NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi

Tidak semua benteng dibangun untuk melindungi sesuatu. Ada benteng yang justru didirikan untuk menyembunyikan kebenaran yang terlalu berbahaya jika dunia mengetahuinya. Selama tiga hari penuh, Arga berhenti menjadi pemburu yang mengejar mangsa. Ia berubah menjadi bayangan yang diam-diam mengikuti urat nadi musuhnya, menunggu hingga jantung organisasi itu memperlihatkan denyutnya sendiri.

Tanggal berganti dari 1 hingga 3 Juli tanpa satu pun operasi penjarahan terjadi. Di mata Organisasi Hitam, Ghost Collector seolah menghilang begitu saja setelah insiden konvoi pegunungan. Namun di balik keheningan itu, Arga justru bekerja lebih sibuk daripada sebelumnya, menyusun setiap potongan informasi seperti menyusun ribuan keping puzzle yang selama ini tercerai-berai.

Klik...

Layar laptop di kamar kosnya dipenuhi garis-garis merah yang menghubungkan puluhan titik distribusi. Data dari hard drive Sektor-9, catatan suplai kristal hasil penyusupan Surabaya, pergerakan modul penekan resonansi, hingga sinyal samar dari penanda mikro yang masih aktif perlahan membentuk pola yang sebelumnya mustahil terlihat. Semakin lama ia menatapnya, semakin jelas satu kenyataan muncul di hadapannya. Tak satu pun jalur logistik itu berakhir di laboratorium ataupun markas cabang. Seluruhnya justru mengarah ke sebuah pangkalan militer tua di kawasan pegunungan yang menurut peta resmi telah ditinggalkan lebih dari dua puluh tahun lalu.

Arga memperbesar citra satelit lokasi tersebut sambil memicingkan mata. Dari udara, tempat itu tampak seperti kompleks gudang tua yang nyaris runtuh, dipenuhi kendaraan berkarat dan hanggar kosong yang ditelan semak liar. Namun ketika ia menyelaraskan waktu kedatangan konvoi dengan aktivitas suplai kristal, pola yang aneh mulai terlihat. Setiap kali konvoi logistik tiba, seluruh sinyal komunikasi di sekitar pangkalan menghilang selama empat menit, lalu kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa pun.

"Itu bukan tujuan," gumam Arga pelan sambil mengetukkan jemarinya di meja. "Itu gerbang."

Ia segera membuka kembali data distribusi terbaru. Konvoi yang membawa kristal berkapasitas tinggi selalu berhenti tepat empat menit di area itu sebelum sinyalnya lenyap dari seluruh jaringan pelacakan. Bukan karena kendaraan menghilang, melainkan karena mereka memasuki wilayah yang sama sekali tidak tercatat dalam sistem sipil maupun militer. Senyum tipis terlukis di wajahnya.

"Omega..." bisiknya lirih. "Jadi kau bersembunyi di balik pintu yang bahkan tidak pernah dianggap sebagai pintu."

Sejak saat itu, Arga tidak lagi memikirkan cara menerobos masuk menggunakan Ruang Dimensi. Semakin besar fasilitas yang dijaga, semakin besar pula kemungkinan kemampuan itu dideteksi. Ia memilih jalan yang jauh lebih berisiko, tetapi juga jauh lebih masuk akal. Ia akan masuk sebagai bagian dari konvoi.

Selama dua hari berikutnya, Arga mengamati seluruh kendaraan logistik yang keluar-masuk pangkalan tua tersebut. Ia mencatat nomor lambung, pola pergantian sopir, hingga jeda pemeriksaan di setiap pos. Salah satu truk pengangkut kristal ternyata selalu berhenti di gudang transit luar selama hampir dua puluh menit sebelum bergabung dengan iring-iringan utama. Kesempatan itu hanya muncul sekali, dan Arga memutuskan mempertaruhkan semuanya pada celah sekecil itu.

Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, Raven masih berada di ruang komando bergeraknya ketika laporan terbaru masuk dari jaringan Operasi Jaring Hitam. Seorang analis menyodorkan layar digital dengan ekspresi kebingungan.

"Komandan, seluruh jalur umpan aman. Tidak ada fasilitas yang disusupi."

Raven mengangguk pelan, tetapi matanya tetap tertuju pada data distribusi.

"Ada yang aneh?" tanyanya singkat.

"Konvoi kristal prioritas menuju sektor utara terlambat enam menit."

"Hanya enam menit?"

"Ya. Penyebabnya perubahan rute akibat kendaraan sipil mogok."

Ruangan kembali sunyi. Raven menatap grafik pergerakan logistik selama beberapa detik tanpa berkedip. Perlahan, ekspresi tenangnya berubah. Bukan menjadi panik, melainkan kesadaran bahwa ia baru saja melewatkan sesuatu yang sangat besar.

Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

Krek...

"Bukan."

Semua orang menoleh. Raven berjalan mendekati layar besar, lalu menunjuk seluruh jalur distribusi kristal yang saling berpotongan.

"Ghost Collector tidak pernah mengejar ilmuwan."

Ia menggeleng pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.

"Dia juga tidak mengejar modul penekan resonansi."

Tangannya berhenti pada satu titik di layar.

"Dia mengikuti orang yang memasang umpan."

Ruangan mendadak sunyi. Raven mengembuskan napas panjang sambil menutup mata sesaat. Seluruh teka-teki yang selama ini ia susun akhirnya menemukan jawaban, tetapi jawaban itu datang terlambat.

"Aku terlambat satu langkah..." gumamnya pelan. "Dia tidak memakan umpanku."

Matanya kembali terbuka dengan sorot yang jauh lebih tajam.

"Kerahkan seluruh tim elit."

Salah seorang operator langsung berdiri.

"Tujuan, Komandan?"

"Gerbang Omega."

Untuk pertama kalinya sejak operasi dimulai, suara Raven terdengar benar-benar mendesak.

"Kalau kita terlambat..." katanya lirih, "...dia akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah diketahui siapa pun."

Di saat iring-iringan pasukan elit bergerak menuju pegunungan, Arga telah lebih dahulu berada di dalam salah satu truk logistik. Seragam pekerja yang dikenakannya dipenuhi noda debu dan oli. Wajahnya tertutup masker serta topi proyek, membuatnya tampak sama seperti puluhan teknisi lain yang sibuk memeriksa peti kristal.

Brummm...

Gerbang pangkalan tua perlahan terbuka. Konvoi memasuki hanggar kosong yang dari luar tampak tak berbeda dari bangunan terbengkalai. Namun beberapa detik kemudian, lantai beton mulai bergetar pelan, sementara dinding logam di bagian belakang bergeser perlahan, memperlihatkan lorong raksasa yang menurun jauh ke dalam perut gunung.

Mata Arga membelalak. Yang tersembunyi bukan sekadar laboratorium bawah tanah. Seluruh gunung itu sendiri adalah laboratorium.

Konvoi terus melaju melewati terowongan berlapis baja hingga akhirnya memasuki sebuah kompleks yang ukurannya menyerupai kota kecil. Puluhan bangunan penelitian berdiri di bawah kubah batu raksasa, diterangi ribuan lampu putih yang memantul di dinding granit alami. Jalur rel otomatis menghubungkan setiap fasilitas, sementara kendaraan tanpa awak hilir mudik membawa kristal dari satu sektor ke sektor lain. Arga menahan napas. Bahkan dalam kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan tempat seperti itu benar-benar ada.

Ia bergerak diam-diam memanfaatkan pergantian sif petugas. Dengan bantuan Sensor Dimensi, ia menghindari setiap patroli hingga akhirnya mencapai pusat data utama. Di dalam ruangan itu, puluhan server kristal beroperasi tanpa henti, sementara hologram penelitian memenuhi udara, memperlihatkan ribuan simulasi mutasi energi yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

Namun semua itu hanyalah permulaan. Semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan pemandangan yang terbentang di hadapannya. Di balik dinding kaca setinggi puluhan meter, ribuan kapsul transparan berjajar rapi. Di dalamnya terbaring manusia dari berbagai usia. Sebagian masih anak-anak, sementara sebagian lainnya orang dewasa dengan tubuh dipenuhi kabel kristal.

Bip... bip... bip...

Detak monitor memenuhi ruangan. Tenggorokan Arga terasa mengering ketika matanya menyapu setiap kapsul. Di samping masing-masing kapsul tertulis data genetik, tingkat kompatibilitas energi, serta satu status yang sama.

Kandidat Awakener.

Tangannya mengepal tanpa sadar.

"Jadi..." bisiknya lirih, "...mereka memilih manusia bahkan sebelum Awakening terjadi."

Tanpa membuang waktu, Arga segera menyalin seluruh data inti ke hard drive miliknya. Deretan nama ilmuwan, hasil eksperimen Genesis, hingga daftar ribuan kandidat Awakener berpindah ke perangkatnya hanya dalam hitungan menit. Namun ketika mencapai ruang terdalam, langkahnya kembali terhenti.

Ruangan itu berbentuk lingkaran dengan sebuah artefak hitam melayang di tengahnya. Permukaannya dipenuhi retakan cahaya keperakan yang terus berdenyut perlahan, seolah memiliki detak jantung sendiri.

Deng...

Sensor Dimensi Arga bergetar hebat. Belum pernah sebelumnya kemampuan itu bereaksi sedemikian kuat. Di bawah artefak tersebut terpampang tulisan yang membuat napasnya tertahan.

INTI PROYEK OMEGA.

Di sampingnya terdapat laporan singkat yang menjelaskan bahwa artefak itu merupakan target akhir Project Genesis: penciptaan Awakener buatan sebelum Hari Nol.

Arga menatap tulisan itu cukup lama. Seluruh sejarah yang ia ketahui runtuh dalam sekejap. Selama ini dunia percaya bahwa Awakener muncul secara alami setelah kiamat, padahal Organisasi Hitam ternyata telah berusaha menciptakan mereka jauh sebelum bencana dimulai.

Tanpa membuang waktu, ia segera memasukkan artefak itu ke dalam Ruang Dimensi.

Wusss...

Pada saat yang sama, alarm merah memenuhi seluruh kompleks.

Wiuu... wiuu... wiuu...

Pintu-pintu baja menutup otomatis, sementara suara sintetis bergema di seluruh laboratorium.

"PERINGATAN. PELANGGARAN DATA INTI. AKTIFKAN PROTOKOL PEMUSNAHAN OMEGA."

Arga langsung berbalik. Di ujung koridor, puluhan pasukan elit berlarian memasuki kompleks. Di antara mereka, seorang pria berjaket hitam berjalan tenang tanpa mempercepat langkah.

Raven.

Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi bukit, kabut, ataupun teropong yang memisahkan mereka. Mereka berdiri saling memandang dari jarak kurang dari dua puluh meter. Tak satu pun menghunus senjata. Tak satu pun mengucapkan ancaman. Namun tatapan keduanya telah mengatakan lebih banyak daripada ribuan laporan intelijen. Arga melihat seorang pemburu yang selalu berpikir dua langkah ke depan, sementara Raven melihat musuh yang mampu menghancurkan rencana bertahun-tahun hanya dalam hitungan hari.

Belum sempat salah satu bergerak, seluruh lantai laboratorium bergetar hebat.

Duaaar!

Reaktor kristal di sektor timur meledak lebih dahulu. Gelombang energi menyapu lorong-lorong baja, disusul ledakan kedua yang jauh lebih besar.

Duummm!

Retakan cahaya menjalar ke seluruh kubah bawah tanah. Tiang-tiang penyangga mulai runtuh, sementara kapsul-kapsul eksperimen pecah satu demi satu. Arga segera membuka Ruang Dimensi lalu melompat menuju lorong evakuasi terdekat. Di belakangnya, Raven meneriakkan perintah kepada seluruh pasukan agar mundur sebelum keseluruhan kompleks ambruk.

Batu-batu raksasa mulai berjatuhan dari langit-langit.

Grrrkk...

Dalam hitungan menit, Kompleks Omega yang selama puluhan tahun menjadi jantung Project Genesis berubah menjadi lautan api dan debu. Arga berhasil keluar melalui terowongan darurat sambil menggenggam hard drive serta artefak hitam yang kini tersimpan aman di dalam Ruang Dimensi. Dari kejauhan, ia menyaksikan seluruh gunung berguncang sebelum akhirnya sebagian besar pintu masuk terkubur longsoran.

Ia mengembuskan napas panjang.

"Sekarang..." katanya pelan sambil menatap kobaran api yang masih membumbung ke langit malam, "akhirnya aku tahu apa yang sebenarnya mereka takutkan."

Di sisi lain reruntuhan, Raven berdiri dengan wajah dipenuhi debu. Tatapannya tidak lagi tertuju pada gunung yang runtuh, melainkan pada siluet pria yang menghilang di balik gelap hutan. Ia mengepalkan tangan perlahan, sementara sorot matanya dipenuhi tekad yang belum pernah terlihat sebelumnya.

"Mulai hari ini..." ucapnya lirih, "ini bukan lagi perburuan."

"Ini perang."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!