Bella Oceana adalah istri kedua dari Alan Elvis. Alan menikahi Bella karena Tevy sudah tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri untuk melayani Alan. Tevy sudah lumpuh sejak tiga tahun terakhir karena kecelakaan. Karena alasan tersebut, Alan menikah lagi dengan wanita yang ia kenal dari sebuah restaurant. Karena pada saat itu Bella adalah Manager Restaurant tersebut. Pernikahan Alan dengan Bella tentunya tidak di ketahui oleh Tevy. Alan sangat menyayangi Tevy, ia tidak akan sampai hati jika harus mengatakan hal yang sejujurnya kepada istrinya. Namun Alan juga pria normal yang membutuhkan sentuhan wanita. Sudah satu minggu ini sikap Tevy begitu berbeda kepada Alan, menjadi sangat manja dan tidak ingin ditinggal terlalu lama. Tentu saja sikap Tevy membuat Alan serba salah karena ia juga harus bekerja dan tentunya menemui Bella, istri keduanya. Setiap Tevy mulai menyentuh tubuh Alan, yang terbayang dalam benaknya adalah wajah Bella, desahan Bella, dan juga erangannya diatas ranjang. Dan itu semua membuat Alan memiliki hasrat berlebih untuk bersama dengan Bella. "Sayang, aku pikir kamu udah gak bergairah, ternyata sentuhanku masih bisa membuat kamu seperti ini" ucap Tevy Seketika mata Alan terbuka, ia menyadari jika yang sedang menyentuh miliknya bukanlah Bella, melainkan Tevy istri sahnya sejak tujuh tahun ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Pagi ini Bella keluar kamar dengan outif olahraganya, ia menuju meja makan dimana ada Papa, Mama dan Adiknya.
Nanda memutar bola matanya ketika melihat kedatangan Bella. Bahkan Nanda menatap Bella dengan tatapan tajamnya, sementara Bella ia tidak menghiraukan adiknya yang sedang kesal karena hal yang tidak pasti.
"Pagi Pa, Ma" ucap Bella
"Pagi Bella, kamu mau olahrga?"
"Iya Pa, minta jus dong Ma"
"Oke sayang tunggu ya"
Nanda semakin kesal karena ia di abaikan oleh Bella, padahal Nanda ingin menunjukan jika saat ini ia benar-benar marah dengan Bella.
"Jalan dulu Pa, Ma" Ucap Bella
Bella meninggalkan meja makan dengan mengabaikan Nanda, bibirnya tersenyum ketika ia berhasil membuat Nanda semakin kesal. Bella dan Nanda memang hanya selisih satu tahun, itulah alasannya mereka sering bertengkar dan apalagi Nanda selalu tidak ingin mau kalah.
"Ngapain kamu lama-lama disini?" tanya Nanda yang tiba-tiba sudah berada di luar.
"Memangnya ini rumah kamu? Kamu beli pakai uangmu? Kalau gak diem deh" jawab Bella tenang tapi sarkas
"Oh, kalau kamu gak suka aku disini. Mending kamu beli rumah baru, keluar dari sini. Hidup sendiri, cari makan sendiri, setidaknya biar kamu tahu gimana rasanya" imbuh Bella
"Cukup ya! Kamu gak perlu atur aku harus gimana"
"Kamu juga harusnya sama, kamu gak perlu atur aku harus gimana. Urus hidup masing-masing, kamu gak suka sama aku, aku pun sebaliknya. Jadi gak usah banyak drama"
Bella meninggalkan Nanda begitu saja kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah orangtuanya untuk menuju tempat olahrga.
Sementara Nanda, ia begitu syok mendengar pernyataan Bella, karena selama ini Bella tidak pernah mengeluarkan pernyataan apapun.
"Sorry Nanda, aku harus bersikap mengikuti sikap kamu ke aku" batin Bella
.
.
Sementara pagi ini dirumah Alan, dia sengaja ingin mengantarkan Tevy ke klinik untuk menemani dia terapi. Namun Tevy menolak dengan berbagai alasan, yang membuat Alan sedikit kesal.
"Kamu bilang butuh waktu ku, aku sudah meluangkan waktu tapi kamu gak mau" ucap Alan
"Bukan begitu sayang, tapi ini terapi, aku maunya kamu meluangkan waktu untuk kita pergi ke mall atau kita makan siang bersama. Bukan terapi" "Tapi aku juga mau tau sejauh apa perkembangan kamu"
Tevy mulai panik, karena sebenarnya terapi hanyalah sebuah alasan, karena Tevy hanya ingin bertemu Devan dan melepas hasrat di dalam dirinya.
Ting! Ponsel Alan berdering.
Alan menerima telepon dari Ghaly, kemudian ia mematikan ponselnya.
"Aku ke kantor dulu sayang, lain kali aku temani kamu"
"Ada apa?"
"Ada tamu calon investor"
"Hmm oke"
"Hati-hati ya nanti berangkatnya. Intan titip Ibu"
"Baik Pak" jawab Intan
Tevy benar-benar merasa lega karena Alan membatalkan niatnya untuk menemani Tevy terapi. Namun Tevy juga harus bersiap jika suatu hari nanti Alan akan memaksa ikut dengannya.
"Kita siap-siap sekarang Tan"
"Baik Bu"
Intan mendorong kursi roda Tevy menuju lift rumah tersebut, kemudian menuju kamar dan melakukan persiapan sebelum mereka berangkat ke klinik tempat terapi.
Setelah itu mereka segera turun lalu berangkat saat itu juga.
Tevy mengirim pesan kepada Devan jika ia sedang dalam perjalanan, dan memberi tahu jika hari ini Alan hampir saja ikut dengannya.
"Kamu harus hati-hati, mungkin next time dia bisa tiba-tiba datang ke klinik" - Devan
"Kamu bener" - Tevy
"Kalau ada dia, aku gak bisa puasin kamu" - Devan
"Gimana caranya, Alan gak boleh ikut. Kita harus rubah jadwal ketemu" - Tevy
"Oke sayang. Aku tunggu di klinik, aku udah kangen banget sama kamu" - Devan
"Kemarin juga udah ketemu" - Tevy
"Kamu tahu sendiri, aku gak bisa kepas dari kamu" - Devan
Tevy tersenyum menatap pesan Devan, kemudian ia segera menghapusnya dan memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Intan, menurut kamu kenapa Bapak tiba-tiba mau mengantar aku terapi"
"Mungkin Bapak merasa bersalah karena sudah sibuk selama ini Bu"
"Hanya itu?"
"Iya Bu, kan Ibu selalu mengeluh soal waktu. Dan Bapak juga mencintai Ibu, pasti bapak kepikiran dan Bapak akan berusaha meluangkan waktu"
"Bener juga yang Intan bilang, artinya aku gak boleh sering ngeluh, kalau gak bisa ketahuan semuanya" batin Tevy
"Tapi dari usaha Bapak hari ini, Ibu bisa lihat Bapak masih tetap mencintai Ibu lho"
"Iya Tan, kamu benar. Makasih ya"
"Sama-sama Bu"
Sampai di klinik seperti biasa Intan dan sopir akan meninggalkan Tevy karena proses terapi yang lama. Dan Tevy akan meninggalkan klinik melalui pintu belakang menuju ke hotel yang berada di samping klinik tersebut bersama dengan Devan.