NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 — Kristal Emas Pucat

Tri tidak tidur malam itu.

Lebih tepatnya, ia berbaring tiga menit, lalu duduk lagi.

Kamar 707 gelap. Di luar jendela, hanggar belakang Damokles hanya menyisakan garis lampu biru. Hendra tidur di kursi dengan posisi yang membuat semua buku medis ingin menyerah. Di lantai, tas alat Tri masih terbuka. Jaketnya tergantung di sandaran meja.

Di dalam saku jaket itu, kristal emas pucat menunggu.

Tri menatapnya selama satu menit penuh sebelum mengambil.

Kecil.

Hanya sebesar dua ruas jari.

Namun begitu diletakkan di telapak tangan, benda itu terasa lebih berat daripada angka lima juta kredit di akun. Permukaannya halus, dingin, dan di dalamnya ada garis cahaya tipis yang bergerak lambat seperti napas mesin tidur.

Ini bukan barang L3.

Ini bukan barang yang seharusnya muncul di Mecha pembunuh lantai tiga.

Ia membuka Kom, masuk ke saluran pribadi Forum Kubus, lalu menatap nama MaestroRakha selama beberapa detik.

Rakha belum tahu MelaratTanpaMecha adalah Tri.

Tri juga belum ingin ia tahu.

Tetapi Rakha adalah satu-satunya Empu Mecha yang cukup gila untuk menjawab pertanyaan material pada jam empat pagi.

Tri mengirim foto kristal tanpa wajah, tanpa latar, hanya skala ukuran dengan baut umum.

Pesan:

Kalau ada kristal sendi warna emas pucat begini, tingkat apa?

Jawaban datang dalam lima belas detik.

MaestroRakha:

Dari mana kau dapat foto itu?

Tri mengetik:

Internet.

MaestroRakha:

Internet macam apa yang menjual sendi tingkat S?

Tri berhenti.

Tingkat S.

Kata itu membuat kamar 707 terasa lebih sempit.

Pesan baru masuk.

MaestroRakha:

Kalau warnanya emas pucat dan dipakai di sendi berat, kemungkinan Kristal Emas. Bukan kristal energi umum. Itu komponen tingkat S, biasanya untuk Mecha berat atau sambungan beban tinggi. Aksesnya tidak bebas.

Tri menatap kristal di telapak tangan.

Tidak ada rasa tertolak.

Tidak ada tekanan asing.

Tidak ada perih di kulit.

Hanya dingin.

MaestroRakha:

Jangan bilang kau menyentuhnya langsung.

Tri mengetik:

Kenapa?

MaestroRakha:

Karena orang yang bukan Empu cukup tingkatnya bisa pusing, mimisan, bahkan rusak jaringan Indra kalau memaksa berinteraksi dengan bahan tinggi. Kristal sendi menyimpan sisa tekanan Bestia Bintang dan struktur Indra material. A tingkat normal sebaiknya tidak main-main.

Tri mengangkat kristal lebih dekat ke mata.

A tingkat normal.

Kalimat itu punya gigi.

Ia mengingat ruang uji Daya Indra.

Titik cahaya yang bergerak tanpa hambatan.

Bu Ratri yang menatap kurva terlalu lama.

Ia mengingat Kapsul Pemulihan.

Tubuhnya makan seperti mesin rusak setelah hampir mati.

Ia mengingat Titis Darah.

Mecha A puncak itu terasa terlalu jernih, terlalu mudah, sampai ia harus menahan diri.

Ia mengingat malam ini.

Nomor tujuh belas hampir hancur, tetapi saat ia mencabut kristal emas pucat itu, tidak ada rasa sakit dari material. Yang sakit hanya beban Mecha tua dan tubuhnya sendiri.

MaestroRakha mengirim pesan lagi:

Kau siapa sebenarnya?

Tri menatap layar.

Pertanyaan itu muncul dua kali dari orang yang sama, di dua jalur berbeda.

Pertama pada gambar Mecha jelek.

Sekarang pada kristal emas pucat.

Kalau ia ceroboh, dua jejak itu akan bertemu.

Ia mengetik:

Orang yang tidak mampu membeli jawaban lengkap.

MaestroRakha:

Jawaban menyebalkan. Kau murid Damokles?

Tri:

Kenapa?

MaestroRakha:

Karena pertanyaan menyebalkan biasanya datang dari sana.

Tri hampir tertawa.

Hendra bergerak di kursi. “Lo masih hidup?”

Tri mematikan layar Kom sebagian. “Belum dipastikan.”

Hendra membuka satu mata. “Itu jawaban buruk.”

“Tidur.”

“Lo habis dari Bengkel Hitam?”

Tri diam.

Hendra duduk perlahan. Kantuknya hilang begitu melihat kristal di tangan Tri. “Itu bukan barang yang harus ada di kamar murid baru.”

“Semua orang kaya bilang begitu tentang barang bagus.”

“Tri.”

Nada itu bukan candaan.

Tri meletakkan kristal di atas kain. “Dari Mecha Malaikat Maut.”

Hendra menatapnya.

“Lo melawan dia?”

“Dia ditarik undian.”

“Dan lo menang.”

“Kalau kalah, gue tidak duduk di sini.”

Hendra menutup wajah dengan kedua tangan. “Gue tidur tiga jam dan lo sudah membuat musuh baru?”

“Tidak baru. Kakaknya yang baru.”

“Itu tidak membuat lebih baik.”

Tri membuka layar pembayaran.

Saldo masuk lima juta.

Hendra menatap angka itu, lalu menatap kristal, lalu menatap Tri. Wajahnya berubah dari marah menjadi menghitung, lalu dari menghitung menjadi makin marah.

“Mecha lawan punya komponen tingkat S.”

“Rakha bilang begitu.”

“Lo tanya Rakha?”

“MaestroRakha.”

“Itu Rakha.”

“Forum tidak tahu gue.”

Hendra menarik napas dalam, seperti Komandan yang mencoba tidak membunuh Prajurit sendiri. “Dengar. Kalau ada peserta bawah tanah pakai komponen S di L3, itu bukan cuma curang. Itu ada jaringan. Orang yang bisa menyelundupkan bahan S tidak bermain receh.”

Tri menyentuh kristal dengan ujung jari.

“Itu yang ingin gue tahu.”

“Lo ingin tahu atau ingin membongkar?”

“Kadang sama.”

Hendra menunjuk wajahnya. “Tidak. Kadang orang mati.”

Kamar sunyi.

Tri tidak membantah.

Ia juga tidak bisa berkata bahwa ia tidak tertarik.

Kristal emas pucat itu seperti baut kecil dari pintu yang lebih besar. Di baliknya ada pertanyaan tentang Malaikat Maut, Rara, siapa yang memasang komponen itu, dan kenapa material tingkat S terasa biasa di telapak tangannya.

Pertanyaan terakhir paling buruk.

Karena jawabannya mungkin bukan tentang musuh.

Mungkin tentang dirinya.

Tri membuka file catatan pribadi.

Ia menulis:

1. Uji Daya Indra A. Tidak ada rasa terkunci.

2. Konsumsi makanan naik tidak normal sejak Kapsul Pemulihan.

3. Titis Darah terasa terlalu mudah.

4. Kristal tingkat S tidak menolak sentuhan.

5. Saat memakai Mecha tingkat A kasar, beban terasa dari mesin, bukan dari batas Daya Indra.

Ia berhenti.

Menulis poin keenam terasa seperti membuka kotak yang mungkin berisi racun.

Hendra membaca dari samping.

“Lo menyadarinya juga.”

Tri menutup file.

“Menyadari apa?”

“Bahwa A tingkat mungkin bukan jawaban penuh.”

Tri melihatnya.

Hendra mengangkat tangan. “Gue bukan Bu Ratri. Gue tidak punya alat. Tapi gue punya mata, dan gue punya teman yang terlalu sering pura-pura bodoh saat justru paling mengerikan.”

“Kalau gue bukan A, kenapa alat berhenti di A?”

“Karena lo membuatnya berhenti?”

Pertanyaan itu jatuh pelan.

Tri tidak menjawab.

Di Kom, pesan MaestroRakha muncul lagi.

MaestroRakha:

Kalau kristal itu benar ada di tanganmu, jangan dipakai. Jangan dijual sembarangan. Jangan tunjukkan ke orang yang tidak bisa kau bunuh atau kau percaya.

Tri membaca kalimat terakhir dua kali.

Hendra juga membaca.

“Untuk ukuran Empu muda sombong, dia memberi nasihat masuk akal,” kata Hendra.

Tri mengambil kain hitam, membungkus kristal, lalu menyimpannya di kotak alat bagian paling bawah. Ia memasang tiga pengunci mekanik dan satu jebakan arus kecil.

Hendra menunjuk kotak itu. “Kalau gue buka?”

“Rambut lo berdiri.”

“Berapa volt?”

“Cukup untuk membuat Komandan 3S belajar mengetuk.”

Hendra menatapnya, lalu tertawa pelan meski wajahnya masih tegang.

Di bawah Akademi Damokles, jauh dari kamar 707, lantai empat Bengkel Hitam menyalakan ulang rekaman Hari Pembantaian.

Seseorang dalam ruang gelap memperlambat video saat Tunduk pada Nasib mencabut kristal emas pucat dari siku Malaikat Maut.

Layar kedua menampilkan rekaman arena timur: TepiBaratKarang menembakkan panah dalam satu detik.

Dua video diputar berdampingan.

Satu tangan membongkar Mecha seperti membuka kotak.

Satu tangan menembak seperti sudah tahu lawan jatuh sebelum panah lepas.

Suara di ruang gelap berkata, “Dua-duanya menyembunyikan sesuatu.”

Orang lain menjawab, “Kirim ke atas?”

“Belum. Biarkan mereka bermain. Orang yang pura-pura lemah akan mencari bahaya sendiri.”

Kembali di kamar 707, Tri tidak tahu namanya baru saja diberi tanda.

Ia hanya duduk di lantai, menatap kotak alat terkunci.

Telapak tangannya masih mengingat dingin kristal tingkat S.

A tingkat tidak seharusnya menyentuh benda itu tanpa reaksi.

Ia menunduk, suaranya lebih pelan daripada denging lampu kamar.

“Kalau A tidak bisa,” gumamnya, “lalu gue ini apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!