Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siaran kembali menyala 3
Setelah siaran langsung berakhir, suasana di meja mereka terasa jauh lebih santai. Ponsel yang sejak tadi berdiri di atas tripod kini dimatikan. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Haseena merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.
"Akhirnya selesai juga," ujar Wafiza sambil meregangkan kedua tangannya.
Aretha menyesap minumannya yang tinggal setengah gelas. "Lumayan juga ya. Aku kira orang-orang udah lupa sama kita."
"Justru makin banyak yang nunggu," jawab Wafiza. "Aku tadi sempat lihat penontonnya naik terus."
Haseena hanya tersenyum tipis. Ia tidak menyangka masih banyak orang yang mengingat mereka. Selama beberapa hari terakhir, ia merasa dunianya berhenti. Namun ternyata, di luar sana masih ada orang-orang yang menunggu kabarnya, mendoakannya, bahkan ikut bersedih atas kehilangan yang ia alami.
"Terima kasih ya," ucap Haseena pelan.
"Hah? Terima kasih kenapa?" tanya Aretha.
"Udah mau nungguin aku sampai benar-benar siap ketemu kalian lagi."
Aretha dan Wafiza saling berpandangan, lalu tersenyum.
"Kamu ngomong apa, sih?" Wafiza mencubit pelan lengan Haseena. "Namanya juga sahabat."
"Iya," sambung Aretha. "Kalau salah satu jatuh, yang lain ya nunggu sampai dia bisa berdiri lagi."
Kalimat itu membuat Haseena menunduk. Tenggorokannya kembali terasa sesak.
Dulu...
Ia selalu berpikir bahwa kehilangan hanya akan membuat seseorang merasa sendiri.
Namun hari ini ia sadar...
Masih ada orang-orang yang memilih tetap tinggal.
Obrolan mereka kemudian beralih membahas akun media sosial yang selama ini mereka kelola bersama. Aretha membuka halaman statistik dan menunjukkannya kepada kedua sahabatnya.
"Lihat deh."
Haseena dan Wafiza mendekat.
Grafik jumlah penonton perlahan kembali naik setelah siaran langsung tadi.
"Syukurlah," gumam Aretha. "Aku sempat takut semuanya turun gara-gara kita vakum."
Wafiza mengangguk.
"Padahal kalau dipikir-pikir, dari akun ini kita udah dapat banyak banget pengalaman."
"Bukan cuma pengalaman," timpal Aretha sambil tersenyum jahil. "Pemasukan juga lumayan."
Mereka bertiga tertawa.
"Ngomong-ngomong..." Aretha mematikan layar ponselnya. "Kalau acara sekolah udah selesai nanti, gimana kalau kita healing?"
"Healing?" ulang Wafiza antusias.
"Iya. Nggak usah jauh-jauh. Yang penting bisa nenangin pikiran."
Wafiza langsung menoleh ke arah Haseena.
"Gimana, Seen?"
Haseena terdiam beberapa saat.
Ajakan itu terdengar menyenangkan.
Namun setiap kali membayangkan pergi bersenang-senang, bayangan wajah Syafa dan Husna selalu muncul lebih dulu.
"Aku..."
"Aku pikir-pikir dulu ya."
Aretha mengangguk penuh pengertian.
"Nggak usah dipaksa."
"Kita ngajak bukan buat bikin kamu lupa."
"Tapi siapa tahu... perjalanan baru bisa sedikit mengobati luka yang lama."
Haseena mengangguk pelan.
"Aamiin."
Tak terasa waktu menunjukkan hampir pukul empat sore. Cahaya matahari mulai berubah keemasan, menembus sela-sela pepohonan di taman seberang jalan.
Mereka pun beranjak dari kursi masing-masing.
Wafiza membawa helm.
Aretha melipat tripod kecil miliknya.
Sementara Haseena membantu membereskan meja sebelum mereka keluar dari kafe.
Saat melangkah melewati pintu, Haseena kembali menoleh ke arah taman.
Entah mengapa...
Perasaannya mengatakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Ia menyapu pandangan ke setiap sudut taman.
Bangku-bangku kayu.
Pedagang balon.
Anak-anak yang berlarian.
Pasangan lansia yang sedang berjalan santai.
Semua terlihat biasa.
"Seen!"
Suara Wafiza membuyarkan lamunannya.
"Ayo!"
"Iya!"
Haseena segera menyusul kedua sahabatnya.
Namun beberapa detik setelah motor mereka meninggalkan kawasan taman...
Seorang pria bertopi hitam keluar dari balik halte yang sejak tadi menutupi tubuhnya.
Tatapannya mengikuti motor yang semakin menjauh.
Perlahan, ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jaketnya.
Di layar ponsel itu...
Terlihat sebuah foto Haseena yang baru saja diambil beberapa menit lalu.
Pria itu tersenyum tipis.
Lalu menekan sebuah nomor.
"Dia sudah mulai kembali beraktivitas..."
Suara beratnya terdengar pelan.
"...kita bisa mulai."
Sambungan telepon langsung terputus.
Tidak ada nama.
Tidak ada identitas.
Hanya kalimat singkat yang meninggalkan satu pertanyaan besar.