhasil membersihkan stok barang mati menjadi perputaran uang tunai secara instan. Tindakan ini dinilai sebagai kelalaian dagang yang sangat jenius! ]
[ Total Kerugian: Rp4.750.000. ]
[ Kompensasi Gagal Miskin (100x Lipat): +Rp475.000.000! ]
"B-berapa ...?" Jantung Budiman rasanya mau copot. Ia buru-buru merogoh HP jadulnya yang kembali bergetar hebat.
SMS Perbankan: Saldo Anda bertambah Rp475.000.000. Total Saldo Terikat Anda saat ini: Rp475.000.000.
Budiman langsung ambruk ke lantai, bersandar di kaki meja kasir yang lapuk dengan wajah pucat pasi.
"Empat ratus tujuh puluh lima juta ... Astaghfirullah, kenapa di saat aku mau menjadi miskin ... kenapa malah dikasih modal buat buka cabang?!" tangis Budiman frustrasi.
Belum selesai Budiman meratapi nasib yang kini terasa sangat sial, malapetaka berikutnya justru datang dari media sosial.
Rupanya, anak laki-laki Uni Linda yang seorang remaja tanggung, iseng membuat konten video TokTok saat ibunya memasak mi rasa cokelat mentol tersebut. Video itu memperlihatkan ekspresi Uni Linda yang langsung kejang-kejang dan matanya melotot saat mencicipi kuah mi rasa odol tersebut, refleks berteriak.
"Ondeh, Diman! Mi apa yang kau jual ini?! Pedas mentolnya sampai ke ubun-ubun!"
Video berdurasi tiga puluh detik itu diberi judul: "MENCOBA MI TERKUTUK RASA ODOL DARI KEDAI BUDIMAN. NYAWA HAMPIR PINDAH KECAMATAN!"
Di luar dugaan, video tersebut meledak! Dalam waktu tiga tiga jam, video Uni Linda ditonton lebih dari dua juta kali dan disukai ratusan ribu orang. Kolom komentar langsung dibanjiri netizen yang penasaran setengah mati.
("Heh, itu mi langka tiga tahun lalu, tauk. Di mana tempat yang masih menjualnya?!")
("Plis kasih tahu alamat Kedai Budiman, gue mau bikin konten challenge makan mi ini bareng temen se-geng!")
("Rekomendasi takjil ekstrem buat prank temen nih!")
Sore harinya, Budiman yang sedang duduk melamun meratapi nasibnya mendadak dikagetkan oleh suara gemuruh di luar warung. Begitu ia menggeser pintu kayu untuk mengintip, ia langsung tersedak oleh ludahnya sendiri.
Di depan warungnya, puluhan motor dan mobil sudah berjejer, terpakir dengan tidak rapi. Belasan anak muda dengan kamera ponsel dan ring light sudah mengantre panjang di depan kedainya.
Seorang kreator konten dengan rambut dicat pirang langsung menerobos ke depan.
"Bang! Lu pemilik Kedai Budiman, kan? Gue mau borong mi rasa cokelat mentol sama kopi cabai hijau! Berapa pun harganya gue bayar cash! Tolong keluarin semua stoknya, Bang, gue mau live streaming sekarang!"
Budiman melongo. Ia menatap kerumunan orang yang membawa uang dan mengeluarkan dari dompet mereka, lalu menoleh ke dalam warungnya yang kosong melompong.
"Semuanya sudah habis! Kalian semua bubar!" teriak Budiman kepalang frustrasi.
[ Ding! Misi Sesi 2 Diaktifkan! ]
[ Permintaan pasar melonjak tajam. Sistem mendeteksi potensi keuntungan raksasa. Untuk membantu Anda bangkrut dengan lebih terhormat. ]
[ Sistem telah memotong otomatis saldo Rp200.000.000 untuk merenovasi warung Anda menjadi Mini Market Modern dalam waktu 5 menit! ]
BZZZZTTTT!
Tiba-tiba, lampu di warung Budiman menyala terang benderang. Aliran listrik dari PLN yang tadinya diputus, mendadak tersambung kembali dengan daya yang jauh lebih besar.
Di depan mata para konten kreator yang sedang merekam, dinding-dinding semen warung yang berjamur secara ajaib merontokkan debunya, berganti menjadi cat putih bersih nan estetik.
Rak-rak kayu yang tadinya lapuk hampir ambruk, bergeser sendiri, berubah menjadi rak besi kokoh ala jaringan retail besar.
Dan tepat di atas pintu masuk, sebuah papan neon box berukuran raksasa menyala dengan megah: "BUDIMAN MART - PUSAT KULINER EKSTREM & UNIK."
Anak-anak muda di luar langsung bersorak takjub, mengira itu adalah bagian dari gimmick marketing tingkat dewa.
Sementara di dalam, Budiman memegangi kepalanya yang mendadak pening, menatap semua kemewahan yang dipaksakan ini.
"Toloonggg ... aku cuma mau warung ini tutup, kenapa sekarang malah jadi swalayan?!" pekik Budiman dalam hati, sementara para pembeli di luar mulai menggedor pintu kaca, tidak sabar untuk menyerbu masuk dan menyerahkan uang mereka.
[ bersambung ]