kisah ini menceritakan tentang Rehaan, putra konglomerat yang harus menjalani kehidupan sulitnya sejak ia masih kecil,
Rehaan harus kehilangan kedua orang tuanya sejak ia masih berusia 2th karena kejahatan Om dan Tante-Nya.
tidak cukup sampai disitu, hidup Rehaan semakin sulit sejak Nayla pengasuhnya diusir dari rumah Rehaan atas fitnahan oleh Om dan Tante-Nya,
Akankah Rehaan bisa berjuang sendiri menghadapi kejahatan Om dan Tante-Nya?"
ikuti Terus "Pesona pengasuhku" karena kisah ini juga akan diwarnai oleh kisah cinta Romantis antara Rehaan dan Nayla 😉
@Noor.hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali dengan pengasuhku setelah 20th Berlalu
Pesawat yang Rehaan naiki mendarat di Jakarta.
Rehaan berjalan ke lobi,
Rehaan menunggu supir pribadinya menjemput.
Cukup lama Rehaan menunggu supirnya datang.
Rehaan Mondar-mandir kesana kemari dan mulai merasa kesal.
"Kenapa dia masih belum datang juga? padahal aku sudah memintanya agar menjemputmu lebih awal," grutu Rehaan.
"Apa anda membutuhkan taksi Tuan?" tanya salah seorang supir taksi.
Rehan berbalik badan dan melihat supir itu.
Mereka sama-sama terdiam seperti mengenal satu sama lain.
"Paman Kadir?" tanya Rehaan memastikan.
""Apa Tuan mengenalku?" tanya supir taksi bingung.
"Aku Rehaan," ucap Rehaan terseyum.
"Tuan Rehaan Harendra Wicaksono?" ucap supir mengingat.
"Ya.. ini aku," ucap Rehaan meyakinkan.
"Tuaaannn..." paman Kadir langsung memeluk Rehaan.
"Tuan apa kabar Tuan? Kemana saja Tuan sejak 10tahun ini?" tanya supir menangis di pundak Rehaan.
"Aku melanjutkan kuliahku di England paman, aku disana juga bekerja, dan sekarang aku sudah berhasil mendirikan perusahaan sendiri di Jakarta," jelas Rehaan.
"Saya benar-benar bangga padamu Tuan, meskipun Tuan kehilangan semua, tapi Tuan bisa bangkit dan nenjadi orang sukses seperti ini," ucap supir mengusap - usap lengan Rehaan.
"Ya... Semua ini berkat doa dari paman juga terutama bibi Nayla," ucap Rehaan menjadi sedih mengingat Nayla.
"Apa tuan sudah pernah menemui Nayla?"
"Belum paman... Selama 10tahun ini, aku baru pulang hari ini," ucap Rehaan.
"Oh ya Apa paman masih mengingat rumah Nayla?" tanya Rehaan penuh harap.
"Ya Tuan.. aku masih mengingatnya, apa Tuan mau ku antarkan ke rumah Nayla?"
"Ya, aku ingin menemuinya, sekarang juga," ucap Rehaan bersemangat.
"Baiklah kalau begitu naiklah Tuan," ucap supir membukakan pintu.
"meskipun 20rahun sudah berlalu saya masih mengingat dimana rumah Nayla.
Ee... Maafkan saya tuan dulu saat Nayla di usir... Ee... Maksud saya saat Nayla pergi meninggalkan kediaman Wicaksono tanpa sepengetahuan Tuan saya mengantarkan Nayla ke kampung halamannya," ucap supir.
"Tidak papa.. aku malah bertrimakasih pada paman, terimakasih telah mengantarkan bibi Nayla ke kampungnya dengan selamat," ucap Rehaan tersenyum getir.
"Oh ya... Ngomong - ngomong kenapa paman kadir sekarang jadi supir taksi? Apa Nyonya dan Tuan Ruslaan memecat paman?"
"ya itu benar tuan.. Nyonya dan Tuan Ruslaan memecat semua orang kepercayaan Tuan Harendra, dan menggantinya dengan orang-orang kepercayaan mereka, mereka benar - benar kejam," jelas paman Kadir.
"Sudahlah paman, paman tidak perlu merasa sedih, dan paman tidak perlu menjadi supir taksi lagi, Paman kembalilah menjadi supir pribadi ku," ucap Rehaan memegang pundak paman Kadir.
"Benarkah Tuan?" tanya paman Kadir tak percaya.
"Ya paman bisa jadi supir pribadiku, biar supir pribadiku yang sekarang aku pekerjakan jadi supir di perusahaan," jelas Rehaan.
"Terimakasih Tuan, Tuan benar - benar baik,"
Rehaan hanya tersenyum.
"Tuan.. bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya paman Kadir.
"Ya... Tanyalah," jawab Rehaan.
"Tuan... Kenapa tuan tidak melaporkan semua kejahatan nyonya dan Tuan Ruslaan pada polisi?" tanya paman Kadir penasaran.
Rehaan Menghelai nafas panjang.
"Aku tidak cukup bukti untuk menjebloskan mereka atas kematian kedua orang tuaku, karena kasusnya sudah lama berlalu, sedangkan untuk hak waris, aku sendiri yang menandatangani semua berkas waris itu, Ya meskipun saat itu aku tak mengetahui apa isinya, tapi aku menandatangani berkas itu, jadi aku tidak bisa berbuat apa - apa," jelas Rehaan mengingat kembali masa lalu pahitnya.
Supir terdiam sedih.
"Tapi tenanglah paman, lihatlah aku Sekarang, aku sudah memiliki segalanya hasil jerih payahku sendiri," ucap Rehaan berbangga hati.
"Saya ikut senang Tuan, Tuan Harendra pasti bangga pada keberhasilan Tuan,"
"Dan aku ingin bibi Nayla juga merasa bangga padaku," ucap Rehaan dalam hati.
*****
Setelah perjalanan hampir sehari penuh mereka pun sampai di kampung halaman Nayla.
"Sudah sampai Tuan," ucap supir mengagetkan lamunan Rehaan.
"Hah?" Jantung Rehaan berdegup dengan kencang, Rehaan berfikir bagaimana cara dia menghadapi Nayla setelah 20th tidak bertemu,
Seperti apa pengasuhnya Sekarang? apakah ia masih secantik dulu, apakah ia sudah menikah?
Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di hati Rehaan.
"Tuan?" Paman Kadir kembali mengagetkan Rehaan.
"Oh... Ya, Ya," Rehaan menarik nafas panjang menahan kecemasan di hatinya.
Perlahan Rehaan membuka pintunya dan turun dari mobilnya.
Rehaan melihat Nayla sedang Menyirami tanaman di depan rumahnya.
Senyum Nayla terukir saat tetangganya menyapanya.
Meskipun kini usia Nayla sudah berkepala empat tapi kecantikannya tidak berubah sedikitpun.
Nayla malah terlihat lebih cantik dan mempesona, kulitnya yang putih mulus, badanya yang ramping dan kencang membuat Nayla terlihat seperti gadis 20th.
Rehaan terus menatap Nayla dari kejauhan.
Rehaan benar - benar terpesona dengan pengasuhnya itu.
Cukup lama Rehaan memperhatikan Nayla, hingga Rehaan kembali mengingat semua kenangannya bersama Nayla.
"Dengankan bibi, Meskipun Tuhan telah mengambil kedua orang tuamu tapi Tuhan telah mengirimkan bibi untukmu,"
"Kamu harus mendapatkan lebih banyak piala seperti ini, karena bibi ingin kamu menjadi pengusaha sukses seperti ayahmu,"
"Bagaimana mungkin bibi menikah, jika kekasih bibi belum melamar bibi,"
"Bibi sangat menyayangi mu Rehaan,"
Kata demi kata yang pernah Nayla ucapkan pada Rehaan kini kembali menggema di telinganya, seakan - akan baru kemarin Nayla mengatakannya, tapi kenyataannya mereka telah berpisah selama 20th, dan Rehaan yang dari bayi berada di bawah asuhan Nayla kini ia telah menjadi pria dewasa.
Rehaan mengusap air mata yang menetes di pipinya setelah Nayla menyadari kehadiran dirinya .
Nayla memperhatikan Rehaan dari kejauhan.
Nayla hanya merasa seperti mengenalnya, tapi tidak mengetahui jika itu adalah Rehaan, anak asuhnya.
"Naylaaaa..." terdengar suara Ibu memanggil Nayla dari dalam.
"Ya..." saut Nayla berbalik badan ingin masuk kedalam.
"Bi bi..." kata - kata itu hanya sampai di tenggorokan Rehaan.
Rehaan mengulurkan tangannya seakan - akan ingin menghentikan Nayla.
Nayla menghentikan langkahnya dan kembali menengok ke belakang.
"Rehaan?" tanya Nayla dalam hati.
Rehaan dan Nayla saling menatap dari kejauhan.
Nayla melihat ke arah mobil dan melihat paman Kadir di dalamnya.
"Paman kadir?" batin Nayla lalu kembali menatap Rehaan.
"Jadi benar pria yang ada dihadapan ku ini Rehaan? anak kecil yang ku asuh sedari ia masih bayi?" batin Nayla langsung mengingat semua kenangan bersama Rehaan.
"Bibi jika bibi terseyum seperti ini bibi terlihat sangat cantik."
"Jika aku besar nanti aku yang akan melindungi bibi."
"bibi apakah bibi ingin menikah?"
"bibi aku mencintaimu."
"bibi bolehkah malam ini aku tidur bersama bibi?"
Semua kata - kata Rehaan kembali terngiang - ngiang di telinga Nayla.
Nayla menangis haru dan berlari kearah Rehaan.
Rehaan pun berlari ke arah Nayla.
Mereka berhenti di tengah - tengah dan saling menatap satu sama lain.
"Bibi..." ucap Rehaan meneteskan air matanya.
"Rehaan? tanya Nayla memastikan.
"Ya bibi... Aku Rehaan," ucap Rehaan
"Rehaan kamu sudah besar.?" Nayla menegang kedua lengan Rehaan sambil memperhatikan Rehaan dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Ya bibi, ini Aku, anak yang bibi Asuh dari bayi satu Minggu," ucap Rehaan haru.
Nayla masih mengamati Rehaan.
"Lihatlah bibi, berkat Do'a dan bimbinganmu aku jadi seperti sekarang,"
"Rehaaaaan..." Naina menangis memeluk Rehaan.
"Bibiiiii...." Rehaan pun memeluk Nayla dengan erat.
Mereka sama - sama menangis dan melepas kerinduan di hati mereka yang sudah terpendam selama 20th.
Bersambung....