NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah

Dendam Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.

Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penampakan hantu tanpa kepala di monitor

Malam telah jatuh sepenuhnya di Desa Selogiri. Suasana di dalam rumah joglo tempat rombongan Sri menginap terasa kian sunyi.

Beberapa dari rombongan itu sudah lelap di gelap malam yang hanya diiringi oleh suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Karena, kelelahan beberapa dari mereka tidur lebih awal, sedangkan, Susan selaku Editor duduk sendirian menghadap laptopnya yang menyala terang di teras.

Sebagai penanggung jawab penyuntingan gambar, tugas Susan malam itu adalah memeriksa kembali detail setiap take hasil syuting subuh tadi.

Dia harus menyortir adegan mana yang paling bagus sebelum mereka melanjutkan proses produksi. Ia mencolokkan memory card kamera, lalu mulai membuka folder rekaman video.

Susan memutar hasil take pertama. Semuanya tampak aman, hingga adegan dipotong karena jeda istirahat akibat cuaca subuh yang terlalu dingin.

Kemudian, Susan membuka berkas video take kedua, take yang diambil setelah mereka beristirahat setengah jam, tepat saat matahari mulai merayap naik dan kabut fajar sedikit terangkat.

Susan memasang headphone-nya, memperhatikan dengan saksama langkah Angga dan Dita di layar laptop.

Pergerakan kamera Yuda tampak bergerak lambat melakukan panning ke arah kiri, menangkap atmosfer gerbang desa yang magis.

Namun, tepat saat fokus kamera melewati deretan pohon jati di sebelah kanan gerbang, jepitan jemari Susan pada mouse mendadak membeku.

Napasnya tertahan di tenggorokan. Susan memajukan badannya, menatap layar laptop hingga jarak beberapa senti saja. Ia menggosok matanya berulang kali, berharap apa yang dilihatnya hanyalah distorsi gambar, glitch, atau sekadar pantulan cahaya lampu di ruangan itu.

Namun, tebakannya salah. Itu sama sekali bukan kesalahan teknis.

Di balik rimbunnya semak, beberapa meter di belakang posisi Mey yang sedang berakting, berdiri sebuah figur.

Figur itu bertubuh tegap, dengan pakaian yang sudah koyak dan berlumuran noda kehitaman yang pekat seperti darah kering.

Bagian paling mengerikan yang membuat seluruh sendi di tubuh Susan lemas seketika adalah bagian atas tubuh makhluk tersebut.

pria itu berdiri tegak tanpa kepala. Susan merasakan darahnya berdesir hebat, hawa dingin mendadak menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Di tengah kegelapan malam yang sepi, penampakan di layar itu terasa begitu nyata dan mengancam.

Meskipun makhluk itu tidak memiliki kepala, gestur tubuhnya seolah sedang menghadap lurus ke arah kamera, mengawasi jalannya syuting pagi tadi dengan saksama.

Tangan Susan yang gemetar hebat tak sengaja menyenggol gelas teh di samping laptopnya hingga ambruk.

Braakk!

Suara hantaman gelas kaca yang tumpah dan menggelinding di atas lantai papan itu bergema keras, memecah kesunyian malam joglo yang pekat.

Di ruang tengah, Sri, Bagas, dan Tris yang kebetulan masih terjaga karena sedang mendiskusikan jadwal syuting untuk besok langsung tersentak.

Mendengar suara gaduh yang disusul di teras, ketiganya spontan bangkit berdiri dan berlari cepat keluar.

"San! Susan! Kamu kenapa?" tanya Sri panik, langsung berlutut di samping temannya yang tampak pucat pasi.

Bagas dengan sigap langsung memeriksa keadaan sekitar.

"Ada apa, San? Kok mukanya sampai keringat dingin begitu?" tanya Tris cemas melihat tubuh Susan yang gemetar hebat dengan kedua lutut yang didekap erat ke dada.

Susan tidak langsung menjawab. Bibirnya kelu, terkunci oleh rasa horor yang baru saja menyengat matanya.

Sri yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres segera memegang pundak Susan, mencoba menyalurkan ketenangan.

"San, tenang. Tarik napas dulu. Coba cerita ke kita, kamu kenapa?"

Susan menelan ludah dengan susah payah, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar.

"Ada... ada yang aneh di hasil syuting pagi tadi." Ujarnya dengan nada ketakutan yang amat jelas.

Bagas mengernyitkan dahi, saling berpandangan sejenak dengan Sri dan Tris sebelum kembali menatap Susan.

"Aneh bagaimana, San? Filenya rusak?" tanya Bagas mencoba mencari penjelasan logis.

Susan menggeleng cepat, matanya melebar menatap benda elektronik di depannya itu. Alih-alih menjawab, tangan Susan yang masih gemetar perlahan bergerak maju, lalu menunjuk ke arah laptopnya yang masih dalam posisi tertutup rapat.

"Kalian... kalian lihat sendiri saja di take kedua. Di dekat pohon jati," kata Susan terbata-bata, tidak sanggup lagi mendeskripsikan kengerian sosok pria tanpa kepala itu dengan kata-katanya sendiri.

Melihat reaksi Susan yang begitu ketakutan, Sri langsung meraih laptop tersebut dan perlahan mengangkat layarnya kembali. Bagas dan Tris ikut merapat, mencondongkan tubuh mereka ke depan layar, bersiap melihat apa yang sebenarnya tersimpan di dalam rekaman subuh tadi.

Sri perlahan menekan tombol space bar untuk memutar kembali video yang sempat terjeda. Layar laptop kembali menyala terang, menampilkan rekaman take kedua di depan pagar gerbang desa.

Suasana seketika hening. Sri, Bagas, dan Tris menahan napas, menatap tajam ke arah pergerakan kamera Yuda yang sedang melakukan panning lambat melewati deretan pohon jati.

Dan di sanalah sosok itu berada.

Benar saja, apa yang dilihat Susan bukanlah ilusi. Di dalam layar, tepat di balik rimbunnya semak, berdiri sesosok pria tegap dengan pakaian yang koyak dan bernoda kehitaman mirip darah kering. Dan tepat di atas kerah bajunya, kosong. Sama sekali tidak ada kepala.

Sosok tanpa kepala yang begitu menyeramkan itu terekam dengan sangat jelas, berdiri seolah-olah sedang ikut menonton proses syuting mereka.

"Astagfirullahaladzim..." Ucap Tris spontan, langkahnya langsung mundur satu pijakan karena syok.

Bagas yang biasanya paling rasional dan tenang, kini membeku. Ia meraba tengkuknya sendiri yang mendadak terasa dingin.

Bulu kuduknya meremang hebat, merinding menyaksikan penampakan yang melanggar logika manusia itu terpampang nyata di hadapan mereka dalam format digital.

"Ini... ini beneran? Bukan gangguan lensa atau efek kabut, kan?" tanya Bagas dengan suara yang mendadak serak, matanya masih tak berkedip menatap layar.

Sri tidak menjawab. Ia hanya bisa terdiam dengan wajah yang tak kalah pucat, teringat kembali akan firasat ganjil dan bayangan misterius yang sempat melintas di monitornya subuh tadi.

"Bukan, Gas... itu bukan gangguan lensa," kata Sri dengan suara yang nyaris tertahan di tenggorokan.

Matanya masih terpaku pada layar laptop, menatap lekat-lekat noda sosok tersebut.

"Subuh tadi, aku sebenarnya melihat sesuatu juga. Aku pikir itu cuma halusinasiku karena ngantuk dan dingin."

Mendengar pengakuan Sri, Susan semakin erat memeluk lututnya, sementara Tris langsung menoleh ke arah pekatnya malam, seolah takut sosok di dalam layar itu mendadak muncul di balik kaca.

"Jadi... dari pagi tadi kita syuting ditemani makhluk astral?" suara Tris bergetar hebat.

"Sri, Gas, kita harus gimana? Besok kita masih ada jadwal ambil adegan?"

Bagas mencoba mengatur napasnya, berusaha keras mengembalikan akal sehatnya yang sempat lumpuh selama beberapa detik.

Sebagai salah satu kru yang dituakan, ia tahu ketakutan yang berlebihan hanya akan membuat situasi semakin kacau.

"Tenang, semuanya. Tenang dulu," kata Bagas, meskipun suaranya tidak bisa menyembunyikan rasa merinding yang masih menjalar di lengkannya.

Dia melangkah maju dan langsung menutup layar laptop Susan demi memutus pandangan mereka dari visual mengerikan itu.

"Malam ini kita jangan bahas ini lagi. Simpan dulu file-nya, San. Jangan sampai anak-anak yang lain tahu, terutama para cast. Kalau mereka tahu, besok kita gak bakal bisa syuting karena semua orang pasti ketakutan," lanjut Bagas dengan tegas namun berbisik.

Sri mengangguk setuju, meski hatinya berkecamuk.

"Bagas benar. Kita simpan ini berempat dulu. Besok pagi-pagi sekali, sebelum mulai syuting, aku akan coba tanya-tanya ke Pak Seleman atau warga sekitar lewat Mey. Siapa tahu, desa ini memang punya sejarah atau pantangan yang belum kita ketahui, dan mungkin sudah kita langgar."

Bagas dan Tris menganggukkan kepala perlahan, sepakat dengan ucapan Sri. Di tengah keheningan malam yang kian mencekam, mereka sadar bahwa opsi terbaik saat ini adalah mencari tahu kebenarannya dari orang lokal.

"Benar, Sri. Kita memang harus bertanya pada orang desa besok. Siapa tahu ada pantangan atau larangan adat di desa sudah kita langgar waktu syuting pagi tadi," sahut Bagas sembari mengusap wajahnya, mencoba mengusir sisa rasa merinding.

Tris ikut mengembuskan napas berat. Ironis memang. Mereka datang jauh-jauh ke Desa Selogiri untuk memproduksi sebuah film horor fiksi.

Mereka sudah akrab dengan konsep hantu dan naskah-naskah menyeramkan di atas kertas. Namun, ketika layar laptop menyuguhkan penampakan yang nyata dan tak kasat mata seperti tadi, mental mereka langsung goyah. Rekaman digital sosok pria tanpa kepala itu terasa sangat nyata, nyata hingga membebani pikiran mereka malam itu.

"Lucu ya... kita ini sedang bikin film horor, tapi begitu dikasih lihat yang asli, kita langsung ciut begini," ujar Tris dengan senyum getir yang dipaksakan, mencoba mencairkan suasana meskipun detak jantungnya belum juga normal.

"Ini beda, Tris. Di naskah kita bisa kendalikan semuanya. Tapi kalau yang ini, kita tidak tahu apa maunya," balas Susan dengan suara yang masih parau.

Sri memandang ketiga temannya satu per satu, meyakinkan mereka.

"Sudah, malam ini kita istirahat. Susan, matikan laptopmu. Kita kunci pintu dan semua jendela rapat-rapat. Besok pagi, kita cari jawabannya."

Teka-teki menyeramkan tentang Desa Selogiri kini mulai menampakkan wujudnya yang paling nyata.

1
Maure Nia
bagus KK ceritanya....lanjut....
Maure Nia
pembalasan menuju yg kedua...JD penasaran Thor siapa LG dalangnya MLM itu🤔
Nurr Tika
satu persatu orang yg membunuh akan di teror
Nurr Tika
sri masih binggung
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
sri di panggil ibunya
Maure Nia
balas dendamnya memang nunggu Sri Dateng...lanjut thor
Maure Nia
kan ketemu ibumu Sri🥺🥹hah jadi ikut mewek
Siti Yatmi
aduh..sri kalo kamu tau tentang riwayat kelahiran mu...auto sedih and pilu...ga kebayang penderitaan ibu mu...
Siti Yatmi
baru ngeh kalo udh 20 tahun setan baru nongol🤣
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Maure Nia
Sri itu pasti ibumu
Yulia Lia
yang manggil Sri itu ibu kandungmu sri
Yulia Lia
hutan tempat Sri di lahirkan dengan cara yg sangat tragis
Nurr Tika
ada yg menyesatkan jalan mereka
Nurr Tika
rasman ktemu ga yah
Maure Nia
Sri kamu bisa ketemu ibu kamu
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
siapa yg bwa rasman ya
Yulia Lia
ayo siapakah sosok misterius itu,,,apakah ada yg tau kejadian 20 THN silam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!