Ini kisah berbagi cinta.
Amira menjatuhkan cintanya pada Gilwang seorang pria yang baru di pertemukannya saat hari pernikahannya. Tidak dengan Gilwang, tak menjatuhkan cintanya pada Amira, karena Gilwang sudah mempunyai kekasih yang berjanji akan menikahinya yaitu Anita.
Karena Gilwang orang yang pertama bisa membuatnya jatuh cinta, Amira akan tetap mempertahankan cintanya dan pernikahannya, meski Gilwang tak mencintainya. Bahkan Amira rela Gilwang menikah dengan kekasihnya asal tidak di ceraikan.
Apakah Amira akan tetap bertahan dengan pernikahannya setelah kehadiran Anita istri kedua yang ingin menjadi istri Gilwang satu-satunya?
Ikuti kisahnya hingga bab akhir. Jadikan cerita ini favorit.
kasih like dan votenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Begitu mudahnya
Amira sangat senang dan bersyukur, karena kehadiran orang tuanya saat ini dia bisa merasakan sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Di perlakukan sangat hormat dan sangat di sayangi suaminya.
Andai saja ini bisa terjadi seterusnya, pasti aku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini
Ini adalah hari keberuntungan Amira tak henti-hentinya ia mengucap syukur dalam hatinya saat dalam belaian Gilwang. Dan berdoa semoga mendapatkan belaian seperti ini terus selama hidupnya. Belaian dari orang yang sangat dicintainya.
Ulasan senyum selalu Amira dan Gilwang tunjukkan di hadapan Orang tua mereka untuk meyakinkan mereka.
Kedua orang tuabAmiravdan Gilwang menganggap mereka sudah berubah saling mencintai meski dulu sempat menolak di jodohkan.
Akting Gilwang sungguh hebat di tambah Amira yang sangat meresponnya. Membuat Hendro yakin Gilwang sangat patuh pada perintahnya.
Alvin dan Elsa juga tertipu degan akting mereka yang nampak natural.
"Mereka pasangan yang serasi, Kak Gilwang yang tampan kayak artis korea dan Kak Amira yang cantik dengan paras hijabnya. Semoga nanti aku ketularan bisa dapet jodoh kayak kak Amira," batin Elsa terkesima sembari tersenyum meyaksikan Kakaknya yang duduk berdampingan dengan mesra.
Amira juga menatap wajah tampan adik laki-laki Gilwang yang duduk sejajar dengan Ayahnya.
"Dia juga sangat tampan seperti artis idolaku. Kenapa mereka berdua sama tampannya kulitnya putih, tipeku banget," batin Elsa gemes.
Ingin sekali Elsa menyapaya dan berkenalan dengannya tapi tak berani.
Alvin juga sangat senang melihat Kakaknya bisa bucin dengan wanita yang di jodohkan, meski dulu menolaknya dengan keras. Alvin tiada menyangka Kakaknya bisa berubah sedrastis ini.
"Istri Kak Gilwang sangat cantik, pantas saja dia sampek bucin gitu. Nggak malu lagi bermesraan di hadapan kita semua. Apa dia nggak ingat dulu menolak perjodohan ini, ternyata dia sangat bucin sekarang," batin Alvin menyunggingkan senyumnya.
Alvin menatap ke arah Elsa yang duduk sejajar dengan Ibunya.
"Adik Kak Amira juga sangat cantik. Bagaimana kalau aku di jodohkan sama dia, aku pasti nggak bakalan nolak." Alvin senyum-senyum sendiri.
Elsa merasa bosan di dalam rumah kakaknya hanya menyaksikan kemesraan mereka dan mendengar berbagai pujian untuknya. Elsa ingin mencari udara segar di luar.
Elsa pun minta izin sama kedua orang tuanya kalau mau cari udara segar di luar.
"Eh, si gadis cantik mau kemana tu. Mau ikut ah, aku juga bosan disini hanya memyaksikan percakapan para orang dewasa."
Alvin berjalan mengikuti Elsa keluar.
"Hai gadis cantik, kamu mau kemana?" tanya Alvin yang berada di belakang Elsa.
Langkah kaki Elsa terheti tepat di pintu luar.
"Eh cowok tampan! Kamu ngikutin aku ya. Kok tiba-tiba ada di belakangku."
Kedua netra Elsa melebar saat menengok yang di belakangnya adalah Alvin. Jatungnya berdegup kencang seoerti mau perang.
"Aku nggak ngikutin kamu, aku lagi pingin di luar lihat pemandangan rumah Kakakku. Aku baru pertama kalinya kesini," elak Alvin.
"Emang kamu nggak pernah di ajak kesini sama Kakak kamu?" Tanya Elsa sembari duduk di kursi yag ada di teras depan. Alvin juga ikut duduk di kursi yang sejajar dengan Elsa namun terhalang meja.
"Nggak pernah, aku baru tau Kakakku sudah punya rumah setelah menikah yang tiba-tiba ingin pulang kerumahnya sendiri."
"Oh gitu." Elsa manggut-manggut.
"Ngomong-ngomong kita belum kenalan lo," cetus Alvin.
"Iya ya, kita hanya sekilas bertemu saat pernikahan kakak kita, dan kita nggak sempat berkenalan."
"Aku Alvin adik tampannya Kakak Gilwang," ucap Alvin sembari menjulurkan tangannya dengan menunjukkan senyum terbaiknya.
"Sudah tau kalau kamu adiknya Kak Gilwang. Tapi kalau menurutku tampan nggak ya adiknya Kak Gilwang." Jari telunjuk Elsa menepuk-nepuk pipinya bergeming.
"Ya pasti tampan dong," sela Alvin dengan pedenya.
"Ya boleh juga sih, kalau jadi teman aku. Soalnya aku suka cowok yang berkulit putih tampan kayak oppa-oppa," ucap Elsa centil.
"Jadi aku kayak oppa-oppa k-pop."
"Sedikit mirip sih."
Elsa malu mengakui kalau Alvin cowok tipenya. Sedangkan Alvin tak gentar, dia merasa masih ada peluang untuknya, yang di bilang sedikit mirip oppa-oppa.
"Aku nggak mau jadi temen kamu, kalau jadi pacar gimana?"
"Apa jadi pacar?" Elsa terkejut mendengar pernyataan Gilwang.
"Ya kalau kamu masih jomblo, boleh dong kita pacaran. Soalnya aku masih jomblo." Alvin berterus terang. Alvin emang orang yang nggak bertele-tele dan nggak mau penasaran degan perasaannya.
"Cowok ini kenapa langsung main yembak aja " batin Elsa sedikit gusar dan gugup. Diavragu mrnjawabnya.
"Pasti kamu sudah punya pacar, cewek secantik kamu pasti pacarnya banyak," cetus Alvin.
"Siapa bilang, satu pun aku nggak puya pacar. Oke, kalau kita sama-sama singgel boleh dong kita jadi pasangan kekasih," ucap Elsa dengan pede dan berani.
"Benarkah! Jadi kita akan jadi pasangan kekasih!"
Elsa menggut-manggut pertanda mengiyakan. Alvin berdiri dqti duduknya dan meloncat kegirangan.
Hari sudah siang, kedua keluarga sudah puas mengunjugi kedua anaknya yag terlihat sudah rukun menjadi pasanga suami istri. Mereka pun pamit pulang.
Ada sedikit rasa gusar di hati Amira. Setelah keluarganya pulang akankah Gilwang suaminya masih bersikap mais padanya seperti saat ini.
"Ayah, Ibu jangan pulang dulu, Amira masih kangen sama kalian," ucap Amira manja tak mau Ibunya cepat-cepat pulang meninggalkannya.
Widya mengatakan kalau masih kangen sama Ayah dan Ibu besok bisa datang ke rumah.
"Biarkan Ayah dan Ibumu pulang Amira, ini sudah siang," ucap Gilwang.
Amira masih menujukkan wajah tak relanya di tinggal orang tuanya.
Lagi-lagi Gilwang berakting, mendekap tubuh Amira dan mengelus kepalanya yang berhijab di depan orang tuanya dan mengatakan "Oke, besok aku izinkan kamu kerumah Ibumu."
Gilwang melakukanya supaya Amira cepat membiarkan orang tuanya pulang.
Amira tersenyum Girang dan mendongakkan wajahnya menatap suaminya.
"Benarkah Mas!"
"Iya benar," tegas Gilwang.
Gilwang rasanya sudah capek berakting, ingin mereka semua cepat pulang.
Pak Hendro dan istrinya juga pamit pulang sama Gilwang. Berkali-kali Hendro dan istrinya mengucapkan terima kasih pada Gilwang yang sudah merubah sikapnya.
Mereka mencari keberadaan Elsa dan Alvin. Teryata mereka ada di teras sedang dengan rasa bahagianya saling jatuh cinta. Wajah mereka merona-rona tak henti-hentinya mereka saling menatap dibalut senyuman yang melekat di wajahnya.
"Kalian disini," ucap Amira yang menemukan keberadaan Elsa.
"Kenapa kalian saling melempar senyum, degan wajah yang merona-rona," tanya Amira pada Elsa.
"Aku sedang jatuh cinta Kak, dan dia membalas cintaku," ucap Elsa.
"Benarkah kalian saling jatuh cinta?" Tanya Amira serius.
Mereka berdua manggut-manggut.
Ya Allah begitu mudah untuk mereka saling jatuh cinta, tidak seperti diriku yang cintaya bertepuk sebelah tangan