Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Guru Zhao tertegun sejenak, tidak menduga pertanyaan pragmatis seperti itu akan keluar.
"Bayaran apa maksudmu, bodoh?! Ini adalah ujian praktik, ini kewajibanmu sebagai murid akademi!"
"Jadi kita disuruh menjadi kuli panggul dan umpan monster tanpa asuransi nyawa dan tanpa dibayar?" balas Chen Mo dengan nada bosan.
"Kalau begitu, aku lebih suka tidur di asrama. Beri saja aku nilai nol untuk ujian ini."
Pernyataan Chen Mo membuat seluruh murid di kelas melebarkan mata mereka karena terkejut.
Menolak ikut ujian praktik sama saja dengan mencari mati di akademi ini.
Wajah Guru Zhao memerah padam karena amarah, dia menunjuk wajah Chen Mo dengan jari gemetar.
"Kau pikir kau bisa seenaknya memilih, hah?!"
"Jika kau menolak ikut ujian ini, aku akan langsung mencabut subsidi makanmu dan menendangmu keluar hari ini juga!" ancam Guru Zhao.
"Silakan saja. Tapi aku rasa peraturan akademi pasal empat belas menyebutkan bahwa guru pembimbing tidak berhak mengeluarkan murid secara sepihak tanpa persetujuan komite."
Chen Mo mengucapkan kalimat itu dengan sangat tenang dan mengalir begitu saja.
"Kau pikir ancaman murah semacam itu mempan padaku, Paman?" tambah Chen Mo dengan senyum meremehkan.
Guru Zhao terdiam seribu bahasa, urat lehernya terlihat sangat jelas.
Pemuda Rank F di depannya ini benar-benar mengetahui celah hukum akademi dengan sangat baik.
"Bagus. Kau memang pintar bicara," geram Guru Zhao dengan gigi terkatup rapat.
"Kita lihat apakah mulut pintarmu itu bisa menyelamatkanmu saat kau berhadapan dengan Serigala Bayangan di hutan nanti."
"Semuanya keluar sekarang! Berbaris menuju Gerbang Utara!" perintah Guru Zhao dengan marah sebelum melangkah keluar lebih dulu.
Murid-murid kelas dasar segera berhamburan keluar, tidak berani membuat guru mereka semakin murka.
Wang Bo berjalan di samping Chen Mo dengan wajah pucat pasi.
"Saudara Chen, kau benar-benar berani mencari mati dengan terus melawannya," bisik Wang Bo ketakutan.
"Aku tidak melawannya, aku hanya menuntut hak dasar sebagai manusia," jawab Chen Mo datar.
Perjalanan menuju Gerbang Utara memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan berjalan kaki.
Setibanya di sana, suasana sangat ramai oleh ratusan murid dari berbagai kelas.
Di sisi kiri, murid kelas dasar berdiri berdesakan dengan seragam kusam dan wajah menunduk.
Di sisi kanan, puluhan murid Kelas Elit berdiri dengan postur tegap, seragam berkilau, dan wajah penuh kebanggaan.
Garis pemisah antara dua kelompok itu terlihat sangat jelas, seolah memisahkan langit dan bumi.
Chen Mo berdiri di barisan paling belakang, matanya menyapu seluruh area Gerbang Utara.
Di barisan paling depan Kelas Elit, dia bisa melihat sosok yang sangat familiar.
Su Mengqi berdiri di sana, dikelilingi oleh siswi-siswi elit lainnya yang terus memujinya.
Gadis berambut hitam itu tampak semakin cantik dengan seragam tempur elit berwarna perak yang melekat pas di tubuhnya.
Tidak jauh dari Su Mengqi, Lin Feng berdiri dengan tangan yang masih dibalut perban penyembuh.
Mata Lin Feng terus menjelajah ke arah kerumunan kelas dasar, mencari-cari mangsanya.
Saat mata Lin Feng akhirnya bertubrukan dengan mata Chen Mo, pemuda arogan itu langsung tersenyum bengis.
Lin Feng memberikan isyarat menggorok leher menggunakan ibu jarinya ke arah Chen Mo.
Chen Mo hanya memiringkan kepalanya sedikit, merespon ancaman itu dengan tatapan bosan seperti sedang melihat monyet sirkus.
"Perhatian semuanya! Pembagian kelompok akan segera diumumkan oleh sistem akademi!"
Suara instruktur kepala menggema melalui pengeras suara di atas gerbang besi raksasa.
Layar holografik besar muncul di udara, menampilkan daftar nama secara acak.
Satu kelompok terdiri dari tiga murid elit dan dua murid kelas dasar sebagai pembawa barang.
Chen Mo menatap layar itu dengan tenang, menunggu namanya dipanggil.
"Kelompok Tujuh Belas: Lin Feng, Su Mengqi, Zhao Hao."
"Pembawa barang: Chen Mo, Wang Bo."
Suara mesin pembaca nama itu terdengar sangat nyaring, mengundang keheningan singkat dari barisan murid.
Wang Bo yang berdiri di sebelah Chen Mo langsung lemas hingga hampir pingsan.
"Habislah kita, Saudara Chen. Ini pasti sudah diatur oleh Lin Feng," rintih Wang Bo dengan putus asa.
"Baguslah kalau dia yang mengaturnya," batin Chen Mo dengan senyum tipis yang mematikan.
"Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot mencarinya ke tempat lain."
Chen Mo dan Wang Bo melangkah maju untuk bergabung dengan majikan sementara mereka.
Lin Feng menatap Chen Mo dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Senang bertemu denganmu lagi, sampah. Aku tidak sabar melihatmu bekerja keras hari ini," ejek Lin Feng dengan suara pelan agar tidak terdengar guru.
Su Mengqi membuang muka, enggan menatap Chen Mo yang kini memakai seragam kusam kelas dasar.
"Chen Mo, jalankan saja tugasmu dengan patuh hari ini, jangan buat masalah apa pun," ucap Su Mengqi dengan nada dingin tanpa menoleh.
"Kau pikir aku peduli dengan masalah kalian?" jawab Chen Mo datar.
"Serahkan tas kalian dan berhentilah membuang waktuku dengan obrolan tidak berguna."
Lin Feng mendengus marah dan melemparkan dua tas punggung ransel besar yang sangat berat ke arah Chen Mo.
Brak!
Namun alih-alih terjatuh, Chen Mo menangkap kedua tas seberat puluhan kilogram itu dengan satu tangan tanpa berkedip.
Lin Feng sedikit terkejut melihat kekuatan fisik Chen Mo, namun dia menganggap itu hanya kebetulan belaka.
Tepat saat gerbang besi Hutan Kabut Hitam perlahan terbuka dengan suara berderit yang keras.
Ting!
Suara mekanis yang dirindukan Chen Mo kembali berdengung jernih.
[Anda telah memasuki area perbatasan Hutan Kabut Hitam.]
[Tempat ini dipenuhi oleh miasma beracun dan insting binatang buas purba.]
[Mendeteksi lokasi check-in khusus.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]
Chen Mo memanggul dua tas berat itu ke pundaknya dengan sangat mudah.
Langkah pertamanya memasuki hutan gelap itu terasa sangat ringan.
"Ya. Lakukan check-in."